Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan

April 24, 2015

Catatan Pembuka



"I'm afraid, if I don't choose a path soon, life will choose one for me."
― Human of New York (Facebook Page)

Kalimat tersebut meninggalkan kesan istimewa saat kali pertama aku membacanya. Tidak hanya membuatku mempertanyakan jalan hidup yang telah dan sedang kulalui, angan dan mimpi yang seakan menua, muncul kembali. Hebatnya arus kebutuhan yang telah menggilas sadis bumbu-bumbu kehidupan, menyisakan hanya lajur demi lajur rutinitas yang diam-diam justru mematikan.

Aku menyusuri waktu, kembali ke masa enam tahun lalu, saat awal kedatanganku di kota rantau yang jauh dari ayah ibu. Aku datang dengan bekal mimpi, cita-cita, angan, khayalan tingkat tinggi, dan tak sedikit fantasi. Tak peduli setinggi apa mereka semua, kutuliskan satu demi satu pada selembar kertas baru. Dan rasanya, belum satupun mewujud sesuai bayanganku dulu.

Hidup memang penuh kejutan dan ketidakpastian. Sedemikian rapi dan rinci alur yang kubuat untuk ceritaku, hidup selalu punya cara untuk membelokkannya, menukiktajamkannya, bahkan meremukkannya berkeping-keping. Tugas manusialah untuk memaknai tiap kejadian, untuk lalu berreaksi, bukan sekedar merutuk dan meratapi. Sayangnya, tingkat kesadaran ini lebih sering mati suri, mungkin juga akibat rutinitas sehari-hari.

Aku, di penghujung usia 24 tahun, jelang seperempat abad kehidupanku, memutuskan untuk berreaksi pada gejala demi gejala aksi yang hidup berikan padaku. Aku, calon sarjana manajemen dengan masa studi lebih lama dari semestinya, yang lebih tertarik mendalami dunia kepenulisan dan seni lukis, memutuskan untuk berhenti diperdaya hidup, dan menentukan sendiri nasib demi nasib yang tak pernah menentu. Lebih pastinya apa itu, nanti kalian akan tahu.

Untuk segala risiko dan tantangan yang menanti di depan, aku nyatakan kesiapan, meski dengan sedikit ketakutan. Semoga kesiapanku dapat menjadi obor semangat saat menghadapi masa-masa sulit dan rasa takutku bisa menjadi pengingat di saat keadaan di atas awan, bahwa ketidakpastian itu abadi, maka tak sepantasnya kita congkak dan arogan.

Maka izinkan kututup catatan pembuka ini dengan satu kutipan favoritku, dari seorang penulis hebat yang sudah jauh lebih dulu memahami potensi keindahan sekaligus akal busuk kehidupan, maka dengan penuh kesadaran ia turut berperan aktif dalam memegang kendali hidupnya, sekecil apapun itu.

“There is only one thing that makes a dream impossible to achieve: the fear of failure.”
― Paulo Coelho, The Alchemist

Januari 19, 2014

Rain in January


I love rain in January
Though it pours daily
It cures my little weary
Thoughts of you especially

I hate rain in January
Besides the floods around the city
It keeps me getting angry
About thoughts of you especially



 Jakarta, 18012014


______________________________________________________
Pict Source: http://indosurflife.com/wp-content/uploads/2012/12/RainDrops.jpg

Desember 19, 2013

Dari Soekarno hingga Muhammad

“Sometimes beautiful things come into our lives out of nowhere. We can't always understand them, but we have to trust in them. I know you want to question everything, but sometimes it pays to just have a little faith.” 
― Lauren KateTorment


Berawal dari rasa penasaranku setelah membaca ulasan seorang teman tentang film karya Hanung Bramantyo yang beberapa hari lalu mulai tayang di bioskop, malam ini berakhir dengan dua buah film Indonesia yang kutonton secara maraton: "Soekarno" dan "99 Cahaya di Langit Eropa". Tulisanku kali ini bukanlah ulasan secara mendetil tentang kedua film tersebut, melainkan catatan pribadi tentang kesan dan pengalaman yang timbul usai menonton kedua film tersebut dikaitkan dengan kejadian yang kualami dalam kehidupanku belakangan. 

Baiklah, kita mulai dari "Soekarno" yang berhasil membuatku menitikkan air mata dan beberapa kali terharu berkat racikan adegan, dialog, music score, dan keindahan gambarnya. Hanung Bramantyo menunjukkan kelasnya dalam dunia perfilman melalui karya terbarunya ini. "Soekarno" bercerita tentang perjuangan sang Proklamator Indonesia, presiden pertama RI sekaligus pencetus Pancasila, Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pelajar yang benar-benar membaca buku sejarah dan para sejarawan pasti setuju bahwa film ini hanya menceritakan sekelumit sepak terjang Bung Karno di Indonesia. Namun adegan demi adegan yang ditayangkan dalam alur cerita film cukup menggambarkan seorang Bung Karno yang pandai menarik hati rakyat melalui pidato-pidatonya, cinta pada tanah air dan rakyatnya, tidak takut pada penjajah, serta mudah jatuh hati pada perempuan. 

Setelah dua jam lebih dimanjakan dengan visualisasi mengagumkan perpaduan akting ciamik para aktor, pilihan apik tempat dan gambar yang mewakili latar waktu cerita, dialog-dialog cerdas, kuat, dan pada beberapa adegan menggetarkan hati, serta keindahan music score yang classy namun tidak membosankan, pikiranku tertaut pada satu adegan di dalam mobil. Bung Hatta 'mempertanyakan' dirinya sendiri (dan Bung Karno yang ada di sampingnya) apakah mereka siap memimpin Indonesia yang begitu besar dengan banyaknya penduduk yang ada, apakah mereka dapat menjamin di masa mendatang tidak terjadi kesenjangan antar daerah di Indonesia dan mereka dapat mengelola kekayaan Indonesia dengan baik hingga menyejahterakan rakyatnya. Setelah akhirnya Bung Karno menjawab tegas "Siap!", dia menambahkan yang kurang lebih begini, "Lebih baik kita yakin dan melakukan sesuatu meski pada akhirnya mungkin gagal atau salah, daripada bersembunyi di balik kekhawatiran dan terlalu takut untuk melakukan apa-apa". 

Diam-diam aku tersentak, tidak hanya oleh dialog padat yang heroik dan penuh arti tersebut, namun oleh alam sadar dan ingatanku akan pengalaman hidup yang tengah kuhadapi. Dalam enam bulan terakhir, aku menjalani hidup seolah bersembunyi dari kekhawatiran dan ketakutan-ketakutan yang aku sendiri tak pernah hadapi langsung, tentang masa depan, tentang mimpi-mimpiku yang dianggap kecil dan kurang berarti, tentang langkah yang akan kutempuh. Aku memilih berdiam dan menunggu apa yang akan aku temui dan dapatkan, bukan maju untuk mengambil langkah-langkah sendiri dan mencoba meski mungkin gagal atau malah salah. Bahkan ketika akhirnya aku sadar dan mulai menyusun keberanianku untuk beranjak dan menyingkirkan tembok kekhawatiran itu, dengan mudahnya aku kembali ke balik tembok hanya karena dianggap "sok tahu" dan sombong. 

