Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan

Oktober 28, 2008

"Rinduku Padamu!" : Jeritan Bangsa untuk Generasi Muda


“ Beri
aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakan Gunung Semeru! Beri aku sepuluh pemuda yang membara cinta
nya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia!”
(Ir. Soekarno Putra, Proklamator Bangsa)


Hanya sepuluh orang pemuda yang Bung Karno butuhkan untuk dapat mengguncang dunia, sementara untuk menggerakkan gunung Semeru saja dibutuhkan seribu orang.

Keistimewaan Pemuda

Secara umum, terdapat dua sudut pandang yang membuat posisi pemuda menjadi istimewa dan strategis: kualitatif dan kuantitatif (Akbar Tandjung: Peran Pemuda dalam Menciptakan Perubahan Bangsa)

Secara kualitas, pemuda memiliki idealisme yang murni, dinamis, kreatif, inovatif, dan memiliki energi yang besar bagi perubahan sosial. Kedinamisan jiwa pemuda seolah menjadi pembeda yang sangat mencolok dibandingkan dengan kaum tua yang cenderung mempertahankan adat lama dan sukar menerima perubahan. Idealisme yang murni di sini berarti tak ada kepentingan pribadi yang turut serta dalam memperjuangkan kepentingan luas demi kemajuan masyarakat, bangsa dan negara.

Aspek kedua adalah kuantitas. Dari sekitar 230 juta penduduk Indonesia, 78-90 juta jiwa atau 37-40 persen dari jumlah penduduk seluruhnya adalah pemuda. Itu jika asumsi rentang usia pemuda antara 15-35 tahun. Jika kriterianya 15-45 tahun tentu jumlahnya menjadi lebih besar lagi. Sebagian besar kelompok usia ini adalah tenaga kerja produktif yang mengisi berbagai bidang kehidupan.

Pemuda memang memiliki kelebihan yang secara substansial terkait dengan idealismenya yang masih murni, dan sepanjang sejarahnya terbukti telah memilki posisi dan peran yang strategis dalam menentukan arah sejarah bangsa.


Sejarah Bangsa Bersama Pemuda

Jika dirunut dari awal pergerakan pemuda dalam usahanya memperjuangkan kemerdekaan serta mengisinya, kita bisa memulai sejak tahun 1908. Diawali dengan berdirinya Boedi Oetomo yang dimotori para dokter Stovia. Selanjutnya muncul organisasi-organisasi kepemudaan yang mewarnai dinamika pergerakan nasional seperti Jong Java, Jong Borneo, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, dan sebagainya.

Pasca Perang Dunia I, filsafat nasionalisme abad pertengahan mulai merambat ke negara-negara jajahan melalui para mahasiswa yang belajar di negara penjajah. Sebut saja Soepomo yang merumuskan konsep negara integralistik banyak menyerap pikiran Hegel. Penciptaan lagu-lagu kebangsaan pada masa itu sarat dengan semangat nasionalisme seperti Indonesia Raya, Dari Sabang Sampai Merauke, Padamu Negeri. Tokoh lain seperti Hatta dan Sutan Syahrir pun aktif mendiskusikan masa depan bangsanya ketika mereka belajar di benua Eropa, atas beasiswa politik-etis balas budinya Belanda. Mereka inilah yang nantinya banyak berkiprah menentukan arah biduk kapal Indonesia di masa pra dan pasca kemerdekaan.

Sementara di dalam negeri, Soekarno sejak remaja, mahasiswa, hingga lulus kuliah terus aktif meneriakkan tuntutan kemerdekaan bagi bangsanya melalui organisasi-organisasi yang tumbuh di awal abad ke-20. Soekarno menjadi penghuni langganan penginapan gratis penjara Sukamiskin dan penjara-penjara lain.

Maka setelah dua puluh tahun sejak Kebangkitan Nasional, cita-cita menyatukan negara, bangsa, dan bahasa ke dalam satu negara, satu bangsa, dan satu bahasa yaitu Indonesia kemudian diwujudkan secara nyata dengan menggelorakan Sumpah Pemuda di tahun 1928.

Periode berikutnya dan yang tak kalah penting adalah kemerdekaan. Puncak perjuangan para pemuda meraih kemerdakaan diserukan oleh Soekarno kepada segenap penduduk Indonesia dalam teks Proklamasi. Lagi-lagi, berkat desakan pemuda yang menculik Soekarno ke Rengasdengklok, kemerdekaan Indonesia jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945.

Tepat dua puluh tahun setelah kemerdekaan, terjadi huru-hara pemberontakan G30S/PKI dan eksesnya. Tanpa peran besar mahasiswa dan organisasi-organisasi pemuda yang tergabung dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia), KASI (Kesatu Aksi Sarjana Indonesia) dan masih banyak lagi, Soeharto dan para tentara tidak mungin bisa ‘merebut’ kekuasaan dari penguasa orde lama, Soekarno. Sayangnya, dalam perjalanannya, Orde Baru justru menghapus peran pemuda dan dengan otoritasnya berupaya menghilangkan sama sekali hak pemuda dan mahasiswa untuk berkarya serta mengeluarkan pendapat. Sebaliknya, para tentara diguritakan dalam tatanan masyarakat sipil lewat dwifungsi ABRI.

Akhirnya, setelah 32 tahun di bawah cengkraman Orde Baru, muncul secercah asa baru di wajah Indonesia yang terlanjur rusak. Ibarat sebuah bangunan, Indonesia di bawah rezim Soeharto berselimutkan tirai panjang. Tak nampak batang tubuh bangunan tersebut, yang ada hanyalah keindahan dari tirai tersebut. Namun saat disingkap, bentuk asli pilar dan tembok bangunan pun tampak jelas. Bangunan dengan pilar dan tembok penuh retakan di mana-mana akibat tikus-tikus negara yang berlindung di balik topeng KKN. (bung Aswin-2005). Mahasiswa dan pemuda memanfaatkan kesempatan tersebut dengan upaya menjatuhkan Soeharto dari kursi tahtanya. Inilah era yang kita kenal dengan nama reformasi.
Sekarang, sepuluh tahun pasca reformasi, tampuk kepemimpinan bangsa justru berturut-turut didominasi kaum tua yang hidup di zaman Soeharto dengan segala kebiasaan yang telah mengakar dan membudaya.

Sekedar pembanding, berikut data usia sosok pemimpin bangsa antara dominasi kaum muda dan kaum tua: Bung Karno dan Bung Hatta menjadi presiden dan wakil presiden di usia 44 dan 43 tahun, Bung Syahrir menjadi perdana menteri pada usia 40 tahun, Mohammad Natsir menjadi perdana menteri pada usia 42 tahun, Jenderal Soedirman wafat pada usia 36 tahun, Seoharto dilantik menjadi presiden RI pada usia 46 tahun. Kemudian era kepemudaan lengser: Soeharto berkuasa penuh berturut-turut di Indonesia hingga usia 72 tahun, Habibie menggantikan Soeharto menjadi presiden di usia 63 tahun, Gus Dur menjadi presiden di usia 59 tahun, Megawati Sukarnoputri diangkat menggantikan Gus Dur di usia 54 tahun, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memenangkan Pemilu tahun 2004 di usia 55 tahun.

