Tampilkan postingan dengan label kontemplasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kontemplasi. Tampilkan semua postingan

April 24, 2015

Catatan Pembuka



"I'm afraid, if I don't choose a path soon, life will choose one for me."
― Human of New York (Facebook Page)

Kalimat tersebut meninggalkan kesan istimewa saat kali pertama aku membacanya. Tidak hanya membuatku mempertanyakan jalan hidup yang telah dan sedang kulalui, angan dan mimpi yang seakan menua, muncul kembali. Hebatnya arus kebutuhan yang telah menggilas sadis bumbu-bumbu kehidupan, menyisakan hanya lajur demi lajur rutinitas yang diam-diam justru mematikan.

Aku menyusuri waktu, kembali ke masa enam tahun lalu, saat awal kedatanganku di kota rantau yang jauh dari ayah ibu. Aku datang dengan bekal mimpi, cita-cita, angan, khayalan tingkat tinggi, dan tak sedikit fantasi. Tak peduli setinggi apa mereka semua, kutuliskan satu demi satu pada selembar kertas baru. Dan rasanya, belum satupun mewujud sesuai bayanganku dulu.

Hidup memang penuh kejutan dan ketidakpastian. Sedemikian rapi dan rinci alur yang kubuat untuk ceritaku, hidup selalu punya cara untuk membelokkannya, menukiktajamkannya, bahkan meremukkannya berkeping-keping. Tugas manusialah untuk memaknai tiap kejadian, untuk lalu berreaksi, bukan sekedar merutuk dan meratapi. Sayangnya, tingkat kesadaran ini lebih sering mati suri, mungkin juga akibat rutinitas sehari-hari.

Aku, di penghujung usia 24 tahun, jelang seperempat abad kehidupanku, memutuskan untuk berreaksi pada gejala demi gejala aksi yang hidup berikan padaku. Aku, calon sarjana manajemen dengan masa studi lebih lama dari semestinya, yang lebih tertarik mendalami dunia kepenulisan dan seni lukis, memutuskan untuk berhenti diperdaya hidup, dan menentukan sendiri nasib demi nasib yang tak pernah menentu. Lebih pastinya apa itu, nanti kalian akan tahu.

Untuk segala risiko dan tantangan yang menanti di depan, aku nyatakan kesiapan, meski dengan sedikit ketakutan. Semoga kesiapanku dapat menjadi obor semangat saat menghadapi masa-masa sulit dan rasa takutku bisa menjadi pengingat di saat keadaan di atas awan, bahwa ketidakpastian itu abadi, maka tak sepantasnya kita congkak dan arogan.

Maka izinkan kututup catatan pembuka ini dengan satu kutipan favoritku, dari seorang penulis hebat yang sudah jauh lebih dulu memahami potensi keindahan sekaligus akal busuk kehidupan, maka dengan penuh kesadaran ia turut berperan aktif dalam memegang kendali hidupnya, sekecil apapun itu.

“There is only one thing that makes a dream impossible to achieve: the fear of failure.”
― Paulo Coelho, The Alchemist

Desember 19, 2013

Dari Soekarno hingga Muhammad

“Sometimes beautiful things come into our lives out of nowhere. We can't always understand them, but we have to trust in them. I know you want to question everything, but sometimes it pays to just have a little faith.” 
― Lauren KateTorment


Berawal dari rasa penasaranku setelah membaca ulasan seorang teman tentang film karya Hanung Bramantyo yang beberapa hari lalu mulai tayang di bioskop, malam ini berakhir dengan dua buah film Indonesia yang kutonton secara maraton: "Soekarno" dan "99 Cahaya di Langit Eropa". Tulisanku kali ini bukanlah ulasan secara mendetil tentang kedua film tersebut, melainkan catatan pribadi tentang kesan dan pengalaman yang timbul usai menonton kedua film tersebut dikaitkan dengan kejadian yang kualami dalam kehidupanku belakangan. 

