Tampilkan postingan dengan label pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pribadi. Tampilkan semua postingan

April 24, 2015

Catatan Pembuka



"I'm afraid, if I don't choose a path soon, life will choose one for me."
― Human of New York (Facebook Page)

Kalimat tersebut meninggalkan kesan istimewa saat kali pertama aku membacanya. Tidak hanya membuatku mempertanyakan jalan hidup yang telah dan sedang kulalui, angan dan mimpi yang seakan menua, muncul kembali. Hebatnya arus kebutuhan yang telah menggilas sadis bumbu-bumbu kehidupan, menyisakan hanya lajur demi lajur rutinitas yang diam-diam justru mematikan.

Aku menyusuri waktu, kembali ke masa enam tahun lalu, saat awal kedatanganku di kota rantau yang jauh dari ayah ibu. Aku datang dengan bekal mimpi, cita-cita, angan, khayalan tingkat tinggi, dan tak sedikit fantasi. Tak peduli setinggi apa mereka semua, kutuliskan satu demi satu pada selembar kertas baru. Dan rasanya, belum satupun mewujud sesuai bayanganku dulu.

Hidup memang penuh kejutan dan ketidakpastian. Sedemikian rapi dan rinci alur yang kubuat untuk ceritaku, hidup selalu punya cara untuk membelokkannya, menukiktajamkannya, bahkan meremukkannya berkeping-keping. Tugas manusialah untuk memaknai tiap kejadian, untuk lalu berreaksi, bukan sekedar merutuk dan meratapi. Sayangnya, tingkat kesadaran ini lebih sering mati suri, mungkin juga akibat rutinitas sehari-hari.

Aku, di penghujung usia 24 tahun, jelang seperempat abad kehidupanku, memutuskan untuk berreaksi pada gejala demi gejala aksi yang hidup berikan padaku. Aku, calon sarjana manajemen dengan masa studi lebih lama dari semestinya, yang lebih tertarik mendalami dunia kepenulisan dan seni lukis, memutuskan untuk berhenti diperdaya hidup, dan menentukan sendiri nasib demi nasib yang tak pernah menentu. Lebih pastinya apa itu, nanti kalian akan tahu.

Untuk segala risiko dan tantangan yang menanti di depan, aku nyatakan kesiapan, meski dengan sedikit ketakutan. Semoga kesiapanku dapat menjadi obor semangat saat menghadapi masa-masa sulit dan rasa takutku bisa menjadi pengingat di saat keadaan di atas awan, bahwa ketidakpastian itu abadi, maka tak sepantasnya kita congkak dan arogan.

Maka izinkan kututup catatan pembuka ini dengan satu kutipan favoritku, dari seorang penulis hebat yang sudah jauh lebih dulu memahami potensi keindahan sekaligus akal busuk kehidupan, maka dengan penuh kesadaran ia turut berperan aktif dalam memegang kendali hidupnya, sekecil apapun itu.

“There is only one thing that makes a dream impossible to achieve: the fear of failure.”
― Paulo Coelho, The Alchemist

Januari 19, 2014

Rain in January


I love rain in January
Though it pours daily
It cures my little weary
Thoughts of you especially

I hate rain in January
Besides the floods around the city
It keeps me getting angry
About thoughts of you especially



 Jakarta, 18012014


______________________________________________________
Pict Source: http://indosurflife.com/wp-content/uploads/2012/12/RainDrops.jpg

Desember 19, 2013

Dari Soekarno hingga Muhammad

“Sometimes beautiful things come into our lives out of nowhere. We can't always understand them, but we have to trust in them. I know you want to question everything, but sometimes it pays to just have a little faith.” 
― Lauren KateTorment


Berawal dari rasa penasaranku setelah membaca ulasan seorang teman tentang film karya Hanung Bramantyo yang beberapa hari lalu mulai tayang di bioskop, malam ini berakhir dengan dua buah film Indonesia yang kutonton secara maraton: "Soekarno" dan "99 Cahaya di Langit Eropa". Tulisanku kali ini bukanlah ulasan secara mendetil tentang kedua film tersebut, melainkan catatan pribadi tentang kesan dan pengalaman yang timbul usai menonton kedua film tersebut dikaitkan dengan kejadian yang kualami dalam kehidupanku belakangan. 

Baiklah, kita mulai dari "Soekarno" yang berhasil membuatku menitikkan air mata dan beberapa kali terharu berkat racikan adegan, dialog, music score, dan keindahan gambarnya. Hanung Bramantyo menunjukkan kelasnya dalam dunia perfilman melalui karya terbarunya ini. "Soekarno" bercerita tentang perjuangan sang Proklamator Indonesia, presiden pertama RI sekaligus pencetus Pancasila, Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pelajar yang benar-benar membaca buku sejarah dan para sejarawan pasti setuju bahwa film ini hanya menceritakan sekelumit sepak terjang Bung Karno di Indonesia. Namun adegan demi adegan yang ditayangkan dalam alur cerita film cukup menggambarkan seorang Bung Karno yang pandai menarik hati rakyat melalui pidato-pidatonya, cinta pada tanah air dan rakyatnya, tidak takut pada penjajah, serta mudah jatuh hati pada perempuan. 

Setelah dua jam lebih dimanjakan dengan visualisasi mengagumkan perpaduan akting ciamik para aktor, pilihan apik tempat dan gambar yang mewakili latar waktu cerita, dialog-dialog cerdas, kuat, dan pada beberapa adegan menggetarkan hati, serta keindahan music score yang classy namun tidak membosankan, pikiranku tertaut pada satu adegan di dalam mobil. Bung Hatta 'mempertanyakan' dirinya sendiri (dan Bung Karno yang ada di sampingnya) apakah mereka siap memimpin Indonesia yang begitu besar dengan banyaknya penduduk yang ada, apakah mereka dapat menjamin di masa mendatang tidak terjadi kesenjangan antar daerah di Indonesia dan mereka dapat mengelola kekayaan Indonesia dengan baik hingga menyejahterakan rakyatnya. Setelah akhirnya Bung Karno menjawab tegas "Siap!", dia menambahkan yang kurang lebih begini, "Lebih baik kita yakin dan melakukan sesuatu meski pada akhirnya mungkin gagal atau salah, daripada bersembunyi di balik kekhawatiran dan terlalu takut untuk melakukan apa-apa". 

Diam-diam aku tersentak, tidak hanya oleh dialog padat yang heroik dan penuh arti tersebut, namun oleh alam sadar dan ingatanku akan pengalaman hidup yang tengah kuhadapi. Dalam enam bulan terakhir, aku menjalani hidup seolah bersembunyi dari kekhawatiran dan ketakutan-ketakutan yang aku sendiri tak pernah hadapi langsung, tentang masa depan, tentang mimpi-mimpiku yang dianggap kecil dan kurang berarti, tentang langkah yang akan kutempuh. Aku memilih berdiam dan menunggu apa yang akan aku temui dan dapatkan, bukan maju untuk mengambil langkah-langkah sendiri dan mencoba meski mungkin gagal atau malah salah. Bahkan ketika akhirnya aku sadar dan mulai menyusun keberanianku untuk beranjak dan menyingkirkan tembok kekhawatiran itu, dengan mudahnya aku kembali ke balik tembok hanya karena dianggap "sok tahu" dan sombong. 

Belum hilang sensasi sentakan adegan tersebut, tiba-tiba pandanganku tertuju pada poster film "99 Cahaya di Langit Eropa". Ketika kutanya pada sahabatku yang ternyata sudah menonton film tersebut, dia terdiam sejenak untuk akhirnya mengekspresikan bagaimana film tersebut dapat membuatnya makin mencintai Islam. Lagi-lagi sebuah ingatan menyesak keluar dan cukup menyakitkan, yakni ketika tiada angin dan hujan tiba-tiba aku dihadapkan pada pertanyaan "Apa pendapatmu tentang Allah juga mungkin salah?" Pertanyaan yang diawali dengan pertanyaan pembuka "Tahukah kamu bahwa Al Qur'an menyebutkan bumi ini datar?", kemudian berlanjut pada pernyataan pribadinya bahwa agama yang kuanut merupakan agama dengan obligasi paling banyak dan berat. Tiba-tiba disampaikan pula cerita tentang sahabatnya yang keluar dari Islam setelah pencarian panjang yang berakhir pada perasaan telah dibohongi berpuluh-puluh tahun lamanya oleh keyakinannya selama ini. Entah apa maksud dan tujuannya, aku mengambil satu pesan positif pada saat itu, tentang kelebihan manusia memiliki akal untuk berinterpretasi dan dibebaskan mengambil keputusan dalam hidup. 

