
" Sudahlah nggak usah terlalu banyak basa basi! Saya minta uang saya hari Senin besok! Emang nggak ada yang namanya sahabat sejati, yang ada kepentingan pribadi! "
...
Pernahkah kau merasa menjadi manusia berwatak sangat buruk dan hidup berlumuran dosa justru saat segalanya terlihat baik-baik saja? Tahuhah kau apa rasa sakit hati yang sesungguhnya? Hal itu yang kurasakan hari ini. Sungguh. Tanpa perlu dramatisasi, tanpa harus hiperbola. Karena keduanya memang mewujud hari ini, di sini, di balik rusuk ini.
Siapa yang tak punya kekurangan, dosa, aib, rahasia, atau apapun itu namanya? Siapa pula tak ingin lepas dan bebas dari segala rempah bahkan kerak yang menodai sedikit atau banyak relung hati? Aku punya kekurangan, dosa, aib, rahasia, dan aku sangat ingin lepas dari itu semua. Nyatanya, bagian hidup tak pernah benar-benar hilang selama hati dan pikiran masih sehat melekat pada raga. Bahkan ketika alam sadar kita berhasil menyingkirkan satu memori, tidak demikian dengan alam bawah sadar yang menangkap tiap detil kehidupan, seberapa tidak penting hal tersebut.
Teman, kawan, pren, cs, sahabat. Itulah yang sedang dan akan kubicarakan pada kesempatan kali ini. Perkara bahasanku di awal melebar hingga ke aib seorang manusia biasa, nantinya memang akan berkaitan hingga ke sana (mungkin).
Sebut saja Rahib. Teman satu kampus sekaligus satu kelas dan satu asrama semasa kuliah super pendekku di Jogja. Singkat cerita, bersama Rahiblah aku lebih banyak menghabiskan waktu ketika tidak menyendiri. Kami berangkat dan pulang kampus hampir selalu bersama, ke kantin, ke perpustakaan, hampir ke mana aku pergi, dia akan mengikuti atau sebaliknya. Aku bukan tipe orang yang terlalu tertutup hingga tidak bisa bergaul dengan orang lain dan hanya berkutat dengan satu hubungan pertemanan, meskipun tidak terlalu pandai bergaul juga. Rahiblah, yang dalam kesehariannya terlalu menutup diri dan merasa puas dengan satu teman dekat. Sayangnya, dia memilihku.
Dengan sifat dasarku yang mudah bosan dan tak pernah mau terlalu nyaman pada satu keadaan, aku tak melulu bergaul dan berbagi cerita dengan Rahib. Meski kami pada akhirnya memiliki jadwal rutin untuk bersama. Setiap Sabtu sore hingga cukup larut malam kami biasa menghabiskan waktu di luar asrama: duduk-duduk santai di pelataran UGM sambil menyantap buah nangka yang kami beli di samping kantor harian Kompas, hunting buku di Gramedia meski lebih sering hanya membaca di tempat, atau sekedar jalan-jalan keliling mal sambil ngobrol ini dan itu. Aku bersyukur memiliki kegiatan rutin demikian. Namun Rahib dengan sifatnya, ternyata menaruh ekspektasi besar (mungkin).
Terbukti, ketika akhirnya kuputuskan hengkang dari Jogja dan memilih berkonsentrasi menyendiri di rumah, Rahib kembali menjadi orang sangat tertutup. Teman-temanku yang lain di kampus bahkan bilang dengan nada hiperbolis bahwa Rahib kehilangan semangat bergaulnya sejak kepergianku. Aku hanya menanggapinya ringan. Toh kami tetap berkomunikasi lewat telepon.
Sejauh ini tidak ada masalah, tidak ada yang perlu disoalkan. Karena ceritaku belum lengkap. Cerita selanjutnya mungkin akan terdengar ganjil malah wagu.
Jujur. Aku tidak bisa ingat siapa diantara kami yang lebih sering menyulitkan dan merepotkan yang lain. Yang kutahu, aku dengan sifatku, memang lebih sering ditraktir ketimbang menraktir. Ya, I'm talking about food. Sementara di sisi lain, aku juga cukup memperlancar keperluan Rahib yang membutuhkan transportasi karena akulah yang memiliki motor. Rahib hampir tidak bisa menolak saat aku dengan gaya khasku minta ditraktir. Begitu pun aku yang tak akan menolak jika dia memang perlu diantar ke sana sini atau sekedar meminjam motor untuk keperluannya.
Yang kutahu, aku selalu menganggap traktiran darinya adalah kebaikan dan sifat khas Rahib yang tak pernah itungan dengan teman. Sementara aku, sekali lagi dengan sifatku, walau kadang merasa keberatan, hampir selalu memenuhi permintaannya perihal transportasi. Rahib bukanlah seorang yang bisa diandalkan dalam mengendarai motor seorang diri.
Sesaat sebelum kepergianku dari Jogja, aku, dengan sangat terpaksa namun terkesan memaksa, meminjam sejumlah uang kepada Rahib. Bisa dikatakan aku memang sangat memerlukannya saat itu. Hingga akhirnya aku tak kembali lagi ke Jogja. Rahib pernah sekali menanyakan tentang uangnya. Aku baru mampu mengembalikan setengahnya pada waktu itu. Dan semuanya masih baik-baik saja.
Hingga suatu ketika, aku, sekali lagi meminta bantuan padanya. Aku merasa berada pada titik terendah pada waktu itu hingga berani meminta bantuan lain padahal aku masih berhutang padanya. Aku memaklumi jika pada akhirnya dia tak menyanggupi permintaan tolongku. Aku sangat paham.
Lalu di saat lain, giliran dia meminta bantuanku. Jujur, sebuah permintaan yang cukup ringan sebenarnya. Tapi aku, sekali lagi, dengan sifatku, yang bisa menjadi sangat repot karena urusan orang lain, namun di saat lain, bisa sangat acuh, khususnya jika orang itu sudah kuanggap dekat. Kupikir, dia pasti akan memahami. Waktu berlalu hingga hampir satu bulan. Aku masih berhutang setengah hutangku padanya, sekaligus masih belum bisa menepati permintaan tolongnya.
Hari ini, dia mengirim pesan singkat. Tadinya kupikir dia akan menagih permintaannya yang belum kupenuhi. Sudah kusiapkan beribu alasan diplomatis yang pastinya akan sangat menyebalkan. Namun tidak. Dia datang untuk menagih hutangku yang berupa uang. Bukan nominal besar. Tapi cukup bermanfaat untuk ukuran anak perantauan. Aku menjawabnya tegas bahwa mungkin hutang itu baru bisa kulunasi saat aku sudah berada di Jakarta. Saat menjawab itu, murni yang ada di pikiranku adalah hal ini tidak akan terlalu menyusahkannya. Aku tahu pasti bagaimana keadaan keuangan dia dengan sokongan keluarganya. Tanpa nominal yang kupinjam pun, dia akan tetap hidup berkecukupan. Aku pasti akan mengembalikannya. Tapi tidak sekarang. Satu, karena aku memang belum memegang sejumlah itu. Dua, karena sekali lagi, aku merasa semuanya akan baik-baik saja. That's it!
