Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Mei 18, 2010

Berkarya Selagi Muda berarti Bertindak Selagi Bisa


“Bakat itu hanyalah sebuah kesempatan, namun untuk menjadi ‘sesuatu’, bakat itu harus diasah agar ia mengeluarkan aura cahayanya dan menemukan pintunya. Namun lebih dari itu, kesempatan atau sebuah potensi harus bergerak menemukan pintunya.” (John C. Maxwell, Talent is Never Enough)

Potongan kalimat Maxwell di atas mungkin bersifat umum dan diperuntukkan kepada hampir seluruh kalangan. Motivasi yang dimaksudkan agar kita bergerak dan melakukan aksi demi mencapai apapun tujuan kita. Bagaimanapun, jutaan ide dan gagasan tidak akan mewujud dalam bentuk nyata jika hanya dipikir dan diangankan saja. Tulisan ini akan mengulas isi buku “Wirausaha Muda Mandiri” yang disusun oleh Prof. Rhenald Kasali, Ph. D.

Buku setebal 316 halaman ini berisi tentang 24 kisah sukses dari 24 wirausaha muda Indonesia yang merintis usaha mereka sejak muda bahkan sejak mereka kecil. Sebagaimana telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, ide dasar penyusunan buku ini adalah motivasi kepada orang-orang muda Indonesia dalam berkarya, khususnya bidang bisnis kecil menengah.

Kisah sukses tidaklah selalu berisi cerita indah dan manis. Sebagaimana kupu-kupu cantik yang terlahir dari ulat dan kepompong buruk rupa, sebagian besar kisah dalam buku ini menggambarkan proses sebuah kesuksesan yang diawali dengan perjalanan kurang menyenangkan bahkan terkadang pahit dan menyakitkan. Di sinilah letak daya tarik kisah demi kisah dalam buku ini. Tidak hanya mengumbar janji dan mimpi, tiap penulis memberikan realita dan fakta sebagai pengingat bahwa madu manis dikumpulkan dari puluhan sari bunga yang dikumpulkan lebah dengan taruhan nyawa, perjuangan dan pengorbanan.

Di samping 24 kisah sukses dari 24 finalis wirausaha mandiri yang diadakan Bank Mandiri, buku ini juga memberikan 24 nilai-nilai wirausaha yang disebut Hukum Wirausaha. Tiap hukum wirausaha dijabarkan mendetail dalam satu artikel yang ditulis langsung oleh tokoh yang dikisahkan dalam buku. Kehebatan praktis yang dimiliki para finalis ternyata tergambar juga dalam kelihaiannya menuliskan gagasan dan ide dalam tulisan. Tiap artikel yang mereka tulis memberikan spirit tersendiri sekaligus mendukung kisah sukses mereka yang diceritakan di awal.

Kisah pertama ditorehkan seorang pemuda kelahiran kota hujan, Bogor, bernama Elang Gumilang. Singkat cerita, buah usaha yang bersumber dari gagasan dan ide dalam kepalanya, dengan bumbu jiwa sosial dan empati tinggi yang ia miliki, kini mewujud dalam bisnis properti dengan perusahaan yang ia dirikan sendiri, Perusahaan Semesta Guna Grup. Berawal dari satu unit rumah sederhana, menjadi tiga, dan terus bertambah hingga kini tercatat 220-an unit rumah telah didirikan di bawah konstruksi perusahaannya dengan target pasar masyarakat menegah ke bawah. Satu catatan prestasi yang tentunya tidak semua orang dapat lakukan di usia 24 tahun adalah pendapatan atau omzet tahunan yang ia peroleh tidak kurang dari Rp 20 miliar per tahun. Ditambah kontrak pre periodik terbarunya yang menambah Rp 80 miliar hingga Rp 100 miliar ke bisnisnya.

Hukum wirausaha #1 ditulis oleh Elang Gumilang: “Kenali dan Guntinglah Belenggu yang Mengikat Kaki dan Pikiran-Pikiranmu”. Elang menjelaskan secara mendetail mengenai nilai-nilai yang telah ia dapat dari pengalaman-pengalaman bisnisnya. Kata demi kata dituliskan dengan semangat mengajak pemuda Indonesia untuk mengikuti jejak langkahnya. Satu poin terakhir yang ia tuliskan adalah: “Setelah semua belenggu terlepas, janganlah berfokus pada hal-hal yang tidak bisa Anda kerjakan. Berfokuslah pada apa yang bisa Anda kerjakan. Jangan mencemburui keberhasilan orang lain, karena setiap orang memiliki keunikan dan caranya masing-masing. Kembangkanlah kebiasaan baru yang Anda kembangkan sendiri.”