Baiklah, kita mulai dari "Soekarno" yang berhasil membuatku menitikkan air mata dan beberapa kali terharu berkat racikan adegan, dialog, music score, dan keindahan gambarnya. Hanung Bramantyo menunjukkan kelasnya dalam dunia perfilman melalui karya terbarunya ini. "Soekarno" bercerita tentang perjuangan sang Proklamator Indonesia, presiden pertama RI sekaligus pencetus Pancasila, Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pelajar yang benar-benar membaca buku sejarah dan para sejarawan pasti setuju bahwa film ini hanya menceritakan sekelumit sepak terjang Bung Karno di Indonesia. Namun adegan demi adegan yang ditayangkan dalam alur cerita film cukup menggambarkan seorang Bung Karno yang pandai menarik hati rakyat melalui pidato-pidatonya, cinta pada tanah air dan rakyatnya, tidak takut pada penjajah, serta mudah jatuh hati pada perempuan. 

Setelah dua jam lebih dimanjakan dengan visualisasi mengagumkan perpaduan akting ciamik para aktor, pilihan apik tempat dan gambar yang mewakili latar waktu cerita, dialog-dialog cerdas, kuat, dan pada beberapa adegan menggetarkan hati, serta keindahan music score yang classy namun tidak membosankan, pikiranku tertaut pada satu adegan di dalam mobil. Bung Hatta 'mempertanyakan' dirinya sendiri (dan Bung Karno yang ada di sampingnya) apakah mereka siap memimpin Indonesia yang begitu besar dengan banyaknya penduduk yang ada, apakah mereka dapat menjamin di masa mendatang tidak terjadi kesenjangan antar daerah di Indonesia dan mereka dapat mengelola kekayaan Indonesia dengan baik hingga menyejahterakan rakyatnya. Setelah akhirnya Bung Karno menjawab tegas "Siap!", dia menambahkan yang kurang lebih begini, "Lebih baik kita yakin dan melakukan sesuatu meski pada akhirnya mungkin gagal atau salah, daripada bersembunyi di balik kekhawatiran dan terlalu takut untuk melakukan apa-apa". 

Diam-diam aku tersentak, tidak hanya oleh dialog padat yang heroik dan penuh arti tersebut, namun oleh alam sadar dan ingatanku akan pengalaman hidup yang tengah kuhadapi. Dalam enam bulan terakhir, aku menjalani hidup seolah bersembunyi dari kekhawatiran dan ketakutan-ketakutan yang aku sendiri tak pernah hadapi langsung, tentang masa depan, tentang mimpi-mimpiku yang dianggap kecil dan kurang berarti, tentang langkah yang akan kutempuh. Aku memilih berdiam dan menunggu apa yang akan aku temui dan dapatkan, bukan maju untuk mengambil langkah-langkah sendiri dan mencoba meski mungkin gagal atau malah salah. Bahkan ketika akhirnya aku sadar dan mulai menyusun keberanianku untuk beranjak dan menyingkirkan tembok kekhawatiran itu, dengan mudahnya aku kembali ke balik tembok hanya karena dianggap "sok tahu" dan sombong. 

Belum hilang sensasi sentakan adegan tersebut, tiba-tiba pandanganku tertuju pada poster film "99 Cahaya di Langit Eropa". Ketika kutanya pada sahabatku yang ternyata sudah menonton film tersebut, dia terdiam sejenak untuk akhirnya mengekspresikan bagaimana film tersebut dapat membuatnya makin mencintai Islam. Lagi-lagi sebuah ingatan menyesak keluar dan cukup menyakitkan, yakni ketika tiada angin dan hujan tiba-tiba aku dihadapkan pada pertanyaan "Apa pendapatmu tentang Allah juga mungkin salah?" Pertanyaan yang diawali dengan pertanyaan pembuka "Tahukah kamu bahwa Al Qur'an menyebutkan bumi ini datar?", kemudian berlanjut pada pernyataan pribadinya bahwa agama yang kuanut merupakan agama dengan obligasi paling banyak dan berat. Tiba-tiba disampaikan pula cerita tentang sahabatnya yang keluar dari Islam setelah pencarian panjang yang berakhir pada perasaan telah dibohongi berpuluh-puluh tahun lamanya oleh keyakinannya selama ini. Entah apa maksud dan tujuannya, aku mengambil satu pesan positif pada saat itu, tentang kelebihan manusia memiliki akal untuk berinterpretasi dan dibebaskan mengambil keputusan dalam hidup. 