Belum hilang sensasi sentakan adegan tersebut, tiba-tiba pandanganku tertuju pada poster film "99 Cahaya di Langit Eropa". Ketika kutanya pada sahabatku yang ternyata sudah menonton film tersebut, dia terdiam sejenak untuk akhirnya mengekspresikan bagaimana film tersebut dapat membuatnya makin mencintai Islam. Lagi-lagi sebuah ingatan menyesak keluar dan cukup menyakitkan, yakni ketika tiada angin dan hujan tiba-tiba aku dihadapkan pada pertanyaan "Apa pendapatmu tentang Allah juga mungkin salah?" Pertanyaan yang diawali dengan pertanyaan pembuka "Tahukah kamu bahwa Al Qur'an menyebutkan bumi ini datar?", kemudian berlanjut pada pernyataan pribadinya bahwa agama yang kuanut merupakan agama dengan obligasi paling banyak dan berat. Tiba-tiba disampaikan pula cerita tentang sahabatnya yang keluar dari Islam setelah pencarian panjang yang berakhir pada perasaan telah dibohongi berpuluh-puluh tahun lamanya oleh keyakinannya selama ini. Entah apa maksud dan tujuannya, aku mengambil satu pesan positif pada saat itu, tentang kelebihan manusia memiliki akal untuk berinterpretasi dan dibebaskan mengambil keputusan dalam hidup. 

Meski lanjutan cerita-cerita yang menyiksa tersebut adalah tentang kehidupan, fenomena masa kini, dan lebih merucut pada masa depanku, rasa sakit akibat cerita-cerita dan pertanyaan menyudutkan yang membuatku seolah tak berdaya dan tak mampu membela diri itu membekas hingga sekarang. Maksudku, aku memang belum menjadi muslim yang memahami Islam sepenuhnya dan masih pada taraf melakukan ibadah karena perintah-Nya atau meninggalkan sesuatu karena larangan-Nya. Maka ketika aku dihadapkan pertanyaan-pertanyaan yang meyangsikan keyakinanku tersebut dengan dasar-dasar logika yang kuat, bisa dipastikan aku akan bungkam, karena aku memang belum tahu jawabannya. Berkat rasa sakit itu dan komentar sahabatku tentang film "99 Cahaya di Langit Eropa", kakiku langsung menuju loket untuk membeli tiket film yang dijadwalkan akan tayang 20 menit lagi itu.

Secara teknis film, mungkin tidak adil jika aku membandingkan antara film "Soekarno" yang kutonton sebelumnya dengan "99 Cahaya di Langit Eropa" garapan Guntur Soeharjanto. Oleh karenanya, aku mempersilakan para pembaca untuk menonton sendiri film tersebut dan menikmati scene-scene indah pojok-pojok Vienna dan Paris yang menjadi latar film yang ternyata seri pertama ini. Mungkin saranku, janganlah menonton kedua film tersebut berurutan sepertiku karena secara tanpa sadar kau akan membandingkan kedua film tersebut secara teknis. 

Pesan penting yang sangat kuat kutangkap dari film ini adalah bahwa seorang muslim, dimanapun ia berada, selayaknya berperan sebagai agen Islam yang membawa kedamaian di muka bumi. Seperti kisah Nabi Muhammad SAW yang melanjutkan perjuangan Abu Bakar ash Shiddiq memberi makan seorang Yahudi tua yang tak dapat melihat bahkan menyuapinya meski orang tersebut, yang mengira Muhammad adalah Abu Bakar, tak henti-hentinya memaki-maki sang Nabi ketika beliau tengah memberinya makan. Salah seorang tokoh dalam film, muslimah asal Turki yang sering mendapat perlakuan kurang menyenangkan di Austria, membayarkan makan dua orang turis Inggris yang sebelumnya mengolok-olok Turki dan Islam. Baginya, kebencian tidak semestinya dilawan dengan kebencian karena hanya akan menyulut api. Dia dengan caranya sendiri, justru menampakkan wajah Islam yang damai dan penuh kasih. Bagiku, film ini memberikan keindahannya sendiri yang tidak dapat digambarkan dan dijabarkan dengan kata-kata. Setidaknya, keresahanku sedikit terobati, meski tidak sepenuhnya dilegakan. 

Masih di bawah pengaruh rasa sakit yang kusebutkan tadi, sesampainya di kamar, aku kembali mencari dan mencari apa yang mungkin dapat melegakan hatiku. Sedetik berikutnya, di hadapanku terpampang halaman website tentang tanya jawab antar agama yang justru menyudutkan Islam, perbandingan penulis dengan agama yang dianutnya. Bukannya aku anti dan berhenti, aku malah menuntaskan bacaan panjang tersebut, dan mengarahkan kursorku menyorot kolom "Muhammad". Lagi-lagi aku teringat pada cerita tadi, bahwa dalam pencarian spiritual sang Sahabat yang akhirnya keluar dari Islam itu, berbagai sosok Illahi muncul seperti Yesus, Gandhi, bahkan Budha, namun tidak ada Muhammad di sana. Benar saja, tulisan-tulisan tentang Muhammad dalam website tersebut benar-benar mencitrakan negatif sosok Muhammad yang selama ini kupercaya sebagai teladanku. 

Keraguan dan kegamangan semacam ini pasti pernah dialami oleh muslim di berbagai penjuru dunia pada berbagai era. Bagiku, pertanyaan dan keraguan ini justru memacuku untuk terus mencari. Aku masih mengingat sosok Marina Silvia K. yang melakukan perjalanan spiritualnya justru ke India dan Thailand, tempat Hindu dan Budha berkembang pesat, serta pertemuan dan interaksinya dengan sahabat-sahabatnya di penjuru Eropa baik yang Kristen, Katholik, Agnostik, hingga Atheis. Segala pengalaman tersebut ia tuangkan dalam dua bukunya "Back 'Euro' Pack: Keliling Eropa 6 Bulan hanya 1000 Dolar" dan "Jingga: Perjalanan ke India dan Thailand Mencari Surga di Bumi". Pertanyaan dan keraguannya justru mengantarkannya pada pengalaman spiritual yang hanya dia yang tahu betapa dahsyatnya. Aku juga masih mengenal sosok Fahd Djibran, penulis yang sekaligus mantan seniorku di kampus dulu, yang berhasil menuangkan keindahan Islam dalam karya-karyanya yang tidak menggurui dan dibalut dengan logika yang kuat. Orang-orang seperti mereka tentunya telah menempuh perjalanan spiritualnya masing-masing hingga akhirnya teguh pada keyakinannya dan, meminjam istilah dalam film yang baru kutonton, menjalankan perannya sebagai agen Islam yang tak perlu diragukan lagi. 

Sebenarnya aku ingin berterima kasih pada Bung Karno, Marina Silvia K., Kang Fahd, dan siapapun yang berhasil menggoyah imanku. Dalam satu malam, kalian berhasil membangunkan serigala putihku yang telah lama tertidur. Aku tidak akan lagi membiarkan langkahku terhenti oleh kekhawatiran dan ketakutan yang tidak benar-benar kuhadapi untuk mewujudkan mimpi-mimpiku. Aku tidak akan lagi berdiam apalagi bersikap kalah ketika Agamaku, Tuhanku, dan Nabiku dipojokkan oleh orang. Aku tidak akan pernah berhenti menjelajah bumi untuk mencari tanda-tanda kebesaran-Nya karena aku ingin tunduk sujudku tidak hanya berdasar pada perintah belaka, namun ada cinta di sana. 

“Love, like everything else in life, should be a discovery, an adventure, and like most adventures, you don’t know you’re having one until you’re right in the middle of it.” 
― E.A. BucchianeriBrushstrokes of a Gadfly


---
Sumber gambar:

September 27, 2013

Pungguk


"Bagaikan pungguk merindukan bulan". 

Peribahasa selalu mengena sekaligus menohok saat konotasi dan kiasan terdengar begitu denotatif dan nyata. 

Ah, si Pungguk harus berhenti menatap idolanya, sang Bulan, sebelum dia tergerak melakukan upaya. Rasa sakitnya bukan ketika terjatuh, namun ketika sesal menyusulnya. Sesal karena dia tahu kapasitasnya yg tak akan pernah menjangkau bulan namun tetap diupayakannya. Maka jatuh hanyalah kepastian yg menunggu, dan penyesalan telah mencoba, sedikit banyak berbunga malu. Apalagi ketika sang Bulan tak sedikit pun mendapat impresi dari upayanya.

