Desember 22, 2008

妈妈, 我真的爱你



"Halo?"

Terdengar suara lembutmu dari balik telepon genggamku. Suaramu begitu dekat, begitu nyata. Mendayu namun tak berlebihan. Melambungkanku pada sebuah kotak usang di sudut kepala, kenangan.

Aku membiarkan waktu seolah mengambang di udara. Begitu banyak kata mutiara telah kubaca, begitu sering kusimak kalimat-kalimat cinta, tapi lidahku mengeras. Bibirku seperti merekat satu sama lain oleh lem alteko. Dan napasku terengah, tak beraturan. Aku mematung.

"Halo?"

Keterlaluan. Hingga detik ini, kubiarkan semua penghalang itu berkuasa. Aku bahkan tak sanggup memikirkan kalimat lain. "I love you", "Aku sayang kamu". Kalimat-kalimat itu menguap dalam diam.

Oh, seandainya kau tahu bagaimana hatiku meledak-ledak oleh cinta. Bagaimana otakku meleleh tanpa ampun karena panasnya cintaku yang membara. Aku bahkan tak bisa memikirkan perumpamaan yang lebih dahsyat lagi dari itu.

Tapi di sisi lain, ada keraguan dalam diriku. Bukan. Bukan aku meragukanmu. Aku justru sangat yakin cintamu padaku. Aku tak perlu merengek kata "cinta" yang tak pernah sekalipun kau ucapkan selama ini. Aku tahu cintamu tak berwujud kata "cinta". Karena cinta itu kurasa senantiasa. Sungguh, aku tidak pandai menggombal. Dan aku tak perlu membual padamu. Ini tentang cinta kita. Cintamu dan cintaku. Itulah yang kuragukan.

Adakah cintaku sudah sepadan dengan cintamu padaku? Ah, aku tak sanggup memikirkan bentuk-bentuk cintamu. Tak ada kata "cinta" di antara kita. Tapi ada cinta di antara kita. Itu kuyakin pasti. Begitupun kau. Iya kan? Tapi aku merasa kerdil. Di sini, dalam diamku ini, aku berusaha menandingi cintamu dengan kata "cinta" itu sendiri. Tadinya kupikir, kata "cinta" yang seolah tabu bagi kita, akan menisbatkanku sebagai pecinta sejati. Dan dengan begitu, aku patut berbangga hati karena telah mencintaimu sehebat yang aku bisa. Tapi, ah, kenapa selalu ada tapi. Benarkah itu?

Di sini, aku malu pada diriku sendiri. Apa yang kupikirkan? Di sana, kau menantiku. Menanti kalimat dariku. Rasulku akan marah padaku jika membiarkanmu mengulang sapaanmu hingga tiga kali. Sesaat sebelum kau rampung dengan "Halo"mu yang ketiga ...

"Hal ... "
"Selamat Hari Ibu, Mah ... "
"Iya. Sudah sholat?"


aku mencintaimu...
愛しています
I love you...
. . . أحبك

je t'aime
ich liebe dich

मैं आपसे प्यार करता
ik hou van jou
ti amo
te iubesc
我爱你
te amo

mama...





sumber gambar:
http://imagecache2.allposters.com/images/pic/CAMB/27194~A-Mom-is-Love-Posters.jpg

Desember 16, 2008

Fajar-Senja

Aku ingat saat ayah menceritakan hari kelahiranku. Saat itu adalah fajar. Ibu menyambut putra sulungnya dengan senyum manis seindah langit pagi. Beliau menggendongku yang masih merah dengan penuh kehangatan (meskipun aku belum bisa merasakannya, tapi aku meyakini itu) umpama sinar mentari pagi.

...


Tulisan ini kumulai saat fajar di suatu pagi yang berkabut.

Beberapa saat kupandangi lukisan langit timur nan kusanjung sejak dulu. Entah sejak kapan. Kegelapan telah raib digantikan warna-warni mistis berbingkai kesuraman namun sarat keindahan. Suhu pagi ini cukup rendah untuk menciptakan tebaran putih keabu-abuan yang seolah menyelimuti pepohonan dengan kesunyian dan kebisuan. Lengang.

Lalu semburat kemerahan memecah buram menjadi temaram. Masih di ufuk timur. Sisa-sisa bintang malam tadi tak kuasa digantikan sang fajar. Bau basah dapat kuhirup dengan leluasa. Bau yang tak kutahu seperti apa.