Meski lanjutan cerita-cerita yang menyiksa tersebut adalah tentang kehidupan, fenomena masa kini, dan lebih merucut pada masa depanku, rasa sakit akibat cerita-cerita dan pertanyaan menyudutkan yang membuatku seolah tak berdaya dan tak mampu membela diri itu membekas hingga sekarang. Maksudku, aku memang belum menjadi muslim yang memahami Islam sepenuhnya dan masih pada taraf melakukan ibadah karena perintah-Nya atau meninggalkan sesuatu karena larangan-Nya. Maka ketika aku dihadapkan pertanyaan-pertanyaan yang meyangsikan keyakinanku tersebut dengan dasar-dasar logika yang kuat, bisa dipastikan aku akan bungkam, karena aku memang belum tahu jawabannya. Berkat rasa sakit itu dan komentar sahabatku tentang film "99 Cahaya di Langit Eropa", kakiku langsung menuju loket untuk membeli tiket film yang dijadwalkan akan tayang 20 menit lagi itu.

Secara teknis film, mungkin tidak adil jika aku membandingkan antara film "Soekarno" yang kutonton sebelumnya dengan "99 Cahaya di Langit Eropa" garapan Guntur Soeharjanto. Oleh karenanya, aku mempersilakan para pembaca untuk menonton sendiri film tersebut dan menikmati scene-scene indah pojok-pojok Vienna dan Paris yang menjadi latar film yang ternyata seri pertama ini. Mungkin saranku, janganlah menonton kedua film tersebut berurutan sepertiku karena secara tanpa sadar kau akan membandingkan kedua film tersebut secara teknis. 

Pesan penting yang sangat kuat kutangkap dari film ini adalah bahwa seorang muslim, dimanapun ia berada, selayaknya berperan sebagai agen Islam yang membawa kedamaian di muka bumi. Seperti kisah Nabi Muhammad SAW yang melanjutkan perjuangan Abu Bakar ash Shiddiq memberi makan seorang Yahudi tua yang tak dapat melihat bahkan menyuapinya meski orang tersebut, yang mengira Muhammad adalah Abu Bakar, tak henti-hentinya memaki-maki sang Nabi ketika beliau tengah memberinya makan. Salah seorang tokoh dalam film, muslimah asal Turki yang sering mendapat perlakuan kurang menyenangkan di Austria, membayarkan makan dua orang turis Inggris yang sebelumnya mengolok-olok Turki dan Islam. Baginya, kebencian tidak semestinya dilawan dengan kebencian karena hanya akan menyulut api. Dia dengan caranya sendiri, justru menampakkan wajah Islam yang damai dan penuh kasih. Bagiku, film ini memberikan keindahannya sendiri yang tidak dapat digambarkan dan dijabarkan dengan kata-kata. Setidaknya, keresahanku sedikit terobati, meski tidak sepenuhnya dilegakan. 

Masih di bawah pengaruh rasa sakit yang kusebutkan tadi, sesampainya di kamar, aku kembali mencari dan mencari apa yang mungkin dapat melegakan hatiku. Sedetik berikutnya, di hadapanku terpampang halaman website tentang tanya jawab antar agama yang justru menyudutkan Islam, perbandingan penulis dengan agama yang dianutnya. Bukannya aku anti dan berhenti, aku malah menuntaskan bacaan panjang tersebut, dan mengarahkan kursorku menyorot kolom "Muhammad". Lagi-lagi aku teringat pada cerita tadi, bahwa dalam pencarian spiritual sang Sahabat yang akhirnya keluar dari Islam itu, berbagai sosok Illahi muncul seperti Yesus, Gandhi, bahkan Budha, namun tidak ada Muhammad di sana. Benar saja, tulisan-tulisan tentang Muhammad dalam website tersebut benar-benar mencitrakan negatif sosok Muhammad yang selama ini kupercaya sebagai teladanku. 

