― Lauren Kate, Torment
― E.A. Bucchianeri, Brushstrokes of a Gadfly
Ide pengangkatan fenomena ‘galau’ yang sedang populer bahkan bisa dibilang menjamur di kalangan pemuda saat ini memang sangat menjual, sebagaimana ide-ide judul dan cover buku-buku kang Fahd yang selalu mengundang perhatian dan penasaran. Mengingat ratusan bahkan ribuan kata ‘galau’ yang muncul dalam keseharian tweet para pengguna twitter, maka kang Fahd yang notabene-nya masih pemuda, menghadirkan sebuah karya yang dikemas dengan gaya populer, namun tetap ber-ciri-khas tulisan-tulisannya yang kritis, mendalam, dan tidak terkesan menggurui. Kembali kali ini kang Fahd menyuguhkan berbagai ide dan pengalaman melalui curhatan atau dalam buku ini disebut racauan Tuan Setan. Jika selama ini kita bosan melihat hashtag orang-orang bertajuk ‘galau’ dan yang di’racau’kan melulu pada permasalahan itu saja, maka kang Fahd menghadirkan sosok Tuan Setan yang sedang ‘galau’ dan akhirnya ‘meracau’ tentang kehidupan, manusia, bahkan cinta dan Tuhan.
Buku ini terbagi ke dalam tiga sub-tema, yakni Setan, Cinta, dan Tuhan (setan-cinta-Tuhan). Pada karya pertama berjudul “Mabuk”, kang Fahd menuliskan sepenggal kalimat yang berbunyi “Each day is a gift and not a given right..”. Mungkin sebagian besar dari kita pernah mendengar atau membaca kata-kata mutiara tersebut. Namun adakah diantara kita yang pernah menduga bahwa kata-kata tersebut justru merupakan peringatan dan nasihat Tuan Setan kepada seorang manusia bernama Rayya saat ia sedang melakukan dosa? Tuan Setan mengajak Rayya kembali mengingat sejarah, bahwa pada saat Tuhan menyuruh Setan menyembah manusia, Setan menolak dan terjadi negosiasi di sana. Setan meminta kehidupan yang kekal dan dia berjanji akan menggoda manusia dari berbagai arah, selamanya. Pada titik ini, Tuan Setan dengan bangga mengatakan bahwa hidupnya adalah hak maka kewajibannyalah untuk menggoda umat manusia. Sementara manusia tidak bernegosiasi dengan Tuhan tentang kehidupan, manusia diberi kehidupan, dan jika Tuhan berbaik hati, maka manusia berhutang untuk membalasnya dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Maka manusia bisa memilih, untuk berbuat kebaikan, atau mengikuti Setan berbuat keburukan dan mendustai Tuhan.
Selanjutnya, dalam “Only God Knows Why”, Tuan Setan makin menggalau dan racauannya kali ini makin menampar siapapun yang merasa dirinya manusia. Kita semua tahu bahwa manusia diciptakan sempurna karena memiliki akal. Tapi apakah kita semua paham letak kesempurnaan akal? Tuan Setan hidup abadi dan senantiasa menggoda manusia melakukan kejahatan dan menggiring manusia ke arah keburukan. Di sisi lain, malaikat adalah makhluk Tuhan yang senantiasa berbuat baik, lurus, sesuai perintah dan tak mungkin membangkang Tuhan. Manusia, dengan segala kesempurnaannya, diberikan kedua sifat tersebut. Dua jalan membentang di depannya, jika yang satu ke arah setan, yang satunya ke arah malaikat. Dan keputusan selalu ada di tangan manusia itu sendiri. Maka, tidak berlebihan jika akhirnya Tuan Setan galau karena kaumnya selalu dituding sebagai sumber malapetaka dan bencana yang diakibatkan keburukan manusia. Padahal, Tuan Setan merasa kaumnya hanya menggoda dan mengajak manusia ke jalannya, sementara bentuk perbuatannya adalah modifikasi dan kreativitas tiap-tiap manusia yang menjalankannya. Ya, manusia memang bisa jauh lebih ‘setan’ dari setan itu sendiri, sebagaimana manusia bisa jauh lebih ‘malaikat’ dari para malaikat.