Jauh di lubuk hatinya, dan ini yang paling menyakitkan di antara semuanya, si Pungguk telah lama mengetahui bahwa sang Bulan tak pernah mengharapkannya melakukan upaya. Namun tetap saja dia berupaya.

Oh Pungguk, dia harus segera terbangun dan mulai melihat sisi kanan kirinya. Mendongak utk Bulan memang menyenangkan, namun dia sendiri mulai mengeluhkan waktunya yg terbuang sia-sia tanpa mendapat suatu apa. Dia sendiri sadar hidupnya mulai tak berarah dan mungkin banyak gamangnya. Tuhan mungkin saja menyiapkan banyak hal indah lain di sekitarnya, bukan di atas sana.

Diam-diam pungguk menyeka air matanya. Bukan tersebab nasib ia terlahir sebagai pungguk yg tak mungkin menjangkau bulan, bukan pula karena upaya yg akhirhya ia lakukan malah berbuah sesal dan sia-sia, namun karena ia masih saja merindukan sang Bulan.



...

Jakarta, 27 September 2013
12.02

Sumber gambar:
http://sukmaerlangga.blogspot.com/
http://www.deviantart.com/art/Empty-Heart-and-No-Hope-195626922

Mei 22, 2013

"Nyanyian Tanah Merdeka": Tontonan Seni, Pelajaran Sehari-hari, dan Sindiran untuk Negeri


Dua tahun lamanya sejak konser terakhirku bersama The Indonesia Choir (TIC) dan The Indonesia Children Choir (TICC). Ketika itu, aku bernyanyi dalam rangkaian konser "Dua Kisah Nusantara" yang diselenggarakan di Usmar Ismail Concert Hall pada Kamis, 10 November 2011, kemudian berlanjut ke dua konser kunjungan di Solo dan Jogja bertajuk "Nyanyian Sepanjang Boulevard". Masih dapat kurasakan terangnya sorot lampu panggung besar pertamaku, sedikit membuatku linglung dan sulit mengenali sosok-sosok di bangku penonton. Konser interaktif pertama dan terakhirku bersama teman-teman TIC dan TICC. 

Malam tadi, Selasa, 21 Mei 2013 masih di panggung yang sama, Mas Jay (sapaan akrab Jay Wijayanto oleh para anggota TIC, termasuk aku) kembali menggelar sebuah tontonan paduan suara yang dikolaborasikan dengan berbagai seni pertunjukan lain. Konser kali ini bertajuk "Nyanyian Tanah Merdeka" (NTM), diambil dari judul lagu musisi Indonesia yang lebih dikenal dengan karya-karya musik jalanan dan memiliki penggemar dalam komunitas-komunitas, yakni Leo Kristi. Menurut media rilisnya, NTM digelar menyambut peringatan Kebangkitan Nasional yang jatuh sehari sebelum konser digelar sekaligus peringatan lima tahun berdirinya TIC sejak 2008. NTM juga menjadi persiapan awal TICC sebelum keberangkatannya ke "Hong Kong International Youth & Children's Choir Festival" pada Juli mendatang. Termasuk dalam agenda konser adalah peluncuran buku "Merek Indonesia Harus Bisa" oleh Mas Arto (Arto Subiantoro).

Beberapa artis kenamaan Indonesia turut mendukung kemeriahan konser yang berlangsung kurang lebih 3,5 jam. Sebut saja Mba Ade (Adelaide Simbolon), pianis wanita Indonesia yang mengenyam pendidikan musik (piano) dari Rusia hingga Amerika Serikat (Wisconsin Conservatory of Music); Om Jubing (Jubing Kristianto), gitaris gaya jari Indonesia yang menggunakan gitar klasik sebagai instrumennya; Mas Andreas (Andreas Arianto), akordeonis yang menyebut dirinya pemusik lepas dan menjadikan musik sebagai bagian tak terlepaskan dari hidupnya, menghidupi dan untuk dihidupi; serta sederet pemusik dengan alat musik yang pada dasarnya tidak berasal dari Indonesia namun dikenal meramu musik khas tradisi Indonesia seperti biola, saluang, dan cajon. Ada pula sembilan penari remaja dari Grup Tari Swargaloka yang mempersembahkan "Tari Tekad" sebagai pembuka konser, serta empat penari "tak kenal pusing" dari Rumah Rumi Whirling Dancer mengiringi lagu daerah Jambi, "Dodoi si Dodoi". 

Jika pada konser sebelumnya aku berdiri di panggung sebagai penyanyi, malam itu aku duduk di bangku penonton. Maka, ulasanku kali ini mungkin akan lebih komprehensif dari sudut pandang anggota TIC yang pernah menyanyi dalam konser-konsernya, anggota TIC yang turut terlibat dalam sekelumit kerumitan persiapan konser, anggota TIC yang memegang tiket penonton dan mengikuti jalannya konser dari awal hingga akhir dari kursi penonton, serta anggota TIC yang berinteraksi dengan anggota TIC lain setelah konser.

...

Total 16 lagu yang dibagi dalam dua sesi konser, delapan buah lagu ditampilkan untuk masing-masing sesi. Penonton disambut dengan lagu "Indonesia Raya" versi orkestra yang kemudian dilanjutkan oleh "Tari Tekad" sebagai pembuka konser. Narasi pertama yang dibawakan Mas Jay sebelum mengantarkan penonton pada lagu pertama adalah sejarah "Indonesia Raya", dimana teks aslinya yang ditulis pada tahun 1928 terdiri dari tiga stanza pada akhirnya hanya dipakai satu stanza setelah melalui revisi pada tahun 1958. Masih tentang lagu kebangsaan, Mas Jay beralih ke Singapura, yang ternyata lagu kebangsaannya berjudul "Majulah Singapura" merupakan ciptaan Zubir Said, putra Indonesia kelahiran Bukittinggi. Jika boleh kutambahkan, lagu kebangsaan Malaysia "Negaraku" pun bisa dibilang merupakan buah karya putra Indonesia, Saiful Bahri, pemilik hak kekayaan intelektual atas lagu "Terang Bulan" yang melodinya mirip sekali dengan "Negaraku". Pada titik ini, aku mulai melihat betapa penggunaan kata 'baik dan bodoh' sering tertukar tempat.

Lagu pertama yang dibawakan oleh TIC, dengan iringan piano Mba Ade, adalah "Nusantara" karya F.A. Warsono, solis Alice C. Putri. Mas Jay, masih dengan gaya khasnya yang santai dan kocak dalam memandu konser-konsernya, mengangkat satu topik yang mungkin terlupakan khususnya oleh pemuda Indonesia, yakni Trisakti. 

BERDAULAT dalam POLITIK
BERDIKARI dalam EKONOMI
dan BERKEPRIBADIAN dalam BUDAYA

 Nampaknya kesaktian tiga semboyan yang Bung Karno dalam rumusan Trisakti belum [tak] mampu diwujudkan oleh bangsa yang telah 67 tahun merdeka. Bagaimana bisa berdaulat, jika RI 1 saja dapat diperintah oleh pimpinan perusahaan multinasional yang telah menggerogoti kekayaan alam bangsa? Bagaimana bisa berdikari jika untuk konsumsi penduduk justru lebih mengedepankan impor dari negara lain? Cukup berkepribadiankah negara yang penduduknya lebih bangga menjadi ahli modernisasi dengan segala bentuk kebudayaan asing ketimbang mempelajari tarian daerah kelahirannya? 