Keraguan dan kegamangan semacam ini pasti pernah dialami oleh muslim di berbagai penjuru dunia pada berbagai era. Bagiku, pertanyaan dan keraguan ini justru memacuku untuk terus mencari. Aku masih mengingat sosok Marina Silvia K. yang melakukan perjalanan spiritualnya justru ke India dan Thailand, tempat Hindu dan Budha berkembang pesat, serta pertemuan dan interaksinya dengan sahabat-sahabatnya di penjuru Eropa baik yang Kristen, Katholik, Agnostik, hingga Atheis. Segala pengalaman tersebut ia tuangkan dalam dua bukunya "Back 'Euro' Pack: Keliling Eropa 6 Bulan hanya 1000 Dolar" dan "Jingga: Perjalanan ke India dan Thailand Mencari Surga di Bumi". Pertanyaan dan keraguannya justru mengantarkannya pada pengalaman spiritual yang hanya dia yang tahu betapa dahsyatnya. Aku juga masih mengenal sosok Fahd Djibran, penulis yang sekaligus mantan seniorku di kampus dulu, yang berhasil menuangkan keindahan Islam dalam karya-karyanya yang tidak menggurui dan dibalut dengan logika yang kuat. Orang-orang seperti mereka tentunya telah menempuh perjalanan spiritualnya masing-masing hingga akhirnya teguh pada keyakinannya dan, meminjam istilah dalam film yang baru kutonton, menjalankan perannya sebagai agen Islam yang tak perlu diragukan lagi. 

Sebenarnya aku ingin berterima kasih pada Bung Karno, Marina Silvia K., Kang Fahd, dan siapapun yang berhasil menggoyah imanku. Dalam satu malam, kalian berhasil membangunkan serigala putihku yang telah lama tertidur. Aku tidak akan lagi membiarkan langkahku terhenti oleh kekhawatiran dan ketakutan yang tidak benar-benar kuhadapi untuk mewujudkan mimpi-mimpiku. Aku tidak akan lagi berdiam apalagi bersikap kalah ketika Agamaku, Tuhanku, dan Nabiku dipojokkan oleh orang. Aku tidak akan pernah berhenti menjelajah bumi untuk mencari tanda-tanda kebesaran-Nya karena aku ingin tunduk sujudku tidak hanya berdasar pada perintah belaka, namun ada cinta di sana. 

“Love, like everything else in life, should be a discovery, an adventure, and like most adventures, you don’t know you’re having one until you’re right in the middle of it.” 
― E.A. BucchianeriBrushstrokes of a Gadfly


---
Sumber gambar:

Mei 22, 2013

"Nyanyian Tanah Merdeka": Tontonan Seni, Pelajaran Sehari-hari, dan Sindiran untuk Negeri


Dua tahun lamanya sejak konser terakhirku bersama The Indonesia Choir (TIC) dan The Indonesia Children Choir (TICC). Ketika itu, aku bernyanyi dalam rangkaian konser "Dua Kisah Nusantara" yang diselenggarakan di Usmar Ismail Concert Hall pada Kamis, 10 November 2011, kemudian berlanjut ke dua konser kunjungan di Solo dan Jogja bertajuk "Nyanyian Sepanjang Boulevard". Masih dapat kurasakan terangnya sorot lampu panggung besar pertamaku, sedikit membuatku linglung dan sulit mengenali sosok-sosok di bangku penonton. Konser interaktif pertama dan terakhirku bersama teman-teman TIC dan TICC. 

Malam tadi, Selasa, 21 Mei 2013 masih di panggung yang sama, Mas Jay (sapaan akrab Jay Wijayanto oleh para anggota TIC, termasuk aku) kembali menggelar sebuah tontonan paduan suara yang dikolaborasikan dengan berbagai seni pertunjukan lain. Konser kali ini bertajuk "Nyanyian Tanah Merdeka" (NTM), diambil dari judul lagu musisi Indonesia yang lebih dikenal dengan karya-karya musik jalanan dan memiliki penggemar dalam komunitas-komunitas, yakni Leo Kristi. Menurut media rilisnya, NTM digelar menyambut peringatan Kebangkitan Nasional yang jatuh sehari sebelum konser digelar sekaligus peringatan lima tahun berdirinya TIC sejak 2008. NTM juga menjadi persiapan awal TICC sebelum keberangkatannya ke "Hong Kong International Youth & Children's Choir Festival" pada Juli mendatang. Termasuk dalam agenda konser adalah peluncuran buku "Merek Indonesia Harus Bisa" oleh Mas Arto (Arto Subiantoro).