Indonesia Rindu akan Pemudanya

Sejarah mencatat perjalanan pemuda Indonesia memimpin bangsa membawa perubahan yang signifikan dan selalu dinanti oleh bangsanya. Namun, dalam satu dekade pasca reformasi, peran pemuda seolah tenggelam atau secara tidak langsung ditenggelamkan oleh sistem.

Dengan segala kerendahan hati, sebagai pemuda Indonesia, penulis merasa memiliki tanggung jawab mengemban pelaksanaan reformasi sebagai langkah besar bangsa ini menuju perubahan berikutnya. Perubahan yang kembali dinanti bangsa kita.

Bahkan secara ekstrim penulis katakan, bangsa ini tengah berteriak memanggil para pemudanya. Berteriak penuh haru dan harap dengan suara bergetar dan lelah menunjukkan betapa bangsa ini jengah menanti.

Ia
rindu akan gerak-gerik pemuda yang dulu senantiasa membelanya, mempertaruhkan jiwa dan raga mereka untuknya, tanpa takut pada suatu apa maju mengusir penjajah bersenapan mundur dari tanah airnya. Ia rindu akan aksi-aksi nyata para pemuda dan bukannya teriakan memekakkan telinga tanpa wujud nyata. Ia sangat rindu akan munculnya sosok pemuda yang benar-benar mampu membawa dirinya keluar dari jerat kesengsaraan menuju masa depan cerah yang selama ini diimpikannya. Ia sungguh merindukan pemimpin untuk dirinya dan segenap rakyatnya dari kalangan pemuda seperti yang pernah ia lihat delapan puluh tahun yang lalu; yang berdedikasi tinggi kepada bangsa, beritikad baik merubah nasib bangsa, tak mengenal istilah pamrih, tak mengharapkan timbal balik dari orang lain, demi mencerahkan wajah suram bangsa ini, demi memberikan sunggingan senyum di rona kusut bangsa ini, demi kemaslahatan bangsa.

Tahun 2008 ini, peristiwa Sumpah Pemuda genap berusia 80 tahun. Di usia yang relatif tua, kemunculan tokoh-tokoh pemuda ke ajang politik menuju kepemimpinan baru bangsa Indonesia seolah menjadi jawaban dari jeritan bangsa yang mulai kelelahan menghadapi berbagai permasalahan tanpa kehadiran pemuda bersamanya.

Akhirnya, dengan semangat sumpah pemuda dan atas nama pemuda Indonesia yang membara cintanya pada tanah air, yang memiliki keprihatinan mendalam terhadap nasib negeri ini, dan bertekad sepenuh hati dengan idealisme murni sepenuhnya merubah nasib bangsa, mari kita serukan kalimat: HIDUP PEMUDA INDONESIA!




sumber gambar:
http://www.indonesiamedia.com/2006/11/mid/serba_serbi/images/serba_serbi/sumpah%20pemoeda.jpg
http://www.e-dukasi.net/mol/datafitur/modul_online/MO_106/images/sej203_07.JPG
http://www.e-dukasi.net/mol/datafitur/modul_online/MO_106/images/sej203_09.gif

Oktober 26, 2008

Pelajaran Penting Krisis Keuangan Global


Tahun 2008 menjadi tahun penting bagi dunia, karena terjadi krisis keuangan global. Sebenarnya hal tersebut tidak terlalu mengherankan, karena krisis serupa sudah berulang kali terjadi sebelumnya. Ambruknya bursa saham Wallstreet pada tahun 1929 yang disusul oleh resesi atau mandegnya ekonomi yang berkepanjangan di tahun 1930, Black Monday tahun 1987, krisis keuangan tahun 1997 di regional Asia, hingga sekarang krisis keuangan global 2008.

Dunia gempar. Prinsip dilanggar sedemikian rupa. Bush menggelontorkan ratusan milyar hingga trilyunan dollar AS. Negara-negara Eropa pun mengikuti langkah serupa. Bagaimana lagi? Invisible Hand tidak kunjung muncul. Pemerintah pun turun tangan menyelamatkan institusi keuangan yang dikhawatirkan collapse. Khawatir bernasib seperti Lehmann Brothers.

Suara-suara menuding dan mencela pun hampir seperti dengungan lebah. Hampir semua orang tergoda untuk mengangkat cerita lama perseteruan sosialisme dan kapitalisme. "Hancur sudah kapitalisme, apa kubilang?" , "Saatnya sosialisme bangkit kembali! Lihat saja nanti!" , "Eh, tunggu dulu. Apa kalian tidak melihat sistem yang lebih baik ini. Ini saatnya sistem syari'ah. Pasti!" ...

Terlepas dari sistem apa akan hancur, apa akan menggantikan, apa akan muncul, bukan itu masalah sebenarnya. Seperti yang sudah-sudah, ketika dunia terlalu sibuk memikirkan jalan instan dengan menunjuk sistem baru menguasai dunia, kelak, tak ada yang menjamin kehancuran serupa tak akan terjadi. Sejarah membuktikan itu. Sosialisme maupun kapitalisme. Saling bergantian mendominasi perekonomian dunia. Sistem syari'ah yang disebut-sebut sebagai jalan terakhir pun, tak serta merta dapat diterapkan di dunia yang sudah terlanjur kapitalis ini.

Indonesia sebagai negara dunia ketiga yang tak bisa jauh-jauh dari pengaruh perekonomian global, termasuk menjadi negara yang sangat rawan krisis di dalam negeri sebagai dampak dari krisis di Amerika. Tapi kenapa?

Ketika SMP dulu, aku diberi tahu bahwa sistem ekonomi Indonesia bukanlah kapitalisme atau sosialisme, tapi sistem ekonomi pancasila. Saat itu, nama itu tak berarti banyak di otakku. Yang kutahu, sistem ekonomi pancasila lebih mengedepankan peran rakyat menengah ke bawah melalui koperasi.

Sekarang, sepertinya Indonesia harus mulai berrefleksi. Melihat kembali bagaimana rupa sebenarnya perekonomian dalam negeri. Benarkah ekonomi pancasila telah benar-benar diterapkan di Indonesia? Atau seperti sudah dapat ditebak, kapitalisme masih menjadi jiwa perekonomian Indonesia?