Kutambahi pesan singkatku dengan apa yang dia sebut basa basi. Kutanyakan tentang calon adiknya yang sebentar lagi akan lahir, apa jenis kelaminnya, sudahkah ada nama yang disiapkan. Tapi jawabannya adalah pesan singkat yang kutulis di pembuka tulisan ini.
Seketika, tubuhku lemas dan mukaku panas memerah. Aku tidak marah. Aku tak sedikitpun kesal akan jawaban itu. Yang kurasakan pagi tadi, adalah kesedihan. Aku sedih sekaligus membenci diriku sendiri. Aku menangis bukan karena mendapat kata-kata pedas dari temanku. Tapi karena telah berhasil membuat temanku berkata begitu pedas padaku. Akulah yang menyebabkan ini semua terjadi. Akulah yang menjadikannya begitu sinis dan skeptis seperti itu. Seketika gambaran-gambaran kebersamaan kami mengalir di hadapanku dan justru menjadikan rasa sakit yang baru pertama kurasakan mengetahui semuanya hanya akan berakhir seperti ini. Rahib kelewat kecewa hingga tak lagi memercayai sebuah pertemanan.
Malu untuk mengatakannya, tapi aku menangis cukup lama hingga tertidur memikirkan hal ini. Apa yang kupikirkan bukan melulu tentang kekesalan Rahib berkat tindakanku menyepelekan sebuah permintaan. Pikiranku berlari liar ke sana kemari sambil mengutuki diri sendiri. Seburuk itukah aku? Benarkah setiap orang memiliki pandangan yang sama dengan Rahib? Apakah teman-temanku yang lain bahkan yang paling dekat pun berpikiran hal yang sama dengan Rahib, bahwa aku sangat egois, hanya memikirkan kepentingan pribadi, diri sendiri, dan selalu menyusahkan sekaligus mengecewakan? Aku kehilangan pijakan saat memikirkan hal tersebut.
Hingga ku terbangun, tak ada kesimpulan pasti untuk semua itu. Benarkah konsep persahabatan begitu rumit dan sialnya aku terlalu menyederhanakannya? Atau justru tak ada konsep atau rumusan pasti dan aku yang memperumitnya? Aku tersesat dalam pikiranku.
...
Untuk sementara, satu penyimpulan absurd yang mulai hari ini akan kuterapkan dalam bergaul sekaligus kujadikan prinsip hidup adalah, bahwa uang memang dibutuhkan terkadang untuk kepuasan atau kebahagiaan, namun uang juga adalah senjata ampuh menuju penderitaan dan kekecewaan. "TAKKAN PERNAH SEKALIPUN KU MEMINJAM UANG PADA TEMAN, BILA PERLU, TAKKAN PERNAH KU MAU DITRAKTIR TEMAN". Biarlah semua orang memprotes pikiran pendekku kali ini. Pengalaman burukku seputar teman dan uang mengajariku demikian.
Tapi ini belum selesai. Tujuanku menulis di blog dan memamerkan kebodohan serta ketololanku di muka umum dengan potensi pembaca tak terhingga adalah untuk mendapat komentar. Bagi kalian yang pernah mengenalku, atau yang pernah dekat denganku, atau yang memang dekat denganku, atau yang tidak mengenalku sama sekali, berkomentarlah sesuka kalian. Cerca dan caci maki tulisanku jika perlu. That's all I need. Yang jelas, belum pernah aku sesakit ini menghadapi sebuah keadaan.
NB: Baru sekali ini aku tak melakukan pembelaan sedikitpun atas tuduhan orang yang ditujukan padaku. Aku hanya menjawab dengan pasti akan mengembalikan uangnya hari Senin depan sesuai permintaannya. Tak ada lagi basa basi, tak ada kalimat lain.
Sumber gambar:
http://shasei.deviantart.com/art/desperate-80582527
Juni 13, 2009
Am I That Bad ?
April 09, 2009
Bussiness, as Usual

Yogyakarta, 2008
"Lalu sekarang, apa yang akan Miss lakukan?" aku memandang dosen bahasa Inggris sekaligus salah satu teman terbaikku selama berada di kota perantauan.
"Apa yang bisa kulakukan?" pertanyaan buntu. Nampaknya memang tak ada yang bisa dilakukan dalam keadaan seperti itu.
Bagiku, hanya kekecewaan yang bersarang di hati saat mengetahuinya. Kecewa akan apa yang menimpa dosenku yang sangat baik ini. Kecewa pada oknum-oknum penyebab ini semua. Kecewa menerima kenyataan bahwa tak banyak yang bisa kuperbuat untuknya.
"Tapi Fa, paling tidak aku masih bisa bersyukur," bagian inilah yang paling kutunggu,"Bayangkan jika sekarang aku menjadi bagian dari mereka. Mungkin aku malah tidak pernah tahu."
Sebaiknya kubuka saja apa yang sedang kubicarakan di sini. Adalah dosen bahasa Inggrisku di sebuah universitas Islam swasta yang pernah menjadi ladang tempatku menimba ilmu. Sebut saja Miss Jasmine. Dengan mengantongi ijasah sarjana sastra Inggris dari universitas negeri cukup ternama di kota yang sama, statusnya di universitasku saat itu belum menjadi dosen tetap. Dan langkahnya untuk menuju ke arah sana nyaris lengkap dengan ijasah Master of Art yang diperolehnya dari universitas negeri paling populer tak hanya di kota tersebut tapi juga di negeri ini.
Nyaris lengkap. Tepat beberapa bulan setelah gelar master dikantonginya, Miss Jasmine tak melewatkan peluang untuk menjemput mimpinya. Singkat cerita, setelah melewati beberapa tahapan tes tertulis untuk menjadi dosen tetap di sebuah universitas Islam negeri ternama, tinggallah dia dihadapkan pada seleksi terakhir. Miss Jasmine menjadi satu dari dua kandidat yang berhasil sampai di titik aman terakhir ini.
"Guys, aku minta do'a dari kalian untuk seleksi besok. Jika semuanya berjalan lancar, kita adakan syukuran, oke?" Miss Jasmine yang masih lajang dan berjiwa muda terlihat sangat ceria dan bersemangat seperti biasanya.
"Makan-makan Miss?" celetukku yang juga antusias pada kesempatan ditraktir. Dan Miss Jasmine tersenyum.
Sebagai seorang wanita, Miss Jasmine memiliki semangat yang berapi-api dan mampu menginspirasi siapa pun untuk malu pada kata menyerah atau sekedar bermalas-malasan. Dia tak hanya menjadi pengajar di satu tempat, tapi tiga tempat sekaligus dengan jam kerja melampaui batas maksimal jam kerja seseorang di negara manapun. Bayangkan saja, setiap hari (kecuali Minggu) dia memulai aktivitas mengajar dari jam tujuh pagi hingga jam sembilan malam dengan jeda waktu yang tidak seberapa. Hampir seperti buruh pabrik saja.
"Aku juga tak tahu kenapa ya Fa. Yang jelas, aku menikmati pekerjaanku. I mean, I meet different people with many kind of personalities, every day. It such challenges me." tuturnya suatu hari melalui sms ketika ditanya mengenai jam kerja rodinya.