Meski lanjutan cerita-cerita yang menyiksa tersebut adalah tentang kehidupan, fenomena masa kini, dan lebih merucut pada masa depanku, rasa sakit akibat cerita-cerita dan pertanyaan menyudutkan yang membuatku seolah tak berdaya dan tak mampu membela diri itu membekas hingga sekarang. Maksudku, aku memang belum menjadi muslim yang memahami Islam sepenuhnya dan masih pada taraf melakukan ibadah karena perintah-Nya atau meninggalkan sesuatu karena larangan-Nya. Maka ketika aku dihadapkan pertanyaan-pertanyaan yang meyangsikan keyakinanku tersebut dengan dasar-dasar logika yang kuat, bisa dipastikan aku akan bungkam, karena aku memang belum tahu jawabannya. Berkat rasa sakit itu dan komentar sahabatku tentang film "99 Cahaya di Langit Eropa", kakiku langsung menuju loket untuk membeli tiket film yang dijadwalkan akan tayang 20 menit lagi itu.

Secara teknis film, mungkin tidak adil jika aku membandingkan antara film "Soekarno" yang kutonton sebelumnya dengan "99 Cahaya di Langit Eropa" garapan Guntur Soeharjanto. Oleh karenanya, aku mempersilakan para pembaca untuk menonton sendiri film tersebut dan menikmati scene-scene indah pojok-pojok Vienna dan Paris yang menjadi latar film yang ternyata seri pertama ini. Mungkin saranku, janganlah menonton kedua film tersebut berurutan sepertiku karena secara tanpa sadar kau akan membandingkan kedua film tersebut secara teknis. 

Pesan penting yang sangat kuat kutangkap dari film ini adalah bahwa seorang muslim, dimanapun ia berada, selayaknya berperan sebagai agen Islam yang membawa kedamaian di muka bumi. Seperti kisah Nabi Muhammad SAW yang melanjutkan perjuangan Abu Bakar ash Shiddiq memberi makan seorang Yahudi tua yang tak dapat melihat bahkan menyuapinya meski orang tersebut, yang mengira Muhammad adalah Abu Bakar, tak henti-hentinya memaki-maki sang Nabi ketika beliau tengah memberinya makan. Salah seorang tokoh dalam film, muslimah asal Turki yang sering mendapat perlakuan kurang menyenangkan di Austria, membayarkan makan dua orang turis Inggris yang sebelumnya mengolok-olok Turki dan Islam. Baginya, kebencian tidak semestinya dilawan dengan kebencian karena hanya akan menyulut api. Dia dengan caranya sendiri, justru menampakkan wajah Islam yang damai dan penuh kasih. Bagiku, film ini memberikan keindahannya sendiri yang tidak dapat digambarkan dan dijabarkan dengan kata-kata. Setidaknya, keresahanku sedikit terobati, meski tidak sepenuhnya dilegakan. 

Masih di bawah pengaruh rasa sakit yang kusebutkan tadi, sesampainya di kamar, aku kembali mencari dan mencari apa yang mungkin dapat melegakan hatiku. Sedetik berikutnya, di hadapanku terpampang halaman website tentang tanya jawab antar agama yang justru menyudutkan Islam, perbandingan penulis dengan agama yang dianutnya. Bukannya aku anti dan berhenti, aku malah menuntaskan bacaan panjang tersebut, dan mengarahkan kursorku menyorot kolom "Muhammad". Lagi-lagi aku teringat pada cerita tadi, bahwa dalam pencarian spiritual sang Sahabat yang akhirnya keluar dari Islam itu, berbagai sosok Illahi muncul seperti Yesus, Gandhi, bahkan Budha, namun tidak ada Muhammad di sana. Benar saja, tulisan-tulisan tentang Muhammad dalam website tersebut benar-benar mencitrakan negatif sosok Muhammad yang selama ini kupercaya sebagai teladanku. 

Keraguan dan kegamangan semacam ini pasti pernah dialami oleh muslim di berbagai penjuru dunia pada berbagai era. Bagiku, pertanyaan dan keraguan ini justru memacuku untuk terus mencari. Aku masih mengingat sosok Marina Silvia K. yang melakukan perjalanan spiritualnya justru ke India dan Thailand, tempat Hindu dan Budha berkembang pesat, serta pertemuan dan interaksinya dengan sahabat-sahabatnya di penjuru Eropa baik yang Kristen, Katholik, Agnostik, hingga Atheis. Segala pengalaman tersebut ia tuangkan dalam dua bukunya "Back 'Euro' Pack: Keliling Eropa 6 Bulan hanya 1000 Dolar" dan "Jingga: Perjalanan ke India dan Thailand Mencari Surga di Bumi". Pertanyaan dan keraguannya justru mengantarkannya pada pengalaman spiritual yang hanya dia yang tahu betapa dahsyatnya. Aku juga masih mengenal sosok Fahd Djibran, penulis yang sekaligus mantan seniorku di kampus dulu, yang berhasil menuangkan keindahan Islam dalam karya-karyanya yang tidak menggurui dan dibalut dengan logika yang kuat. Orang-orang seperti mereka tentunya telah menempuh perjalanan spiritualnya masing-masing hingga akhirnya teguh pada keyakinannya dan, meminjam istilah dalam film yang baru kutonton, menjalankan perannya sebagai agen Islam yang tak perlu diragukan lagi. 

Sebenarnya aku ingin berterima kasih pada Bung Karno, Marina Silvia K., Kang Fahd, dan siapapun yang berhasil menggoyah imanku. Dalam satu malam, kalian berhasil membangunkan serigala putihku yang telah lama tertidur. Aku tidak akan lagi membiarkan langkahku terhenti oleh kekhawatiran dan ketakutan yang tidak benar-benar kuhadapi untuk mewujudkan mimpi-mimpiku. Aku tidak akan lagi berdiam apalagi bersikap kalah ketika Agamaku, Tuhanku, dan Nabiku dipojokkan oleh orang. Aku tidak akan pernah berhenti menjelajah bumi untuk mencari tanda-tanda kebesaran-Nya karena aku ingin tunduk sujudku tidak hanya berdasar pada perintah belaka, namun ada cinta di sana. 

“Love, like everything else in life, should be a discovery, an adventure, and like most adventures, you don’t know you’re having one until you’re right in the middle of it.” 
― E.A. BucchianeriBrushstrokes of a Gadfly


---
Sumber gambar:

September 27, 2013

Pungguk


"Bagaikan pungguk merindukan bulan". 

Peribahasa selalu mengena sekaligus menohok saat konotasi dan kiasan terdengar begitu denotatif dan nyata. 

Ah, si Pungguk harus berhenti menatap idolanya, sang Bulan, sebelum dia tergerak melakukan upaya. Rasa sakitnya bukan ketika terjatuh, namun ketika sesal menyusulnya. Sesal karena dia tahu kapasitasnya yg tak akan pernah menjangkau bulan namun tetap diupayakannya. Maka jatuh hanyalah kepastian yg menunggu, dan penyesalan telah mencoba, sedikit banyak berbunga malu. Apalagi ketika sang Bulan tak sedikit pun mendapat impresi dari upayanya.

Jauh di lubuk hatinya, dan ini yang paling menyakitkan di antara semuanya, si Pungguk telah lama mengetahui bahwa sang Bulan tak pernah mengharapkannya melakukan upaya. Namun tetap saja dia berupaya.

Oh Pungguk, dia harus segera terbangun dan mulai melihat sisi kanan kirinya. Mendongak utk Bulan memang menyenangkan, namun dia sendiri mulai mengeluhkan waktunya yg terbuang sia-sia tanpa mendapat suatu apa. Dia sendiri sadar hidupnya mulai tak berarah dan mungkin banyak gamangnya. Tuhan mungkin saja menyiapkan banyak hal indah lain di sekitarnya, bukan di atas sana.

Diam-diam pungguk menyeka air matanya. Bukan tersebab nasib ia terlahir sebagai pungguk yg tak mungkin menjangkau bulan, bukan pula karena upaya yg akhirhya ia lakukan malah berbuah sesal dan sia-sia, namun karena ia masih saja merindukan sang Bulan.



...

Jakarta, 27 September 2013
12.02

Sumber gambar:
http://sukmaerlangga.blogspot.com/
http://www.deviantart.com/art/Empty-Heart-and-No-Hope-195626922

September 23, 2011

Bulan yang Merindu Sang Hujan


Untuk kamu,
Malam ini diguyur hujan

Menyembunyikan bulan sang pujaan

Meski tak ku jumpaimu tadi siang

Balasan pesanmu cukup melegakan
Setidaknya tak perlu kumerasa diabaikan

Untuk hujan yang malam ini mengguyur,
Kau turun membasahi tanah

Ke seluruh jalan sambil menyebarkan bau basah

Seolah hadirmu mengabarkan resah

Yang nyatanya hadir saat datang kabar tentangnya
Dia yang mengingat namanya membuatku gelisah


Untuk bulan yang sosoknya selalu dia kagumi,
Kau memang absen dari langit malam ini
Tapi kutahu kau hanya sembunyi

Seperti halnya aku yang seringkali memandanginya seorang diri

Dari sudut tak nampak, siap lari saat dia pergoki

Seakan menyapanya perlu ribuan nyali


Untuk kamu yang mungkin merindukan sang bulan malam ini,

Aku tahu kamu tahu bulan tak tengah menghilang

Namun cuaca menjadikan langit serasa ada yang kurang

Sebagaimana hubungan kita hingga sekarang

Jawabmu atas tanyaku tak pernah berpanjang

Sikapmu terhadapku tak pernah cukup terang


Wahai hujan yang kian merintik dan hendak habis,

Hadirmu sekejap namun basah yang kau tinggalkan tak sebentar

Menyisakan genang air serta aroma yang masih menguar

Apa kau tahu betapa waktuku bersamanya tak pernah longgar

Namun memori yang kukecap seolah begitu besar

Ingin sekali kuyakin bahwa rasaku pun menjadi rasanya


Oh bulan yang mulai mengintip,

Kau memang tak memiliki cahaya itu

Namun pesonamu seolah membuatnya terpaku

Tahukah betapa aku iri padamu?