Kisah sukses lain datang dari gadis berusia 24 tahun bernama Riezka Rahmatiana. Bermodalkan uang jajannya semasa kuliah sebesar Rp 150.000,00, Riezka memulai bisnis awalnya yakni pulsa elektronik. Dengan tekad dan keberanian yang diformulasikan bersama bakat bisninsnya, usaha kecilnya berjualan pulsa telah berkembang begitu pesat dan bertransformasi menjadi CV Ezka Giga Pratama sebagai dealer atau server pulsa elektronik dan membawahi sejumlah agen outlet kecil. Sayap ia kembangkan dengan menerima tawaran teman membuka bisnis laundry & dry clean bernama Prima Laundry. Untung bersih Rp 2.000.000,00 ia terima di bulan pertama. Tahun berikutnya, bisnis kuliner diliriknya dengan hasil kafe D’Green House yang berlokasi di food court & cafĂ© di daerah Cihampelas, Bandung. Dari sinilah, Riezka mulai serius dan memfokuskan bisnisnya di bidang kuliner dengan masterpiece yang dia ciptakan berupa Pisang Ijo, bisnis makanan dengan sistem franchise dan booth.

Bukan hal yang mudah bahkan terkesan tidak mungkin untuk seorang mahasiswi yang memulai bisnis dengan nominal Rp 150.000,00 kini telah memiliki aset sekitar Rp 500 juta. Rahasianya tanpa ragu dia bagikan kepada pembaca melalui Hukum Wirausaha #23: Naik Kelas. Riezka menganalogikan proses berwirausaha layaknya jenjang sekolah yang harus mengalami kenaikan kelas untuk bisa menjalaninya dengan baik dan lancar. “Kalau Anda tidak naik kelas, maka Anda hanya punya dua pilihan ini: menerima kenyataan dengan menjadi usahawan bodoh, atau Anda pindah sekolah (pindah usaha) dan memasuki dunia usaha yang membuat Anda lebih cocok, lebih adaptif.”

. . . . . . .

“Maka dari itu, bergeraklah, bergegaslah, jangan hanya berpikir, berpikir, dan berpikir di atas kertas terlalu lama. Kembangkan imajinasimu dan carilah pintu-pintu itu, ketuk satu persatu dan dari puluhan atau bahkan ratusan pintu yang Anda ketuk itu kelak ada “magnet” yang tertarik. Anda diundang masuk ke dalam karena aromanya “fit” dengan jiwa Anda. Namun ruangan itu belum tentu berpintu kea rah dalam. Jangan-jangan ia Cuma ruang penjaga gedung atau ruang tunggu yang hanya menjadi persinggahan sementara Anda. Anda harus keluar dan mencari pintu-pintu lainnya. Namun apapun yang terjadi, sebuah keyakinan telah terbentuk, bahwa dunia usaha welcome terhadap kehadiran Anda.” (Prof. Rhenald Kasali Ph.D., kata pengantar Wirausaha Mandiri)






*Dikumpulkan sebagai tugas mata kuliah Bahasa Indonesia.


Sumber gambar:
http://www.jerryaurum.com/blog/wp-content/uploads/2010/01/WMM.jpg
http://www.elanggumilang.com/index/wp-content/uploads/2009/11/Elang-vertikal.jpg
http://www.kompas.com/data/photo/2009/11/28/3593404p.jpg

Oktober 09, 2008

Iklan Telkom tentang Lebaran


Seorang guru mengakhiri pelajaran internet di sebuah Sekolah Dasar (yang nampaknya terletak di desa) sambil membuka sesi pelajaran berikutnya yakni pelajaran seni.

"Silahkan keluarkan tugas menggambar kalian tentang lebaran..." katanya.

Pertama-tama, seorang bocah berbadan seperti "Boboho" dan berpipi gempal seperti bakpao maju ke depan dengan sedikit gugup. Dia membuka gulungan kertas gambarnya yang memperlihatkan gambar ketupat dan opor ayam. Dengan suara serak dia mendeskripsikan karyanya, "Kalau lebaran, emak masak banyak makanan," lalu ceritanya divisualkan dengan gambaran si bocah bakpao yang sedang lompat-lompat berusaha meraih ketupat yang menggantung di langit-langit dapur. Ditutup dengan gambaran dirinya sedang melahap ketupat yang telah disiram opor ayam seraya berkata, "aku seneng deh."