Ah ya, kelanjutan cerita tadi. Akan kumulai lagi dengan pesan singkat Miss Jasmine di hari pengumuman akhir.
"Lucu Fa. Lucu banget. Kuceritakan besok di kelas ya."
Tadinya kupikir Miss Jasmine akan membawa berita baik yang diwarnai hal-hal lucu. Tapi kalimat pertama yang muncul dari mulutnya sebagai jawaban atas pertanyaanku sekaligus teman-temanku pagi itu adalah "aku gagal" dengan senyum yang masih mengembang, tanpa perubahan ekspresi yang berarti.
Ya, Miss Jasmine gagal menjadi dosen tetap di universitas Islam negeri itu. Nama yang muncul di pengumuman final adalah nama "rival" satu-satunya yang lolos ke tahap terakhir. Tapi cerita masih berlanjut, lebih tepatnya, bercabang ke belakang.
Ternyata, pada H-1 sebelum pengumuman, Miss Jasmine telah mendapatkan sesuatu yang tak seharusnya diberikan padanya. Sebagian besar karyawan hingga staf pengajar di universitas yang bersangkutan memberikan pengumuman tidak resmi. Miss Jasmine menerima begitu banyak ucapan dan jabat tangan dengan ekspresi "selamat bergabung". Bahkan salah seorang darinya memberi bocoran tentang calon meja pengajar yang akan ditempatinya. Tak pelak, Miss Jasmine pulang dengan sejuta angan dan kebahagiaan yang menggebu mengetahui salah satu mimpinya akan terwujud.
"Bisa kubayangkan ..." Miss Jasmine hanya mengedikkan mata menanggapi respon awalku.
Keesokan harinya, Miss Jasmine lagi-lagi harus menunda puncak kebahagiaan yang sebelumnya juga tertunda, karena pengumuman yang dijanjikan keluar pada pagi hari, tak kunjung muncul hingga malam hari. "Sampai di sini, aku mulai berpikir ada yang aneh."
"I see ..."
"Yah, kau bisa menerka yang mungkin terjadi hari berikutnya. Bukan namaku yang terpampang di pengumuman final."
"Pasti sangat mengejutkan," aku membayangkan jika aku ada di posisi itu.
"Belum pernah aku seterkejut itu," raut mukanya berubah sedikit,"Tapi itu hanya beberapa detik kok Fa. Aku tak mau emosi apalagi mencari kambing hitam. Jadi aku langsung saja mendatangi kantornya, sekaligus konfirmasi pada para 'pemberi ucapan selamat' hari sebelumnya. Aku hanya ingin bilang, jika itu sebuah lelucon, sangat tidak lucu."
"Lalu..?"
"I got silence. Nobody spoke up. They were just shown their innocence. And I felt sad at that time," rona mukanya masih menunjukkan hanya sedikit perubahan, tapi tak pernah mengindikasikan akan meneteskan air mata atau sejenisnya,"Untung ada Lily. Dia cukup membantu dengan menawarkan bantuan meski aku sendiri tidak cukup yakin.
"Lily berjanji akan mengusut masalah ini. Jika perlu, dia akan meminta orang tuanya yang pejabat Departemen Agama turut menanganinya."
"Bukankah itu bagus?" tak bisa kupikirkan kata-kata lain.
"Masalahnya, aku tak yakin dengan kekuatan yang ada," aku diam tanda tak mengerti, "Hal ini sudah diangkat hingga ke tingkat rektorat Fa. Dan kau tahu, bahkan sang Rektor bungkam. Aku tak mau berburuk sangka, tapi aku yakin kau mengerti maksudku."
Sebenarnya tak perlu ada buruk sangka di sini. Ataupun sebuah kesimpulan. Yang bisa kumengerti di sini adalah, apa yang menimpa Miss Jasmine sebenarnya hal 'biasa'. Bisa dibilang, mungkin banyak kasus serupa yang menimpa orang lain di luaran sana. Gambaran tentang rumit dan kotornya birokrasi yang ada di Indonesia sudah cukup jamak sebenarnya. Yang tidak biasa adalah, menjadi bagian paling minor, paling dirugikan, dan paling tak berdaya di dalamnya. Dan itulah yang sedang dialami Miss Jasmine.
Ingin sekali kukatakan kalimat-kalimat tadi sebagai penghiburan kecil untuknya. Tapi bibir ini kelu justru karena Miss Jasmine sama sekali tak menangis atau sekedar menunjukkan kesedihannya. Dia kembali tampil di depan kelas seperti Miss Jasmine yang biasanya. Yang ceria, murah senyum, enerjik, dan mudah menularkan semangat pada orang lain. Aku tahu, aku mengerti benar, dia tak menyerah. Mungkin dia memang tidak melakukan apa-apa sebagai bentuk pembelaan atau upaya pembuktian. Tapi dia telah menang. Baginya, dan bagiku. Dia menang karena tak terjebak pada kekecewaan yang mendalam. Dia menang atas ketidakberdayaan yang tak mampu membuatnya menyerah atau merasa kalah. Dia menang karena bangkit walau habis jatuh tertimpa martil keras kemunafikkan.
"Mmm.. mungkin seandainya aku tak pernah mendapat penyambutan tidak resmi itu, hal ini hanya akan kuanggap sebagai 'hasil yang belum sesuai harapan'."
"Dan tentunya tidak akan terlalu menyakitkan," kali ini sorot matanya mengguratkan kepedihan.
"Sebenarnya ini semua untuk ibuku," tambahnya sedikit berbisik.
Dan seandainya aku tidak berada di kelas saat itu, mungkin aku yang mewakili kesedihan Miss Jasmine dalam tangis.
(Berdasarkan kejadian nyata dengan nama tokoh disamarkan)
Sumber gambar:
http://orikomi.deviantart.com/art/dissapointed-angel-edited-109941238
April 01, 2009
Petualangan Lahir dan Bathin
Keputusan untuk akhirnya membeli buku ini diawali dilema besar. Di tanganku saat itu sudah ada dua buah buku dengan genre yang tadinya kupikir sangat berbeda. Sebagai pecinta karya Jostein Gaarder yang masih pemula karena baru membaca salah satu karyanya, The Solitaire Mystery, rasa penasaranku untuk mencicipi ramuan fantasi, spiritualitas, dan filsafat di karyanya yang lain sedang menggebu-gebu. Cecilia dan Malaikat Ariel sudah di tangan dan hampir kuserahkan ke kasir ketika mataku menangkap sebuah judul yang cukup eye catching. Buku bersampul dasar putih dengan gambar backpack dan bendera-bendera negara Eropa ini pun kuambil. Judulnya cukup panjang, “ Back “Europe” Pack; Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar! “
Buku tersebut sekonyong-konyong membangkitkan mimpi lama yang sedang lesu dan malas kubahas, keliling dunia. Karena aku berada di toko kecil, jadi mustahil mengharapkan sampel buku yang terbuka. Aku pun cukup membaca tulisan-tulisan yang ada di sampul depan dan belakang. Selain tulisan “1.000 dolar untuk 45 kota, 13 negara, 10.600 km, dan pertemanan tak ternilai “ yang terdapat di sampul belakang, ternyata ada komentar dari seorang penulis Indonesia favoritku, Dewi Lestari, di bagian sampul depan. Dengan segala hal ‘menjual’ sekaligus memikatku yang ditawarkan buku itu, mau tidak mau membuatku berada pada tekanan dilematis. Setelah perang sengit di benak, akhirnya kuambil buku berjudul super panjang itu sembari mengembalikan karya Jostein Gaarder ke raknya.