Beberapa artis kenamaan Indonesia turut mendukung kemeriahan konser yang berlangsung kurang lebih 3,5 jam. Sebut saja Mba Ade (Adelaide Simbolon), pianis wanita Indonesia yang mengenyam pendidikan musik (piano) dari Rusia hingga Amerika Serikat (Wisconsin Conservatory of Music); Om Jubing (Jubing Kristianto), gitaris gaya jari Indonesia yang menggunakan gitar klasik sebagai instrumennya; Mas Andreas (Andreas Arianto), akordeonis yang menyebut dirinya pemusik lepas dan menjadikan musik sebagai bagian tak terlepaskan dari hidupnya, menghidupi dan untuk dihidupi; serta sederet pemusik dengan alat musik yang pada dasarnya tidak berasal dari Indonesia namun dikenal meramu musik khas tradisi Indonesia seperti biola, saluang, dan cajon. Ada pula sembilan penari remaja dari Grup Tari Swargaloka yang mempersembahkan "Tari Tekad" sebagai pembuka konser, serta empat penari "tak kenal pusing" dari Rumah Rumi Whirling Dancer mengiringi lagu daerah Jambi, "Dodoi si Dodoi". 

Jika pada konser sebelumnya aku berdiri di panggung sebagai penyanyi, malam itu aku duduk di bangku penonton. Maka, ulasanku kali ini mungkin akan lebih komprehensif dari sudut pandang anggota TIC yang pernah menyanyi dalam konser-konsernya, anggota TIC yang turut terlibat dalam sekelumit kerumitan persiapan konser, anggota TIC yang memegang tiket penonton dan mengikuti jalannya konser dari awal hingga akhir dari kursi penonton, serta anggota TIC yang berinteraksi dengan anggota TIC lain setelah konser.

...

Total 16 lagu yang dibagi dalam dua sesi konser, delapan buah lagu ditampilkan untuk masing-masing sesi. Penonton disambut dengan lagu "Indonesia Raya" versi orkestra yang kemudian dilanjutkan oleh "Tari Tekad" sebagai pembuka konser. Narasi pertama yang dibawakan Mas Jay sebelum mengantarkan penonton pada lagu pertama adalah sejarah "Indonesia Raya", dimana teks aslinya yang ditulis pada tahun 1928 terdiri dari tiga stanza pada akhirnya hanya dipakai satu stanza setelah melalui revisi pada tahun 1958. Masih tentang lagu kebangsaan, Mas Jay beralih ke Singapura, yang ternyata lagu kebangsaannya berjudul "Majulah Singapura" merupakan ciptaan Zubir Said, putra Indonesia kelahiran Bukittinggi. Jika boleh kutambahkan, lagu kebangsaan Malaysia "Negaraku" pun bisa dibilang merupakan buah karya putra Indonesia, Saiful Bahri, pemilik hak kekayaan intelektual atas lagu "Terang Bulan" yang melodinya mirip sekali dengan "Negaraku". Pada titik ini, aku mulai melihat betapa penggunaan kata 'baik dan bodoh' sering tertukar tempat.

Lagu pertama yang dibawakan oleh TIC, dengan iringan piano Mba Ade, adalah "Nusantara" karya F.A. Warsono, solis Alice C. Putri. Mas Jay, masih dengan gaya khasnya yang santai dan kocak dalam memandu konser-konsernya, mengangkat satu topik yang mungkin terlupakan khususnya oleh pemuda Indonesia, yakni Trisakti. 

BERDAULAT dalam POLITIK
BERDIKARI dalam EKONOMI
dan BERKEPRIBADIAN dalam BUDAYA

 Nampaknya kesaktian tiga semboyan yang Bung Karno dalam rumusan Trisakti belum [tak] mampu diwujudkan oleh bangsa yang telah 67 tahun merdeka. Bagaimana bisa berdaulat, jika RI 1 saja dapat diperintah oleh pimpinan perusahaan multinasional yang telah menggerogoti kekayaan alam bangsa? Bagaimana bisa berdikari jika untuk konsumsi penduduk justru lebih mengedepankan impor dari negara lain? Cukup berkepribadiankah negara yang penduduknya lebih bangga menjadi ahli modernisasi dengan segala bentuk kebudayaan asing ketimbang mempelajari tarian daerah kelahirannya? 