Jawabannya jelas. Indonesia masih sangat kapitalis. Jika diibaratkan dalam bentuk, keadaan Indonesia seperti segitiga menguncup ke atas (seperti gunung). Bagian paling atas, yaitu kaum elite dan super kaya yang berkuasa meski jumlahnya sangat sedikit. Sementara paling bawah, adalah rakyat miskin yang menopang sekaligus terinjak-injak, berjumlah paling banyak. Sangat kapitalis.

Padahal jika melihat kembali gagasan ekonomi pancasila, bantuk Indonesia seharusnya belah ketupat. Dimana golongan menengah menjadi penyeimbang antara si kaya dan si miskin sekaligus menjadi sumber utama pundi-pundi negara.

Bagaimana dengan sistem ekonomi syari'ah? Bukankah sistem tersebut sangat baik karena mengambil yang baik dari kapitalisme dan sosialisme? Lebih daripada itu, sistem inilah yang dianjurkan oleh agama?

Aku teringat kata-kata seorang sahabat dengan pemikiran cerdasnya. Memang benar, seharusnya kita menjadikan sistem syari'ah sebagai basic value. Tidak serta merta menjadikannya sistem nasional secara fisik.

Indonesia harusnya menjadikan krisis keuangan global sebagai pengingat kalau perlu penampar kesadaran bangsa. Indonesia belum selesai. Sistem ekonomi pancasila haruslah menemukan bentuk dan jati dirinya. Sistem ekonomi syari'ah haruslah menjadi basic value dalam tubuh negara ini.

*******

Aku bukanlah ekonom yang paham betul kondisi perekonomian Indonesia apalagi dunia.
Aku bukanlah pengamat ekonomi yang bisa merumuskan masalah dan mencari jalan keluarnya.
Aku hanya manusia biasa yang mencoba bersuara melalui tulisan sederhana ini.
Mohon pembaca yang tidak setuju atau merasa tulisan ini dipenuhi kekurangan meninggalkan sesuatu untuk kita perbincangkan bersama.


Salam hangat,
Jan Phaiz

Oktober 16, 2008

Hari Pangan Sedunia

Diambil dari website resmi Departemen Pertanian Republik Indonesia
(Ministry of Agriculture Republic of Indonesia)

Tanggal 16 Oktober merupakan tanggal berdirinya Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) atau dikenal pula dengan World Food Day (Hari Pangan Sedunia/HPS). Pada tahun ini, FAO Headquarters, Roma, Italia akan memperingati HPS dengan tema internasional yang ditetapkan dalam Sidang Konferensi FAO:
”World Food Security: the Challenges of Climate Change and Bio-Energy”
FAO Headquarters, Roma menghimbau kepada seluruh Negara anggota FAO untuk menyelenggarakan peringatan HPS setiap tahun. Tujuan memperingati HPS tahun ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat atas dampak dari efek perubahan iklim yang semakin hebat pengaruhnya terhadap pertanian dan dampak dari sumber energi terbarukan yang berasal dari produk pangan.

Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati HPS di FAO Headquarters, Roma, Italia antara lain:
1. Pada tanggal 14 – 17 Oktober 2008 akan berlangsung sidang Komisi Ketahanan Pangan/The Committee on World Food Security (CWFS) yang membahas situasi pangan dunia dan implikasinya untuk masa mendatang. Selama pertemuan, secara khusus akan dibicarakan pula akibat harga pangan dunia yang tinggi dengan tema:
“High Prices, Food Security Issues and Policy Responses”.
2. Pada tanggal 16 Oktober 2008 akan diadakan kampanye membangun kebersamaan dan perdamaian melalui pertandingan football antara perwakilan dari European Professional Football Leagues (EPFL) dan the Confederations Africans de Football (CAF) dengan tema:
“Professional Football against Hunger”.
3. Kegiatan TeleFood sebagai upaya menggalang bantuan bagi masyarakat internasional melalui Tele Conference yang membicarakan masalah pangan dunia.
4. Pada tanggal 19 Oktober 2008 akan dilakukan pertemuan “Run-for Food” Tahunan ke-3 yang melibatkan lebih dari 4000 peserta.
5. Pada tanggal 21 Oktober 2008 akan dilaksanakan gerakan ”Candle Light Vigil” di seluruh dunia dimana pada hari tersebut masyarakat luas dihimbau untuk menyalakan lilin sebagai tanda memperingati HPS.
Kegiatan termasuk peringatan HPS juga akan dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 2008 di UN Headquarters, New York, USA.

Kegiatan Hari Pangan Sedunia ke-28 tahun 2008 di Tingkat Nasional
Dalam rangka memperingati World Food Day tahun 2008, Indonesia akan menyelenggarakan peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-28 di Tingkat Pusat maupun di Tingkat Daerah. Acara puncak peringatan HPS ke-28 di tingkat Pusat direncanakan pelaksanaannya digabung dengan kegiatan pameran dan bazar produk pertanian (Indonesia Food Expo 2008) pada bulan November 2008 di Bandung Jawa Barat.

Berbagai kegiatan yang dilakukan dalam rangka HPS antara lain:
Acara Puncak
Pameran dan Bazar Produk Pertanian (Indonesia Food Expo 2008)
Perlombaan;
Seminar;
Pengabdian Masyarakat;
Pemberian Penghargaan serta
Publikasi dan Penyiaran
Temu Wicara.

Adapun Tema Nasional HPS ke-28 Tahun 2008 yang telah disepakati dalam rapat interdep adalah:

“Ketahanan Pangan, Perubahan Iklim, Bioenergi dan Kemandirian Petani”

Logo Hari Pangan Sedunia ke-28 tahun 2008:

PENJELASAN LOGO:
Bumi dilambangkan dengan bulatan yang di dalamnya terdapat unsur-unsur:
tanah (warna coklat di gambar dan bulatan);
hutan dan pohon sebagai lambang bahan makanan dari tumbuhan;
laut dengan ilustrasi gambar biru bergelombang dengan tambahan berupa gambar ikan dan sapi sebagai lambang bahan makanan hewan;
teks Hari Pangan Sedunia 2008 dalam lingkaran.
Warna orange di dalam bumi melambangkan global warming yang mengancam unsur-unsur yang ada di dalam bumi;
Gambar padi berwarna hijau yang melingkar di luar lingkaran bumi, melambangkan perlindungan terhadap bumi untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, menuju ketahanan dan kemandirian pangan nasional;
Unsur-unsur yang ada di dalam lingkaran bumi melambangkan tiga orang yang terdiri bapak, ibu, dan seorang anak saling berpegangan tangan bekerja sama menopang bumi, menjaga kelestarian alam, untuk mengatasi tantangan perubahan iklim.

Mengingat eratnya keterkaitan sektor pertanian, perikanan dan kehutanan dalam mengatasi isu pangan nasional, diminta partisipasi aktif dan peran serta institusi/lembaga di Pusat dan Daerah dalam persiapan dan pelaksanaan peringatan HPS ke-28 Tahun 2008. Untuk itu Menteri Pertanian RI telah mengedarkan himbauan untuk menyelenggarakan Hari Pangan Sedunia ke-28 dengan melibatkan pemangku kepentingan di daerah masing-masing secara sederhana dan sekhidmat mungkin kepada para Gubernur di seluruh Indonesia sebagaimana terlampir.