Tulisan demi tulisan, racauan demi racauan, rasanya tak hentinya menyentil dan menampar kesadaran kita sebagai manusia, terlebih sosok yang mengungkapkannya adalah setan, sosok yang selama ini hampir tidak pernah kita pandang secara humani. Pada karya “Just Enjoy the Show”, Tuan Setan hadir dengan wajah yang sedikit lebih ceria dan bercerita sambil bernyanyi sekaligus memainkan piano. Tuan Setan berkisah tentang takdirnya yang dihukum oleh-Nya lantaran menolak menyembah manusia. Padahal baginya, tak ada zat yang pantas disembah selain-Nya. Di satu sisi dia tidak terima, di sisi lain dia tahu dia bukanlah apa-apa di hadapan keagungan-Nya, hingga akhirnya dia merasa terperangkap di tengah-tengah sebuah sistem agung yang tak dia mengerti. Cintanya pada Tuhan yang membuatnya tak mau menyembah manusia, justru menjadikannya tertuduh sebagai pengkhianat dan pembangkang perintah Tuhan. Amarah, murka, dan kesombongan pun meledak hingga dia menganggap dirinya lebih baik dari Tuhan. Pada titik ini, Tuan Setan memberikan nasihat indah kepada Rayya, untuk menerima semesta kemahatiba-tibaan-Nya sebagai bagian dari hidup, jika bahagia bersyukurlah dengan waspada karena ketiba-tibaan lain menunggu di hadapan. Pun sebaliknya. “Bila kau tak kuat menjalaninya, bisikanlah ke dalam hatimu bahwa Ia tak akan memberimu peran yang kau sendiri tak sanggup menjalaninya. Laa yukallifullahu nafsan illa wusy’aha, begitu kata-Nya kira-kira.” (Just Enjoy The Show, halaman 73). Selanjutnya, Tuan Setan berpesan pada Rayya bahwa sejarahnya adalah pengorbanannya, “Terkutuklah kau jika tak menghargai pengorbananku! Cintailah kecintaanku, sebab aku hanya bisa mencintai-Nya dari jauh. Bila sempat, dalam doamu, bisikanlah kepada-Nya bahwa betapa aku masih mencintai-Nya.”
Demikianlah kang Fahd, melalui Tuan Setan mengobrak-abrik, mengaduk-aduk, dan menampar bolak-balik hati, pikiran, dan perasaanku selaku pembaca yang dalam hal ini adalah manusia. Dengan curhatan, racauan, dan nasihat-nasihat Tuan Setan tentang hidup dan cinta pada-Nya, aku pun turut menggalau, dalam bentuk lain, yang lebih kontemplatif. Masih banyak racauan Tuan Setan yang tidak bisa tidak akan mengajak kita berpikir dan kembali melihat ke dalam diri kita, sejauh apa kita mengenal diri kita, eksistensi kita dalam hidup, dan lebih jauh, peran serta kecintaan kita di hadapan-Nya.
. . .
Pada bagian selanjutnya, kang Fahd mengawali bagian “cinta” dengan cerita “Perpisahan Termanis”. Sebagaimana, tulisan-tulisan lain dalam buku ini yang dilengkapi dengan satu judul lagu sebagai soundtrack cerita, kali ini lagu dengan judul yang sama “Perpisahan Termanis” oleh Lovarian akan mampu membawa kita hanyut dalam rimba kata penuh makna kisah cinta antara Raka dan Hera. Fenomena perpisahan, putus, atau cinta bertepuk sebelah tangan memang merupakan salah satu tema ’galau’ paling hits sekaligus paling ampuh melumpuhkan remaja. Dengan tidak menampik kemungkinan adanya hal tersebut, kang Fahd justru menampilkan ‘perpisahan’ dalam bentuk yang indah, yang manis. “Dari ribuan sejarah manusia yang sedih, barangkali aku salah satunya, tapi haruskah aku menghabiskan hidup hanya untuk menjadi karang-pantai yang bersedih?” … “Tidak, kataku dalam hati”… “Barangkali aku gagal menjadi kekasihmu, tetapi cinta tetap ada: untuk apa dan untuk siapa, biarlah ia menentukan nasibnya sendiri...” (Perpisahan Termanis, halaman 99).