Saat dia mengagumi dan mengagungkan indahmu

Anganku terbang mengandaikan namaku yang dia sebut

Untuk hujan dan sang bulan,

Hadirmu bergantian tak nampak bersama

Seolah dimensi kalian sungguh berbeda
Dalam gelap malam hujan, bulan tentu tiada

Begitupun saat langit benderang cahya bulan, tak ada hujan di sana

Entah mengapa hidup kalian serupa denganku dan dia


Untuk kamu dan hanya kamu,
Mungkin bulan dan aku tak akan pernah sepadan

Namun dirimu sungguh serupa hujan di waktu malam

Dalam munculmu yang tak seberapa, ada sisa rasa yang membekas dalam
Dalam deras yang kau guyurkan, ada kesan yang justru menentramkan

Dan dalam anganku tentangmu, ada bulan yang merindu sang hujan



Jakarta, 23 September 02.57
Jan Phaiz (Setya Nurul Faizin)


~ Ditulis di dalam bus transjakarta saat malam hujan menggunakan ponsel, diselesaikan dan diposting melalui laptop pada dini hari di tengah-tengah shift kerja malam. Takut momennya hilang =P ~

. . .


Sumber gambar:
http://fc03.deviantart.net/fs70/i/2011/130/d/5/braving_the_night_rain_3_by_dannyst-d3g2fzc.jpg

Agustus 17, 2011

Hitam | Putih



Aku pernah menulis tentang dua serigala yang hidup di dalam diriku. Yang satu serigala putih lembut yang setia, yang satu serigala hitam perkasa yang senantiasa mengusik si Putih. Sebenarnya itu adalah perumpamaan yang kugunakan untuk menggambarkan seorang manusia. Makhluk paling sempurna yang diberi keistimewaan berupa sifat baik yang melebihi kebaikan malaikat sekaligus sifat buruk melebihi keburukan setan (Fahd Djibran, Yang Galau Yang Meracau). Sejak kecil istilah "makhluk paling sempurna" sudah kukenal tanpa kutahu pasti apa maksudnya. Beberapa temanku seringkali menggodaku tentang perkara umur karena aku terbilang lebih tua satu tahun di antara teman-teman angkatanku di kampus. Mereka rajin sekali mengingatkan betapa aku yang lebih tua satu tahun dari mereka masih seringkali bertingkah kekanakan bahkan kurang masuk akal atau kurang wajar. Tunggu dulu, apa hubungan dua serigala, makhluk paling sempurna, dan tua? Paragraf pembukaku kali ini memang terkesan random. Tapi percayalah, mungkin ini efek buruk hasil si Hitam yang belakangan telah menjadi begitu gagah dan perkasa.

Pertama, tentang tulisan terdahuluku berjudul "Untitled" yang kutulis pada 9 Oktober 2009. Ketika menulisnya, aku berada pada tempat yang gelap, bukan gelap secara harfiah, namun gelap karena keadaan batinku. Aku yakin setiap orang pernah, apalagi yang telah 'berkepala dua', merasakan suatu kondisi putih dan hitam dalam kehidupannya. Begitupun diriku. Aku pernah menjadi seseorang yang berorientasi pada hal-hal baik dan seolah fokus mengejar hal-hal baik untuk kukerjakan, kuamalkan, kuperbuat bahkan aku pernah mempunyai keinginan untuk menempuh hidup seperti orang suci. Aku pun pernah mengenal satu dosa, yang kemudian tergoda mencoba dosa lain, hingga akhirnya ketagihan dan menjadikan hal dosa tersebut aktivitas rutin yang kulakukan di saat-saat hal baik absen dalam hidupku. Aku pernah sangat bersemangat mengejar peningkatan perbaikan diri dengan mengamalkan ibadah ini dan itu. Aku pun pernah menjadi budak dosa yang seolah tak bisa lari kecuali ada yang membebaskanku atau membeliku menjadi manusia bebas. Oke, mungkin tidak semua orang berkepala dua pernah mengalaminya. Mungkin jauh dalam lubuk hatiku, aku berharap tidak sendiri dalam hal ini. Tapi sekali lagi, ini berkaitan dengan dua serigala yang baik secara sadar atau tidak sadar kupelihara dalam diriku.

Saat tulisan itu kupublish dan mulai dibaca oleh teman-temanku, hanya ada satu komentar yang dari komentarnya kusimpulkan tidak begitu paham dengan maksud tulisanku. Memang, aku menulisnya dengan gaya 'sastra'ku yang tidak bisa dibilang lugas namun tidak pula sastrawi. Yang aku ingat, saat itu, dosa seolah menjadi teman baikku meski ada penolakan dalam diriku. Satu kebiasaan yang tidak bisa dibilang baik (meski bukan pula tindak kriminal) secara rutin kulakukan. Seperti halnya sifat dosa-dosa yang lain, sesal selalu menjadi rasa yang tertinggal lama setelah kepuasan yang hanya sesaat. Namun sama halnya dengan dosa-dosa lain, yang senantiasa mengundang rasa ingin tahu, dan perasaan untuk ingin diulang setelah sekali melakukan. Hanya akal pikiran sehat yang diiringi kebeningan hati yang bisa mencegah manusia melakukan [mengulang] dosa, terlebih dosa yang pernah dilakukan dan memiliki efek kepuasan sesaat. Akhirnya aku sampai pada kesimpulan tersebut hingga berujung pada tulisanku hampir dua tahun yang lalu.

Ya, pada saat itu serigala hitam telah menjadi begitu perkasa setelah berhasil membantai serigala putih hingga terpojok tak berdaya. Namun separah apapun kondisinya, serigala putih (maupun hitam) tak bisa mati dalam diri manusia. Itulah kenapa manusia menjadi makhluk paling sempurna karena diberikan keduanya yang kekal sejak lahir hingga mati. Inilah kepercayaanku hingga saat ini. Seperti apa rupa manusia itu saat menghadap sang Khalik ditentukan dengan bagaimana rupa serigala yang bisa lebih bertahan kuat dan mendominasi dalam dirinya selama hidup. Ketika aku menulis, ada keinginan secara sadar untuk memberikan dukungan penuh pada serigala putih untuk bangkit, untuk mulai melawan dan mendominasi kehidupan di masa mendatang. Dengan penuh kesadaran aku merasa telah menjadi teman baik setan bahkan dengan tanpa keinginanku sepenuhnya. Maka aku mengumpulkan segenap keberanianku untuk menulis, di belakang punggung serigala hitam, mengutuki keberadaannya dan berniat menghancurkannya berkeping-keping. Dengan harapan aku dapat menjalani kehidupan baik bersama serigala putih setelah membuat si Hitam bertekuk lutut.

Namun aku terlalu meremehkan kekuatan si Hitam yang ternyata tak hanya perkasa, tapi juga licik dan cerdas. Satu lagi pelajaran yang bisa kubagikan, saat kau dengan sengaja atau tidak sengaja membiarkan lawanmu tumbuh kuat, jangan pernah berharap dia akan berdiam diri dan tidak menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Begitulah yang terjadi. Secara sadar aku menginginkan pulihnya si Putih agar mampu melawan si Hitam dan kembali mendominasiku. Namun sebelum hal itu bisa terjadi, si Hitam telah begitu mendominasi dan bahkan mampu menyuruhku melakukan ini dan itu, membuatku melawan akal sehatku. Pada titik ini, aku sadar bahwa aku telah menjadi budak dan tawanan si Hitam. Percayalah, keadaannya tidak sesederhana yang bisa dituliskan dengan kata-kata. Kau akan senantiasa berdiri pada ambang kebimbangan dengan akal sehat yang masih hidup dan bekerja namun terkekang penjara membiarkan fisikmu melakukan hal-hal yang jelas-jelas ditolaknya. Pikiranmu senantiasa menginginkan perbaikan dan perubahan untuk dirimu, namun lagi dan lagi kau mengulangi hal yang kau sendiri tahu salah dan tak semestinya kau lakukan. Bahkan pada kondisi terparah, akal sehatmu mulai goyah dan kau pikiran-pikiran si Hitam mulai masuk menginterupsi, menanamkan hal-hal yang bertentangan dengan mulai mempertanyakan hal-hal esensial, bahkan mempertanyakan kebaikan. Percaya atau tidak, aku pernah berada di sana.