Informasi/kegiatan yang terkait dengan kegiatan Hari Pangan Sedunia 2008 :
Acara Puncak Hari Pangan Sedunia ke-28 tahun 2008 – November 2008, Lap. Tegalega Bandung, Jawa Barat;
International Food Expo 2008 (16-19 Oktober 2008) - Lapangan Tegal Lega Bandung, Jawa Barat;
Surat himbauan Menteri Pertanian perihal Penyelenggaraan Hari Pangan Sedunia ke-28 Tahun (2008) kepada Gubernur di Seluruh Indonesia;
FAO Get Involved : World Food Day 16 October 2008.

(sumber: http://www.deptan.go.id/tampil.php?page=hps2008)

*******


dengar jeritku


wahai negeriku, liriklah aku ...
pandang rupaku
yang melarat pilu










wahai tanah air, ke man
a kau pergi ?
ki
ni ku sendiri
sungguh sepi










wahai republik Indonesia
, amat kucinta
kau sungguh telah lupa
bahwa aku masih ada













wahai bangsaku, dengar jeritku
kau tega menduakanku
memilih dia un
tukmu













padahal aku ada


meski aku
melarat
terlantar
kesepian
kuyu
merindu

tapi
tetap ada ...

jangan hapus aku
maka kan ku jaga
putra putri mu
















ttd
perkum
pulan hasil pangan indonesia

Oktober 15, 2008

"Hari Cuci Tangan Global" ...???



Saat membaca judul di atas, aku dapat membayangkan ekspresi yang muncul dari kebanyakan orang. Seperti halnya aku saat pertama kali membaca wacana tersebut. Bingung, heran, penasaran, atau mungkin sebagian datar alias acuh. Aku sendiri salah mengartikan istilah "cuci tangan" yang kupikir "cuci tangan" dalam arti "lepas tanggung jawab". Baru setelah kubaca isi artikel berupa opini di harian Kompas yang terbit hari ini, kutahu istilah "cuci tangan" di sini memang mengandung arti sesungguhnya. Secara mudah bisa diartikan membersihkan tangan dengan air.

Hari ini, 15 Oktober 2008 dideklarasikan sebagai "Hari Cuci Tangan Global" atau "Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia" atau nama resminya "Global Handwashing Day".

Menurut wikipedia Indonesia,"Hari Cuci Tangan Pakai Sabun adalah sebuah kampanye global yang dicanangkan oleh PBB bekerjasama dengan organisasi-organisasi lainnya baik pihak pemerintah maupun swasta untuk menggalakkan perilaku mencuci tangan dengan sabun oleh masyarakat sebagai upaya untuk menurunkan tingkat kematian balita dan pencegahan terhadap penyakit yang dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup manusia."

Tahun 2008 ditunjuk sebagai Tahun Internasional Sanitasi oleh Rapat Umum PBB. Sementara penunjukkan tanggal 15 Oktober 2008 sebagai Global Handwashing Day dilakukan pada Pertemuan Tahunan Air Sedunia (Annual World Water Week) yang berlangsung pada 17-23 Agustus 2008.

Selanjutnya dalam wikipedia: "Salah satu tujuan dari kampanye ini adalah penurunan angka kematian untuk anak-anak dimana lebih dari 5.000 anak balita penderita diare meninggal setiap harinya diseluruh dunia sebagai akibat dari kurangnya akses pada air bersih dan fasilitas sanitasi dan pendidikan kesehatan. Penderitaan dan biaya-biaya yang harus ditanggung karena sakit dapat dikurangin dengan melakukan perubahan perilaku sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun, yang menurut penelitian dapat mengurangi angka kematian yang terkait dengan penyakit diare hingga hampir 50 persen. Disamping itu kampanye juga dimaksudkan sebagai upaya peningkatan pembangunan fasilitas sanitasi di sekolah. Menurut Unicef, kurangnya akses untuk air bersih mengakibatkan penurunan tingkat kehadiran anak perempuan di sekolah saat mereka memasuki masa puber, karena tidak adanya fasilitas sanitasi yang memadai. Akses air bersih dan sanitasi ditengarai merupakan dasar penting untuk kehidupan anak-anak di seluruh dunia dilihat dari segi kesehatan, kelangsungan hidup, dan rasa penghargaan terhadap diri mereka. Penyediaan air bersih dan perilaku sanitasi yang baik di sekolah juga menjadi salah satu cara untuk mencapi tujuan milenium (Millenium Development Goals)."

Sejujurnya, aku geli melihat fenomena tersebut. Bukannya menertawakan keputusan petinggi-petinggi di PBB maupun pihak-pihak yang mendukung seperti Bank Dunia (sesuai Program Bank Dunia untuk Water and Sanitation Program), UNICEF, USAID, Procter and Gamble, dan Unilever, aku hanya menyadari sebuah ironi.

Betapa hal kecil dapat berpengaruh besar, berdampak luar biasa, dan mencakup kehidupan umat manusia di seluruh dunia.

Mencuci tangan bisa dibilang aktivitas sederhana yang dianggap remeh temeh bagi kebanyakan orang. Mencuci tangan sebelum makan lebih tepatnya.
Aku jadi teringat pada kisah sederhana dari sebuah buku berjudul "Wisata Cinta". Begini ceritanya:

Seorang guru memberikan tugas pada murid-muridnya untuk memasang sebuah kertas berukuran 1x1 meter yang telah ditempeli selotip di tiap-tiap ujung kertas. Semua murid melaksanakan tugas tersebut dengan mudah.

Hari berikutnya, sang Guru memberi tugas serupa. Tapi kali ini, murid-muridnya diminta memasang kertas berukuran 1x1 sentimeter sebanyak seratus lembar di sebelah kertas yang berukuran 1x1 meter. Para murid sedikit kewalahan. Hingga seseorang
nyeletuk di hari berikutnya. "Untuk apa itu semua ibunda guru?"

Tapi sang Guru malah memberi perintah lain alih-alih menjawab,"Sekarang, lepas semua perekat di tiap ujung kertas yang besar! Selanjutnya, lakukan hal yang sama untuk kertas-kertas kecil!" Para murid kembali dengan tanda tanya besar di atas kepala mereka.

Saat melakukan tugas pertama, mereka bisa dengan mudah melepas empat perekatnya. Namun, saat beralih ke tugas kedua, mereka tertegun dan mengeluh karena harus melepas sebanyak 400 perekat.

Saat kembali ke kelas keesokan harinya, tak ada yang angkat bicara di kalangan murid, mereka takut diberi tugas lain yang lebih berat. Sang Guru yang dapat membaca pikiran murid-muridnya memulai bicara.