Ciri khas kang Fahd yang selalu mengagumkan adalah pemaknaan[kembali] hal-hal yang selama ini kita anggap sepele dan kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Dua karya dalam bagian ‘cinta’, adalah “Cantik itu Luka” dan “Perahu Kertas”. Karya yang pertama, adalah surat Rayya kepada Alivya, menanggapi pertanyaan Alivya “Rayya, seandainya kamu terlahir jadi perempuan, apa yang akan kamu lakukan terhadap hidupmu?” Tak disangka, pertanyaan sederhana yang terkesan dilontarkan secara iseng tersebut, mampu memunculkan penghargaan seorang Rayya pada sosok perempuan, yang dia tuangkan melalui lagu Eminem berjudul “Beautiful”. And to the rest of the world | God gave you shoes to fit you | So put ‘em on and wear ‘em | Be yourself man, be proud of who you are | Even if it sounds corny | Don’t ever let anyone tell you you ain’t beautiful. Dalam “Perahu Kertas”, langkah-demi-langkah proses pembuatan perahu kertas dari selembar kertas dimaknai sebagai fase-fase kehidupan dimulai dari takdir penciptaannya, perjalanan hidupnya, hingga pada akhirnya “Setiap detiknya, hidup adalah perjalanan menemukan bentuk. Seberapa jauh manusia harus berjalan untuk bisa disebut sebagai manusia? Berapa peristiwa yang harus dialami untuk bisa mengerti semuanya? Hanya kamu yang tahu, setiap orang punya kuasa atas hidupnya sendiri-sendiri, atas perahu kertasnya sendiri…” (Perahu Kertas, halaman 121).
Karya-karya lain tentang cinta yang tak kalah indah dan menggugah dengan apik disajikan dalam lembar-demi-lembar buku “Yang Galau Yang Meracau”. Topik-topik tentang pernikahan, kehidupan rumah tangga dikisahkan melalui lagu, sajak, bahkan gambar pemandangan. Kang Fahd menutup bagian cinta dengan karya “Ziarah Ingatan”, mengajak kita mengenang, mengingat-ingat, dan berziarah, tidak hanya pada orang-orang yang telah tiada, namun orang-orang yang telah lama tak kita singgahi.
. . .
Apa jadinya jika di suatu subuh, kita mendapati satu pemberitahuan: Tuhan mencolek Anda di Facebook, dan ada pilihan “colek kembali” atau “abaikan”. Lalu bagaimana seorang ibu harus bersikap jika anaknya menanyakan tentang rumah Tuhan, masjid, yang dibom belakangan ini. Sang Anak mengakhiri dengan simpulan polos, bukan kita yang harus takut pada teroris, namun Tuhan yang rumah-nya terancam dibom. Membaca tulisan-tulisan kang Fahd tentang spiritualitas, tentang Tuhan, sekilas seperti membaca tulisan ngawur tentang Tuhan. Perumpamaan-perumpamaan, pertanyaan-pertanyaan, bahkan plesetan-plesetan yang dibuat terkesan meledek dan mempertanyakan eksistensi Tuhan. Eits, setan saja bisa bijak dan berpikir dalam, sebaiknya kita telaah lebih jauh tulisan-tulisan kang Fahd ini sebelum kita menyimpulkan tulisan ini menyesatkan, bid'ah, atau terlarang.
Mungkin sekali dalam hidup, kita pernah mempertanyakan tentang Tuhan. Sebagaimana Maria kecil yang menanyakan rumah Tuhan pada ibunya, atau sosok aku yang menanyakan siapa Tuhan kepada ustadznya di karya "Sesa(a)t". Sadar atau tidak, sebagai makhluk merdeka yang dianugerahi akal pikiran, pertanyaan tentang Tuhan tidak akan dapat dihindari. Dalam tulisan-tulisannya, kang Fahd tidak melarang apalagi mengharamkan pertanyaan akan Tuhan. Malahan, melalui potongan-potongan karyanya yang tersebar dalam dua belas tulisan tentang Tuhan, kang Fahd mengajak kita mengalami dan menjalani, karena pada dasarnya, pengalamanlah yang lebih berharga dan akan menuntun pada pencarian kita.
Dalam "Mengakal(i) Tuhan", Rayya kembali menulis surat kepada Alivya berbagi tentang pengalaman ber'Tuhan'nya. Baginya, ketika kita memikirkan "ada atau tiada"nya Tuhan atau "masuk akal atau tidak"nya Tuhan, pada dasarnya kita memikirkan Tuhan sebagai keutuhan: Ia yang melampaui "ada dan tiada", melampaui sifat "masuk akal atau tidak masuk akal". Tuhan setidaknya "ada" dalam pikiran saat dipikirkan, Ia "masuk akal" sebagai bagian dari pikiran (akal) saat dipikirkan. (Mengakal[i] Tuhan, Hal. 181). "Itulah 'pengalaman' ber-Tuhanku, Alivya. Bagiku, pada saatnya pengalaman itu akan melengkapi pemahaman atau pengetahuan kita tentang 'Tuhan'. Sampai di sini, menurutku, jika kita menolah Tuhan dalam akal kita (artinya tidak 'mengingat' dan 'menyebutnya'), Tuhan berarti bukan 'tidak ada' tetapi 'tidak bersama kita'!" (Mengakal[i] Tuhan, hal. 185).