Tak lama lagi, langit merah menguning dan berakhir membiru. Saat kehangatan turut serta dalam fenomena pagi. Saat pepohonan telah dapat kulihat hijau tak lagi suram. Saat burung-burung seriti menghambur dari kediamannya untuk mencicitkan nyanyian paginya.

Sensasi ini tak bernama. Yang kutahu, aku bisa berlama-lama berdiri memandang langit yang berganti-ganti warna. Sesekali memejamkan mata sambil menelentangkan tangan menghirup bau pagi yang entah seperti apa. Merasakan kesejukan yang mengelus halus kulitku dan kehangatan yang hadir belakangan mengusir sisa-sisa kantuk.

Saat kusadar sepenuhnya fajar telah menyingsing, langit secerah seharusnya, dan suara manusia beraktivitas cukup bising, kutahu, hari baru saja dimulai.


...

Seperti apa hari ini tak bisa lepas dari penyambutanku terhadap pagi. Hari-hariku tak pernah sama. Seperti penyambutanku terhadap pagi yang tak pernah sama.

Aku dapat merasakan 'dingin' sepanjang hari kemarin. Saat pagi yang hujan dan dingin menusuk kusambut dengan dingin di balik selimut. Sisa hariku seolah dipenuhi hujan dan 'dingin'. Tak peduli seberapa gerah sepanjang siang yang mendung. Meskipun peluh merembesi kaos joger putihku. Walau aku harus telanjang dada di dalam kamar. Bagiku, hari itu 'dingin'.

Hari ini, sebagaimana kusambut pagi yang benderang dengan penuh kehangatan dan senyum, aku melihat senyum di setiap sudut jalan yang kulalui. Aku merasakan hangat di tiap ruang yang kutempati. Walau sempat geram karena terlalu lama menunggu dosen yang terlambat, sang Dosen muncul dengan senyum yang [kurasa] hangat satu jam kemudian. Walau tingkah temanku membuat alisku bertemu sesaat, detik berikutnya, aku dengan mudah memaafkannya.

Begitu pula hari-hari lain yang cukup terpengaruh oleh penyambutanku pada hari-hari tersebut di pagi hari.

Seperti yin dan yang. Ada penutup untuk sesuatu yang telah dibuka. Ada keburukan untuk tiap kebaikan. Ada kekurangan sebagai penyeimbang kelebihan. Ada petaka jika ada berkah. Ada akhir untuk sebuah awal. Ada hitam dan putih. Sebuah filosofi yang selalu berujung pada satu inti ajaran besar: selalu ada kematian untuk setiap kehidupan.

Satu hari bagiku dimulai saat mentari mengintip untuk terbit, dan diakhiri dengan kepulangannya ke haribaan langit barat. Dari waktu-waktu dalam satu hari, favoritku adalah waktu pagi dan sore hari. Fajar dan senja. Bukan berarti aku menjalani hidup di siang hari dengan setengah hati. Namun dua waktu ini seolah menjadi puncak kegairahan hidup atau sebaliknya--kelesuan--yang berpengaruh terhadap waktu siang.

Pagi dan sore bagaikan kembaran yang terpisahkan oleh dimensi ruang dan waktu. Keduanya sama. Sama-sama memiliki keindahan tak terperi. Sama-sama memancarkan kehangatan. Sama-sama memberikan lukisan megah penuh nuansa kuning keemasan.

Jika pagi hari menjadi tolok ukur berjalannya satu hari, maka sore hari menjadi sarana meditasi memutar ulang (flash back) jalannya hari yang hendak berakhir. Seperti halnya aktivitasku di pagi hari menatap langit timur, aku bisa berdiam diri memandang langit barat dalam ketenangan lain.

Saat-saat itu kugunakan untuk mengendurkan otot dan urat tubuh. Puluhan jam yang kulalui tadi tak akan dapat kuulang di hari lain. Peluang, kejadian, event, khilaf, berkah dan thethek bengek yang kujumpai hari itu hanyalah milik hari itu. Maka sore-soreku pun tak pernah sama.

Kadang muncul kepuasan. Tak jarang penyesalan yang ada. Atau rasa penasaran yang enggan menyingkir. Kadang kurasakan kebahagiaan yang mendalam. Sesekali ada kesedihan. Aku bisa men-syukuri hari itu. Aku pun bisa mengutukinya.