"Bagaimana tugas kalian? Sudah kalian lepas semua perekat kertas di tembok kalian?"
Para murid menjawab "sudah" tak bersemangat namun masih belum ada yang bertanya.
"Bagaimana rasanya?" guru itu mencari target, "Kau! Bagaimana rasanya?"
Murid yang cukup kaget itu menjawab datar, "Tak ada masalah untuk kertas pertama, tapi sangat merepotkan untuk kertas-kertas kecil di sebelahnya. Kami hampir putus asa."
Diam beberapa saat...

"Itulah gambaran tentang dosa. Kebanyakan orang hanya mengingat dosa besar mereka dan akan dengan mudah memintakan ampun. Sementara dosa-dosa kecil yang tak terkira jumlahnya, mereka menganggap remeh dan tak memedulikannya. Akhirnya, ketika harus memintakan ampun untuk semua itu, mereka kewalahan mengingat-ingat dosa-dosa kecil mereka.

"Itulah gambaran kehidupan. Kita selalu hirau dengan hal-hal besar dan acuh pada hal-hal kecil. Namun seringkali, justru hal-hal kecil yang bisa membawa kerusakan besar bahkan menghancurkan hidup kita.

"Pernahkah kalian mendengar orang tersandung batu sebesar monyet duduk? Bagaimana dengan orang yang jatuh tersungkur karena tersandung kerikil seukuran kotoran ayam?

"Pernahkan kalian mendengar kasus orang sakit atau meninggal karena digigit gajah? Tapi, berapa banyak orang yang meninggal karena gigitan nyamuk?

"Pernahkah ada orang yang tersedak daging kalkun utuh? Tapi, berapa banyak orang menderita beberapa hari karena ada duri ikan bersarang di kerongkongannya?

Sekarang aku baru tahu dampak terburuk hal-hal kecil yang dilupakan itu. Bayangkan sobat, hanya karena (me)lupa mencuci tangan, dampaknya jauh lebih buruk dari yang pernah kita bayangkan.

Lalu, kita hanya bisa mendukung program tersebut dengan aksi pada diri sendiri. Cucilah tanganmu sebelum makan! Kedengarannya aneh. Manusia memang harus senantiasa belajar dari pengalaman.

Oktober 09, 2008

Iklan Telkom tentang Lebaran


Seorang guru mengakhiri pelajaran internet di sebuah Sekolah Dasar (yang nampaknya terletak di desa) sambil membuka sesi pelajaran berikutnya yakni pelajaran seni.

"Silahkan keluarkan tugas menggambar kalian tentang lebaran..." katanya.

Pertama-tama, seorang bocah berbadan seperti "Boboho" dan berpipi gempal seperti bakpao maju ke depan dengan sedikit gugup. Dia membuka gulungan kertas gambarnya yang memperlihatkan gambar ketupat dan opor ayam. Dengan suara serak dia mendeskripsikan karyanya, "Kalau lebaran, emak masak banyak makanan," lalu ceritanya divisualkan dengan gambaran si bocah bakpao yang sedang lompat-lompat berusaha meraih ketupat yang menggantung di langit-langit dapur. Ditutup dengan gambaran dirinya sedang melahap ketupat yang telah disiram opor ayam seraya berkata, "aku seneng deh."

Lalu anak berikutnya adalah seorang gadis kecil yang tak jauh beda ekspresinya dengan anak pertama. Karyanya lebih terlihat seperti gambar sebuah keluarga. Tiap anggota keluarga dilukis berdiri sejajar.

"Waktu lebaran, aku menelpon pamanku," visualisasinya berupa gambaran anak perempuan tadi bersama bapak dan ibunya di sebuah bilik wartel sedang berbicara dengan sanak saudaranya di entah.

Anak ketiga kebalikan anak yang pertama, laki-laki kurus, ceking dan hampir tak berekspresi sambil membuka ceritnya,"Setiap lebaran, kami sekeluarga pergi ke rumah kakek dengan mobil," sesuai gambarnya, mobil pick up yang menampung beberapa orang termasuk si bocah ceking tadi,"di sana, aku diberi uang,"tambahnya.

Anak terakhir paling berbeda dari yang lain. Di saat ketegangan mungkin menyergap bocah pertama sampai ketiga, bocah yang juga berbadan kurus ini justru terlihat mencoba santai meski jelas nampak dibuat-buat. Bahkan meskipun setelah membuka kertas gambarnya yang kosong, dan ibu guru terlihat kecewa, si Bocah malah nyengir. Setelah hening beberapa saat, barulah dia angkat bicara entah untuk menjelaskan apa.

"Kata bapak, lebaran berarti ... kita kembali bersih," lagi-lagi anak tersebut nyengir menggemaskan.

Iklan pun selesai. Entah ada berapa murid di kelas tadi dengan ucapan dan lambang dari TELKOM. Seandainya pun iklan diperpanjang hingga seluruh anak menunjukkan hasil kreasi mereka sembari menjabarkan makna dari karyanya, pastinya akan ada banyak komentar lucu yang keluar dari anak-anak lugu ini.

*******

Ada dua hal yang menarik perhatianku setelah menyaksikan iklan tersebut dan sedikit tertawa karena sunggingan senyum bocah terakhir.

Pertama, tentang arti lebaran, atau bada, atau idul fitri.
Idul Fitri jatuh pada tanggal 1 Syawal. Setelah melalui tiga bulan istimewa, rajab, sya'ban, dan termasuk bulan yang diperuntukkan untuk kaum Muhammad SAW, yang di dalamnya ada perintah berpuasa satu bulan penuh, serta bonus sebuah malam istimewa yang kebaikannya dihargai 1000bulan kebaikan manusia di dunia, romadhon. Setelah berlomba-lomba dalam beribadah:membaca al Qur'an dengan porsi ekstra, sholat malam yang diperpanjang, dan sebagian melakukan i'tikaf di masjid-masjid demi mendulang pahala yang dijanjikan Allah berlipat-lipat juga demi lebih mendekatkan diri pada-Nya. Tidak salah jika Idul Fitri menjadi sangat spesial dan bisa dikatakan puncak keindahan romadhon.

Kaum muslim di Indonesia mengekspresikan hari raya umat Islam ini dengan berbagai tradisi dan aktivitas. Mudik, misalnya sebagai konsekuensi bagi para perantau entah untuk belajar atau untuk bekerja. Pada musim mudik (dan balik tentunya), hampir tak ada alat transportasi umum yang menanggur. Dari pesawat terbang hingga sepeda motor, harus bersiap-siap menampung beban lebih banyak, lebih lama, dan lebih sulit medannya (karena macet mungkin). Banyak pelajar atau pekerja yang merantau ke kota besar kembali ke kota asalnya untuk merayakan hari kemenangan bersama sanak kerabat.