. . .
Sumber gambar:
http://akubunda.files.wordpress.com/2011/06/camera-effects.jpg

Kembali dengan antologi berbagai tulisan yang kali ini terwujud dalam 13 karya fiksi dan prosa pendek kumpulan karya Dee selama lima tahun terakhir, Madre membuatku bernostalgia dengan Filosofi Kopi. Jika di awal buku Filosofi Kopi kita diajak berpetualang bersama Ben meracik, menerjemahkan, menikmati, dan mendeskripsikan kopi dari berbagai cara memandang, Madre mengajak pembaca berkenalan, mengakrabi, dan menggauli Madre, biang roti yang menjadi resep turun-temurun dan pembawa sejarah Tan de Baker, toko roti usang di pinggiran Kota Tua, Jakarta. Kisah-kisah selanjutnya, seperti halnya dalam kisah-kisah antologi Filosofi Kopi, bernuansa cerita sederhana dengan pemilihan kata-kata yang apik, merangkai serpihan-serpihan makna, yang berinduk pada tema-tema besar: hidup, cinta, dan Tuhan.
Madre, yang merupakan bahasa Spanyol berarti ibu, mengisahkan seorang pemuda gimbal bernama Tansen yang menjalani hidup serba-tak-teratur, dan mendapati dirinya adalah pewaris tunggal sebuah peninggalan tua keluarga Tiong Hoa turun-temurun, sebuah fakta tak terduga yang seketika mengubah sejarah hidupnya. Halaman baru perjalanan hidupnya seolah diawali dengan lembar kertas yang benar-benar baru dari segi tekstur, bahan dasar, hingga warna. Surat wasiat tersebut membawanya pada sosok Pak Hadi, yang ternyata kerabat dekat kakek leluhur sekaligus orang yang mengenalkannya pada Madre. Berkenalan dengan Madre dan Pak Hadi berarti harus berkenalan dan mengakrabi kehidupan Jakarta yang bergerak serba cepat, gaya hidup yang sangat dihindari Tansen sepanjang hidupnya. Di sisi lain, muncul sosok-sosok orang tua yang nantinya menemani episode baru Tansen bersama Tan De Baker. Juga sosok Mei yang pada akhirnya membuka mata Tansen tentang betapa berartinya jejak sejarah, betapa berharganya memelihara tradisi dan betapa indahnya cinta yang dimiliki Pak Hadi dan rekan-rekannya yang tak usang oleh waktu pada Tan de Baker.
Dari toko roti tua di daerah Kota Tua Jakarta, Dee selanjutnya membawa kita ke Byron Bay, titik paling utara benua Australia. Sepucuk surat sakti dari seorang gadis berumur 12 tahun lebih muda yang baru sebulan dikenal Howard di kantornya, membawanya terbang ribuan mil dari Jakarta ke Australia. Perjalanan yang memperkenalkannya dengan Darma, pemuda Amerika berdarah 12,5 persen Indonesia yang hobi berselancar dan tengah menikmati hari-hari liburannya di pantai berombak tersebut. Howard menyeberangi Samudera Hindia karena instruksi tertulis dalam surat yang ditulis oleh Intan Cahaya, untuk pergi ke mercusuar di Byron Bay, mengambil cuti lima hari kerja, meninggalkan istri dan dua orang anak di Jakarta. Sebuah keputusan gila dan mahal yang sangat mengejutkan bagi Howard sendiri yang selama ini menjalani hidup lurus dan penuh dengan pertimbangan logika. Ungtunglah dia bertemu Darma yang cenderung blak-blakan dan apa adanya, menjadi partner berdebat dan berselisih dalam berbagai hal, sekaligus pelengkap pemikiran yang tak mampu hinggap di benak Howard. Perjalanan spekulatif, nekat, dan tak masuk diakal, dalam pencariannya akan sebuah bukti kehidupan masa lalu yang diyakini benar oleh Intan Cahaya sebagai janji di kehidupan lalu antara dirinya dan Howard.