Lembar-lembar awal berisi tentang sejarah pencetakan buku yang bermula dari jurnal perjalanan penulis di blog. Hal unik pertama yang kutemui di buku yang tadinya kupikir berisi tips-tips aneh dan nyeleneh ini adalah ide besar perjalanan nekat keliling Eropa dengan modal sangat minim dan ditempuh sendiri (apalagi sang Penulis adalah wanita). Ide apakah gerangan? Yaitu dari segala hal yang penulis alami di Eropa, semua pengalaman travelling, sight seeing, culinary, hingga perjalanan spiritual yang kaya pelajaran hidup, diperoleh penulis bukan melalui jalur eksekutif apalagi illegal, melainkan jalur pertemanan.
Bab pertama berisi tentang uraian alasan mengapa kita ‘harus’ melakukan travelling. Ada tiga belas alasan yang diuraikan dengan segar dan menarik didasarkan pada pengalaman pribadi penulis. Dimulai dari alasan paling mendasar ‘menyenangkan’, hingga alasan mendalam dan cenderung teoritis tapi sangat relevan ‘teori fitrah’.
Dilanjutkan bab berikutnya yang berisi tentang 13 langkah yang perlu dilakukan sebelum berangkat. Boleh dikatakan, bab kedualah yang menjadi modal pemasaran utama buku ini. Selain menjadi bab yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika membaca judul buku, bab ini sekaligus menjadi semacam panduan praktis bagi siapapun yang hendak mengaplikasikan saran-saran di dalamnya. Dilengkapi dengan space-space kosong untuk diisi pembaca saat merencanakan perjalanan mereka seperti uang yang harus dikeluarkan di tempat ini, untuk keperluan ini, karena alasan ini, makin menjadikannya menarik karena memudahkan pembaca tanpa harus membuat dari nol rencana perjalanan mereka.
Sampai titik ini, apresiasiku terhadap buku ini tak lebih atas ide besar jalur pertemanan yang diusung. Apalagi dijelaskan dalam bab dua tentang jalur pertemanan macam apa yang dimaksud penulis, bagaimana untuk bisa masuk ke dalam jalur tersebut, serta tips-tips agar bisa enjoy selama berada di jalur tersebut. Dan tentunya, seperti yang ditulis Mbak Dewi Lestari di sampul depan buku, bahwa buku ini merupakan hasil pengamatan jeli penulis setelah mengalami perjalanannya yang akan mampu menginspirasi siapa pun untuk berani merambah dunia, dan mempercayai keindahan hati manusia.
Ketika hendak break membaca karena merasa telah mendapat intisari buku, lagi-lagi aku dibuat penasaran dengan sub judul ketiga “13 Negara”. Selain rasa penasaran kenapa penulis cinta sekali angka tiga belas, sebenarnya aku lebih ingin tahu apakah Inggris menjadi salah satu Negara yang penulis kunjungi (karena nama tersebut telah lama mengendap dalam dimensi mimpiku). Akhirnya kubuka halaman selanjutnya.
Dimulai dengan pengantar bab tiga, penulis menggambarkan bahwa selain modal yang tersedia di bab pertama dan kedua, ada satu lagi hal yang sangat diperlukan dalam rangka melakukan perjalanan cross culture apalagi melalui jalur pertemanan. Bukan hanya cuaca, tempat, dan bahasa, tapi juga tentang orang-orang yang akan kita temui yang menjadi partner di jalur pertemanan tadi. Tantangan terbesar yang jika dilalui akan menghasilkan keajaiban-keajaiban perjalanan tak ternilai adalah seberapa terbukanya kita. Seberapa besar kesediaan untuk saling bertukar, berdialog, dn memahami, yang seringkali dituntut dari kita dalam isu-isu terringan hingga terberat seperti agama (hal 77).
Pada awalnya tulisan tersebut tak begitu membekas di benak, hingga akhirnya aku berlalu dan membuka halaman selanjutnya. Satu halaman penuh foto-foto dan beberapa spot untuk tulisan-tulisan yang melaporkan keadaan di negara yang sedang dibahas. Negara pertama adalah Jerman dengan kota pertama Frankfurt yang memiliki bandara internasional terbesar di Eropa. Di sanalah Marina Silvia Kusumawardhani memulai perjalanannya dengan seorang host bernama Okan, yang merupakan kenalannya ketika Okan menjadi exchange student di kampusnya, ITB. Penulis berhasil mendapatkan akomodasi pertama yang sangat memuaskan berupa tumpangan di flat sang Host yang tentunya tak menarik biaya sedikitpun. Di sinilah mulai jelas, kenapa dengan uang 1.000 dolar, penulis dapat menjelajahi 45 kota di 13 negara. Jalur pertemanan jawabannya.
Kemudian lembar-lembar berikutnya pun tak jauh berbeda. Satu lembar penuh foto-foto, nama negara, tanggal kunjungan, nama kota, host, dan laporan keuangan. Yang terakhir adalah yang paling tidak masuk akal. Bayangkan saja, laporan keuangan ketika berada di St.Petersburg, Rusia adalah 1 Euro, bahkan laporan keuangan di Roma pun hanya 1,5 Euro, sama seperti kota-kota lain yang rata-rata tak lebih dari 5 Euro. Kalaupun ada yang cukup besar, pastilah untuk biaya transportasi antar-negara itu pun berkisar 5-10 Euro dan sekonyong-konyong tergantikan dengn cara-cara yang tak terduga. Seperti bekerja part-time ‘illegal’ karena sang Host di Stocholm ternyata seorang atasan sebuah rumah makan atau menjadi volounteer membersihkan area konser di Trondelag yang menggantikan uang tiket. Bahkan beberapa kali penulis mendapat uang cuma-cuma dari orang tak dikenal hanya karena menanyakan tempat penukaran uang. Woww!
Di antara lembaran-lembaran laporan perjalanan dengan konsep seperti di atas, ada berlembar-lembar jurnal perjalanan yang ditulis penulis atas dasar pengalaman pribadi di tiap kota atau (kebanyakan) hasil perbincangan dengan orang-orang yang ditemuinya di sana. Jurnal perjalanan inilah yang menarik perhatianku begitu mendalam. Selain berisi pengalaman-pengalaman unik, perbincangan yang terjadi antara penulis dan orang-orang di berbagai belahan Eropa pun terbilang dalam dan jarang (hampir tidak mungkin) diperbincangkan pemuda-pemuda di Indonesia. Tentang kehidupan, pengalaman spiritual, agama dan kepercayaan, hingga masalah ekonomi, sosial, dan politik.