Sungkeman, adalah ritual lain yang seolah menjadi ruh dari idul fitri bersama keluarga. Seorang istri sungkem kepada suaminya sembari sesenggukan meminta maaf atas kesalahan selama ini dan menyatakan penyesalan yang sejadi-jadinya; seorang anak sungkem kepada orang tuanya, yang juga disambut pelukan hangat dari keduanya sambil tak jarang terdengar isakan baik dari si Anak maupun orang tua.

Jabatan tangan sambil mengucapkan kalimat permintaan maaf atau do'a kemenangan hampir menjadi kewajiban di kalangan muslim yang merayakan idul fitri.

Silaturrahmi dan silaturrahim melalui halal bihalal atau mengadakan acara bersama agar dapat bersua dengan sanak kerabat yang telah terpisahkan jarak dan waktu pun menjadi menu wajib idul fitri.

Jaringan selular menjadi teramat sibuk atas aktivitas pemberian ucapan "Selamat Hari Raya" yang makin menjadi entah dengan suara, teks, maupun gambar.

Bahkan hingga makanan, idul fitri bagaikan "Hari Ketupat dan Opor Ayam". Hampir semua rumah baik di desa maupun di kota, akan menghidangkan menu tersebut untuk keluarga ataupun tamu.

Terlepas dari berbagai kegiatan yang dilakukan oleh kaum muslim di Indonesia, inti semua itu adalah ekspresi dari nilai-nilai yang terkandung dalam idul fitri pada khususnya, dan ajaran Islam pada umumnya. Pentingnya menyambung silaturrahmi maupun silaturrahim, pentingnya saling memaafkan diantara sesama manusia, dan indahnya kebersamaan dan kemenangan. . .

Sebenarnya yang paling menarik bagiku dari iklan tersebut bukan pesan yang disampaikan secara gamblang tentang makna idul fitri, melainkan ide cerita iklan tersebut.

Pemberian tugas menggambar suatu situasi berdasarkan sebuah fantasi yang bersifat sangat pribadi kepada siswa SD. Jika dipikir lagi, ada berapa banyak guru SD yang pernah menerapkan sistem pemberian tugas seperti itu? Saya sendiri, semasa SD dulu belum pernah mendapat tugas sekompleks itu. Antara memvisualisasikan sebuah gambar di benak berdasarkan emosi dan perasaan ke dalam gambar di atas kertas, lalu menyampaikan apa yang termaktub dalam karya tersebut. Sungguh sebuah tugas yang sangat menarik dan mengasah daya kreativitas siswa. Sayang, yang seperti hampir-hampir 'hanya' ada di iklan. Lebih banyak sistem pembelajaran di sekolah dasar umum yang sangat konvensional dan tidak memberi ruang gerak bagi daya kreativitas dan imajinasi yang sebenarnya sangat baik demi pembentukan karakter siswa tersebut. Mungkin dengan adanya iklan tersebut, para guru SD di Indonesia terinspirasi untuk menciptakan tugas-tugas yang lebih kreatif dan menantang bagi para siswanya sehingga sekolah pun menjadi aktivitas yang menyenangkan.

Paradigma pendidikan kita harus diubah dari sesuatu yang mubah dan menghabiskan tenaga, pikiran, waktu, dan uang, menjadi suatu kebutuhan hakiki manusia. Bagaimana dan siapa yang harus merubahnya?? Jelas menjadi tantangan tersendiri di negara yang sudah tumbuh di tengah sistem pendidikan yang justru menarik paradigma tersebut.

Namun yang paling jelas dan utama, pendidikan kepada siapa pun, bermula dari rumah (keluarga). Jelas, peran orang tualah yang menjadi tokoh sentral perkembangan karakter putra-putrinya menerima pendidikan. Sejak si Anak mampu memahami kata-kata, petunjuk, dan perintah, saat itulah peran orang tua menjadi rangkap sekaligus menjadi guru bagi anak-anak mereka.

Baru setelah itu, pemerintahlah yang bertanggung jawab atas pendidikan putra-putri bangsanya. Bagaimana mungkin diharapkan lahir generasi muda yang diharapkan beserta berbagai keunggulan secara IQ, EQ, dan SQ yang dimiliki sementara sistem pendidikannya sendiri masih ngawur, senantiasa berganti, dan sangat tak mendidik? Mungkin hanya sedikit diantara para penempuh pendidikan yang bisa tumbuh di tengah sistem yang buruk, jika 'bekal' dari rumah bisa membentenginya. Namun selebihnya, akan terbentuk seburuk sistem yang buruk itu.

Yang terakhir barulah para pelaku pendidikan. Dalam hal ini lebih ditekankan kepada mereka yang memiliki sandangan guru alias pendidik. Indonesia membutuhkan pendidik yang sesungguhnya bagi putra-putri bangsanya, bukan pengajar. Betapa kebanyakan guru kita justru menanggalkan kewajibannya untuk urusan yang lain yang tak jarang mengorbankan para siswanya. Namun sekali lagi, jika sistem dari pemerintah jelas dan baik adanya, saya yakin, akan sangat sedikit guru yang seperti saya sebutkan tadi.

Akhirnya, iklan TELKOM tadi sekilas tampak sederhana dan lucu. Tapi bagiku, justru memperingatkan dan menampar alam bawah sadarku akan makna sebuah pendidikan yang baik.

gambar dari http://tempatsampah.blogsome.com/wp-admin/images/banner_lebaran_2.jpg

September 24, 2008

Di Balik Tragedi "Zakat Berdarah", Siapa Bersalah??

Sebelumnya maaf, karena judul di atas pasti dianggap sangat basi. Tapi tak ada salahnya aku mengangkat kisah tersebut. Toh, masih suasana ramadhan.

Senin (15/9) tepatnya di Mushola Al Roudhatul Jannah Desa Purutrejo, Kelurahan Purworejo, Pasuruan terjadi fenomena "langka" yang "terduga". Sekitar 20-an orang (tidak jelas pastinya, ada yang bilang 21, ada juga yang bilang 23) meninggal karena berdesak-desakan. Penyebabnya bisa karena kehabisan napas, fisik lemah, terinjak-injak. Tapi bukan penyebab kematian biologis yang akan dibahas di sini.

Adalah seorang bernama H. Saikhon yang ingin membagikan hartanya kepada lima ribu fakir miskin di Desa Purutrejo, Pasuruan menyelenggarakan pembakian zakat senilai Rp30.000 per orang. Berita tersebut menyebar ke seantero desa melalui radio. Sementara pembagian uang dilaksanakan pada hari Senin, 15 September 2008. Tak ayal, pada hari H, mushola dipadati orang-orang yang mendeklarasikan dirinya sebagai fakir miskin. Saking banyaknya "fakir miskin" yang datang, dari kejauhan orang akan mengira sedang ada konser The Changcuters atau Dewi Persik di sana.