Bagiku, Dee menghadirkan kisah cinta abstrak yang dibumbui konsep belahan jiwa dan reinkarnasi dengan caranya sendiri, yang apik dan cantik. Dalam cerita “Guruji”, Dee dengan terang-terangan menyajikan ide reinkarnasi dan belahan jiwa dalam petikan cerita berikut: Seketika sorot matanya menangkap sorot mataku, bersama kami tenggelam dalam sebuah arus misterius. Tanpa perlu lagi proses hipnosis. Dengan mantapnya dia berbisik, “Kita pernah bertemu.”(Guruji, hal.114). Selanjutnya, konflik yang dihadirkan tidak mencukupkan pada konsep pemahaman kita akan cinta, belahan jiwa, atau bahkan reinkarnasi. Tapi lebih dari itu semua, Dee mengaduk-aduk perasaan pembaca melalui konflik tak biasa di antara dua insan yang pernah yakin sebagai belahan jiwa yang akhirnya dipertemukan. Tidak selalu berujung pada kata bersatu, cerita-ceritanya justru mengedepankan pengalaman menyeluruh para tokohnya dalam memahami konsep hidupnya. Dee memang nampaknya tidak mengharapkan pembaca melompat dari awal cerita ke akhir cerita untuk mendapati satu ending, namun justru membawa pembaca menjelajahi samudera kehidupan yang dihadirkan potong-demi-potong dalam tiap alur cerita yang dihadirkan di tiap cerita pendeknya.
Jika dalam cerita pendeknya Dee lebih banyak memasukkan unsur cinta, dalam prosa-prosa dan tulisan lainnya, Dee lebih banyak mengangkat tema-tema kehidupan dan spiritualitas. Sebut saja “Perempuan dan Rahasia”, sajak yang ia tulis pada tahun 2006, menggambarkan sosok perempuan bagi laki-laki melalui perumpamaan halus dan indah burung, kupu-kupu, dan bunga. Sejak dulu saya sangat mengagumi kelihaian Dee memilih dan merangkai kata-demi-kata. Kemudian ada “Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan” sebagai buah karya-nya men[coba]definisikan cinta dan Tuhan melalui semangkuk acar. Jawaban pasti memang bukan tujuan akhir yang ingin disampaikan oleh Dee melalui setiap tulisannya, karena seperti peringatan pada kata pengantarnya, “… tidak semua perenungan berujung pada jawaban.” Bagaikan mengupas bawang merah, seringkali proses bertanya justru menemui lapisan pertanyaan-pertanyaan lain yang jika dilakukan terus menerus malah berakhir pada kehampaan. Bukan berarti sia-sia, tetapi apalah arti hidup jika pada akhirnya ‘jawaban’ sudah kita dapatkan. Bukankah hidup hanya akan berakhir saat ruh ditarik melalui ubun-ubun kita? Maka hidup memang akan terus berproses sepanjang nafas masih milik kita.
“Barangkali Cinta” menjadi sajak penutup antologi Madre. Sebelumnya, saya sendiri sudah membaca sajak ini di blog pribadi Dee. Karena ini adalah salah satu sajak favorit saya, izinkan saya mengutip beberapa kata di dalamnya:
Barangkali cinta
Jika darahku mendesirkan gelombang yang tertangkap
oleh darahmu
dan engkau beriak karenanya
Darahku dan darahmu
terkunci dalam nadi yang berbeda
Namun berpadu dalam badai yang sama
Barangkali cinta
Jika napasmu merambatkan api yang menjalar ke
paru-paruku
dan aku terbakar karenanya
Napasmu dan napasku
bangkit dari rongga dada yang berbeda
Namun lebur dalam bara yang Satu
Barangkali cinta
. . .
(Barangkali Cinta, 2007. Hal. 159-160, “Madre”)

Kisah pertama ditorehkan seorang pemuda kelahiran kota hujan, Bogor, bernama Elang Gumilang. Singkat cerita, buah usaha yang bersumber dari gagasan dan ide dalam kepalanya, dengan bumbu jiwa sosial dan empati tinggi yang ia miliki, kini mewujud dalam bisnis properti dengan perusahaan yang ia dirikan sendiri, Perusahaan Semesta Guna Grup. Berawal dari satu unit rumah sederhana, menjadi tiga, dan terus bertambah hingga kini tercatat 220-an unit rumah telah didirikan di bawah konstruksi perusahaannya dengan target pasar masyarakat menegah ke bawah. Satu catatan prestasi yang tentunya tidak semua orang dapat lakukan di usia 24 tahun adalah pendapatan atau omzet tahunan yang ia peroleh tidak kurang dari Rp 20 miliar per tahun. Ditambah kontrak pre periodik terbarunya yang menambah Rp 80 miliar hingga Rp 100 miliar ke bisnisnya.