Saat-saat itulah, panorama senja sungguh indah tak hanya di mata, tapi di hati.

...


Dimulai dengan angin sore yang menebarkan baunya tersendiri (aku pun tak tahu seperti baunya). Matahari mulai menyentuh cakrawala. Umpama bola raksasa yang jatuh ke lumpur hidup, perlahan-lahan ia pun tenggelam, ditelan waktu.

Semburat-semburat kuning di permukaan awan, umpama gumpalan gulali berlapiskan emas. Langit biru telah berubah menjadi kekuningan di ujung barat sana. Hangatnya matahari sore tak sama dengan mentari pagi, namun sama indahnya. Pada detik ini, belum cukup decak kekagumanku.

Detik selanjutnya, lukisan telah ditebali tinta emas. Warna langit kian memukau dan indah. Matahari hanya tinggal separuh lingkaran. Semakin lama, semakin indah. Aku teringat masa kecilku saat aku bisa berlama-lama terpukau menonton pertunjukkan langit dari balik jeruji jendela rumah paling belakang yang tepat menghadap barat. Kebiasaan yang sudah jarang kulakukan mengingat waktu-waktu puncak pentas, bertepatan dengan kumandang adzan maghrib.

Hari ini, aku bernostalgia dengan berdiri mematung di balkon kamar asrama untuk menyaksikan senja sore. Kebetulan, tinta alam begitu pekat melapisi sore. Karena pentas tidak diadakan setiap hari tentunya. Ada kalanya langit sore tak ubahnya hamparan kuning pucat yang dipenuhi awan kelabu. Namun tidak sore itu. Langit sore mengucapkan kata perpisahan dengan aksi indah bernuansakan emas. Megah. Mewah. Sungguh indah.

Maka aku mengakhiri tulisan ini saat hari tengah bersiap menyambut senja.


...

Aku pernah [dan masih] berdo'a: "Tuhan, aku ingin Engkau memerintahkan malaikat-Mu menjemputku saat senja yang indah. Sebagaimana kau menurunkanku ke dunia saat fajar yang juga indah tentunya."






Sumber Foto:
http://www.lailalalami.com/blog-old/archives/MistyMorning.jpg
http://www.sarpysam.net/gallery/albums/sunrise/sunrise10232007.sized.jpg
http://www.whitehouse.gov/news/releases/2002/08/images/20020809-1_ranch1-1-515h.jpg
http://www.atpm.com/10.10/sunsets/images/sunsets-6.jpg
http://bp1.blogger.com/_r1MdYk7VIUs/SI6kn6tuUxI/AAAAAAAAAE8/4YRrB5RAU8M/s1600-h/senja.gif

Desember 15, 2008

karena itulah, yang menjadikannya indah ...


HUJAN

Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu

Segalanya seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak 'kan berubah

Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri

Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air

Aku bisa tersenyum
Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku


By Utopia


kenangan-kenangan itu ...
ingatkah kau?

senda gurauku yang
tak lucu bagimu
tak kupedulikan
karena
ada kau dan aku

gelak tawaku yang
hambar bagimu
tak penting bagiku
karena
ada kau dan aku


cerita-ceritaku yang
membosankan katamu
tak apalah
karena
ada kau dan aku

karena itulah
yang menjadikannya
indah


itu saja

...

"... selalu ada cerita
yang tersimpan di hatiku
tentang kau dan hujan
tentang cinta kita
yang mengalir, seperti air ... "






sumber gambar:
http://bp2.blogger.com/-Zoiwo-IFVQ/RoLQ8LueofI/AAAAAAAAAjc/nr5-IihVs78/s1600-h/alone+in+the+rain.jpg
http://www.realtater.com/music/raindrops.jpg

Desember 02, 2008

Rindu

Tiba saatnya bagiku untuk menulis. Setelah puluhan hari sibuk dijejali rutinitas, disesaki aktivitas, dan tercerabut dari penyendirian. Inilah saat yang tepat untuk menulis. Saat kelam malam begitu pekat tak menyisakan penat seharian. Saat hanya nyanyian jangkrik dan jeritan serangga semak-semak bertaluan. Saat sabit di luar sana indah melengkung bagai senyum tanda rindu telah berujung. Rindu. Kata itulah yang bisa merepresentasikan gundah gulana sejak seminggu lalu. Mengendap. Menumpuk tiada ampun.