Keadaan memanas. Panitia penyelenggara cukup kewalahan meladeni para fakir dan miskin yang bejibun menengadahkan tangan mereka demi uang Rp30.000. Desak-desakan dan aksi saling mendorong pun tak dapat terhindarkan. Setelah beberapa saat keadaan makin emosional, puncak tragedi pun terjadi. Beberapa orang tumbang dalam pergulatan memperebutkan uang Rp30.000 dan tak tanggung, lebih dari dua puluh diantaranya tak tertolong, alias meninggal dunia.

...

Beberapa hari setelah kejadian itu mencuat ke publik, reaksi media sudah dapat ditebak. Hampir semua orang mengacungkan jari telunjuk ke pihak keluarga H. Saikhon sebagai orang yang bersalah dan menjadi penyebab kematian dua puluh orang lebih.

Aku sendiri hampir terbawa arus dan ikut men-judge H. Saikhon bertanggung jawab penuh atas kejadian tersebut. Hingga suatu hari di kelas, aku mendengar pendapat lain yang sangat bertolak belakang dengan khalayak tapi sangat masuk akal dan cerdas. Pernyataan itu kudengar dari dosen Pengantar Ilmu Hubungan Internasional-ku di kampus, Pak Bambang. Aku pribadi cenderung mengamini beberapa pernyataan beliau tapi memberi sedikit pemikiran sebagai berikut.

Bagiku, justru yang dipertanyakan adalah 'mengapa ada sebanyak itu orang yang datang untuk mendapatkan uang Rp30.000??' atau 'benarkah sebanyak itu golongan fakir dan miskin di daerah tersebut? atau lebih banyak yang ingin disebut sebagai fakir atau miskin? Jika ya, kenapa sandangan fakir atau miskin sangat membanggakan dan prestisius bagi mereka hingga uang yang tak seberapa itu diperebutkan bahkan dengan bertaruh nyawa?

Negara ini adalah negara paling aneh di dunia. Ketika ada orang berbuat baik dan mulia, justru sandangan 'tersangka' yang diembannya. Nista sekali, berbagi dengan sesama malah terancam penjara dengan tuduhan penyebab kematian. Apa pantas, seorang yang membagikan harta kekayaan yang telah sampai nisab kepada (seharusnya) fakir miskin yang memang berhak atasnya, justru dituding membunuh?

Apa ada yang berani menjamin, semua orang yang datang pada waktu itu memang benar-benar dari golongan fakir atau miskin? Entah kenapa saya yakin, banyak dari mereka yang hanya ingin dianggap fakir atau miskin. Masalahnya, mengapa mereka justru ingin dianggap fakir atau miskin?

Mental. Lagi-lagi problematika negara kita adalah mental. Saya yakin, negara sekaya Indonesia (hasil alamnya), seharusnya berpenduduk kaya pula. Tapi kebanyakan dari mereka malas untuk bekerja, malas berusaha, malas berbuat sesuatu untuk hidup mereka sendiri. Kenapa?

Exactly! Sebut saja BLT. Masyarakat kita, yang 'pemalas', justru dibiasakan menjadi malas dan lebih malas lagi dengan kebijakan pemerintah yang katanya 'mengentaskan kemiskinan', melalui BLT itu tadi. Betapa masyarakat kita dibuat senang sekali mendapat uang ratusan ribu rupiah tanpa melakukan apapun. Cukup mengantri. Dalam hal ini aku menyalahkan pemerintah.

Tapi di sisi lain, kita perlu menghargai kebijakan pemerintah yang bertekad memberikan bantuan secara langsung kepada warganya meskipun caranya kurang mendidik. Toh, di beberapa negara maju di Eropa, kebijakan seperti itu pun dilaksanakan oleh pemerintahnya. Bedanya, ketika bantuan tersebut dikucurkan langsung, hampir bisa dihitung dengan jari jumlah peminatnya. Dengan kata lain, sedikit sekali orang yang merasa berada dalam golongan fakir atau miskin. Atau kebanyakan dari mereka tidak sudi digolongkan menjadi fakir atau miskin. Mereka merasa diremehkan dengan diberi uang makan atau uang keperluan sehari-hari yang hanya dalam beberapa kali atau mungkin sekali pakai langsung habis. Tak ayal, jumlah pengangguran otomatis sangat sedikit. Karena tak ada yang mau menganggur, dianggap tidak mampu, dan diberi uang cuma-cuma oleh pemerintah. Berbeda sekali dengan masyarakat kita yang begitu gembira mendapat bantuan langsung berupa uang yang secara otomatis dianggap tidak mampu oleh pemerintah. Mental. Lagi-lagi... Dan dalam hal ini, masyarakat pantas disalahkan.

Lalu bagaimana dengan keluarga H. Saikhon?Apa mereka lepas dari tanggung jawab sama sekali? Tentu tidak. Karena H. Saikhon dan keluarga lah yang secara langsung terlibat dalam kejadian tersebut. Mungkin benar tuduhan dari banyak kalangan yang menuntut pertanggungjawaban H. Saikhon dan keluarga sebagai penyelenggara acara bagi-bagi zakat. Mereka dianggap kurang persiapan dan kurang koordinasi dengan beberapa pihak. Mereka kurang persiapan menerima banyaknya warga yang mungkin akan datang, mereka juga kurang koordinasi dengan pihak keamanan setempat. Bahkan sebagian kalangan menganggap keluarga H. Saikhon berbuat riya' dengan mengumumkan pembagian zakat melalui radio. Ada juga yang menyalahkan langkah membagikan langsung padahal ada badan penyalur zakat. Penyelenggara pun turut andil dalam tragedi tersebut.

...

Lalu siapa bersalah?

Aku, dengan segala kekuranganku berpendapat, pemerintah bertanggung jawab atas kebijakan kurang mendidik dan segala pembiasaan yang sudah terjadi di negeri ini hingga menciptakan insan-insan malas dan bangga disebut miskin.

Aku, dengan segala kerendahan hati berpikiran, masyarakat Indonesia masih sangat butuh pendidikan. Pendidikan yang sesungguhnya. Pendidikan yang mencerdaskan bangsa. Karena keadaan masyarakat kita sangat memprihatinkan. Aku sangat menyesalkan keadaan masyarakat kita.

Aku, dengan segala kelemahan yang kumiliki, justru memberi sedikit penghargaan pada H. Saikhon dan keluarga. Aku tidak mau menyalahkan beliau sepenuhnya karena tidak menggunakan jasa badan amil zakat. Mengingat banyaknya kasus penyelewengan yang terjadi dalam badan amil di Indonesia. Bahkan yang kudengar, sulit sekali mendapatkan badan amil yang benar-benar bersih dan dapat dipercaya. Lagipula, aku dapat memahami pilihan H. Saikhon dan keluarga membagikan zakat secara langsung. Bagaimanapun, suasana berbagi sangat terasa ketika kita secara langsung memberikannya pada si penerima, melihat wujud si penerima, dan menyaksikan senyum bahagianya saat menerima pemberian dari kita. It's all about... kepuasan batin.