Kisah sukses lain datang dari gadis berusia 24 tahun bernama Riezka Rahmatiana. Bermodalkan uang jajannya semasa kuliah sebesar Rp 150.000,00, Riezka memulai bisnis awalnya yakni pulsa elektronik. Dengan tekad dan keberanian yang diformulasikan bersama bakat bisninsnya, usaha kecilnya berjualan pulsa telah berkembang begitu pesat dan bertransformasi menjadi CV Ezka Giga Pratama sebagai dealer atau server pulsa elektronik dan membawahi sejumlah agen outlet kecil. Sayap ia kembangkan dengan menerima tawaran teman membuka bisnis laundry & dry clean bernama Prima Laundry. Untung bersih Rp 2.000.000,00 ia terima di bulan pertama. Tahun berikutnya, bisnis kuliner diliriknya dengan hasil kafe D’Green House yang berlokasi di food court & cafĂ© di daerah Cihampelas, Bandung. Dari sinilah, Riezka mulai serius dan memfokuskan bisnisnya di bidang kuliner dengan masterpiece yang dia ciptakan berupa Pisang Ijo, bisnis makanan dengan sistem franchise dan booth.
Keputusan untuk akhirnya membeli buku ini diawali dilema besar. Di tanganku saat itu sudah ada dua buah buku dengan genre yang tadinya kupikir sangat berbeda. Sebagai pecinta karya Jostein Gaarder yang masih pemula karena baru membaca salah satu karyanya, The Solitaire Mystery, rasa penasaranku untuk mencicipi ramuan fantasi, spiritualitas, dan filsafat di karyanya yang lain sedang menggebu-gebu. Cecilia dan Malaikat Ariel sudah di tangan dan hampir kuserahkan ke kasir ketika mataku menangkap sebuah judul yang cukup eye catching. Buku bersampul dasar putih dengan gambar backpack dan bendera-bendera negara Eropa ini pun kuambil. Judulnya cukup panjang, “ Back “Europe” Pack; Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar! “
Buku tersebut sekonyong-konyong membangkitkan mimpi lama yang sedang lesu dan malas kubahas, keliling dunia. Karena aku berada di toko kecil, jadi mustahil mengharapkan sampel buku yang terbuka. Aku pun cukup membaca tulisan-tulisan yang ada di sampul depan dan belakang. Selain tulisan “1.000 dolar untuk 45 kota, 13 negara, 10.600 km, dan pertemanan tak ternilai “ yang terdapat di sampul belakang, ternyata ada komentar dari seorang penulis Indonesia favoritku, Dewi Lestari, di bagian sampul depan. Dengan segala hal ‘menjual’ sekaligus memikatku yang ditawarkan buku itu, mau tidak mau membuatku berada pada tekanan dilematis. Setelah perang sengit di benak, akhirnya kuambil buku berjudul super panjang itu sembari mengembalikan karya Jostein Gaarder ke raknya.
Lembar-lembar awal berisi tentang sejarah pencetakan buku yang bermula dari jurnal perjalanan penulis di blog. Hal unik pertama yang kutemui di buku yang tadinya kupikir berisi tips-tips aneh dan nyeleneh ini adalah ide besar perjalanan nekat keliling Eropa dengan modal sangat minim dan ditempuh sendiri (apalagi sang Penulis adalah wanita). Ide apakah gerangan? Yaitu dari segala hal yang penulis alami di Eropa, semua pengalaman travelling, sight seeing, culinary, hingga perjalanan spiritual yang kaya pelajaran hidup, diperoleh penulis bukan melalui jalur eksekutif apalagi illegal, melainkan jalur pertemanan.
Bab pertama berisi tentang uraian alasan mengapa kita ‘harus’ melakukan travelling. Ada tiga belas alasan yang diuraikan dengan segar dan menarik didasarkan pada pengalaman pribadi penulis. Dimulai dari alasan paling mendasar ‘menyenangkan’, hingga alasan mendalam dan cenderung teoritis tapi sangat relevan ‘teori fitrah’.