Lalu anak berikutnya adalah seorang gadis kecil yang tak jauh beda ekspresinya dengan anak pertama. Karyanya lebih terlihat seperti gambar sebuah keluarga. Tiap anggota keluarga dilukis berdiri sejajar.

"Waktu lebaran, aku menelpon pamanku," visualisasinya berupa gambaran anak perempuan tadi bersama bapak dan ibunya di sebuah bilik wartel sedang berbicara dengan sanak saudaranya di entah.

Anak ketiga kebalikan anak yang pertama, laki-laki kurus, ceking dan hampir tak berekspresi sambil membuka ceritnya,"Setiap lebaran, kami sekeluarga pergi ke rumah kakek dengan mobil," sesuai gambarnya, mobil pick up yang menampung beberapa orang termasuk si bocah ceking tadi,"di sana, aku diberi uang,"tambahnya.

Anak terakhir paling berbeda dari yang lain. Di saat ketegangan mungkin menyergap bocah pertama sampai ketiga, bocah yang juga berbadan kurus ini justru terlihat mencoba santai meski jelas nampak dibuat-buat. Bahkan meskipun setelah membuka kertas gambarnya yang kosong, dan ibu guru terlihat kecewa, si Bocah malah nyengir. Setelah hening beberapa saat, barulah dia angkat bicara entah untuk menjelaskan apa.

"Kata bapak, lebaran berarti ... kita kembali bersih," lagi-lagi anak tersebut nyengir menggemaskan.

Iklan pun selesai. Entah ada berapa murid di kelas tadi dengan ucapan dan lambang dari TELKOM. Seandainya pun iklan diperpanjang hingga seluruh anak menunjukkan hasil kreasi mereka sembari menjabarkan makna dari karyanya, pastinya akan ada banyak komentar lucu yang keluar dari anak-anak lugu ini.

*******

Ada dua hal yang menarik perhatianku setelah menyaksikan iklan tersebut dan sedikit tertawa karena sunggingan senyum bocah terakhir.

Pertama, tentang arti lebaran, atau bada, atau idul fitri.
Idul Fitri jatuh pada tanggal 1 Syawal. Setelah melalui tiga bulan istimewa, rajab, sya'ban, dan termasuk bulan yang diperuntukkan untuk kaum Muhammad SAW, yang di dalamnya ada perintah berpuasa satu bulan penuh, serta bonus sebuah malam istimewa yang kebaikannya dihargai 1000bulan kebaikan manusia di dunia, romadhon. Setelah berlomba-lomba dalam beribadah:membaca al Qur'an dengan porsi ekstra, sholat malam yang diperpanjang, dan sebagian melakukan i'tikaf di masjid-masjid demi mendulang pahala yang dijanjikan Allah berlipat-lipat juga demi lebih mendekatkan diri pada-Nya. Tidak salah jika Idul Fitri menjadi sangat spesial dan bisa dikatakan puncak keindahan romadhon.

Kaum muslim di Indonesia mengekspresikan hari raya umat Islam ini dengan berbagai tradisi dan aktivitas. Mudik, misalnya sebagai konsekuensi bagi para perantau entah untuk belajar atau untuk bekerja. Pada musim mudik (dan balik tentunya), hampir tak ada alat transportasi umum yang menanggur. Dari pesawat terbang hingga sepeda motor, harus bersiap-siap menampung beban lebih banyak, lebih lama, dan lebih sulit medannya (karena macet mungkin). Banyak pelajar atau pekerja yang merantau ke kota besar kembali ke kota asalnya untuk merayakan hari kemenangan bersama sanak kerabat.

Sungkeman, adalah ritual lain yang seolah menjadi ruh dari idul fitri bersama keluarga. Seorang istri sungkem kepada suaminya sembari sesenggukan meminta maaf atas kesalahan selama ini dan menyatakan penyesalan yang sejadi-jadinya; seorang anak sungkem kepada orang tuanya, yang juga disambut pelukan hangat dari keduanya sambil tak jarang terdengar isakan baik dari si Anak maupun orang tua.

Jabatan tangan sambil mengucapkan kalimat permintaan maaf atau do'a kemenangan hampir menjadi kewajiban di kalangan muslim yang merayakan idul fitri.

Silaturrahmi dan silaturrahim melalui halal bihalal atau mengadakan acara bersama agar dapat bersua dengan sanak kerabat yang telah terpisahkan jarak dan waktu pun menjadi menu wajib idul fitri.