Narasi tersebut disampaikan sebagai pengantar lagu kedua "Nyiur Hijau" yang dia sebut sebagai lagu wajib sekolah yang ter[di]lupakan. Dibawakan acapella tanpa iringan musik, TIC berhasil membuat beberapa penonton merinding dan seolah tak rela dunia tak tahu, membagikan pengalaman tersebut melalui twitter. Aku pribadi sangat menyukai lagu ciptaan A.J. Sudjasman hasil aransemen Arvin Zeinullah ini. Ada "rindu kampung halaman " yang menyeruak saat teman-teman TIC membawakan lagu ini merdu. Terlebih pada lirik bait kedua "Padi mengembang | Kuning merayu | Burung burung | Bernyanyi gembira", rasa kehilangan muncul berikutnya, mengingat padi yang digantikan dengan gedung pencakar langit, kuning merayu dirampas oleh kelabu, dan alih-alih burung-burung yang bernyanyi gembira, di Jakarta ini yang ada adalah mobil-mobil yang lalu-lalang-macet dan berklakson ria. 

Narasi berikutnya mengangkat topik pertanian. Menurut observasi Mas Jay terhadap data sejarah, politisi yang berhasil haruslah memiliki basis ekonomi yang kokoh. Logis memang, karena basis ekonomi yang kuat akan mendukung basis sosial yang diperlukan oleh seorang politisi, yang nantinya mampu menopang basis politik manakala sang politisi memegang kuasa. Tren politisi Indonesia bisa dibilang anti-mainstream karena kebanyakan politisi menghujani dirinya dengan isu-isu politik, lalu memperkuat basis sosial, dalam rangka memperoleh basis ekonomi. Hal ini sedikit banyak menjelaskan mengapa korupsi di Indonesia bertumbuh subur melebihi padi di sawah pak tani.

Lagu daerah pertama, hasil aransemen Farman Purnama, yakni lagu daerah Maluku "Mande-Mande" yang dibawakan lembut mengalun dengan solis seorang tenor, Yeremia Lalisang. Dalam penceritaannya yang tetap khas, Mas Jay menceritakan makna lagu tersebut sebelum dinyanyikan, yakni penantian para wanita Maluku yang ditinggal merantau oleh kekasih mereka. Kalau  sudah kaya, pulanglah mereka melamar kekasihnya dan menikah. 

Lagu selanjutnya diambil dari salah satu lagu kompetisi yang diikuti TIC dengan perolehan medali emas di Vietnam berjudul "Segalariak". Dibawakan saling sahut antar kelompok suara satu dan lain dengan bersemangat membuat lagu tersebut berkarisma. Pasukan TIC silam, digantikan 33 anak dan remaja. Sembari mengisi perpindahan, Mas Jay kembali mengisi sesi dialog dan bincang-bincang dengan penonton. Kali ini dialog dibuka dengan sebuah guyonan. Dalam perjalanan hidupnya, Mas Jay sering mendengar bahwa tentara Indonesia didominasi dan dikuasai oleh agama tertentu: AD (Angkatan Darat) dikuasai oleh pemeluk Islam sementara AU (Angkatan Udara) dikuasai oleh umat Kristiani. Mas Jay berkelakar dengan menyebut AL adalah yang paling Islami mengingat hampir semua nama masjid memiliki "AL" di dalamnya: AL Ikhlas, AL Barokah, AL Hidayah.

Sebelum masuk ke lagu berikutnya yang akan dibawakan oleh TICC, Mas Jay melontarkan pertanyaan pada penonton: Berapa usia WR. Supratman saat mencipta Indonesia Raya? Kebangkitan Nasional ditandai dengan apa? Penonton yang dipilih untuk menjawab adalah pemuda. Benang merah dapat ditarik dari sini, bahwa kata dasar "muda" menjadi titik berat topik dialog kali ini. WR. Supratman pertama kali menciptakan lagu Indonesia Raya pada usia 21 tahun; Kebangkitan Nasional ditandai dengan dua peristiwa penting yang keduanya "dipentaskan" oleh para pemuda, berdirinya Boedi Oetomo dan diucapkannya ikrar Sumpah Pemuda; kedua pertanyaan yang jawabannya berkata kunci "muda" tak dapat dijawab oleh para penonton muda.

Selanjutnya, giliran TICC unjuk gigi. Mereka membawakan dua lagu kompetisi di Hong Kong nanti, yakni "Tanctnota" dan "Salve Regina". Alunan nada-nada rumit dengan tempo yang berubah terus menerus, ditambah bahasa asing dengan aksen tak umum untuk lidah Indonesia, berhasil dibawakan rampung oleh TICC meski penulis pribadi merasa suara yang diproduksi belum maksimal diproyeksikan ke depan. Toh suara mereka pun mulai panas pada lagu berikutnya, kali ini lagu ciptaan Leo Kristi yang diaransemen oleh Nindya Tri Harbanu, "Salam Dari Desa". Mungkin karena faktor bahasa yang lebih mudah dilafalkan oleh anak-anak tersebut ditambah iringan musik akordion Mas Andreas dan gitar Om Jubing yang lincah dan jenaka, TICC membawakan "Salam Dari Desa" lebih lepas dan riang. Kemudian kakak-kakak TIC melanjutkan trek lagu Leo Kristi dengan membawakan "Gulagalugu Suara Nelayan", masih dengan aransemen buah tangan Nindya dan iringan musik yang sama sebagai penutup sesi pertama. 

Sesi kedua dibuka dengan lagu daerah Sumatera Barat "Indang", aransemen buah tangan Lilik Sugiarto. Akordion dan gitar memulai melodi lagu, disambut oleh Jhorlin Darwis Sitinjak, Rama Sentausa, dan Linda Samosir sebagai solis yang menyanyikan harmoni nada dengan indah. Seolah memang dibawakan di awal sesi kedua untuk membangun atmosfer ceria bersemangat, "Indang" dilanjutkan oleh "Arjuna Mencari Cinta" ciptaan Ahmad Dhani dan diaransemen oleh Indira Fransiska. Kali ini, Fajri Prabowo dari golongan suara bass menjadi solis dan membawakan lagu tersebut cukup komikal dengan bahasa tubuh yang lucu. Tidak cukup sampai di situ, penonton dibuat tergelak dengan layar yang menampilkan foto Eyang Subur dikelilingi wanita-wanita "seksi" seperti Angelina Jolie dan Ratu Elizabeth. 

Masih tentang bentuk ekspresi cinta seorang lelaki, lagu berikutnya adalah "Wanita" karya Ismail Marzuki dan diaransemen oleh Lilik Sugiarto. Mas Jay kali ini masuk dalam barisan tenor yang memimpin lagu tersebut. Ini adalah lagu favoritku yang lain. Selain nada-nada ajaib yang mengalun indah, lirik lagu "Wanita" begitu puitis dan berdaya sihir. 


Seindah mawar | semurni nan hati | dikau cemerlang wanita
Semerbak wangi | sejinak merpati | dikau selalu di cinta
Gerak gayamu ringan, mengikat hati mudah terlelap
Mata bersinar menyilaukan matamu
Halus wanita | bak sutra dewata | senyuman lunturkan mahkota

Seperti halnya tradisi konser interaktif TIC dan TICC, penonton diminta bernyanyi bersama lagu "Indonesia Pusaka" aransemen karya Yudia Pancaputra. TIC silam, tinggallah TICC yang selanjutnya membawakan lagu lain untuk kompetisi yang sama, "Kalera Gazteak". Lagu ini menjadi lagu terakhir persembahan TICC yang kemudian silam dan digantikan oleh kakak-kakak TIC.

