Tampilkan postingan dengan label event penting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label event penting. Tampilkan semua postingan

Desember 22, 2011

Tentang Seseorang

Tentang seseorang aku tak pernah bosan menatap wajahnya
Garis-garis usia bermunculan seiring senyum yang datang dan pergi silih berganti dengan air mata

Tentang seseorang aku sering kecewakan dengan tingkah laku atau sekedar kata-kata
Punggungnya mulai membungkuk bukti kian rapuh badannya, sekaligus kian besar upayanya melindungi buah hatinya

Tentang seseorang aku sering lupa dalam sukaku, namun adalah orang pertama dalam curahan dukaku
Meski raganya tak lagi sekuat dulu saat mampu menggendongku keliling komplek, rasa sayangnya tak sedikitpun berkurang untukku

Sungguh tak sebanding usiaku dengan kasih sayang dan pengorbanannya
Tak pula terhitung berapa banyak luka yang kutoreh di hatinya, yang terus menerus dapat dia sembuhkan
Dalam harapan-harapan yang terselip pada tiap do'a malamnya,
Dalam nasihat-nasihat sederhana yang terucap lewat sambungan jarak jauh,
Atau sekedar sapaan lembut 'sudah sholat Nak?' yang tak pernah dia lewatkan sekalipun

Dan tentang seseorang yang sangat kurindu dan ingin kucium meski hanya lewat lagu,
Orang itu adalah Ibu...

[Selamat Hari Ibu, Mah]
. . .
Jakarta, 22 Desember 2011
01:38 WIB

Mei 20, 2011

Sepotong Roti

Jum'at, 20 Mei 2011
15.04 WIB

Tiga tahun yang lalu, di jam-jam ini, sebuah proses terjadi. Lima jam pertempuran batin. Lima jam ketegangan situasi. Berujung pada cerita "Lima" atau titik spasi.

Hari ini, di jam-jam ini pula, sebuah titik balik seakan dimulai. Bukan lagi mematahkan namun menumbuhkan. Berbeda dengan terik tiga tahun lalu di parkiran sekolah, hujan deras mengguyur student lounge luar kampus merah. Ya ampun, tiga tahun telah berlalu sejak keputusan untuk sendiri [lagi] diawali dengan menyisakan luka.

Hari ini, hari-hariku akan dimulai dengan titik baru. Setelah cukup lama berproses di dalam maupun di luar diri, aku berani berkata rindu. Rindu pada saat hati berwarna dari merah, kuning, hingga biru. Rindu mengecap berjuta rasa yang kata orang mampu melebur jadi satu. Yang seringkali membuat orang 'mau tapi malu'. Ya, rasa itu.

Hari ini, mengawali pagi dengan sedikit lesu, aku bertemu dengannya. Rona cemberut yang dia tunjukkan dengan memanyunkan bibir atasnya, seolah menjadi obat pembangkit semangat. Tanpa ragu aku mendekat dan 'merebut' potongan terakhir roti sarapannya. Dari tangannya. Sepotong roti pengusir kantuk dan penyengat saraf bahagia. Aku berlalu dan sekali lagi kutatap senyumnya. Rasa itu ... inikah dia?

Hari ini, sepotong kejadian kecil melalui sepotong roti dan sepotong senyum mengawali tahapan baru hidupku. Mungkin masih terlalu dini untuk melabeli ini dengan nama apapun. Dan yang kubenci dari kata mungkin adalah aku tak pernah benar-benar tahu apakah ia menjadi "iya", atau menjadi "tidak". Yang kutahu, aku bergerak maju. Bukan lagi saatnya memandang masa lalu atau meratap sendu. Aku terlalu rindu.

. . .

Kepada E,
Semoga kau mulai membiasakan diri dengan gaya menulisku yang eksplisit meski bergaya sangat misteri. Aku tak bermaksud mengubah apapun di antara kita untuk saat ini. Aku hanya terlalu bersemangat untuk tidak menulis tentangmu, dan tentang rasa ini. Maka hari ini, biarlah kukecap sensasi demi sensasi, sembari mengurai spasi-demi-spasi. Hingga kudapati, benarkah rasa ini, atau sekedar sepotong roti?

















Sumber gambar:
http://fc00.deviantart.net/fs25/f/2008/118/7/0/Love_Thy_Bread__by_Chelsx.jpg

Mei 08, 2010

Catatan Awal Buku 20

Lembar pertama buku 20 terukir dengan pena-pena emas yang luar biasa indah..