Perbincangan serius, santai, hingga penuh canda yang terjadi tak hanya kaya akan makna, tapi juga membuka cakrawala penulis tentang satu tema besar kehidupan, perbedaan. Betapa sebuah perbedaan, entah perbedaan keyakinan ataupun perbedaan sudut pandang, dapat memberikan arti yang begitu mendalam tentang apa yang di’perbedakan’. Sebagai seorang muslimah berjilbab, penulis justru sering mendapati host yang tak hanya berbeda keyakinan, tapi bahkan ‘tak berkeyakinan’ alias atheis. Tapi itu tak membuat penulis menutup diri dan hanya menjadikan teman baru yang telah dengan baik hati menampung bahkan mentraktirnya selama di Eropa hanyalah alat melancarkan perjalanan efisien. Justru dari perbedaan yang sangat mencolok seperti penampilan, penulis bisa berbagi pengalaman dan pikiran tentang konsep kehidupan, konsep Tuhan, keyakinan, kebahagiaan, keikhlasan, cinta. Ya, aku sama sekali tidak mengada-ada atau melebih-lebihkan. Inilah yang membuatku berani member bintang lima untuk buku berjudul panjang dan cenderung komersil ini di goodreads.com. Sampai di sini, aku baru menyadari arti kata ‘seberapa terbuka kita dalam bertukar pikiran’ di pembuka bab.
Akhirnya, sebagaimana sebuah review buku, harus ada keseimbangan di dalamnya. Setelah aku menguraikan ‘sedikit’ kelebihan buku yang bagiku tak terduga berada di balik judul buku itu sendiri, sekarang tiba saatnya kita memasuki bagian kekurangan.
Secara kebahasaan, aku sangat memahami jika penulis tak terlalu formal alias lebih menyegarkan tiap kata yang digunakan. Karena pada dasarnya buku ini memang diperuntukkan untuk menyegarkan bukan menyuramkan. Satu-satunya kekurangan buku ini adalah penataan perpaduan antara foto dan tulisan yang seringkali mengganggu mata saat membaca. Foto yang diperbesar atau dijadikan dasar halaman, terkadang membuat kabur tulisan yang ada di atasnya. Dan mungkin, seandainya buku ini dibuat full colour akan lebih menarik karena visualisasi kota-kota dan aktivitas yang terjadi semakin hidup. (Meskipun pastinya berdampak pada harga yang akan melambung tinggi mengingat porsi fotonya lebih dari setengah tebal buku).
Well, di luar segala kekurangannya, aku tetap berpegang teguh pada prinsipku ketika menikmati sebuah karya. Bahwa seburuk apa komentar orang tentang buku ini karena kekurangan yang mencolok atau kesalahan-kesalahan teknis, bahkan ketidakcocokkan selera, porsi penilaianku biasanya lebih dipengaruhi bagaimana buku tersebut bisa menimbulkan kesan, efek, atau mungkin candu yang tidak ditimbulkan oleh buku lain. Dalam hal ini, buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini telah memberi warna dan sensasi tersendiri saat ku membacanya. Sangat direkomendasikan pada mereka yang haus akan warna lain kehidupan di samping tentunya, para back packer atau yang bercita-cita menjadi back packer. Akhir kata, difference is beauty.
P.S. : Ternyata Inggris tak masuk daftar 13 Negara yang dikunjungi penulis T_T
Maret 20, 2009
Complicated
Hari ini aku menyadari sesuatu. Sebuah perasaan tak bernama dan tak kuhirau belakangan mencuat begitu kuat mengisi hari-hariku. Aku tak akan berani dan mau menamai perasaan tersebut sebagaimana perasaan tersebut tak mau permisi hadir dalam hidupku. Lagipula, tak ada nama untuknya. Kali ini, biarlah aku sepandangan dengan Ayu Utami "bahwa keindahan tak membutuhkan nama, hanya perlu dirasakan".
-------
Kepada M,
Aku tak tahu lagi harus berkata apa, atau mungkin memang ini tak perlu dikatakan. Aku cukup bahagia merasakannya. Kau muncul lagi mengisi hari-hari 'kosong'ku. Kau hadir di tengah dahagaku akan perasaan nyaman dan tentram. Kau tak pernah berubah. Kau sangat memahamiku.
Jujur saja, aku ingin sekali menghapus sebagian masa lalu kita. Bukan seluruhnya, hanya sebagian saja. Sebagian yang berhasil menyakitimu begitu dalam. Sebagian yang meninggalkan luka di hatimu. Sisanya, biarlah menjadi kenangan indah masa remaja kita.
Kau mungkin bingung, kau pasti bingung, apa maksudku menyampaikan kalimat-kalimat di atas. Begitu pun aku. Tak bisa kupahami jalan pikiranku, sehingga dengan mudahnya kuminta kau mendengar ceritaku beberapa malam belakangan. Kau masih seperti dulu, yang dengan sangat baik menjadi pendengar atas setiap kisah maupun keluh kesahku. Aku, dengan keadaanku yang sekarang, dan masa laluku yang seperti itu, seolah tak pernah menjadi alasan untuk membuatmu berubah. Aku, yang pernah menyakitimu begitu dalam, dan kini hadir menjadi pengganggu hari-hari penatmu, tak menyurutkan semangat seorang M yang selalu nampak ceria dan setia pada tawa kerasmu.
Bahkan untuk hal-hal yang mungkin menyakitimu, aku begitu terbuka, terlalu terbuka malah. Entah kenapa, aku masih merasakan nada getir dalam tawa dan kalimatmu tiap kali perbincangan kita sampai pada 'dia nun jauh di puncak gunung'. Lancang sekali aku berpikir jauh tentang hal ini, sungguh tak pantas sebenarnya aku mengatakan hal ini padamu. Untuk itu, maafkan aku...
Dari semua yang kutulis di atas, aku hanya ingin berterima kasih padamu. Jangan ge er. Aku hanya sudah lama ingin menyampaikan hal ini, tapi terhalang ego. Kuharap kau menanggapi positif tulisanku kali ini. Semoga ini tak merubah apapun yang ada di antara kita. Biarlah yang sekarang mengalir apa adanya. Keindahan yang hadir secara alami jauh lebih membahagiakan daripada keindahan yang direncanakan.
-------
Allah, Maha Penyayang lagi Maha Adil. Seburuk apapun kehidupanku sebelum hari ini, telah rapi tersedia kejutan-kejutan penawar itu semua di hari ini, esok, dan seterusnya.
-------
Kepada A,
Tak disangka pertemuan kita yang diwarnai tanggapan negatif dan kekurangpuasan, justru mengantarkan kita pada titik ini. Tak bisa kumengerti alasanmu membawaku berada lebih (terlalu) dekat pada kondisimu. Apapun alasanmu, aku hanya bisa berharap, kau tak terbawa emosi untuk mencurahkan semua isi hatimu pada begitu banyak orang.
Saat ceritamu mengalir di telingaku, aku hanya terdiam. Aku sungguh tak siap untuk mendengarkan sebanyak itu, sedalam itu, sedetail itu. Ada keinginan menghentikanmu, tapi lebih besar lagi keinginan mendengarkanmu. Dua jam lebih kau tumpahkan begitu banyak rasa, selama itulah aku mendapat pelajaran berharga dalam hidup. Secara tidak langsung, obrolan kita kamis malam itu adalah wejangan tak ternilai harganya bagiku. Tentang kehidupan, tentang hidupku, melalui refleksi hidupmu.