Narasi tersebut disampaikan sebagai pengantar lagu kedua "Nyiur Hijau" yang dia sebut sebagai lagu wajib sekolah yang ter[di]lupakan. Dibawakan acapella tanpa iringan musik, TIC berhasil membuat beberapa penonton merinding dan seolah tak rela dunia tak tahu, membagikan pengalaman tersebut melalui twitter. Aku pribadi sangat menyukai lagu ciptaan A.J. Sudjasman hasil aransemen Arvin Zeinullah ini. Ada "rindu kampung halaman " yang menyeruak saat teman-teman TIC membawakan lagu ini merdu. Terlebih pada lirik bait kedua "Padi mengembang | Kuning merayu | Burung burung | Bernyanyi gembira", rasa kehilangan muncul berikutnya, mengingat padi yang digantikan dengan gedung pencakar langit, kuning merayu dirampas oleh kelabu, dan alih-alih burung-burung yang bernyanyi gembira, di Jakarta ini yang ada adalah mobil-mobil yang lalu-lalang-macet dan berklakson ria. 

Narasi berikutnya mengangkat topik pertanian. Menurut observasi Mas Jay terhadap data sejarah, politisi yang berhasil haruslah memiliki basis ekonomi yang kokoh. Logis memang, karena basis ekonomi yang kuat akan mendukung basis sosial yang diperlukan oleh seorang politisi, yang nantinya mampu menopang basis politik manakala sang politisi memegang kuasa. Tren politisi Indonesia bisa dibilang anti-mainstream karena kebanyakan politisi menghujani dirinya dengan isu-isu politik, lalu memperkuat basis sosial, dalam rangka memperoleh basis ekonomi. Hal ini sedikit banyak menjelaskan mengapa korupsi di Indonesia bertumbuh subur melebihi padi di sawah pak tani.

Lagu daerah pertama, hasil aransemen Farman Purnama, yakni lagu daerah Maluku "Mande-Mande" yang dibawakan lembut mengalun dengan solis seorang tenor, Yeremia Lalisang. Dalam penceritaannya yang tetap khas, Mas Jay menceritakan makna lagu tersebut sebelum dinyanyikan, yakni penantian para wanita Maluku yang ditinggal merantau oleh kekasih mereka. Kalau  sudah kaya, pulanglah mereka melamar kekasihnya dan menikah. 

Lagu selanjutnya diambil dari salah satu lagu kompetisi yang diikuti TIC dengan perolehan medali emas di Vietnam berjudul "Segalariak". Dibawakan saling sahut antar kelompok suara satu dan lain dengan bersemangat membuat lagu tersebut berkarisma. Pasukan TIC silam, digantikan 33 anak dan remaja. Sembari mengisi perpindahan, Mas Jay kembali mengisi sesi dialog dan bincang-bincang dengan penonton. Kali ini dialog dibuka dengan sebuah guyonan. Dalam perjalanan hidupnya, Mas Jay sering mendengar bahwa tentara Indonesia didominasi dan dikuasai oleh agama tertentu: AD (Angkatan Darat) dikuasai oleh pemeluk Islam sementara AU (Angkatan Udara) dikuasai oleh umat Kristiani. Mas Jay berkelakar dengan menyebut AL adalah yang paling Islami mengingat hampir semua nama masjid memiliki "AL" di dalamnya: AL Ikhlas, AL Barokah, AL Hidayah.

Sebelum masuk ke lagu berikutnya yang akan dibawakan oleh TICC, Mas Jay melontarkan pertanyaan pada penonton: Berapa usia WR. Supratman saat mencipta Indonesia Raya? Kebangkitan Nasional ditandai dengan apa? Penonton yang dipilih untuk menjawab adalah pemuda. Benang merah dapat ditarik dari sini, bahwa kata dasar "muda" menjadi titik berat topik dialog kali ini. WR. Supratman pertama kali menciptakan lagu Indonesia Raya pada usia 21 tahun; Kebangkitan Nasional ditandai dengan dua peristiwa penting yang keduanya "dipentaskan" oleh para pemuda, berdirinya Boedi Oetomo dan diucapkannya ikrar Sumpah Pemuda; kedua pertanyaan yang jawabannya berkata kunci "muda" tak dapat dijawab oleh para penonton muda.