Dilanjutkan bab berikutnya yang berisi tentang 13 langkah yang perlu dilakukan sebelum berangkat. Boleh dikatakan, bab kedualah yang menjadi modal pemasaran utama buku ini. Selain menjadi bab yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika membaca judul buku, bab ini sekaligus menjadi semacam panduan praktis bagi siapapun yang hendak mengaplikasikan saran-saran di dalamnya. Dilengkapi dengan space-space kosong untuk diisi pembaca saat merencanakan perjalanan mereka seperti uang yang harus dikeluarkan di tempat ini, untuk keperluan ini, karena alasan ini, makin menjadikannya menarik karena memudahkan pembaca tanpa harus membuat dari nol rencana perjalanan mereka.
Sampai titik ini, apresiasiku terhadap buku ini tak lebih atas ide besar jalur pertemanan yang diusung. Apalagi dijelaskan dalam bab dua tentang jalur pertemanan macam apa yang dimaksud penulis, bagaimana untuk bisa masuk ke dalam jalur tersebut, serta tips-tips agar bisa enjoy selama berada di jalur tersebut. Dan tentunya, seperti yang ditulis Mbak Dewi Lestari di sampul depan buku, bahwa buku ini merupakan hasil pengamatan jeli penulis setelah mengalami perjalanannya yang akan mampu menginspirasi siapa pun untuk berani merambah dunia, dan mempercayai keindahan hati manusia.
Ketika hendak break membaca karena merasa telah mendapat intisari buku, lagi-lagi aku dibuat penasaran dengan sub judul ketiga “13 Negara”. Selain rasa penasaran kenapa penulis cinta sekali angka tiga belas, sebenarnya aku lebih ingin tahu apakah Inggris menjadi salah satu Negara yang penulis kunjungi (karena nama tersebut telah lama mengendap dalam dimensi mimpiku). Akhirnya kubuka halaman selanjutnya.
Dimulai dengan pengantar bab tiga, penulis menggambarkan bahwa selain modal yang tersedia di bab pertama dan kedua, ada satu lagi hal yang sangat diperlukan dalam rangka melakukan perjalanan cross culture apalagi melalui jalur pertemanan. Bukan hanya cuaca, tempat, dan bahasa, tapi juga tentang orang-orang yang akan kita temui yang menjadi partner di jalur pertemanan tadi. Tantangan terbesar yang jika dilalui akan menghasilkan keajaiban-keajaiban perjalanan tak ternilai adalah seberapa terbukanya kita. Seberapa besar kesediaan untuk saling bertukar, berdialog, dn memahami, yang seringkali dituntut dari kita dalam isu-isu terringan hingga terberat seperti agama (hal 77).
Pada awalnya tulisan tersebut tak begitu membekas di benak, hingga akhirnya aku berlalu dan membuka halaman selanjutnya. Satu halaman penuh foto-foto dan beberapa spot untuk tulisan-tulisan yang melaporkan keadaan di negara yang sedang dibahas. Negara pertama adalah Jerman dengan kota pertama Frankfurt yang memiliki bandara internasional terbesar di Eropa. Di sanalah Marina Silvia Kusumawardhani memulai perjalanannya dengan seorang host bernama Okan, yang merupakan kenalannya ketika Okan menjadi exchange student di kampusnya, ITB. Penulis berhasil mendapatkan akomodasi pertama yang sangat memuaskan berupa tumpangan di flat sang Host yang tentunya tak menarik biaya sedikitpun. Di sinilah mulai jelas, kenapa dengan uang 1.000 dolar, penulis dapat menjelajahi 45 kota di 13 negara. Jalur pertemanan jawabannya.
Kemudian lembar-lembar berikutnya pun tak jauh berbeda. Satu lembar penuh foto-foto, nama negara, tanggal kunjungan, nama kota, host, dan laporan keuangan. Yang terakhir adalah yang paling tidak masuk akal. Bayangkan saja, laporan keuangan ketika berada di St.Petersburg, Rusia adalah 1 Euro, bahkan laporan keuangan di Roma pun hanya 1,5 Euro, sama seperti kota-kota lain yang rata-rata tak lebih dari 5 Euro. Kalaupun ada yang cukup besar, pastilah untuk biaya transportasi antar-negara itu pun berkisar 5-10 Euro dan sekonyong-konyong tergantikan dengn cara-cara yang tak terduga. Seperti bekerja part-time ‘illegal’ karena sang Host di Stocholm ternyata seorang atasan sebuah rumah makan atau menjadi volounteer membersihkan area konser di Trondelag yang menggantikan uang tiket. Bahkan beberapa kali penulis mendapat uang cuma-cuma dari orang tak dikenal hanya karena menanyakan tempat penukaran uang. Woww!