Jambi selanjutnya direpresentasikan dalam lagu "Dodoi Si Dodoi" aransemen Mas Jay sendiri dengan solis Saftianingsih. Lagu dibuka dengan alunan nada menyayat hati dari saluang dan biola serta ratapan sang pemain saluang yang memang laki-laki Minang. Dijelaskan sebelumnya bahwa lagu ini mengisahkan seorang ibu yang tengah menimang-nimang anaknya sembari meratap rindu akan sosok suaminya yang belum pulang. 

"Twa Tanbou" karya Sydney Guillaume kemudian menggeser suasana yang tadinya sendu menjadi bersemangat. Lagu yang berasal dari salah satu suku di Afrika ini mengisahkan tentang perbincangan antara tiga buah kendang yang masing-masing berpendapat bahwa suaranyalah yang paling keras. Akhirnya, konser ditutup dengan karya Ahmad Dhani yang lain, kali ini hasil kolaborasinya dengan Bebi Romeo, "Andai Aku Bisa" yang diaransemen oleh Ily Matthew Maniano dengan solis seorang alto, Christine Nataly Panggabean.

...

Aku akui, ulasanku dimulai dari babak kedua konser memang tidak selengkap ulasan babak pertama. Selain aku tidak membawa catatan untuk membuat ringkasan jalannya konser, aku memang memilih lebih menikmati lagi sisa waktu yang kupunya untuk lebih menikmati "Nyanyian Tanah Merdeka". 

Terakhir, aku teringat satu dialog lagi yang belum aku paparkan di atas terkait bahasa Indonesia. Mungkin aku tak sendiri merasakan tamparan tentang fakta bahwa orang Indonesia lebih bangga dengan bahasa Inggris atau bahasa asing lain ketimbang bahasa Indonesia sendiri. Namun, jika Mas Jay membaca tulisan ini, dia boleh lega karena ulasanku kali ini murni menggunakan bahasa Indonesia, kecuali pada nama dan istilah yang memang tidak semestinya diterjemahkan.

Juli 29, 2012

Untitled 3





Kesadaran akan adanya cacat besar dalam diri sendiri menuntun kita pada titik pendewasaan yang hanya bisa kita takar dan rasakan sendiri. Setiap pengalaman pribadi adalah unik layaknya sidik jari yang tak akan pernah sama sepenuhnya dengan orang lain. Sebelum mencari ke luar, sebaiknya mendalami lebih jauh ke dalam.

Segala bentuk temuan baru maupun ingatan lama selanjutnya perlu kita respon dalam segala rupa rencana dan pembekalan diri menyongsong hari esok. Atau, kita hanya akan terpuruk pada lubang gelap yang membusukkan akal sehat dan menggerogoti kadar kepercayaan.

Salam,
Jan Phaiz


. . .

Sumber gambar:
http://fc03.deviantart.net/fs30/f/2008/162/9/3/Introspection_by_machine_guts.jpg

Februari 04, 2012

Dear Master


What am I suppose to do when silence calls critics and actions are always been wrong? If I'm not the one who is expected to be or maybe I'm a fool wasting my time in this world doing nothing, and it hurts your long experience about life, I'm sorry. But I am the one who feel the pain to be put down down and down, again and again with your words. I really don't know if I can still bare all of this.

Yes, I'm weak, loser, poor, stupid, coward, and know nothing about life. And you know the best way to make me think even worse. Am I such a criminal in your eyes?

I just want to believe, that life is never-ending learning. NEVER! Especially about people, people's feeling. And I hope you learn about that too, beside all of the knowledge you've mastered.

Sincerely


. . .

Sumber gambar:
http://fc02.deviantart.net/fs70/f/2011/213/e/5/e52ecee28560d4590b1319f3a8bccd02-d42d3ir.jpg

Januari 13, 2012

From a Fool (2)

They say I took too long to get close with you,
They say I am a coward not to confess or make you my girl,
They say I did too many consideration just to say "it" out to you,
Maybe they think I'm an anti-mainstream in this field..

I would say "I don't care"
I enjoy the special case that I have here..
I never think of how long I must wait or must hold it, I just want you to feel comfortable..
That's it.

. . .


*the only exception playing*


sumber gambar:
http://th02.deviantart.net/fs8/PRE/i/2005/321/b/6/Here_with_you_by_limey404.jpg

Desember 22, 2011

Tentang Seseorang

Tentang seseorang aku tak pernah bosan menatap wajahnya
Garis-garis usia bermunculan seiring senyum yang datang dan pergi silih berganti dengan air mata

Tentang seseorang aku sering kecewakan dengan tingkah laku atau sekedar kata-kata
Punggungnya mulai membungkuk bukti kian rapuh badannya, sekaligus kian besar upayanya melindungi buah hatinya

Tentang seseorang aku sering lupa dalam sukaku, namun adalah orang pertama dalam curahan dukaku
Meski raganya tak lagi sekuat dulu saat mampu menggendongku keliling komplek, rasa sayangnya tak sedikitpun berkurang untukku

Sungguh tak sebanding usiaku dengan kasih sayang dan pengorbanannya
Tak pula terhitung berapa banyak luka yang kutoreh di hatinya, yang terus menerus dapat dia sembuhkan
Dalam harapan-harapan yang terselip pada tiap do'a malamnya,
Dalam nasihat-nasihat sederhana yang terucap lewat sambungan jarak jauh,
Atau sekedar sapaan lembut 'sudah sholat Nak?' yang tak pernah dia lewatkan sekalipun

Dan tentang seseorang yang sangat kurindu dan ingin kucium meski hanya lewat lagu,
Orang itu adalah Ibu...

[Selamat Hari Ibu, Mah]
. . .
Jakarta, 22 Desember 2011
01:38 WIB

November 17, 2011

"Dua Kisah Nusantara": Concert for Papua



Kamis, 10 November 2011 menjadi hari bersejarah khususnya dalam kehidupanku. Konser Interaktif "Dua Kisah Nusantara" menjadi konser pertamaku sekaligus pengalaman bathin tak ternilai harganya yang kudapatkan dari proses lima bulan persiapan konser.

Nama The Indonesia Choir kudengar dari seorang sahabat yang sama-sama anggota paduan suara kampus. Aku akhirnya diterima menjadi anggota The Indonesia Choir dengan segala keterbatasan dan kekurangan setelah mencoba beberapa range nada yang dimainkan sang guru, Jay Wijayanto, dan menyanyikan satu bait lagu "Mad World" sebagai lagu audisiku. Apa yang kulihat, kudengar, dan kurasakan selanjutnya selama hari-hari latihan di markas TIC yakni di Jalan Kyai Maja (lebih akrab disebut "Maja"), sungguh di luar ekspektasi-ekspektasi bahkan bayanganku tentang dunia paduan suara.

Pada awalnya kupikir proses audisi TIC terlalu sederhana bahkan cenderung bersifat formalitas karena untuk ukuran paduan suara profesional yang sudah beberapa kali menggelar konser besar, kualitas suara dan teknik vokal yang kumiliki lolos diterima begitu mudahnya. Terlebih saat tahu bahwa aku pun akan turut serta dalam konser besar TIC selanjutnya yang dilaksanakan di bulan November 2011. Setelah melewati prasangka-prasangka awal tersebut, aku mendapati satu nilai yang dimiliki oleh TIC yang benar-benar membuatku bangga menjadi salah satu anggotanya. Mas Jay (sapaan akrab sang guru), pada satu pertemuan menjelang konser berkata, "Konser tinggal hitungan hari, segala jenis persiapan telah kita lakukan, latihan vokal, latihan koreografi, persiapan kostum, pemusik, hingga dana yang tak kecil jumlahnya. Semua itu akan sia-sia kalau kalian, para 'artis' konser nanti tidak dapat menjadi api bagi dirinya sendiri. Bekal apapun yang kalian punya, kualitas apapun yang kalian miliki, tak akan berarti apa-apa jika kalian tidak menggunakannya dengan maksimal. Perlu kalian ingat, TIC tidak menerima anggota yang sudah menjadi bintang. Kalian datang dengan segala keterbatasan dan kalian telah melalui berbagai bentuk tempaan. Sekarang saatnya kalian tunjukkan hasil tempaan tersebut. Kalian harus bisa menjadi bintang di konser kita nanti." Selanjutnya, apapun yang kudapatkan, kuterima, dan kuhadapi dalam hari-hari latihan seolah menjadi penyemangat untuk tidak menyia-nyiakan keterbatasan yang mendapat kesempatan untuk diekspresikan dalam konser nanti.