Di sini | di dalam hati ini | ada galau | yang membiru || pilu | kecu


Kegalauanku bukan tanpa alasan. Kesalahan waktu itu cukup menjadi alasan. Keluarga, teman. Aku tengah membicarakan keluarga. Ayah dan Ibuku lebih tepatnya. Seolah telah menjadi naluri, ego senantiasa menjadi pamungkas pemisah jurang anak dan orang tua. Anak yang [entah kenapa] merasa berpikiran lebih baik dan masuk akal dibanding orang tua. Orang tua yang [entah kenapa juga] selalu dan pasti mengedepankan gengsi atas nama nominal usia. Terus dan akan tetap menjadi pokok munculnya sekat antar keduanya.

Di sini | di balik rusuk ini | ada sepi | tak terperi || sunyi | sendiri

Dan atas nama kebesaran ego itulah, teman. Aku dapat mendengar kesunyian dalam tiap malam yang kuhabiskan. Seperti malam ini. Dadaku naik turun tak teratur. Setengah sesak namun tetap leluasa. Seolah terjadi gemuruh di dalam sana. Yang timbul tenggelam, sedikit demi sedikit. Namun alam begitu senyap meninabobokan makhluk bumi.

Belum pernah sejak kepergianku dari rumah untuk merantau ke tanah orang, aku putus kontak dengan orang tua untuk jangka waktu yang cukup lama [bagiku tentu]. Walaupun terkadang dering telepon dari mereka terdengar menyebalkan, selalu ada sensasi pribadi yang tak teridentifikasi saat suara ayah berkata "Sedang apa Mas?" Seketika segala kesah menguap seiring suara orang kedua setelah perpindahan tangan handphone dari ayah. Suara kedua tidaklah sama dengan suara pertama yang ringan dan terkesan santai. Jaga diri kau di tanah orang! Kau pasti bisa! Begitu kira-kira terjemahan nada suara ayah. Namun suara kedua yang selalu menanyakan "Sudah sholat Mas?" adalah sihir lain. Magis verbal yang meluluhlantakkan kecongkakkan dan kealpaan. Karena dalam suaranya yang berat tertahan seolah berkata Walaupun ibu tahu kau akan baik-baik di sana, ibu tak bisa menahankan ini, ibu rindu padamu, Nak! Biasanya badanku lemas dan hanya bisa menjawab "iya","sudah","bisa","baik", atau sesekali tertawa mendengar cerita ibu tentang adik bungsuku yang makin pandai saja memainkan ponsel ayah. Menirukan gaya orang berbicara di telepon. Padahal usianya belum genap satu tahun.

Di sini | di dalam benakku | ada gundah | tanpa arah || resah | gelisah

Penyesalan ibarat pahlawan yang selalu datang terlambat, pahlawan kesiangan. Serasa paling baik dan pantas keberadaannya, namun tak dapat berbuat apa-apa. Seperti fatamorgana. Menggiurkan untuk digapai, tapi tak ada yang bisa didapat setelahnya. Penyesalan juga adalah misteri hidup yang takkan pernah bisa dipecahkan manusia. Tak ada yang tahu asal-muasal rasa sesal kecuali dari kesalahan yang telah dilakukan. Namun berulang kali, kesalahan serupa bahkan sama akan terus dilakukan dan memunculkan penyesalan baru. Tak peduli setua apa manusianya, ia pasti melakukan sebuah kesalahan untuk disesali. Penyesalan tak pernah dapat dipelajari.

Hari itu, tanpa perlu kuceritakan detilnya, aku melakukan kesalahan. Serta merta aku mengutuki keadaan yang tak menguntungkan bagiku waktu itu tanpa sedikitpun membiarkan adanya kemungkinan. Entah kemungkinan baik atau terburuk, aku sungguh bodoh (jika lebih menghaluskan kata tolol) membiarkan ego merajai beserta emosi sebagai ratu atas diriku sendiri. Pasangan tersebut terlalu kompak mengendalikan rasionalitas yang ada untuk tak sekedar melongok keluar. Jadilah aku terperangkap pada kesalahan serupa dengan hasil akhir sebuah penyesalan. Itu beberapa hari yang lalu.