Di antara lembaran-lembaran laporan perjalanan dengan konsep seperti di atas, ada berlembar-lembar jurnal perjalanan yang ditulis penulis atas dasar pengalaman pribadi di tiap kota atau (kebanyakan) hasil perbincangan dengan orang-orang yang ditemuinya di sana. Jurnal perjalanan inilah yang menarik perhatianku begitu mendalam. Selain berisi pengalaman-pengalaman unik, perbincangan yang terjadi antara penulis dan orang-orang di berbagai belahan Eropa pun terbilang dalam dan jarang (hampir tidak mungkin) diperbincangkan pemuda-pemuda di Indonesia. Tentang kehidupan, pengalaman spiritual, agama dan kepercayaan, hingga masalah ekonomi, sosial, dan politik.
Perbincangan serius, santai, hingga penuh canda yang terjadi tak hanya kaya akan makna, tapi juga membuka cakrawala penulis tentang satu tema besar kehidupan, perbedaan. Betapa sebuah perbedaan, entah perbedaan keyakinan ataupun perbedaan sudut pandang, dapat memberikan arti yang begitu mendalam tentang apa yang di’perbedakan’. Sebagai seorang muslimah berjilbab, penulis justru sering mendapati host yang tak hanya berbeda keyakinan, tapi bahkan ‘tak berkeyakinan’ alias atheis. Tapi itu tak membuat penulis menutup diri dan hanya menjadikan teman baru yang telah dengan baik hati menampung bahkan mentraktirnya selama di Eropa hanyalah alat melancarkan perjalanan efisien. Justru dari perbedaan yang sangat mencolok seperti penampilan, penulis bisa berbagi pengalaman dan pikiran tentang konsep kehidupan, konsep Tuhan, keyakinan, kebahagiaan, keikhlasan, cinta. Ya, aku sama sekali tidak mengada-ada atau melebih-lebihkan. Inilah yang membuatku berani member bintang lima untuk buku berjudul panjang dan cenderung komersil ini di goodreads.com. Sampai di sini, aku baru menyadari arti kata ‘seberapa terbuka kita dalam bertukar pikiran’ di pembuka bab.
Akhirnya, sebagaimana sebuah review buku, harus ada keseimbangan di dalamnya. Setelah aku menguraikan ‘sedikit’ kelebihan buku yang bagiku tak terduga berada di balik judul buku itu sendiri, sekarang tiba saatnya kita memasuki bagian kekurangan.
Secara kebahasaan, aku sangat memahami jika penulis tak terlalu formal alias lebih menyegarkan tiap kata yang digunakan. Karena pada dasarnya buku ini memang diperuntukkan untuk menyegarkan bukan menyuramkan. Satu-satunya kekurangan buku ini adalah penataan perpaduan antara foto dan tulisan yang seringkali mengganggu mata saat membaca. Foto yang diperbesar atau dijadikan dasar halaman, terkadang membuat kabur tulisan yang ada di atasnya. Dan mungkin, seandainya buku ini dibuat full colour akan lebih menarik karena visualisasi kota-kota dan aktivitas yang terjadi semakin hidup. (Meskipun pastinya berdampak pada harga yang akan melambung tinggi mengingat porsi fotonya lebih dari setengah tebal buku).
Well, di luar segala kekurangannya, aku tetap berpegang teguh pada prinsipku ketika menikmati sebuah karya. Bahwa seburuk apa komentar orang tentang buku ini karena kekurangan yang mencolok atau kesalahan-kesalahan teknis, bahkan ketidakcocokkan selera, porsi penilaianku biasanya lebih dipengaruhi bagaimana buku tersebut bisa menimbulkan kesan, efek, atau mungkin candu yang tidak ditimbulkan oleh buku lain. Dalam hal ini, buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini telah memberi warna dan sensasi tersendiri saat ku membacanya. Sangat direkomendasikan pada mereka yang haus akan warna lain kehidupan di samping tentunya, para back packer atau yang bercita-cita menjadi back packer. Akhir kata, difference is beauty.
P.S. : Ternyata Inggris tak masuk daftar 13 Negara yang dikunjungi penulis T_T