Seperti halnya konser-konser TIC sebelumnya, nuansa nusantara menjadi nilai jual utama konser yang kali ini bertajuk "Dua Kisah Nusantara". Mengangkat perbedaan yang mencolok antara Indonesia bagian barat serta timur khususnya dalam segi budaya dan standard kehidupan. Mukadimah tentang konser mungkin sudah dibicarakan dengan baik di berbagai publikasi tentang konser "Dua Kisah Nusantara". Satu hal yang ingin kuangkat dalam tulisanku kali ini adalah tentang Papua.

Konser "Dua Kisah Nusantara" memang mengangkat tentang dua wilayah di Indonesia (Barat dan Timur) yang kontras baik secara budaya, gaya hidup, hingga jenis musik. Namun totalitas Mas Jay dalam mengeksplorasi Papua sebagai representasi wilayah Timur Indonesia patut diacungi jempol. Papua yang pernah disebut sebagai Netherland New Guinea, Irian Barat, serta Irian Jaya (hingga tahun 2002) merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia paling Timur yang mendiami pulau terbesar kedua di dunia, pulau Papua. Sejarah dari sudut pandang Geologi mengatakan bahwa Papua merupakan pecahan benua Australia yang terpisah oleh lautan di penghujung zaman es. Dari sudut pandang budaya dan antropologi, penduduk Papua yang oleh orang Barat disebut kaum Melanesia (karena memiliki warna kulit gelap; Mela adalah bahasa Yunani yang artinya gelap) merupakan bangsa Asia Tenggara asli yang datang menggunakan perahu dan 'terjebak' dalam dahsyatnya alam tanah Papua sehingga tak dapat meninggalkan wilayah tersebut bahkan terisolasi dari modernitas wilayah sekitarnya. Sejarah kerajaan nusantara menyebutkan adanya koneksi antara Papua dengan kerajaan-kerajaan besar yang pernah ada di Nusantara, misalnya burung cendrawasih, burung asli tanah Papua, digunakan raja-raja Majapahit untuk sesembahan dan disebut sebagai 'burung dari taman surga'. Ada sumber yang mengatakan bahwa Papua tercantum dalam beberapa kitab seperti Nagara Kartagama serta kitab Prapanca sebagai wilayah kerajaan Majapahit.

Dalam konser "Dua Kisah Nusantara", Mas Jay mempersiapkan empat buah lagu dari Papua, tiga diantaranya dipesan khusus oleh The Indonesia Choir untuk pementasan Kamis malam itu. Yamko Rambe Yamko menjadi lagu Papua pertama yang kami bawakan dengan iringan perkusi berbagai alat musik daerah timur, serta penampilan spesial dari Corp Seni Brimob. Sejak kecil, aku mengenal lagu Yamko Rambe Yamko ini sebagai lagu Papua tanpa kutahu artinya bahkan hingga sekarang. Pada saat kami melakukan interpretasi lagu bersama, Mas Jay bahkan bilang hingga saat ini belum ada yang tahu pasti makna lagu tersebut. Liriknya terbilang sederhana dengan banyak pengulangan kata, namun bahkan tidak semua orang Papua tahu makna lagunya. Berbagai milis maupun website komunitas pecinta Papua bahkan mengangkat tema 'arti lagu Yamko Rambe Yamko' dalam diskusi mereka. Adapun terjemahan kasar lagu tersebut adalah sebagai berikut:
Hai jalan yang dicari sayang perjanjian
sungguh pembunuhan di dalam negri
sebagai bunga bangsa
bunga bangsa, bunga bangsa, bunga bangsa
bunga bertaburan
bunga bangsa, bunga bangsa, bunga bertumbuh
di taman pahlawan

Namun sekali lagi, belum kutemukan ada penelaahan sejarah, makna, maupun interpretasi komprehensif mengenai lirik tersebut. Sekilas fenomena ini terkesan aneh sekaligus menggelitik. Telusur punya telusur, hingga tahun 1963, dimana ada sekitar 700.000 populasi penduduk di Papua, 500.000 diantaranya berbicara dalam 200 macam bahasa yang berbeda dan tidak dipahami oleh kaum atau suku lain. Dengan rasio populasi dan banyaknya bahasa yang digunakan, satu bahasa paling hanya dikuasai oleh sekitar 50 orang. Hingga saat ini tercatat ada 243 bahasa pengantar yang digunakan di Papua, dengan beberapa diantaranya telah punah karena meninggalnya orang yang memahami bahasa tersebut. Maka jangan heran jika lagu-lagu dari tanah Papua banyak yang terkesan misterius karena tak diketahui maknanya. Padahal mungkin saja lagu tersebut tidak benar-benar mengandung interpretasi lain selain apa yang bisa diterjemahkan seperti halnya lagu 'Seal Lullaby' karya Eric Whitacre yang murni benar-benar menceritakan seorang ibu tunggal menyanyikan lagu nina bobo untuk anaknya.

Lagu berikutnya diberi judul WOR, medley lagu tarian tradisional daerah Biak yakni Kankarem dan Morenkim aransemen Budi Susanto Yohanes. Berbeda jauh dengan kesan pertama yang mungkin muncul saat mendengar judulnya, lagu ini tidak bercerita mengenai perang, tetapi tentang pelangi, keindahan. Dua lagu selanjutnya adalah lagu pesanan khusus TIC untuk konser Dua Kisah Nusantara: Diru Diru Nina aransemen . . . dan Yapo Mama Cica aransemen Arvin Zeinullah. Tiga lagu Papua ini kami bawakan lengkap dengan koreografi arahan tim dari Jecko Dancer yakni Nambe. Gaya menombak dan melompat mendominasi gerakan-gerakan dalam koregrafi yang cukup menguras energi ditambah kami harus menjaga pitch dan choral sound saat bernyanyi.

. . .

Sejujurnya, tulisan di atas telah kutulis cukup lama dan mengendap di draft blogger entah menanti apa. Aku mengalami titik stagnan dimana aku tak bergerak maju pun tak berbelok arah, melainkan berdiam di tempat. Mungkin semua orang pernah mengalaminya, yang membedakan bagi tiap orang adalah seberapa lama dia bertahan di tempat yang sama dan tidak menghasilkan apa-apa. Aku sudah cukup lama mengendapkan tulisan ini dan kurasa apapun bentuknya, selesai atau tidak selesai, harus kupublish demi menuntaskan tanggung jawabku yang telah memulai.


Cheers,
Jan Phaiz (Setya Nurul Faizin)

Sumber:
http://sejarahbangsaindonesia.blogdetik.com/2011/05/28/sejarah-papua-tidak-terlepas-dari-masa-lalu-indonesia/
http://sejarah-papua.blogspot.com/
http://sejarah.kompasiana.com/2011/07/07/sejarah-papua-menurut-kompas/
http://real-mistery.blogspot.com/2009/07/misteri-pulau-papua.html
http://tunas63.wordpress.com/2008/09/22/makna-lagu-yamko-rambe-yamko/

Intermezzo II


Semester lima memang belum usai, tapi intermezzo kali ini rasanya tak bisa lagi menunggu untuk ditulis. Memang sempat kutulis tentang angan-angan untuk menempuh hidup yang sedikit lebih waras dan sehat di semester lima ini. Dengan berakhirnya masa jabatan di Himpunan yang penuh dengan acara dan kegiatan, tadinya kupikir dengan naik level di tingkat Senat yang tidak terlalu banyak event akan sedikit mengurangi aktivitas. Dan ya, semester lima sejauh ini tidak menunjukkan grafik penurunan aktivitas atau peningkatan waktu tidur malam. Terlebih sejak bergabungnya aku dengan The Indonesia Choir.