Malam ini, setelah membaca sebuah tulisan tentang rumah, kesadaranku terguncang sedemikian rupa. Begitu hebat hingga meruntuhkan tembok besar yang telah dibangun pasangan ego dan emosi. Namun begitu lembut menyentuh alam bawah sadarku. Membisikkan kenangan-kenangan indah masa kecilku.

Ah, masa kecilku, teman. Kalian tidak akan menyangka bahwa masa kecilku bahkan tak akan bisa dibuat cerpen. Kisah-kisahnya terlalu berarti untuk disingkat dalam sebuah cerita pendek. Dengan ayah dan ibu sebagai tokoh kunci dalam kehidupan kecil tokoh utama, lengkap sudah cerita ini menjadi memoar indah masa kanak-kanakku.

Aku yang selalu meminta apa pun yang tertulis dalam daftar keinginan, akan selalu mendapatkannya. Karena ancamanku adalah ancaman terburuk anak kecil usia empat tahun saat itu. Aku ingat saat orang satu kampung (teman, aku serius, benar-benar satu kampung saat itu) kocar-kacir berpencar ke seluruh pelosok desa. Pencarian yang memakan waktu berjam-jam itu demi menemukan seorang bocah yang sedang ngambek dan minggat dari rumah hanya karena tidak dibelikan permen aneh berbentuk badut di swalayan. Alhasil, si bocah ditemukan nun di ambang masuk hutan saat petang. Lebih kurang ajar, saat permen badut sudah dibelikan, bocah itu dengan enteng bilang "Aku sudah nggak pingin lagi".

Baik ayah maupun ibu memiliki cara unik menghadapi anak pertamanya yang super nakal ini. Ayah dengan sikap tenang dan santai selalu terkesan mengacuhkanku, padahal dialah yang paling pening dibuatnya. Belakangan setelah dewasa, ayah memberitahuku bahwa aku pernah dikencinginya saat mandi. Tradisi orang jawa katanya. Untuk menjinakkan anak laki-laki. Sementara ibuku lain lagi. Dia selalu berusaha memberikan apa yang kumau. Kehadiranku sebagai anak pertama memang terlalu berarti baginya yang terbilang muda menjadi seorang ibu. Jadilah hari-hari rumah tangga ayah dan ibuku dengan anak pertamanya menjadi adegan-adegan film komedi keluarga bagi lingkungan rumah yang kerapkali menjadi penonton ulah hebohku.

Di sini | tepat dalam dada | ada nama | yang kurindu || ayah | ibu

Maka rumah dan wajah ayah dan ibu telah beberapa hari ini berseliweran di kepalaku, seperti gerombolan kupu-kupu kuning yang mengelilingi pohon berbunga di kampus tadi siang. Saat kugetarkan pokok pohon itu, ratusan kupu-kupu pecah ke sana kemari sangat indah. Namun mereka tak pergi jauh. Karena sejurus kemudian kembali mengerumuni bunga-bunga bernektar di pohon. Seperti saat kucoba menggeleng-gelengkan kepalaku, bayangan itu pudar sesaat untuk menjelma menjadi rupa-rupa ayah dan ibu dalam berbagai ekspresi lain.

Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan tentang aku yang dengan lancangnya mematikan handphone selama beberapa hari ini agar tak bisa dihubungi. Aku pun tak mau ambil pusing dengan kiriman yang belum datang juga padahal bulan telah berganti, walaupun harus berhutang lagi pada temanku yang lain. Aku hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan minggu ini. Menghabiskan hari-hari sebelum idul adha nanti. Empat hari ke depan. Aku hanya ingin berlari kencang atau jika perlu melompati waktu untuk berada pada sabtu malam saat aku telah tiba di rumah setelah menaiki kereta malam jurusan Jogja-Purwokerto. Aku hanya ingin cepat-cepat mencium tangan ayahku yang selalu bau asap rokok. Serta memeluk ibu yang [selalu] makin kurus saja. Aku ingin kembali sejenak dari segala kepenatan di Jogja. Aku ingin mengakhiri rezim ego dan emosi yang menggelontorkan penyesalan tiada ampun. Aku ingin pulang.

Teman, aku beri tahu sebuah rahasia. Ini tentang kata FAMILY yang merupakan sebuah singkatan:

Father
And
Mother
I
Love
You ...




sumber gambar :
http://www.dotservices.com.au/DOTS%20happy%20family%20cartoon.gif