Dulu, begitu sering ku mengeluh akan apa yang kumiliki dan kualami dalam hidup. Dulu, sepertinya apa yang kumiliki dan kualami adalah yang terburuk dari yang paling buruk yang ada di dunia. Saat itu, kamis malam itu, martil baja menghantam kesadaranku, akan sebuah fakta kehidupan. Saat itu juga, kau telah mengubahku dari seorang yang cenderung skeptis menjadi lebih mudah menghargai.
Kau, di usiamu yang tertinggal dua nominal dengan usiaku, memiliki sebuah kehidupan yang selama ini hanya kutonton di televisi. Kehidupan yang sangat sulit bagiku. Yang tentunya tak pernah menjadi bagian dari hidupku. Kau, dengan wajah bayimu itu, telah mengalami suatu kondisi yang hanya bisa kubayangkan tanpa benar-benar bisa kurasakan. Pasti sangat menyakitkan jika ku bisa merasakannya.
Kau, dengan segala kesulitan dan rintangan yang menghadang, membuktikan kelebihan yang tak pernah benar-benar kumiliki.
Untuk itu semua, aku salut padamu, sekaligus sangat berterima kasih. Aku bersyukur pada-Nya telah mempertemukanku denganmu sebagai jawaban atas keluh kesah dan sikap kurang bersyukur yang menghiasi hari-hariku selama ini.
Hari ini, perasaanku sangat tidak enak. Walau terkesan berlebih, tapi aku tak bisa memejamkan mataku semalam. Dan sejak subuh tadi, dadaku sesak. Perasaan tidak enak seperti ini jarang sekali terjadi padaku, apalagi tersebab oleh orang lain. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku hanya bisa berdo'a, mendo'akan semua ini segera berlalu bagimu, memohon agar Dia tak meninggalkanmu barang sedetik. Hingga aku mengetik tulisan ini, perasaanku masih tak keruan. Bukan apa-apa. Aku hanya tak rela kau kalah sebelum bertindak. Kumohon, lakukan sesuatu. Setidaknya, jangan pernah berani lari sebelum kau berusaha menjalankan peranmu. Walau sulit sekali bagimu, dan mudah bagiku untuk bicara. Walau aku pernah bilang, mungkin tak akan bisa sanggup menghadapi situasi seperti yang kau alami. Aku tak akan sudi berdiam diri atau malah lari tanpa melakukan apapun sebelumnya. They really love you, just trust it, or prove it.
-------
Kepada M & A,
Entah kenapa aku berani menulis ini semua. Yang kutahu, 'complicated' sangat sesuai menggambarkan posisiku. M yang pernah begitu dekat denganku dan hampir tak pernah menyakitiku, A yang hadir menyuguhkan siraman nasihat kehidupan untukku sekaligus menjadi sosok adik yang tak pernah kumiliki, aku berada di antaranya, di antara lika liku kehidupan pribadi kalian.
Aku tak pernah ingin berada di posisi ini, sungguh. Tapi aku telah berada di sana. Tak ada yang bisa kuperbuat memang, tapi tak mungkin rasanya ku berdiam diri sepenuhnya. Satu hal yang perlu kalian mengerti dan yakini, aku sangat bahagia mengenal kalian, menjadi bagian dari hidup kalian. Aku sangat mengagumi kalian dengan segala apa yang kalian hadapi dan miliki. Aku yakin, Allah pun menyiapkan hal luar biasa untuk kalian di depan sana. Tinggal bagaimana kita tidak mengambil langkah yang memperpanjang jarak kita kepada hal luar biasa di depan sana. Percayalah...
Sumber gambar:
http://urban-khaos.deviantart.com/art/complicated-13819573
Februari 23, 2009
Confession
...
Dulu dengan berapi-api, kuajukan daftar keinginan pasca-SMA ke orangtua. Dengan gaya penuh percaya diri pula, kutambah penyedap mimpi dan asa yang mungkin tergapai setelah meraihnya. Ayahkku, tak usah diragu, pasti mengagguk setuju, asal itu yang kumau. Ayah selalu begitu, sedari dulu, mendukung langkahku. Sementara ibu diam sejenak, duduk terhenyak, tak ada mencak-mencak. Ibu memang tak lunak, tak pula buatku sesak, tapi bijak.
Dulu dengan semangat membara, kudatangi ayah dan ibu, akan kabar gembiraku. Satu langkah berhasil kutapaki. Hasil ujianku membolehkanku meraup ilmu sastra yang kudamba, di universitas ternama pula. Ayah mencium pipiku, dan kudapat senyum ibu. Namun hidup mulai bekerja, maksudku, hidupku. Kehidupan yang sesungguhnya, mulai menyapa. Tak dapat kuinjakkan kaki, di tanah impian yang sejatinya t'lah kuraih.
Dulu dengan tekad membulat, kupasang senyum terindahku, untuk ayah dan ibu. Pertanda tak sedikitpun aku menyalahkan mereka. Bahkan proposal lain t'lah usai kususun cukup dalam semalam. Ini tentang hidupku, lagi-lagi. Ayah sedikit meragu, bukan padaku, dan kubilang padanya "bukan salahmu". Ibu tak sesaat dalam diam, dia menatapku dalam, "percayalah" bisikku, "ibu tak boleh muram".
Dulu dengan keyakinan tanpa beban, kusodorkan apa yang telah kudapatkan. Hanya demi mereka, batinku. Ilmu Hubungan Internasional di universitas Islam, tak kalah nama atas yang lain. Senyumku hanya karena senyum mereka, atau mungkin keadaan. Mimpiku tersusun hanya untuk mereka, atau mungkin keadaan. Aku belum menyadarinya. Hanya perlu menjalaninya.
Kemarin dengan kehampaan, aku pulang dari perantauan. Tak ada lagi kalimat berapi-api, atau semangat yang membara, atau tekad yang bulat, bahkan keyakinan dalam diri. Aku berdiri di hadapan ayah dan ibu, dengan apa adanya, begitu saja. Ayah kini yang diam, tak berdaya dalam muram, auranya kelam. Ibu mengangguk tenang, seolah badai tak pernah datang, bahkan seperti menang. Aku menangis, ayah mengerti, ibu pun berdiri. Aku meratap, ayah berharap, ibu mulai berucap. Dan saat itulah, detik itulah, hidupku berubah. Maksudku, caraku memandang hidup berubah.
Sekarang, tak lagi kusandang, status mahasiswa yang agung dipuja. Bukan ku tak bangga, bukan pula ku kecewa, melainkan belum waktunya. Bukan tentang waktu yang tepat, karena tak ada waktu yang tepat, yang ada tindakan yang tepat. Ini memang saatnya kulakukan hal lain, hal ini, yang sekarang kuhadapi.
Sekarang, tak ada mata kuliah menghiasi hari-hariku, atau teman aktivis dengan seabrek kegiatan. Bukan maksud hati meninggalkan, apalagi menyia-nyiakan, hanya sebentuk perpisahan. Begitulah esensi pertemuan, untuk sebuah perpisahan, keabadian bukan milik makhluk Tuhan. Sudah semestinya kuisi hari-hariku dengan hal lain, hal ini, yang sekarang kuhadapi.