Bagiku, menyanyi bukanlah hobi namun tidak bisa pula dikatakan sebagai bakat. Menyanyi seperti bahasa ibu yang kubawa sejak kecil, di samping bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Dalam sehari, mungkin porsiku menggunakan bahasa Indonesia dan 'bahasa menyanyi' hampir sama saking seringnya aku menyanyi. Saat mendapat ajakan dari seorang teman untuk ikut audisi The Indonesia Choir, tentu aku sangat tertarik. Singkat cerita, aku resmi menjadi anggota saat TIC tengah mempersiapkan konser ke-5 dengan tajuk Dua Kisah Nusantara. Berawal dari rasa penasaran dan ketertarikan pribadi, jadilah aktivitas di TIC menjadi rutinitas yang mengisi hari-hariku di semester lima ini. Dimulai dari latihan rutin Rabu malam yang tepat ada di sela-sela rutinitas kampus, serta latihan Minggu siang yang seringkali kupakai untuk tidur usai shift malam sebelumnya, hingga latihan intensif menjelang konser yang bisa memakan waktu setengah hari di hari Rabu, Sabtu, dan Minggu. Tambahan kegiatan ini tidak menghilangkan rutinitas yang sudah ada seperti kuliah untuk enam mata kuliah, latihan paduan suara kampus, rapat-rapat rutin Senat, serta kerja 'rodi' shift malamku sebagai barista.

Tulisanku selanjutnya akan mereview tentang konser kelima TIC yang merupakan konser pertama dalam hidupku. Berhubung aku terlibat langsung sebagai 'artis' dalam pagelaran tersebut, mungkin tulisanku tidak akan banyak membahas tentang penampilan dan pertunjukkan secara keseluruhan dari bangku penonton, namun lebih pada pengalaman-pengalaman selama persiapan hingga konser dan thethek bengek tentang konser dari sudut pandangku.




Sumber gambar:
http://fc04.deviantart.net/fs4/i/2004/199/8/f/All_The_World__s_A_STAGE.jpg

September 23, 2011

Bulan yang Merindu Sang Hujan


Untuk kamu,
Malam ini diguyur hujan

Menyembunyikan bulan sang pujaan

Meski tak ku jumpaimu tadi siang

Balasan pesanmu cukup melegakan
Setidaknya tak perlu kumerasa diabaikan

Untuk hujan yang malam ini mengguyur,
Kau turun membasahi tanah

Ke seluruh jalan sambil menyebarkan bau basah

Seolah hadirmu mengabarkan resah

Yang nyatanya hadir saat datang kabar tentangnya
Dia yang mengingat namanya membuatku gelisah


Untuk bulan yang sosoknya selalu dia kagumi,
Kau memang absen dari langit malam ini
Tapi kutahu kau hanya sembunyi

Seperti halnya aku yang seringkali memandanginya seorang diri

Dari sudut tak nampak, siap lari saat dia pergoki

Seakan menyapanya perlu ribuan nyali


Untuk kamu yang mungkin merindukan sang bulan malam ini,

Aku tahu kamu tahu bulan tak tengah menghilang

Namun cuaca menjadikan langit serasa ada yang kurang

Sebagaimana hubungan kita hingga sekarang

Jawabmu atas tanyaku tak pernah berpanjang

Sikapmu terhadapku tak pernah cukup terang


Wahai hujan yang kian merintik dan hendak habis,

Hadirmu sekejap namun basah yang kau tinggalkan tak sebentar

Menyisakan genang air serta aroma yang masih menguar

Apa kau tahu betapa waktuku bersamanya tak pernah longgar

Namun memori yang kukecap seolah begitu besar

Ingin sekali kuyakin bahwa rasaku pun menjadi rasanya


Oh bulan yang mulai mengintip,

Kau memang tak memiliki cahaya itu

Namun pesonamu seolah membuatnya terpaku

Tahukah betapa aku iri padamu?

Saat dia mengagumi dan mengagungkan indahmu

Anganku terbang mengandaikan namaku yang dia sebut

Untuk hujan dan sang bulan,

Hadirmu bergantian tak nampak bersama

Seolah dimensi kalian sungguh berbeda
Dalam gelap malam hujan, bulan tentu tiada

Begitupun saat langit benderang cahya bulan, tak ada hujan di sana

Entah mengapa hidup kalian serupa denganku dan dia


Untuk kamu dan hanya kamu,
Mungkin bulan dan aku tak akan pernah sepadan

Namun dirimu sungguh serupa hujan di waktu malam

Dalam munculmu yang tak seberapa, ada sisa rasa yang membekas dalam
Dalam deras yang kau guyurkan, ada kesan yang justru menentramkan

Dan dalam anganku tentangmu, ada bulan yang merindu sang hujan



Jakarta, 23 September 02.57
Jan Phaiz (Setya Nurul Faizin)


~ Ditulis di dalam bus transjakarta saat malam hujan menggunakan ponsel, diselesaikan dan diposting melalui laptop pada dini hari di tengah-tengah shift kerja malam. Takut momennya hilang =P ~

. . .


Sumber gambar:
http://fc03.deviantart.net/fs70/i/2011/130/d/5/braving_the_night_rain_3_by_dannyst-d3g2fzc.jpg

Juli 14, 2011

From a Fool

Honestly, I didn't expect you to come out directly with direct words. I swear to God it's a big heart attack for me yet surprising in a positive way. And the other fact is, I didn't also feel like you meant that posting to me. That's why I put an '?' on it. Maybe I was too attracted in your previous writings, which means, I did realize, somehow, that those were for me. That's why I response it through a post.

I feel bad. I know I'm not good in shouting out loud my feeling directly, especially towards a person like you. I'm so not good in expressing naturally what comes to my mind through my face, body, or words [spoken], again, especially towards you. And believe me, I'm struggling to fix it, even sometimes I feel like I'm faking it. I want to be just my self, but something convince me to act more than just me. I know it's bad and stupid, but well, maybe I'm just such a fool. Hell I am the most successful fool person in dealing with 'this' thing.

I feel bad. You know, when I read something about you, my mind would be really reactive that I couldn't handle it sometimes. A lot of things, like you said A-Z, came to my mind and I was like picking it from a spread items. Worse, I made an assumption or even string up a perception. Though I knew I need to communicate, something related to my past told me not to. I was frightened of my own self, I was afraid that I took a wrong decision which will carry you away.

I feel bad. Now I know [a little bit more] what's really going on here. I have said my part once in front of you, and you've said yours in all the way you were at that time. We've walked the path even though only an inch far forward and things happened on you, on me, on its own part. Maybe you've been looking for more me, and all I've been giving was just a little, vice versa. Maybe the only thing we need, or I need, is to be more sincere, open, and perceivable(?).

Of course, it's emm if you still want to continue walking on it.

To close this posting, let me write down a lyric which is recently sung in my mind from John Mayer titled "Clarity", and if you can hear me, I'm singing it too ;)

Clarity
by John Mayer

I worry, I weigh three times my body
I worry, I throw my fear around
But this morning, there's a calm I can't explain

The rock candy's melted, only diamonds now remain


Ooh ooh ooh ooh


By the time I recognize this moment

This moment will be gone

But I will bend the light, pretend that it somehow lingered on

Well all I got's


Ooh ooh ooh ooh


And I will wait
to find
If this will last forever

And I will wait to find

If this will last forever

And I will pay no mind

When it won't and it won't because it can't

It just can't
It's not supposed to

Was there a second of time that I looked around?
Did I sail through or drop my anchor down

Was anything enough to kiss the ground?