Selanjutnya, giliran TICC unjuk gigi. Mereka membawakan dua lagu kompetisi di Hong Kong nanti, yakni "Tanctnota" dan "Salve Regina". Alunan nada-nada rumit dengan tempo yang berubah terus menerus, ditambah bahasa asing dengan aksen tak umum untuk lidah Indonesia, berhasil dibawakan rampung oleh TICC meski penulis pribadi merasa suara yang diproduksi belum maksimal diproyeksikan ke depan. Toh suara mereka pun mulai panas pada lagu berikutnya, kali ini lagu ciptaan Leo Kristi yang diaransemen oleh Nindya Tri Harbanu, "Salam Dari Desa". Mungkin karena faktor bahasa yang lebih mudah dilafalkan oleh anak-anak tersebut ditambah iringan musik akordion Mas Andreas dan gitar Om Jubing yang lincah dan jenaka, TICC membawakan "Salam Dari Desa" lebih lepas dan riang. Kemudian kakak-kakak TIC melanjutkan trek lagu Leo Kristi dengan membawakan "Gulagalugu Suara Nelayan", masih dengan aransemen buah tangan Nindya dan iringan musik yang sama sebagai penutup sesi pertama. 

Sesi kedua dibuka dengan lagu daerah Sumatera Barat "Indang", aransemen buah tangan Lilik Sugiarto. Akordion dan gitar memulai melodi lagu, disambut oleh Jhorlin Darwis Sitinjak, Rama Sentausa, dan Linda Samosir sebagai solis yang menyanyikan harmoni nada dengan indah. Seolah memang dibawakan di awal sesi kedua untuk membangun atmosfer ceria bersemangat, "Indang" dilanjutkan oleh "Arjuna Mencari Cinta" ciptaan Ahmad Dhani dan diaransemen oleh Indira Fransiska. Kali ini, Fajri Prabowo dari golongan suara bass menjadi solis dan membawakan lagu tersebut cukup komikal dengan bahasa tubuh yang lucu. Tidak cukup sampai di situ, penonton dibuat tergelak dengan layar yang menampilkan foto Eyang Subur dikelilingi wanita-wanita "seksi" seperti Angelina Jolie dan Ratu Elizabeth. 

Masih tentang bentuk ekspresi cinta seorang lelaki, lagu berikutnya adalah "Wanita" karya Ismail Marzuki dan diaransemen oleh Lilik Sugiarto. Mas Jay kali ini masuk dalam barisan tenor yang memimpin lagu tersebut. Ini adalah lagu favoritku yang lain. Selain nada-nada ajaib yang mengalun indah, lirik lagu "Wanita" begitu puitis dan berdaya sihir. 


Seindah mawar | semurni nan hati | dikau cemerlang wanita
Semerbak wangi | sejinak merpati | dikau selalu di cinta
Gerak gayamu ringan, mengikat hati mudah terlelap
Mata bersinar menyilaukan matamu
Halus wanita | bak sutra dewata | senyuman lunturkan mahkota

Seperti halnya tradisi konser interaktif TIC dan TICC, penonton diminta bernyanyi bersama lagu "Indonesia Pusaka" aransemen karya Yudia Pancaputra. TIC silam, tinggallah TICC yang selanjutnya membawakan lagu lain untuk kompetisi yang sama, "Kalera Gazteak". Lagu ini menjadi lagu terakhir persembahan TICC yang kemudian silam dan digantikan oleh kakak-kakak TIC.

Jambi selanjutnya direpresentasikan dalam lagu "Dodoi Si Dodoi" aransemen Mas Jay sendiri dengan solis Saftianingsih. Lagu dibuka dengan alunan nada menyayat hati dari saluang dan biola serta ratapan sang pemain saluang yang memang laki-laki Minang. Dijelaskan sebelumnya bahwa lagu ini mengisahkan seorang ibu yang tengah menimang-nimang anaknya sembari meratap rindu akan sosok suaminya yang belum pulang. 