Sekarang, sedang kumulai hidup baru, di bawah langit yang biru. Aku berdiri di depan pintu sambil menatap hidupku yang baru. Satu hal yang kutahu pasti, aku tak pernah sendiri*. Tak ada waktu untuk sesal, tak pula kuingin membual, hidupku masih normal. Ini tentang hidupku, kehidupan, dengan segala apa yang dirahasiakannya. Ada banyak hal dalam hidupku yang tak berjalan sebagaimana mestinya. Tapi saat kutatap langit luas, hal itu tak berarti apa-apa*.
Sekarang, pertanyaan menghujaniku, sedikit mengganggu namun kubersyukur tentu. Walau tak jujur kumenjawab mereka, bukan berarti ku mendusta, apalagi tak percaya. Walau kadang ku suka bergurau, tak berarti ku tak hirau, ku hanya tak ingin menjadai kacau. Kawan-kawanku adalah nafas semangatku, perhatian mereka adalah pemacu energiku, jadi tak mungkin mereka hanya berlalu. Untuk mereka yang begitu besar perhatian padaku, namun begitu kecil jawabku, maafkan aku.
...
Belakangan hidupku tak berjalan sebagaimana yang kuinginkan. Rencana hidup yang kususun jauh hari sebelum hari ini, berantakan sudah, tapi tak pecah. Proposal masa depan yang telah rapi terbukukan dalam benak, berserakan entah, namun tak punah. Ini bukan akhir hidupku. Justru inilah awal hidupku, yang sesungguhnya ...
*diambil dari lirik lagu Jepang berjudul Sangatsu Kokonoka atau dalam bahasa Inggris berarti March 9 yang telah diterjemahkan.
Sumber gambar:
http://orriel.deviantart.com/art/Intersection-37696510
Januari 20, 2009
WE WILL NOT GO DOWN
(Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009
A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Sumber gambar:
http://i237.photobucket.com/albums/ff73/brittarj/870436Child-Flying-a-Kite-at-Sunset.jpg
Januari 12, 2009
Melawan Kenyataan dengan Tindakan Nyata
Sesaat, tubuhku yang menyaksikan berita aktual di televisi seperti lenyap dari kehidupan nyata dan terjebak entah di mana. Hanya ada aku yang mematung dan kotak elektronik yang menayangkan rekaman sebuah kota pemukiman padat penduduk beserta ledakan demi ledakan yang tak terhitung jumlahnya. Pada titik ini, aku menganggap diriku sedang bermimpi. Mimpi yang memberikan gambaran nyata yang terjadi di dunia riil.
Bagaimana tidak. Serangan Israel kali ini kelewat brutal, frontal, dan represif. Setelah diawali dengan serangan udara berkali-kali, Israel melanjutkan serangan darat tanpa ampun. Tak hanya itu, HPI (Hukum Perang Internasional) yang telah lama menjadi norma perang dan dijunjung dunia internasional, tak sekedar dilanggar tapi diaduk-aduk, diacak-acak, bahkan diinjak-injak. Target serangan bukan hanya markas militer, transportasi perang, artileri, atau gudang persenjataan, melainkan rumah penduduk, sekolah, rumah sakit, dan tempat-tempat umum yang dipenuhi warga sipil lainnya. Bahkan Israel menahan bala bantuan dalam bentuk apa pun yang telah menumpuk dari segala penjuru. Israel seolah membiarkan para korban yang membutuhkan pangan dan obat menderita untuk menjadi tambahan korban tewas berikut dan berikutnya. Sementara alasan atas semua tragedi dan penderitaan di Gaza City adalah serangan bom lontar Hamas yang ibarat hanya lemparan batu yang mengenai satu dua penduduk sipil Israel. Sama sekali tak sebanding dengan bom-bom Israel baik di darat maupun di udara yang menewaskan lebih dari 700 orang dan ribuan terluka termasuk wanita dan anak-anak. Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi.
Dunia gempar sudah pasti. Kecaman datang silih berganti baik dari tokoh perorangan, atas nama negara, atau organisasi internasional. Pernyataan pedas dan pahit terhadap kebiadaban Israel bak berondong yang telah matang berkeletuk dalam panci. Hampir semua pihak mengutuk, menyumpah serapah, dan melaknat tindakan Israel yang keji. Obama sebagai aktor dunia yang sedang naik daun pun angkat bicara setelah bungkam beberapa hari. Walaupun pernyataannya abu-abu tak pasti. Tak ketinggalan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut andil dalam adu caci maki. Lalu apa? Berpengaruhkah? Apa arti kecaman untuk bangsa yang telah tutup telinga? Apa makna sumpah serapah untuk negeri yang begitu keji? Apa guna pinta paksa untuk kaum yang seolah kebal hukum? Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi.
Gerakan kemanusiaan serempak ambil tindakan dari berbagai penjuru dunia. Dari pangan, sandang, obat-obatan, hingga bantuan medis dan bahkan relawan perang. Kotak-kotak bertuliskan "Solidaritas untuk Palestina" berhamburan di mana-mana memohon uang receh serelanya. Rekening-rekening bank atas nama "Solidaritas untuk Palestina" pun dibuka dan menanti uluran tangan memberi. Namun kendala justru tampak begitu nyata. Sangat minim bantuan negara-negara Arab di sekitar Palestina. Tapi kenapa? Tidakkah mereka masih merasa satu buyut dengan Palestina? Sudahkah mereka tunduk pada ego dan rasa takut akan dunia? Adakah indikasi benih-benih penyakit berbahaya kaum muslim mulai menyemai? Kecintaan berlebihan akan dunia dan ketakutan akan kematian. Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi.
Perang dua wilayah secara terbuka, brutal, dan tidak berimbang; hukum perang dilanggar sejadi-jadinya; darah tak berdosa menggenang tak terkira banyaknya; nyawa penerus bangsa diberangus tanpa rasa; mayat bergelimangan entah pria maupun wanita; bala bantuan hampir mustahil diterima; reaksi dunia sekedar melalui suara bukan langkah nyata; bahkan sanak saudara tak kunjung bangkit turut membantu walau terjadi di depan mata. Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi, belum dapat ku menjawabnya. Aku tak mau bermimpi bahwa ini adalah nyata; pun tak ingin mengatakan itu mimpi yang kulihat di dunia nyata. Membingungkan bukan?
Sama dengan fakta-fakta membingungkan di atas. Bagaimana serangan seterbuka itu bisa dengan langgeng berlangsung hingga sekarang? Bagaimana mungkin dunia internasional hanya berkata-kata dan tak melakukan apa-apa? Dan bagaimana bisa dunia Islam di sekitar Palestina tak banyak ambil langkah? Benarkah Israel sehebat itu? Atau dunia terlalu tolol dan begitu mudah dibungkam bahkan dipecah belah oleh sebuah kekuatan yang merupakan bagian dari dunia itu sendiri? Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi, aku tak mengharapkan keduanya. Dan aku akan mengakhirinya sekarang juga.
Aku harus bertindak. Aku harus berbuat. Sungguh. Tapi apa?