And say I'm here now and she's here now


Ooh ooh ooh ooh
Ooh ooh ooh ooh

So much wasted in the afternoon
So much sacred in the month of June

How bout you


And I will wait to find

If this will last forever

And I will wait to find
That it won't and it won't

Because it won't

And I will waste no time

Worried 'bout no rainy weather

And I will waste no time

Remaining in our lives together





Picture taken from
http://jjwbhufugp.deviantart.com/art/Clarity-119931993?q=boost%3Apopular%20clarity&qo=37

Dear Sister (?)

I used to think that you realize my existence.
I used to think that what you did back then was somehow signals for me.
I used to be happy, over-excited, and sleep-less when you seemed giving me feedback.
I used to tell a close friend of mine that 'here it is', you weren't a doubt.
I used to talk with my self about you all night.

Then there you were, telling me how what I've been thinking all these time was wrong.
You made me stop expecting, stop wondering, and even stop over-thinking about you-signal-me.
I was screwed a bit that finally I kept telling myself it's just another first step.

Then there you were, ruining my life with your story for being dumped out of someone.
You made me start thinking again, this time in all-negatives-way about 'someone' you mean.
I was confused at first and worrying but then I reminded myself it's just another empty-wishes.

Now I use to think that I'm nothing for you but a stranger.
Now I use to think that what you do in your life has nothing to do with me.
Now I use to be such a "NUMB" person rather than a broken-heart.
Now I use to tell a close friend of mine nothing, especially about you.
Now I use to talk with myself about me, just me.

Then there you are, showing up right in front of my face through your awakened media.
...

What am I supposed to do?
If only you ask me to call you, I'll call.
If only you ask me to show up in front of you, I'll come.
If only you say you want me to make a joke, I'll bring you unforgettable awkward-face of mine to make you laugh, since I'm not really good at jokes.
If only you ask me to smile, I'll give my best.
...

But if you keep in silence, I assume that this 'writing' isn't even read or touched by you, or worse, means nothing for you.

Juli 08, 2011

Intermezzo


Semester empat sejauh ini menjadi semester terpadat baik secara mata kuliah, jadwal kerja, organisasi, dan kegalauan-kegalauan lain yang memadati waktu-waktu longgar yang tak seberapa. Diawali dengan persiapan event akbar Himpunan yang sudah dimulai di awal semester meski acaranya sendiri diadakan di akhir semester (MagStorm-red); susun-tumpuk-ulang laporan pertanggungjawaban tahunan Himpunan yang menguras waktu-pikiran-dan-[bukan]-uang-[pribadi] dan menghamburkan beratus lembar kertas; inisiasi Senat Mahasiswa yang sangat tak diduga, tak direncana, namun cukup memenuhi jadwal satu bulan hingga penutupan di Maleber, Puncak; penyesuaian lingkungan kerja yang tak lagi se-fleksibel dulu dengan hadirnya Store Manager baru yang begitu kaku dan semua-harus-sesuai-standard-freak; jadwal-jadwal rapat baru dengan para senator berkecimpung dalam dunia ormawa kampus; hingga tugas akhir tiap mata kuliah yang meminta persembahan berupa final paper maupun presentasi akhir. Seandainya dosen bahasa Indonesia berkesempatan membaca kalimat barusan, mungkin indeks nilaiku akan didegradasi lagi karena penggunaan kalimat yang terlalu panjang. Ups.

Baiklah, akhirnya tiba pada minggu pertama bulan Juli dimana hampir kesemua aktivitas di atas menemui titik habisnya, kecuali titik yang memang baru diawali. Di tengah padatnya jadwal Senat Mahasiswa khususnya Komisi I berhadapan dengan Proposal Program Kerja berbagai Himpunan dan UKMA, serta di tengah jadwal shift kerja pagi yang sangat mengganggu rutinitas (nasib anak midnight sejak store baru buka Agustus lalu), masih ada penghiburan dengan hadirnya dua eksemplar buku berwarna sampul mirip yang masing-masing bertanda tangan penulisnya langsung. Buku pertama dengan judul berbahasa Spanyol, “Madre”, antologi ketiga Dewi “Dee” Lestari setelah “Filosofi Kopi” dan “Recto Verso”. Buku kedua kudapat langsung saat launching pertama dan bincang-bincang bersama penulis yang sudah cukup lama kukenal (dari karya-karyanya dan beberapa kali forumnya), “Yang Galau Yang Meracau” karya Fahd Djibran. Maka, dua buku tersebut seolah menjadi penghilang dahaga, semprotan penyegar, yang mengaliri keringnya ladang jiwaku, menyegarkan kembali indera ‘perasa’ku.




Sumber gambar:
http://anabelismo.deviantart.com/art/Intermezzo-61414065

Mei 20, 2011

Sepotong Roti

Jum'at, 20 Mei 2011
15.04 WIB

Tiga tahun yang lalu, di jam-jam ini, sebuah proses terjadi. Lima jam pertempuran batin. Lima jam ketegangan situasi. Berujung pada cerita "Lima" atau titik spasi.

Hari ini, di jam-jam ini pula, sebuah titik balik seakan dimulai. Bukan lagi mematahkan namun menumbuhkan. Berbeda dengan terik tiga tahun lalu di parkiran sekolah, hujan deras mengguyur student lounge luar kampus merah. Ya ampun, tiga tahun telah berlalu sejak keputusan untuk sendiri [lagi] diawali dengan menyisakan luka.

Hari ini, hari-hariku akan dimulai dengan titik baru. Setelah cukup lama berproses di dalam maupun di luar diri, aku berani berkata rindu. Rindu pada saat hati berwarna dari merah, kuning, hingga biru. Rindu mengecap berjuta rasa yang kata orang mampu melebur jadi satu. Yang seringkali membuat orang 'mau tapi malu'. Ya, rasa itu.

Hari ini, mengawali pagi dengan sedikit lesu, aku bertemu dengannya. Rona cemberut yang dia tunjukkan dengan memanyunkan bibir atasnya, seolah menjadi obat pembangkit semangat. Tanpa ragu aku mendekat dan 'merebut' potongan terakhir roti sarapannya. Dari tangannya. Sepotong roti pengusir kantuk dan penyengat saraf bahagia. Aku berlalu dan sekali lagi kutatap senyumnya. Rasa itu ... inikah dia?

Hari ini, sepotong kejadian kecil melalui sepotong roti dan sepotong senyum mengawali tahapan baru hidupku. Mungkin masih terlalu dini untuk melabeli ini dengan nama apapun. Dan yang kubenci dari kata mungkin adalah aku tak pernah benar-benar tahu apakah ia menjadi "iya", atau menjadi "tidak". Yang kutahu, aku bergerak maju. Bukan lagi saatnya memandang masa lalu atau meratap sendu. Aku terlalu rindu.

. . .

Kepada E,
Semoga kau mulai membiasakan diri dengan gaya menulisku yang eksplisit meski bergaya sangat misteri. Aku tak bermaksud mengubah apapun di antara kita untuk saat ini. Aku hanya terlalu bersemangat untuk tidak menulis tentangmu, dan tentang rasa ini. Maka hari ini, biarlah kukecap sensasi demi sensasi, sembari mengurai spasi-demi-spasi. Hingga kudapati, benarkah rasa ini, atau sekedar sepotong roti?

















Sumber gambar:
http://fc00.deviantart.net/fs25/f/2008/118/7/0/Love_Thy_Bread__by_Chelsx.jpg