Kemudian aku teringat tulisan Fahd Djibran tentang manusia sebagai makhluk paling sempurna. Menurutnya, seseorang bisa menjadi jauh lebih baik dari sifat-sifat baik yang ada atau justru jauh lebih jahat dan buruk dari sifat-sifat buruk yang ada. Aku tidak akan bilang aku telah melampaui keduanya, karena nyatanya aku masih menjadi seorang pemuda biasa saja yang mungkin tidak begitu spesial bagi orang-orang di sekitarku, tidak spesial karena kebaikanku, tidak pula spesial karena keburukanku. Sejujurnya, aku tak berhasrat menjadi salah satunya, meski aku diajarkan untuk menjadi orang baik dan meniru nabi-nabi. Setelah apa yang kualami dan kuperbuat dalam kehidupanku, aku tahu ada kemungkinan untuk menjadi orang yang super baik dan bersih, atau kesempatan menjadi orang yang super jahat dan kotor. Dan nampaknya, mudah saja untuk memilih. Kenyataannya, aku tahu betul bahwa tak satupun dari kedua serigala itu bisa kubunuh atau kutekan hingga benar-benar tak berdaya. Saat ini, si Hitam sungguh berjaya setelah tak hanya membantai, namun mencabik, mendera, meluluhlantakkan si Putih. Tapi jauh dalam hatiku, aku masih merasakan hembusan nafas si Putih meski lemah dan tak beraturan.

Terakhir, tentang umurku. Bukan kebetulan, meski bukan keinginanku pula untuk menjadi orang yang satu tahun lebih tua dalam komunitas pendidikan formalku. Nyatanya, aku terlambat satu tahun untuk masuk dalam lingkunganku sekarang, pun karena pengalaman hidup yang telah kutuliskan sebelumnya di blog ini ("Confession" - Februari 2009). Jika menilik kembali apa yang telah kulalui beberapa tahun ke belakang, semestinya memang aku unggul dalam hal pengalaman dibanding teman-teman sepermainanku. Dan seperti yang selalu aku pelajari dalam hidup, pendewasaan bukanlah soal nominal usia, namun sejauh mana pengalaman demi pengalaman dalam hidup mengembangkan karakter dan pemahaman serta penerimaan seseorang tentang kehidupan. Aku tidak sedang bilang aku telah menjadi orang dewasa karena telah mengalami cukup banyak pengalaman jungkir balik dalam hidup, karena toh seperti yang kubilang di paragraf awal, teman-temanku seringkali mempertanyakan kedewasaanku karena sikapku yang seringkali kekanakan dan kurang masuk akal. Aku tidak menyangkalnya justru aku sedikit bangga karenanya. Setidaknya aku memainkan peranku sebagai orang biasa dengan cukup baik dan tidak membiarkan si Hitam muncul telanjang di hadapan orang-orang di sekitarku. Aku tahu, jika terus kubiarkan dominasinya akan diriku, cepat atau lambat orang-orang akan mengendus betapa hebatnya si Hitam tumbuh kembang dalam diriku, dan tidak mengherankan jika kelak aku dicap 'hitam' oleh orang lain. Jelas aku tidak mengharapkannya.

Biarlah pengalaman hidupku menjadi guru kehidupanku tanpa harus menjadikanku orang yang mencolok karena pengalaman hidup. Biarlah aku menjadi diriku yang sangat biasa dan tidak menonjol seperti sekarang. Biarlah orang-orang menganggapku tak tahu umur atau menganggap remeh karena itu jauh lebih baik ketimbang mereka melihat sisi lain diriku yang aku yakin tak ada yang mau melihat atau sekedar mengetahuinya. Semua orang punya rahasia dalam kehidupannya, dan inilah rahasiaku. Lucu memang mengumbar rahasia gelap dalam blog terbuka yang bisa diakses semua orang. Tapi aku lega setidaknya aku bisa mengungkapkan sisi gelapku sedikit tanpa harus menjadi sosok gelap secara harfiah.

Maka, biarlah aku berperang dengan apa yang telah mendominasi diriku agar kelak aku bisa menguasai kembali diriku sepenuhnya. Tidak akan mudah, dan tidak akan cepat memang. Setidaknya, aku telah menulisnya, dan menulis adalah bentuk lain berikrar, berjanji, meniatkan sekaligus mendeklarasikan keinginan hatiku yang sesungguhnya. Kuharap, dua atau lima tahun kelak, apapun yang terjadi pada diriku, entah telah menjadi hitam luar dalam, tetap pada kondisi berkecamuk abu-abu, atau telah menjadi putih yang menyilaukan, saat kembali kukunjungi tulisan ini, aku ingat pernah menjadi diriku yang saat ini. Dan apapun bentukku kelak, semoga pesan si Putih yang secara tersirat kusampaikan dalam tulisan ini bisa tetap kubaca, entah kembali menjadi penyemangat, atau justru menguatkan diriku yang akan datang. Kuharap tulisan ini menjadi sesuatu, baik untukku saat ini, untukmu, terlebih untukku di masa mendatang.



Sumber gambar:
http://fc01.deviantart.net/fs22/f/2007/352/d/c/black__white_by_XxHayleyXx3.jpg

Juli 14, 2011

From a Fool

Honestly, I didn't expect you to come out directly with direct words. I swear to God it's a big heart attack for me yet surprising in a positive way. And the other fact is, I didn't also feel like you meant that posting to me. That's why I put an '?' on it. Maybe I was too attracted in your previous writings, which means, I did realize, somehow, that those were for me. That's why I response it through a post.

I feel bad. I know I'm not good in shouting out loud my feeling directly, especially towards a person like you. I'm so not good in expressing naturally what comes to my mind through my face, body, or words [spoken], again, especially towards you. And believe me, I'm struggling to fix it, even sometimes I feel like I'm faking it. I want to be just my self, but something convince me to act more than just me. I know it's bad and stupid, but well, maybe I'm just such a fool. Hell I am the most successful fool person in dealing with 'this' thing.

I feel bad. You know, when I read something about you, my mind would be really reactive that I couldn't handle it sometimes. A lot of things, like you said A-Z, came to my mind and I was like picking it from a spread items. Worse, I made an assumption or even string up a perception. Though I knew I need to communicate, something related to my past told me not to. I was frightened of my own self, I was afraid that I took a wrong decision which will carry you away.

I feel bad. Now I know [a little bit more] what's really going on here. I have said my part once in front of you, and you've said yours in all the way you were at that time. We've walked the path even though only an inch far forward and things happened on you, on me, on its own part. Maybe you've been looking for more me, and all I've been giving was just a little, vice versa. Maybe the only thing we need, or I need, is to be more sincere, open, and perceivable(?).

Of course, it's emm if you still want to continue walking on it.

To close this posting, let me write down a lyric which is recently sung in my mind from John Mayer titled "Clarity", and if you can hear me, I'm singing it too ;)

Clarity
by John Mayer

I worry, I weigh three times my body
I worry, I throw my fear around
But this morning, there's a calm I can't explain

The rock candy's melted, only diamonds now remain


Ooh ooh ooh ooh


By the time I recognize this moment

This moment will be gone

But I will bend the light, pretend that it somehow lingered on

Well all I got's


Ooh ooh ooh ooh


And I will wait
to find
If this will last forever

And I will wait to find

If this will last forever

And I will pay no mind

When it won't and it won't because it can't

It just can't
It's not supposed to

Was there a second of time that I looked around?
Did I sail through or drop my anchor down

Was anything enough to kiss the ground?

And say I'm here now and she's here now


Ooh ooh ooh ooh
Ooh ooh ooh ooh

So much wasted in the afternoon
So much sacred in the month of June

How bout you


And I will wait to find

If this will last forever

And I will wait to find
That it won't and it won't

Because it won't

And I will waste no time

Worried 'bout no rainy weather

And I will waste no time

Remaining in our lives together





Picture taken from
http://jjwbhufugp.deviantart.com/art/Clarity-119931993?q=boost%3Apopular%20clarity&qo=37

Dear Sister (?)

I used to think that you realize my existence.
I used to think that what you did back then was somehow signals for me.
I used to be happy, over-excited, and sleep-less when you seemed giving me feedback.
I used to tell a close friend of mine that 'here it is', you weren't a doubt.
I used to talk with my self about you all night.

Then there you were, telling me how what I've been thinking all these time was wrong.
You made me stop expecting, stop wondering, and even stop over-thinking about you-signal-me.
I was screwed a bit that finally I kept telling myself it's just another first step.

Then there you were, ruining my life with your story for being dumped out of someone.
You made me start thinking again, this time in all-negatives-way about 'someone' you mean.
I was confused at first and worrying but then I reminded myself it's just another empty-wishes.