Jaringan selular menjadi teramat sibuk atas aktivitas pemberian ucapan "Selamat Hari Raya" yang makin menjadi entah dengan suara, teks, maupun gambar.

Bahkan hingga makanan, idul fitri bagaikan "Hari Ketupat dan Opor Ayam". Hampir semua rumah baik di desa maupun di kota, akan menghidangkan menu tersebut untuk keluarga ataupun tamu.

Terlepas dari berbagai kegiatan yang dilakukan oleh kaum muslim di Indonesia, inti semua itu adalah ekspresi dari nilai-nilai yang terkandung dalam idul fitri pada khususnya, dan ajaran Islam pada umumnya. Pentingnya menyambung silaturrahmi maupun silaturrahim, pentingnya saling memaafkan diantara sesama manusia, dan indahnya kebersamaan dan kemenangan. . .

Sebenarnya yang paling menarik bagiku dari iklan tersebut bukan pesan yang disampaikan secara gamblang tentang makna idul fitri, melainkan ide cerita iklan tersebut.

Pemberian tugas menggambar suatu situasi berdasarkan sebuah fantasi yang bersifat sangat pribadi kepada siswa SD. Jika dipikir lagi, ada berapa banyak guru SD yang pernah menerapkan sistem pemberian tugas seperti itu? Saya sendiri, semasa SD dulu belum pernah mendapat tugas sekompleks itu. Antara memvisualisasikan sebuah gambar di benak berdasarkan emosi dan perasaan ke dalam gambar di atas kertas, lalu menyampaikan apa yang termaktub dalam karya tersebut. Sungguh sebuah tugas yang sangat menarik dan mengasah daya kreativitas siswa. Sayang, yang seperti hampir-hampir 'hanya' ada di iklan. Lebih banyak sistem pembelajaran di sekolah dasar umum yang sangat konvensional dan tidak memberi ruang gerak bagi daya kreativitas dan imajinasi yang sebenarnya sangat baik demi pembentukan karakter siswa tersebut. Mungkin dengan adanya iklan tersebut, para guru SD di Indonesia terinspirasi untuk menciptakan tugas-tugas yang lebih kreatif dan menantang bagi para siswanya sehingga sekolah pun menjadi aktivitas yang menyenangkan.

Paradigma pendidikan kita harus diubah dari sesuatu yang mubah dan menghabiskan tenaga, pikiran, waktu, dan uang, menjadi suatu kebutuhan hakiki manusia. Bagaimana dan siapa yang harus merubahnya?? Jelas menjadi tantangan tersendiri di negara yang sudah tumbuh di tengah sistem pendidikan yang justru menarik paradigma tersebut.

Namun yang paling jelas dan utama, pendidikan kepada siapa pun, bermula dari rumah (keluarga). Jelas, peran orang tualah yang menjadi tokoh sentral perkembangan karakter putra-putrinya menerima pendidikan. Sejak si Anak mampu memahami kata-kata, petunjuk, dan perintah, saat itulah peran orang tua menjadi rangkap sekaligus menjadi guru bagi anak-anak mereka.

Baru setelah itu, pemerintahlah yang bertanggung jawab atas pendidikan putra-putri bangsanya. Bagaimana mungkin diharapkan lahir generasi muda yang diharapkan beserta berbagai keunggulan secara IQ, EQ, dan SQ yang dimiliki sementara sistem pendidikannya sendiri masih ngawur, senantiasa berganti, dan sangat tak mendidik? Mungkin hanya sedikit diantara para penempuh pendidikan yang bisa tumbuh di tengah sistem yang buruk, jika 'bekal' dari rumah bisa membentenginya. Namun selebihnya, akan terbentuk seburuk sistem yang buruk itu.

Yang terakhir barulah para pelaku pendidikan. Dalam hal ini lebih ditekankan kepada mereka yang memiliki sandangan guru alias pendidik. Indonesia membutuhkan pendidik yang sesungguhnya bagi putra-putri bangsanya, bukan pengajar. Betapa kebanyakan guru kita justru menanggalkan kewajibannya untuk urusan yang lain yang tak jarang mengorbankan para siswanya. Namun sekali lagi, jika sistem dari pemerintah jelas dan baik adanya, saya yakin, akan sangat sedikit guru yang seperti saya sebutkan tadi.

Akhirnya, iklan TELKOM tadi sekilas tampak sederhana dan lucu. Tapi bagiku, justru memperingatkan dan menampar alam bawah sadarku akan makna sebuah pendidikan yang baik.

gambar dari http://tempatsampah.blogsome.com/wp-admin/images/banner_lebaran_2.jpg