Ucapan dan do'a yang membanjir, di luar ekspektasi..

...
Dua jam telekomunikasi dengan sahabat lama, karib, serta terbaik di Inggris Raya beserta pengalaman listening langsung aksen british..
Isolasi
...

Obrolan pelampiasan rindu bersama keluarga:
Papah&Mamah


Nana


Fira

Riri

And my little Ami..



Kado manis buah kerja sama dengan partner luar biasa Ka Angel dan Ka Dimas utamanya berupa pengalaman bathin capaian indah dan takkan terlupa sebagai Champion BUMC..

Kotak kejutan dari sahabat baru Aril dan Icha yang sungguh berhasil merekahkan senyum sekaligus haru..


SMS menggetarkan hati dari sahabat terbaik Danang..

Berlanjut pada tontonan mendebarkan final basket IBS bersama warga kampus dengan hasil kemenangan untuk tim basket UB..



After all, this indeed is my sweetest birthday ever..
Alhamdulillah.. :)

Desember 22, 2008

妈妈, 我真的爱你



"Halo?"

Terdengar suara lembutmu dari balik telepon genggamku. Suaramu begitu dekat, begitu nyata. Mendayu namun tak berlebihan. Melambungkanku pada sebuah kotak usang di sudut kepala, kenangan.

Aku membiarkan waktu seolah mengambang di udara. Begitu banyak kata mutiara telah kubaca, begitu sering kusimak kalimat-kalimat cinta, tapi lidahku mengeras. Bibirku seperti merekat satu sama lain oleh lem alteko. Dan napasku terengah, tak beraturan. Aku mematung.

"Halo?"

Keterlaluan. Hingga detik ini, kubiarkan semua penghalang itu berkuasa. Aku bahkan tak sanggup memikirkan kalimat lain. "I love you", "Aku sayang kamu". Kalimat-kalimat itu menguap dalam diam.

Oh, seandainya kau tahu bagaimana hatiku meledak-ledak oleh cinta. Bagaimana otakku meleleh tanpa ampun karena panasnya cintaku yang membara. Aku bahkan tak bisa memikirkan perumpamaan yang lebih dahsyat lagi dari itu.

Tapi di sisi lain, ada keraguan dalam diriku. Bukan. Bukan aku meragukanmu. Aku justru sangat yakin cintamu padaku. Aku tak perlu merengek kata "cinta" yang tak pernah sekalipun kau ucapkan selama ini. Aku tahu cintamu tak berwujud kata "cinta". Karena cinta itu kurasa senantiasa. Sungguh, aku tidak pandai menggombal. Dan aku tak perlu membual padamu. Ini tentang cinta kita. Cintamu dan cintaku. Itulah yang kuragukan.

Adakah cintaku sudah sepadan dengan cintamu padaku? Ah, aku tak sanggup memikirkan bentuk-bentuk cintamu. Tak ada kata "cinta" di antara kita. Tapi ada cinta di antara kita. Itu kuyakin pasti. Begitupun kau. Iya kan? Tapi aku merasa kerdil. Di sini, dalam diamku ini, aku berusaha menandingi cintamu dengan kata "cinta" itu sendiri. Tadinya kupikir, kata "cinta" yang seolah tabu bagi kita, akan menisbatkanku sebagai pecinta sejati. Dan dengan begitu, aku patut berbangga hati karena telah mencintaimu sehebat yang aku bisa. Tapi, ah, kenapa selalu ada tapi. Benarkah itu?

Di sini, aku malu pada diriku sendiri. Apa yang kupikirkan? Di sana, kau menantiku. Menanti kalimat dariku. Rasulku akan marah padaku jika membiarkanmu mengulang sapaanmu hingga tiga kali. Sesaat sebelum kau rampung dengan "Halo"mu yang ketiga ...

"Hal ... "
"Selamat Hari Ibu, Mah ... "
"Iya. Sudah sholat?"


aku mencintaimu...
愛しています
I love you...
. . . أحبك

je t'aime
ich liebe dich

मैं आपसे प्यार करता
ik hou van jou
ti amo
te iubesc
我爱你
te amo

mama...





sumber gambar:
http://imagecache2.allposters.com/images/pic/CAMB/27194~A-Mom-is-Love-Posters.jpg