Now I use to think that I'm nothing for you but a stranger.
Now I use to think that what you do in your life has nothing to do with me.
Now I use to be such a "NUMB" person rather than a broken-heart.
Now I use to tell a close friend of mine nothing, especially about you.
Now I use to talk with myself about me, just me.

Then there you are, showing up right in front of my face through your awakened media.
...

What am I supposed to do?
If only you ask me to call you, I'll call.
If only you ask me to show up in front of you, I'll come.
If only you say you want me to make a joke, I'll bring you unforgettable awkward-face of mine to make you laugh, since I'm not really good at jokes.
If only you ask me to smile, I'll give my best.
...

But if you keep in silence, I assume that this 'writing' isn't even read or touched by you, or worse, means nothing for you.

Mei 20, 2011

Sepotong Roti

Jum'at, 20 Mei 2011
15.04 WIB

Tiga tahun yang lalu, di jam-jam ini, sebuah proses terjadi. Lima jam pertempuran batin. Lima jam ketegangan situasi. Berujung pada cerita "Lima" atau titik spasi.

Hari ini, di jam-jam ini pula, sebuah titik balik seakan dimulai. Bukan lagi mematahkan namun menumbuhkan. Berbeda dengan terik tiga tahun lalu di parkiran sekolah, hujan deras mengguyur student lounge luar kampus merah. Ya ampun, tiga tahun telah berlalu sejak keputusan untuk sendiri [lagi] diawali dengan menyisakan luka.

Hari ini, hari-hariku akan dimulai dengan titik baru. Setelah cukup lama berproses di dalam maupun di luar diri, aku berani berkata rindu. Rindu pada saat hati berwarna dari merah, kuning, hingga biru. Rindu mengecap berjuta rasa yang kata orang mampu melebur jadi satu. Yang seringkali membuat orang 'mau tapi malu'. Ya, rasa itu.

Hari ini, mengawali pagi dengan sedikit lesu, aku bertemu dengannya. Rona cemberut yang dia tunjukkan dengan memanyunkan bibir atasnya, seolah menjadi obat pembangkit semangat. Tanpa ragu aku mendekat dan 'merebut' potongan terakhir roti sarapannya. Dari tangannya. Sepotong roti pengusir kantuk dan penyengat saraf bahagia. Aku berlalu dan sekali lagi kutatap senyumnya. Rasa itu ... inikah dia?

Hari ini, sepotong kejadian kecil melalui sepotong roti dan sepotong senyum mengawali tahapan baru hidupku. Mungkin masih terlalu dini untuk melabeli ini dengan nama apapun. Dan yang kubenci dari kata mungkin adalah aku tak pernah benar-benar tahu apakah ia menjadi "iya", atau menjadi "tidak". Yang kutahu, aku bergerak maju. Bukan lagi saatnya memandang masa lalu atau meratap sendu. Aku terlalu rindu.

. . .

Kepada E,
Semoga kau mulai membiasakan diri dengan gaya menulisku yang eksplisit meski bergaya sangat misteri. Aku tak bermaksud mengubah apapun di antara kita untuk saat ini. Aku hanya terlalu bersemangat untuk tidak menulis tentangmu, dan tentang rasa ini. Maka hari ini, biarlah kukecap sensasi demi sensasi, sembari mengurai spasi-demi-spasi. Hingga kudapati, benarkah rasa ini, atau sekedar sepotong roti?

















Sumber gambar:
http://fc00.deviantart.net/fs25/f/2008/118/7/0/Love_Thy_Bread__by_Chelsx.jpg

Mei 08, 2010

Catatan Awal Buku 20

Lembar pertama buku 20 terukir dengan pena-pena emas yang luar biasa indah..




Ucapan dan do'a yang membanjir, di luar ekspektasi..

...
Dua jam telekomunikasi dengan sahabat lama, karib, serta terbaik di Inggris Raya beserta pengalaman listening langsung aksen british..
Isolasi
...

Obrolan pelampiasan rindu bersama keluarga:
Papah&Mamah


Nana


Fira

Riri

And my little Ami..



Kado manis buah kerja sama dengan partner luar biasa Ka Angel dan Ka Dimas utamanya berupa pengalaman bathin capaian indah dan takkan terlupa sebagai Champion BUMC..

Kotak kejutan dari sahabat baru Aril dan Icha yang sungguh berhasil merekahkan senyum sekaligus haru..


SMS menggetarkan hati dari sahabat terbaik Danang..

Berlanjut pada tontonan mendebarkan final basket IBS bersama warga kampus dengan hasil kemenangan untuk tim basket UB..



After all, this indeed is my sweetest birthday ever..
Alhamdulillah.. :)

Maret 20, 2009

Complicated


Kamis, 19 Maret 2009

Hari ini aku menyadari sesuatu. Sebuah perasaan tak bernama dan tak kuhirau belakangan mencuat begitu kuat mengisi hari-hariku. Aku tak akan berani dan mau menamai perasaan tersebut sebagaimana perasaan tersebut tak mau permisi hadir dalam hidupku. Lagipula, tak ada nama untuknya. Kali ini, biarlah aku sepandangan dengan Ayu Utami "bahwa keindahan tak membutuhkan nama, hanya perlu dirasakan".

-------

Kepada M,
Aku tak tahu lagi harus berkata apa, atau mungkin memang ini tak perlu dikatakan. Aku cukup bahagia merasakannya. Kau muncul lagi mengisi hari-hari 'kosong'ku. Kau hadir di tengah dahagaku akan perasaan nyaman dan tentram. Kau tak pernah berubah. Kau sangat memahamiku.

Jujur saja, aku ingin sekali menghapus sebagian masa lalu kita. Bukan seluruhnya, hanya sebagian saja. Sebagian yang berhasil menyakitimu begitu dalam. Sebagian yang meninggalkan luka di hatimu. Sisanya, biarlah menjadi kenangan indah masa remaja kita.

Kau mungkin bingung, kau pasti bingung, apa maksudku menyampaikan kalimat-kalimat di atas. Begitu pun aku. Tak bisa kupahami jalan pikiranku, sehingga dengan mudahnya kuminta kau mendengar ceritaku beberapa malam belakangan. Kau masih seperti dulu, yang dengan sangat baik menjadi pendengar atas setiap kisah maupun keluh kesahku. Aku, dengan keadaanku yang sekarang, dan masa laluku yang seperti itu, seolah tak pernah menjadi alasan untuk membuatmu berubah. Aku, yang pernah menyakitimu begitu dalam, dan kini hadir menjadi pengganggu hari-hari penatmu, tak menyurutkan semangat seorang M yang selalu nampak ceria dan setia pada tawa kerasmu.

Bahkan untuk hal-hal yang mungkin menyakitimu, aku begitu terbuka, terlalu terbuka malah. Entah kenapa, aku masih merasakan nada getir dalam tawa dan kalimatmu tiap kali perbincangan kita sampai pada 'dia nun jauh di puncak gunung'. Lancang sekali aku berpikir jauh tentang hal ini, sungguh tak pantas sebenarnya aku mengatakan hal ini padamu. Untuk itu, maafkan aku...

Dari semua yang kutulis di atas, aku hanya ingin berterima kasih padamu. Jangan ge er. Aku hanya sudah lama ingin menyampaikan hal ini, tapi terhalang ego. Kuharap kau menanggapi positif tulisanku kali ini. Semoga ini tak merubah apapun yang ada di antara kita. Biarlah yang sekarang mengalir apa adanya. Keindahan yang hadir secara alami jauh lebih membahagiakan daripada keindahan yang direncanakan.

-------

Allah, Maha Penyayang lagi Maha Adil. Seburuk apapun kehidupanku sebelum hari ini, telah rapi tersedia kejutan-kejutan penawar itu semua di hari ini, esok, dan seterusnya.

-------

Kepada A,
Tak disangka pertemuan kita yang diwarnai tanggapan negatif dan kekurangpuasan, justru mengantarkan kita pada titik ini. Tak bisa kumengerti alasanmu membawaku berada lebih (terlalu) dekat pada kondisimu. Apapun alasanmu, aku hanya bisa berharap, kau tak terbawa emosi untuk mencurahkan semua isi hatimu pada begitu banyak orang.

Saat ceritamu mengalir di telingaku, aku hanya terdiam. Aku sungguh tak siap untuk mendengarkan sebanyak itu, sedalam itu, sedetail itu. Ada keinginan menghentikanmu, tapi lebih besar lagi keinginan mendengarkanmu. Dua jam lebih kau tumpahkan begitu banyak rasa, selama itulah aku mendapat pelajaran berharga dalam hidup. Secara tidak langsung, obrolan kita kamis malam itu adalah wejangan tak ternilai harganya bagiku. Tentang kehidupan, tentang hidupku, melalui refleksi hidupmu.

Dulu, begitu sering ku mengeluh akan apa yang kumiliki dan kualami dalam hidup. Dulu, sepertinya apa yang kumiliki dan kualami adalah yang terburuk dari yang paling buruk yang ada di dunia. Saat itu, kamis malam itu, martil baja menghantam kesadaranku, akan sebuah fakta kehidupan. Saat itu juga, kau telah mengubahku dari seorang yang cenderung skeptis menjadi lebih mudah menghargai.