Beberapa hari sejak serangan pertama Israel, rekan-rekan aktivis mahasiswa di kampus menyerukan bentuk keprihatinan mereka akan tragedi di Gaza City. Selain orasi dan kotak-kotak amal, seorang mahasiswa memegang poster besar yang saya lupa tulisannya. Fokus saya waktu itu tertuju pada gambar-gambar di bagian bawah poster. Tidak seluruhnya, tapi sebagian besar aku mengenalnya sebagai logo sebuah merek atau perusahaan. Tanpa perlu menyebut merek, ada produk minuman bersoda, air mineral, snack ringan, produk kecantikan dan kebersihan, restoran cepat saji, hingga merek handphone. Semua itu sangat familiar dan sering kutemui di kehidupan sehari-hari. Bahkan beberapa pernah atau sering kupakai dan kugunakan.
Sang Mahasiswa yang memegang poster tersebut dengan senyumnya yang cukup ramah berkata: "Diketahui profit perusahaan-perusahaan ini sebagian disumbangkan untuk biaya perang para zionis Yahudi". Lalu aku tahu arah kalimat tersebut.
Pada awalnya aku hampir tidak bisa menerima alasan apa pun yang mengatakan "Jangan pernah gunakan produk Yahudi karena berarti kita mendukung aktivitas Yahudi termasuk perang di Palestina oleh Israel!". Pada awalnya otakku menciptakan spekulasi-spekulasi dan berbagai penyangkalan seandainya aku mengikuti instruksi tersebut. "Produk-produk itu begitu dekat dan sangat familiar. Bagaimana mungkin aku berhenti menggunakan produk 'A'? Setahuku hampir semua produk kebersihan dan kecantikan yang selama ini kugunakan berlabelkan 'A'. Lalu aku menggunakan apa? Snack-snack dari produk 'B' hampir semua kusuka. Nikmat dan sehat. Aku tak mungkin berhenti menikmati snack-snack tersebut. Apalagi air mineral 'C'. Mana mungkin aku disuruh berhenti menggunakan merek tersebut? Lalu aku pulang dengan kesimpulan "pasti ada jalan lain" untuk turut membantu Palestina.
Hari demi hari berganti. Merek demi merek Yahudi menyambangi badan hingga perutku. Perang pun masih bergulir menambah liter darah yang mengalir. Dan aku masih tak menemukan suatu langkah konkret untuk ikut andil dalam upaya membantu saudara-saudara seiman di Palestina. Hingga suatu hari seorang dosen yang cukup kritis dan brilian dalam pemikiran akan sebuah kasus sekaligus perumusan jalan keluar menyatakan sikap tegasnya akan produk-produk tersebut.
Teman, aku pernah membaca sebuah tulisan yang mengatakan bahwa manusia lebih sering menyibukkan diri sendiri dengan kemungkinan-kemungkinan dan berbagai bentuk spekulasi sebagai akibat suatu tindakan ketimbang menilik kembali maksud dan tujuan tindakan tersebut sebagai respon akan kenyataan-kenyataan yang ada. Seperti pada kasus global warming, ketika ada imbauan untuk mengurangi bahkan menghentikan penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak yang mengeluarkan gas emisi (sepeda motor) dan menggantinya dengan sepeda atau jalan kaki, respon spontan yang muncul adalah pemikiran kemungkinan yang spekulatif akan hasil dari tindakan tersebut. "Mana mungkin berhenti menggunakan kendaraan bermotor? Jika semua orang di seluruh dunia memilih menggunakan sepeda atau jalan kaki, maka perusahaan kendaraan bermotor di seluruh dunia akan bangkrut. Jika itu terjadi, pasti akan ada krisis besar karena perusahaan kendaraan bermotor cukup signifikan dalam roda ekonomi dunia. Belum lagi pengangguran yang akan meledak tiada ampun jika perusahaan-perusahaan tersebut tutup". Akhirnya, teriakan-teriakan serupa bagaikan lolongan anjing yang tak perlu diperhatikan. Buktinya, produksi sepeda motor tetap dan bahkan terus meningkat. Jika ada yang mengikuti anjuran tersebut, akan dikucilkan dan dianggap aneh oleh mata dunia.
Padahal yang dibutuhkan bukan itu, melainkan tindakan nyata. Kita tidak akan melakukan apa-apa jika otak kita dipenuhi spekulasi akan apa yang belum tentu terjadi. Kita hanya makin memperparah kenyataan yang sudah terjadi yang butuh tindakan segera. Untuk dua paragraf terakhir ini, inspirasiku adalah tulisan di blog Dewi Lestari (http://dee-idea.blogspot.com/search/label/Nature-Green-EcoLiving) berjudul "Dua Pertanyaan yang Berarti".
Melalui dua inspirasi itulah (pernyataan dosen dan tulisan di blog) aku mulai bertindak kecil-kecilan. Dimulai dengan teliti ketika membeli. Ya, temanku cukup kesal melihat tingkahku yang mengamat-amati produk-produk yang akan kubeli dan seringkali menanyakan "Ini produk dalam negeri kan?" Di sisi lain, aku justru menemukan titik terang dari keraguan tak beralasanku selama ini. Karena setelah diperhatikan dengan seksama, tidak semua produk yang ada di pasaran itu produk impor atau dari perusahaan multinasional (atau seperti yang diserukan sahabat-sahabat mahasiswa, produk Yahudi). Cukup banyak pula produk dalam negeri yang berkualitas dan tak kalah dengan produk-produk yang menguasai periklanan Indonesia itu. Memang benar, dengan tindakan kecil, kita akan tahu hal-hal baru yang selama ini tak sempat terpikirkan atau dianggap mustahil.
Maka melalui blog ini, dengan segala keterbatasan yang kumiliki, aku hanya ingin mengajak diriku sendiri, ya benar-benar diriku sendiri. Aku tak bermaksud mengajak siapa pun. Perkara pembaca ikut terpengaruh dan mengikuti ajakanku nantinya, maka kuanggap hal itu sebagai dampak positif.
Aku mengajak diriku sendiri, untuk tak sekedar mendo'akan namun berperan aktif dan nyata dalam membantu Palestina dan memerangi kedzaliman yang dilakukan Israel dengan berkomitmen mencintai produk dalam negeri, dan sebisa mungkin menghindari penggunaan produk impor, apalagi yang terdaftar sebagai produk pendukung gerakan zionisme Yahudi. Aku percaya dan yakin, niatku akan secara langsung berperan walau kecil. Sekali lagi, kita butuh langkah konkret, bukan kalimat manis.
Sebagai penutup, aku akan menegaskan sekali lagi, aku tak sedang bermimpi, tak pula menyaksikan mimpi. Aku sadar sepenuhnya dan menyaksikan kenyataan, bukan dalam mimpi, tapi dalam dunia nyata. Maka yang kubutuhkan bukan angan dan mimpi semata, tapi tindakan nyata.




Sumber gambar:
http://images.epilogue.net/users/straubart/Dreaming_tree.jpg
http://mpjc.org/images/palestine.jpg
http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/04/anak-palestina-korban-israel.jpg
http://3.bp.blogspot.com/_F4jkkfjqfSw/RfjRhDh8xPI/AAAAAAAAACM/UpYmvdS-5Rs/s1600-h/pengungsi+di+irak.jpg
http://qitori.files.wordpress.com/2007/07/palestina1.jpg