Akhirnya, dengan segala kekurangn, kerendahan hati, dan kelemahan yang kumiliki, aku pikir, sudah saatnya masyarakat Indonesia bercermin dan belajar. Terus dan terus belajar. Kejadian di Pasuruan semestinya mengingatkan kita semua betapa negeri kita masih memiliki begitu banyak problem. Salah satunya adalah mental.

Haruskah kita selamanya menjadi negeri yang meminta-minta, atau bangga mendapatkan pemberian orang tanpa berkeinginan memberi, atau menjadi negeri yang tidak tahu diri dengan memojokkan posisi orang-orang yang berbaik hati memberi sesama?

September 17, 2008

peti kehidupan


Hidup memang penuh misteri. Begitu banyak cerita yang tersembunyi di dalamnya. Suka, duka, tawa, tragis, sadis, mistis. Tak seorang pun tahu apa yang disembunyikan dalam sebuah kantung tebal kehidupan. Kecuali mereka mendekat, mengamati bentuknya, meraba apa yang terasa, mendengar sedikit saja suara, bahkan membukanya. Dan tebak apa yang kau temukan? Sebuah bungkusan. Bungkusan tebal yang menutupi rapat apa yang ada di dalamnya. Kau ulangi lagi apa yang kau lakukan di awa. Hingga kau menemukan kemasan kain, ladi diulang, kau temukan kertas tebal membalut, lagi, dan lagi. hingga tersisa plastik tipis yang transparan. Yah, kau sudah menemukannya. Benda yang ingin sekali kau ketahui saat pertama melihat kantung tebal besar itu. Benda yang jelas nampak sekarang, tapi lagi-lagi sangat tertutup. Sebuah peti tua, keras, usang, dan terkunci rapat.

Bukan sia-sia usaha kita. Tidak percuma kita membuka semua bungkusan itu. Karena setidaknya, kita menyadari peti itu bukan milik kita. Dan hanya si Pemegang kuncilah yang berhak dan dapat membuka peti itu.

Jadi, berapa banyak peti serupa di dunia ini? Sebanyak manusia mau mencari, menggali, mengeruk, dan menyelam. Karena setiap manusia sebenarnya memilki satu. Satu yang sangat mempengaruhi tiap detil gerakan dalam kehidupan mereka, satu yang sangat besar kendali bagi dunia mereka, tapi satu yang jarang mereka perhatikan dan hanya ditelantarkan begitu saja. Hati nurani.

Peti berharga yang nilainya melebihi peti yang terbuat dari emas murni dan menyimpan jutaan butir intan, permata, dan berlian. Peti yang terkunci rapat tanpa celah, kecuali bagi si Pemilik kunci peti itu. Peti yang sesungguhnya selama ini manusia cari melalui berbagai kedok pencarian jati diri. Kunci yang hanya pemiliknya yang tahu apa yang ada di dalamnya, tapi dia sendiri tak pernah menyadari keberadaannya dan tidak memahami apa makna kepemilikan peti itu. Peti kehidupannya.

Begitu banyak cerita, permasalahan, konflik batin, dan sederet sandiwara yang ada di dunia ini. Sejuta manusia, maka sejuta permasalahan yang ada. Sejuta konflik, sejuta cerita, sejuta jiwa yang merana. Tapi masing-masing manusia hanya akan mengutak-atik apa yang mereka hadapi. Merasa masalahnya yang paling berat. Merasa dia adalah orang paling menderita dengan masalah yang dia hadapi. Merasa dunia ini sebagai panggung sandiwara yang memerankan dirinya sebagai tokoh utama dengan jutaan peran pendukung di sekitarnya. Dan itulah yang dirasakan semua orang. Maka akan ada sejuta tokoh utama dalam sejuta drama.

September 16, 2008

Belajar dari Alam


Burung-burung serwiti beterbangan di udara bebas. Menanjak, berbelok, cepat, sesekali santai, menukik, naik lagi, melayang-layang... Gerakannya sangat luwes dan bebas. Terbang memang menjadi spesialisasinya sebagai makhluk hidup.

Aku membayangkan saat pertama kali Orville Wright dan Wilbur Wright mencetuskan ide manusia untuk terbang, pasti burunglah inspirasinya. Lalu dengan segala kelebihan yang dimiliki manusia (akal-red), jadilah pesawat terbang yang dapat membawa manusia terbang mengelilingi bumi.

Saat sedang asyik menikmati pertunjukkan sekumpulan serwiti yang beterbangan di udara, mataku menangkap di kejauhan sosok yang mirip dengan makhluk hidup-makhluk hidup di hadapanku. Sosok itu terbang lurus menuju ke satu arah. Datar, tanpa gaya atau variasi seperti yang sedang diperagakan para penari udara ini. Sosok itu tak lain adalah pesawat. Makhluk tak hidup ciptaan manusia.

Dari gambaran tadi, nyata sekali perbedaan antara makhluk ciptaan-Nya dengan ciptaan manusia. Biarpun manusia memiliki akal pikiran yang sangat potensial untuk mempelajari banyak hal di alam semesta, dan dengannnya dapat menggagas ide-ide cemerlang nan agung sekalipun, di atas itu semua, ada Dia yang Maha Pandai, Maha Agung. Dialah pencipta burung. Dia pulalah pencipta manusia beserta akal pikirannya.

Tidak ada yang salah dengan penciptaan pesawat terbang yang terinspirasi (baca:meniru) cara kerja burung. Karena memang akal diberikan kepada untuk memecahkan berbagai persoalan hidup dan untuk mempermudah urusan dunia. Pesawat terbang memperpendek jarak antar kota, antar wilayah, antar negara, antar pulau, bahkan antar benua.

Alam semesta memang maha guru kehidupan manusia. Maka tidak berlebihan jika penulis katakan manusia harus belajar dari alam.

Bukankah kembaran Wright belajar dari burung untuk bisa menerbangkan pesawat rancangan mereka sendiri Flyer pada tahun 1903 di Amerika Serikat? Bukankah Isaac Newton belajar dari buah apel yang jatuh untuk merumuskan tentang gravitasi?

Maka tak ada lagi tempat bagi manusia-manusia sombong yang merasa cukup bahkan berlebih dengan ilmu yang didapatkannya semasa di bangku sekolah atau perguruan tertinggi sekalipun. Sementara untuk menyadari hal-hal kecil yang terjadi di sekitarnya, bukan menjadi sesuatu yang berarti bagi mereka. Padahal manusia terbentuk dari senyawa mikroskopik.
Belajarlah dari alam...