Kau, di usiamu yang tertinggal dua nominal dengan usiaku, memiliki sebuah kehidupan yang selama ini hanya kutonton di televisi. Kehidupan yang sangat sulit bagiku. Yang tentunya tak pernah menjadi bagian dari hidupku. Kau, dengan wajah bayimu itu, telah mengalami suatu kondisi yang hanya bisa kubayangkan tanpa benar-benar bisa kurasakan. Pasti sangat menyakitkan jika ku bisa merasakannya.
Kau, dengan segala kesulitan dan rintangan yang menghadang, membuktikan kelebihan yang tak pernah benar-benar kumiliki.

Untuk itu semua, aku salut padamu, sekaligus sangat berterima kasih. Aku bersyukur pada-Nya telah mempertemukanku denganmu sebagai jawaban atas keluh kesah dan sikap kurang bersyukur yang menghiasi hari-hariku selama ini.

Hari ini, perasaanku sangat tidak enak. Walau terkesan berlebih, tapi aku tak bisa memejamkan mataku semalam. Dan sejak subuh tadi, dadaku sesak. Perasaan tidak enak seperti ini jarang sekali terjadi padaku, apalagi tersebab oleh orang lain. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku hanya bisa berdo'a, mendo'akan semua ini segera berlalu bagimu, memohon agar Dia tak meninggalkanmu barang sedetik. Hingga aku mengetik tulisan ini, perasaanku masih tak keruan. Bukan apa-apa. Aku hanya tak rela kau kalah sebelum bertindak. Kumohon, lakukan sesuatu. Setidaknya, jangan pernah berani lari sebelum kau berusaha menjalankan peranmu. Walau sulit sekali bagimu, dan mudah bagiku untuk bicara. Walau aku pernah bilang, mungkin tak akan bisa sanggup menghadapi situasi seperti yang kau alami. Aku tak akan sudi berdiam diri atau malah lari tanpa melakukan apapun sebelumnya. They really love you, just trust it, or prove it.

-------

Kepada M & A,
Entah kenapa aku berani menulis ini semua. Yang kutahu, 'complicated' sangat sesuai menggambarkan posisiku. M yang pernah begitu dekat denganku dan hampir tak pernah menyakitiku, A yang hadir menyuguhkan siraman nasihat kehidupan untukku sekaligus menjadi sosok adik yang tak pernah kumiliki, aku berada di antaranya, di antara lika liku kehidupan pribadi kalian.

Aku tak pernah ingin berada di posisi ini, sungguh. Tapi aku telah berada di sana. Tak ada yang bisa kuperbuat memang, tapi tak mungkin rasanya ku berdiam diri sepenuhnya. Satu hal yang perlu kalian mengerti dan yakini, aku sangat bahagia mengenal kalian, menjadi bagian dari hidup kalian. Aku sangat mengagumi kalian dengan segala apa yang kalian hadapi dan miliki. Aku yakin, Allah pun menyiapkan hal luar biasa untuk kalian di depan sana. Tinggal bagaimana kita tidak mengambil langkah yang memperpanjang jarak kita kepada hal luar biasa di depan sana. Percayalah...




Sumber gambar:
http://urban-khaos.deviantart.com/art/complicated-13819573

Februari 23, 2009

Confession


Belakangan hidupku tak berjalan 'sebagaimana mestinya'. Rencana hidup yang kususun jauh hari sebelum hari ini, berantakan sudah. Proposal masa depan yang telah rapi terbukukan dalam benak, berserakan entah. Inikah akhir hidupku?

...

Dulu dengan berapi-api, kuajukan daftar keinginan pasca-SMA ke orangtua. Dengan gaya penuh percaya diri pula, kutambah penyedap mimpi dan asa yang mungkin tergapai setelah meraihnya. Ayahkku, tak usah diragu, pasti mengagguk setuju, asal itu yang kumau. Ayah selalu begitu, sedari dulu, mendukung langkahku. Sementara ibu diam sejenak, duduk terhenyak, tak ada mencak-mencak. Ibu memang tak lunak, tak pula buatku sesak, tapi bijak.

Dulu dengan semangat membara, kudatangi ayah dan ibu, akan kabar gembiraku. Satu langkah berhasil kutapaki. Hasil ujianku membolehkanku meraup ilmu sastra yang kudamba, di universitas ternama pula. Ayah mencium pipiku, dan kudapat senyum ibu. Namun hidup mulai bekerja, maksudku, hidupku. Kehidupan yang sesungguhnya, mulai menyapa. Tak dapat kuinjakkan kaki, di tanah impian yang sejatinya t'lah kuraih.

Dulu dengan tekad membulat, kupasang senyum terindahku, untuk ayah dan ibu. Pertanda tak sedikitpun aku menyalahkan mereka. Bahkan proposal lain t'lah usai kususun cukup dalam semalam. Ini tentang hidupku, lagi-lagi. Ayah sedikit meragu, bukan padaku, dan kubilang padanya "bukan salahmu". Ibu tak sesaat dalam diam, dia menatapku dalam, "percayalah" bisikku, "ibu tak boleh muram".

Dulu dengan keyakinan tanpa beban, kusodorkan apa yang telah kudapatkan. Hanya demi mereka, batinku. Ilmu Hubungan Internasional di universitas Islam, tak kalah nama atas yang lain. Senyumku hanya karena senyum mereka, atau mungkin keadaan. Mimpiku tersusun hanya untuk mereka, atau mungkin keadaan. Aku belum menyadarinya. Hanya perlu menjalaninya.

Kemarin dengan kehampaan, aku pulang dari perantauan. Tak ada lagi kalimat berapi-api, atau semangat yang membara, atau tekad yang bulat, bahkan keyakinan dalam diri. Aku berdiri di hadapan ayah dan ibu, dengan apa adanya, begitu saja. Ayah kini yang diam, tak berdaya dalam muram, auranya kelam. Ibu mengangguk tenang, seolah badai tak pernah datang, bahkan seperti menang. Aku menangis, ayah mengerti, ibu pun berdiri. Aku meratap, ayah berharap, ibu mulai berucap. Dan saat itulah, detik itulah, hidupku berubah. Maksudku, caraku memandang hidup berubah.

Sekarang, tak lagi kusandang, status mahasiswa yang agung dipuja. Bukan ku tak bangga, bukan pula ku kecewa, melainkan belum waktunya. Bukan tentang waktu yang tepat, karena tak ada waktu yang tepat, yang ada tindakan yang tepat. Ini memang saatnya kulakukan hal lain, hal ini, yang sekarang kuhadapi.

Sekarang, tak ada mata kuliah menghiasi hari-hariku, atau teman aktivis dengan seabrek kegiatan. Bukan maksud hati meninggalkan, apalagi menyia-nyiakan, hanya sebentuk perpisahan. Begitulah esensi pertemuan, untuk sebuah perpisahan, keabadian bukan milik makhluk Tuhan. Sudah semestinya kuisi hari-hariku dengan hal lain, hal ini, yang sekarang kuhadapi.

Sekarang, sedang kumulai hidup baru, di bawah langit yang biru. Aku berdiri di depan pintu sambil menatap hidupku yang baru. Satu hal yang kutahu pasti, aku tak pernah sendiri*. Tak ada waktu untuk sesal, tak pula kuingin membual, hidupku masih normal. Ini tentang hidupku, kehidupan, dengan segala apa yang dirahasiakannya. Ada banyak hal dalam hidupku yang tak berjalan sebagaimana mestinya. Tapi saat kutatap langit luas, hal itu tak berarti apa-apa*.

Sekarang, pertanyaan menghujaniku, sedikit mengganggu namun kubersyukur tentu. Walau tak jujur kumenjawab mereka, bukan berarti ku mendusta, apalagi tak percaya. Walau kadang ku suka bergurau, tak berarti ku tak hirau, ku hanya tak ingin menjadai kacau. Kawan-kawanku adalah nafas semangatku, perhatian mereka adalah pemacu energiku, jadi tak mungkin mereka hanya berlalu. Untuk mereka yang begitu besar perhatian padaku, namun begitu kecil jawabku, maafkan aku.

...

Belakangan hidupku tak berjalan sebagaimana yang kuinginkan. Rencana hidup yang kususun jauh hari sebelum hari ini, berantakan sudah, tapi tak pecah. Proposal masa depan yang telah rapi terbukukan dalam benak, berserakan entah, namun tak punah. Ini bukan akhir hidupku. Justru inilah awal hidupku, yang sesungguhnya ...


*diambil dari lirik lagu Jepang berjudul Sangatsu Kokonoka atau dalam bahasa Inggris berarti March 9 yang telah diterjemahkan.




Sumber gambar:
http://orriel.deviantart.com/art/Intersection-37696510

Januari 12, 2009

Melawan Kenyataan dengan Tindakan Nyata


Ketika pertama kali Israel meluncurkan serangan udara ke jantung Gaza City dan diikuti serangan udara lain secara bertubi-tubi hingga beberapa hari berikutnya, aku seperti melihat kenyataan dalam mimpi, atau melihat mimpi dalam kenyataan. Entahlah. Hampir tak bisa kubedakan.

Sesaat, tubuhku yang menyaksikan berita aktual di televisi seperti lenyap dari kehidupan nyata dan terjebak entah di mana. Hanya ada aku yang mematung dan kotak elektronik yang menayangkan rekaman sebuah kota pemukiman padat penduduk beserta ledakan demi ledakan yang tak terhitung jumlahnya. Pada titik ini, aku menganggap diriku sedang bermimpi. Mimpi yang memberikan gambaran nyata yang terjadi di dunia riil.

Sesaat berikutnya, sekonyong-konyong aku kembali ke ruang tempat televisi tadi berada lengkap dengan teman-teman asrama yang tengah menonton bersamaku saat itu. Aku mengutuki diri sendiri bahwa aku terjaga. Tidak sedang bermimpi. Namun logikaku tak bisa menerima apa yang kusaksikan. Gumpalan awan panas hasil ledakan bom-bom mortil Israel di beberapa titik di Palestina seperti sebuah mimpi. Sangat tidak masuk akal walaupun sangat mungkin. Seperti menonton "Ripleys, Believe it or Not!".

Mari kita runut kembali dari awal (sejauh awal yang bisa kujangkau tentunya). Konflik Israel-Palestina memang tak pernah absen sebagai konflik terpanas di Timur Tengah yang panas, bahkan di bumi yang tengah memanas pula. Setelah melalui serangkaian perang dan perundingan tiada akhir, siklus perang kembali bergulir. Namun kali ini berbeda. Berbeda sama sekali.

Bagaimana tidak. Serangan Israel kali ini kelewat brutal, frontal, dan represif. Setelah diawali dengan serangan udara berkali-kali, Israel melanjutkan serangan darat tanpa ampun. Tak hanya itu, HPI (Hukum Perang Internasional) yang telah lama menjadi norma perang dan dijunjung dunia internasional, tak sekedar dilanggar tapi diaduk-aduk, diacak-acak, bahkan diinjak-injak. Target serangan bukan hanya markas militer, transportasi perang, artileri, atau gudang persenjataan, melainkan rumah penduduk, sekolah, rumah sakit, dan tempat-tempat umum yang dipenuhi warga sipil lainnya. Bahkan Israel menahan bala bantuan dalam bentuk apa pun yang telah menumpuk dari segala penjuru. Israel seolah membiarkan para korban yang membutuhkan pangan dan obat menderita untuk menjadi tambahan korban tewas berikut dan berikutnya. Sementara alasan atas semua tragedi dan penderitaan di Gaza City adalah serangan bom lontar Hamas yang ibarat hanya lemparan batu yang mengenai satu dua penduduk sipil Israel. Sama sekali tak sebanding dengan bom-bom Israel baik di darat maupun di udara yang menewaskan lebih dari 700 orang dan ribuan terluka termasuk wanita dan anak-anak. Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi.

Dunia gempar sudah pasti. Kecaman datang silih berganti baik dari tokoh perorangan, atas nama negara, atau organisasi internasional. Pernyataan pedas dan pahit terhadap kebiadaban Israel bak berondong yang telah matang berkeletuk dalam panci. Hampir semua pihak mengutuk, menyumpah serapah, dan melaknat tindakan Israel yang keji. Obama sebagai aktor dunia yang sedang naik daun pun angkat bicara setelah bungkam beberapa hari. Walaupun pernyataannya abu-abu tak pasti. Tak ketinggalan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut andil dalam adu caci maki. Lalu apa? Berpengaruhkah? Apa arti kecaman untuk bangsa yang telah tutup telinga? Apa makna sumpah serapah untuk negeri yang begitu keji? Apa guna pinta paksa untuk kaum yang seolah kebal hukum? Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi.

Gerakan kemanusiaan serempak ambil tindakan dari berbagai penjuru dunia. Dari pangan, sandang, obat-obatan, hingga bantuan medis dan bahkan relawan perang. Kotak-kotak bertuliskan "Solidaritas untuk Palestina" berhamburan di mana-mana memohon uang receh serelanya. Rekening-rekening bank atas nama "Solidaritas untuk Palestina" pun dibuka dan menanti uluran tangan memberi. Namun kendala justru tampak begitu nyata. Sangat minim bantuan negara-negara Arab di sekitar Palestina. Tapi kenapa? Tidakkah mereka masih merasa satu buyut dengan Palestina? Sudahkah mereka tunduk pada ego dan rasa takut akan dunia? Adakah indikasi benih-benih penyakit berbahaya kaum muslim mulai menyemai? Kecintaan berlebihan akan dunia dan ketakutan akan kematian. Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi.

Perang dua wilayah secara terbuka, brutal, dan tidak berimbang; hukum perang dilanggar sejadi-jadinya; darah tak berdosa menggenang tak terkira banyaknya; nyawa penerus bangsa diberangus tanpa rasa; mayat bergelimangan entah pria maupun wanita; bala bantuan hampir mustahil diterima; reaksi dunia sekedar melalui suara bukan langkah nyata; bahkan sanak saudara tak kunjung bangkit turut membantu walau terjadi di depan mata. Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi, belum dapat ku menjawabnya. Aku tak mau bermimpi bahwa ini adalah nyata; pun tak ingin mengatakan itu mimpi yang kulihat di dunia nyata. Membingungkan bukan?

Sama dengan fakta-fakta membingungkan di atas. Bagaimana serangan seterbuka itu bisa dengan langgeng berlangsung hingga sekarang? Bagaimana mungkin dunia internasional hanya berkata-kata dan tak melakukan apa-apa? Dan bagaimana bisa dunia Islam di sekitar Palestina tak banyak ambil langkah? Benarkah Israel sehebat itu? Atau dunia terlalu tolol dan begitu mudah dibungkam bahkan dipecah belah oleh sebuah kekuatan yang merupakan bagian dari dunia itu sendiri? Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi, aku tak mengharapkan keduanya. Dan aku akan mengakhirinya sekarang juga.

Aku harus bertindak. Aku harus berbuat. Sungguh. Tapi apa?

Beberapa hari sejak serangan pertama Israel, rekan-rekan aktivis mahasiswa di kampus menyerukan bentuk keprihatinan mereka akan tragedi di Gaza City. Selain orasi dan kotak-kotak amal, seorang mahasiswa memegang poster besar yang saya lupa tulisannya. Fokus saya waktu itu tertuju pada gambar-gambar di bagian bawah poster. Tidak seluruhnya, tapi sebagian besar aku mengenalnya sebagai logo sebuah merek atau perusahaan. Tanpa perlu menyebut merek, ada produk minuman bersoda, air mineral, snack ringan, produk kecantikan dan kebersihan, restoran cepat saji, hingga merek handphone. Semua itu sangat familiar dan sering kutemui di kehidupan sehari-hari. Bahkan beberapa pernah atau sering kupakai dan kugunakan.

Sang Mahasiswa yang memegang poster tersebut dengan senyumnya yang cukup ramah berkata: "Diketahui profit perusahaan-perusahaan ini sebagian disumbangkan untuk biaya perang para zionis Yahudi". Lalu aku tahu arah kalimat tersebut.

Pada awalnya aku hampir tidak bisa menerima alasan apa pun yang mengatakan "Jangan pernah gunakan produk Yahudi karena berarti kita mendukung aktivitas Yahudi termasuk perang di Palestina oleh Israel!". Pada awalnya otakku menciptakan spekulasi-spekulasi dan berbagai penyangkalan seandainya aku mengikuti instruksi tersebut. "Produk-produk itu begitu dekat dan sangat familiar. Bagaimana mungkin aku berhenti menggunakan produk 'A'? Setahuku hampir semua produk kebersihan dan kecantikan yang selama ini kugunakan berlabelkan 'A'. Lalu aku menggunakan apa? Snack-snack dari produk 'B' hampir semua kusuka. Nikmat dan sehat. Aku tak mungkin berhenti menikmati snack-snack tersebut. Apalagi air mineral 'C'. Mana mungkin aku disuruh berhenti menggunakan merek tersebut? Lalu aku pulang dengan kesimpulan "pasti ada jalan lain" untuk turut membantu Palestina.

Hari demi hari berganti. Merek demi merek Yahudi menyambangi badan hingga perutku. Perang pun masih bergulir menambah liter darah yang mengalir. Dan aku masih tak menemukan suatu langkah konkret untuk ikut andil dalam upaya membantu saudara-saudara seiman di Palestina. Hingga suatu hari seorang dosen yang cukup kritis dan brilian dalam pemikiran akan sebuah kasus sekaligus perumusan jalan keluar menyatakan sikap tegasnya akan produk-produk tersebut.

Teman, aku pernah membaca sebuah tulisan yang mengatakan bahwa manusia lebih sering menyibukkan diri sendiri dengan kemungkinan-kemungkinan dan berbagai bentuk spekulasi sebagai akibat suatu tindakan ketimbang menilik kembali maksud dan tujuan tindakan tersebut sebagai respon akan kenyataan-kenyataan yang ada. Seperti pada kasus global warming, ketika ada imbauan untuk mengurangi bahkan menghentikan penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak yang mengeluarkan gas emisi (sepeda motor) dan menggantinya dengan sepeda atau jalan kaki, respon spontan yang muncul adalah pemikiran kemungkinan yang spekulatif akan hasil dari tindakan tersebut. "Mana mungkin berhenti menggunakan kendaraan bermotor? Jika semua orang di seluruh dunia memilih menggunakan sepeda atau jalan kaki, maka perusahaan kendaraan bermotor di seluruh dunia akan bangkrut. Jika itu terjadi, pasti akan ada krisis besar karena perusahaan kendaraan bermotor cukup signifikan dalam roda ekonomi dunia. Belum lagi pengangguran yang akan meledak tiada ampun jika perusahaan-perusahaan tersebut tutup". Akhirnya, teriakan-teriakan serupa bagaikan lolongan anjing yang tak perlu diperhatikan. Buktinya, produksi sepeda motor tetap dan bahkan terus meningkat. Jika ada yang mengikuti anjuran tersebut, akan dikucilkan dan dianggap aneh oleh mata dunia.

Padahal yang dibutuhkan bukan itu, melainkan tindakan nyata. Kita tidak akan melakukan apa-apa jika otak kita dipenuhi spekulasi akan apa yang belum tentu terjadi. Kita hanya makin memperparah kenyataan yang sudah terjadi yang butuh tindakan segera. Untuk dua paragraf terakhir ini, inspirasiku adalah tulisan di blog Dewi Lestari (http://dee-idea.blogspot.com/search/label/Nature-Green-EcoLiving) berjudul "Dua Pertanyaan yang Berarti".

Melalui dua inspirasi itulah (pernyataan dosen dan tulisan di blog) aku mulai bertindak kecil-kecilan. Dimulai dengan teliti ketika membeli. Ya, temanku cukup kesal melihat tingkahku yang mengamat-amati produk-produk yang akan kubeli dan seringkali menanyakan "Ini produk dalam negeri kan?" Di sisi lain, aku justru menemukan titik terang dari keraguan tak beralasanku selama ini. Karena setelah diperhatikan dengan seksama, tidak semua produk yang ada di pasaran itu produk impor atau dari perusahaan multinasional (atau seperti yang diserukan sahabat-sahabat mahasiswa, produk Yahudi). Cukup banyak pula produk dalam negeri yang berkualitas dan tak kalah dengan produk-produk yang menguasai periklanan Indonesia itu. Memang benar, dengan tindakan kecil, kita akan tahu hal-hal baru yang selama ini tak sempat terpikirkan atau dianggap mustahil.

Maka melalui blog ini, dengan segala keterbatasan yang kumiliki, aku hanya ingin mengajak diriku sendiri, ya benar-benar diriku sendiri. Aku tak bermaksud mengajak siapa pun. Perkara pembaca ikut terpengaruh dan mengikuti ajakanku nantinya, maka kuanggap hal itu sebagai dampak positif.

Aku mengajak diriku sendiri, untuk tak sekedar mendo'akan namun berperan aktif dan nyata dalam membantu Palestina dan memerangi kedzaliman yang dilakukan Israel dengan berkomitmen mencintai produk dalam negeri, dan sebisa mungkin menghindari penggunaan produk impor, apalagi yang terdaftar sebagai produk pendukung gerakan zionisme Yahudi. Aku percaya dan yakin, niatku akan secara langsung berperan walau kecil. Sekali lagi, kita butuh langkah konkret, bukan kalimat manis.

Sebagai penutup, aku akan menegaskan sekali lagi, aku tak sedang bermimpi, tak pula menyaksikan mimpi. Aku sadar sepenuhnya dan menyaksikan kenyataan, bukan dalam mimpi, tapi dalam dunia nyata. Maka yang kubutuhkan bukan angan dan mimpi semata, tapi tindakan nyata.











Sumber gambar:
http://images.epilogue.net/users/straubart/Dreaming_tree.jpg
http://mpjc.org/images/palestine.jpg
http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/04/anak-palestina-korban-israel.jpg
http://3.bp.blogspot.com/_F4jkkfjqfSw/RfjRhDh8xPI/AAAAAAAAACM/UpYmvdS-5Rs/s1600-h/pengungsi+di+irak.jpg
http://qitori.files.wordpress.com/2007/07/palestina1.jpg

Desember 22, 2008

妈妈, 我真的爱你



"Halo?"

Terdengar suara lembutmu dari balik telepon genggamku. Suaramu begitu dekat, begitu nyata. Mendayu namun tak berlebihan. Melambungkanku pada sebuah kotak usang di sudut kepala, kenangan.

Aku membiarkan waktu seolah mengambang di udara. Begitu banyak kata mutiara telah kubaca, begitu sering kusimak kalimat-kalimat cinta, tapi lidahku mengeras. Bibirku seperti merekat satu sama lain oleh lem alteko. Dan napasku terengah, tak beraturan. Aku mematung.

"Halo?"

Keterlaluan. Hingga detik ini, kubiarkan semua penghalang itu berkuasa. Aku bahkan tak sanggup memikirkan kalimat lain. "I love you", "Aku sayang kamu". Kalimat-kalimat itu menguap dalam diam.

Oh, seandainya kau tahu bagaimana hatiku meledak-ledak oleh cinta. Bagaimana otakku meleleh tanpa ampun karena panasnya cintaku yang membara. Aku bahkan tak bisa memikirkan perumpamaan yang lebih dahsyat lagi dari itu.

Tapi di sisi lain, ada keraguan dalam diriku. Bukan. Bukan aku meragukanmu. Aku justru sangat yakin cintamu padaku. Aku tak perlu merengek kata "cinta" yang tak pernah sekalipun kau ucapkan selama ini. Aku tahu cintamu tak berwujud kata "cinta". Karena cinta itu kurasa senantiasa. Sungguh, aku tidak pandai menggombal. Dan aku tak perlu membual padamu. Ini tentang cinta kita. Cintamu dan cintaku. Itulah yang kuragukan.

Adakah cintaku sudah sepadan dengan cintamu padaku? Ah, aku tak sanggup memikirkan bentuk-bentuk cintamu. Tak ada kata "cinta" di antara kita. Tapi ada cinta di antara kita. Itu kuyakin pasti. Begitupun kau. Iya kan? Tapi aku merasa kerdil. Di sini, dalam diamku ini, aku berusaha menandingi cintamu dengan kata "cinta" itu sendiri. Tadinya kupikir, kata "cinta" yang seolah tabu bagi kita, akan menisbatkanku sebagai pecinta sejati. Dan dengan begitu, aku patut berbangga hati karena telah mencintaimu sehebat yang aku bisa. Tapi, ah, kenapa selalu ada tapi. Benarkah itu?

Di sini, aku malu pada diriku sendiri. Apa yang kupikirkan? Di sana, kau menantiku. Menanti kalimat dariku. Rasulku akan marah padaku jika membiarkanmu mengulang sapaanmu hingga tiga kali. Sesaat sebelum kau rampung dengan "Halo"mu yang ketiga ...

"Hal ... "
"Selamat Hari Ibu, Mah ... "
"Iya. Sudah sholat?"


aku mencintaimu...
愛しています
I love you...
. . . أحبك

je t'aime
ich liebe dich

मैं आपसे प्यार करता
ik hou van jou
ti amo
te iubesc
我爱你
te amo

mama...





sumber gambar:
http://imagecache2.allposters.com/images/pic/CAMB/27194~A-Mom-is-Love-Posters.jpg

Desember 15, 2008

karena itulah, yang menjadikannya indah ...


HUJAN

Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu

Segalanya seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak 'kan berubah

Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri

Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air

Aku bisa tersenyum
Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku


By Utopia


kenangan-kenangan itu ...
ingatkah kau?

senda gurauku yang
tak lucu bagimu
tak kupedulikan
karena
ada kau dan aku

gelak tawaku yang
hambar bagimu
tak penting bagiku
karena
ada kau dan aku


cerita-ceritaku yang
membosankan katamu
tak apalah
karena
ada kau dan aku

karena itulah
yang menjadikannya
indah


itu saja

...

"... selalu ada cerita
yang tersimpan di hatiku
tentang kau dan hujan
tentang cinta kita
yang mengalir, seperti air ... "






sumber gambar:
http://bp2.blogger.com/-Zoiwo-IFVQ/RoLQ8LueofI/AAAAAAAAAjc/nr5-IihVs78/s1600-h/alone+in+the+rain.jpg
http://www.realtater.com/music/raindrops.jpg