"Twa Tanbou" karya Sydney Guillaume kemudian menggeser suasana yang tadinya sendu menjadi bersemangat. Lagu yang berasal dari salah satu suku di Afrika ini mengisahkan tentang perbincangan antara tiga buah kendang yang masing-masing berpendapat bahwa suaranyalah yang paling keras. Akhirnya, konser ditutup dengan karya Ahmad Dhani yang lain, kali ini hasil kolaborasinya dengan Bebi Romeo, "Andai Aku Bisa" yang diaransemen oleh Ily Matthew Maniano dengan solis seorang alto, Christine Nataly Panggabean.

...

Aku akui, ulasanku dimulai dari babak kedua konser memang tidak selengkap ulasan babak pertama. Selain aku tidak membawa catatan untuk membuat ringkasan jalannya konser, aku memang memilih lebih menikmati lagi sisa waktu yang kupunya untuk lebih menikmati "Nyanyian Tanah Merdeka". 

Terakhir, aku teringat satu dialog lagi yang belum aku paparkan di atas terkait bahasa Indonesia. Mungkin aku tak sendiri merasakan tamparan tentang fakta bahwa orang Indonesia lebih bangga dengan bahasa Inggris atau bahasa asing lain ketimbang bahasa Indonesia sendiri. Namun, jika Mas Jay membaca tulisan ini, dia boleh lega karena ulasanku kali ini murni menggunakan bahasa Indonesia, kecuali pada nama dan istilah yang memang tidak semestinya diterjemahkan.

Agustus 17, 2011

Hitam | Putih



Aku pernah menulis tentang dua serigala yang hidup di dalam diriku. Yang satu serigala putih lembut yang setia, yang satu serigala hitam perkasa yang senantiasa mengusik si Putih. Sebenarnya itu adalah perumpamaan yang kugunakan untuk menggambarkan seorang manusia. Makhluk paling sempurna yang diberi keistimewaan berupa sifat baik yang melebihi kebaikan malaikat sekaligus sifat buruk melebihi keburukan setan (Fahd Djibran, Yang Galau Yang Meracau). Sejak kecil istilah "makhluk paling sempurna" sudah kukenal tanpa kutahu pasti apa maksudnya. Beberapa temanku seringkali menggodaku tentang perkara umur karena aku terbilang lebih tua satu tahun di antara teman-teman angkatanku di kampus. Mereka rajin sekali mengingatkan betapa aku yang lebih tua satu tahun dari mereka masih seringkali bertingkah kekanakan bahkan kurang masuk akal atau kurang wajar. Tunggu dulu, apa hubungan dua serigala, makhluk paling sempurna, dan tua? Paragraf pembukaku kali ini memang terkesan random. Tapi percayalah, mungkin ini efek buruk hasil si Hitam yang belakangan telah menjadi begitu gagah dan perkasa.

Pertama, tentang tulisan terdahuluku berjudul "Untitled" yang kutulis pada 9 Oktober 2009. Ketika menulisnya, aku berada pada tempat yang gelap, bukan gelap secara harfiah, namun gelap karena keadaan batinku. Aku yakin setiap orang pernah, apalagi yang telah 'berkepala dua', merasakan suatu kondisi putih dan hitam dalam kehidupannya. Begitupun diriku. Aku pernah menjadi seseorang yang berorientasi pada hal-hal baik dan seolah fokus mengejar hal-hal baik untuk kukerjakan, kuamalkan, kuperbuat bahkan aku pernah mempunyai keinginan untuk menempuh hidup seperti orang suci. Aku pun pernah mengenal satu dosa, yang kemudian tergoda mencoba dosa lain, hingga akhirnya ketagihan dan menjadikan hal dosa tersebut aktivitas rutin yang kulakukan di saat-saat hal baik absen dalam hidupku. Aku pernah sangat bersemangat mengejar peningkatan perbaikan diri dengan mengamalkan ibadah ini dan itu. Aku pun pernah menjadi budak dosa yang seolah tak bisa lari kecuali ada yang membebaskanku atau membeliku menjadi manusia bebas. Oke, mungkin tidak semua orang berkepala dua pernah mengalaminya. Mungkin jauh dalam lubuk hatiku, aku berharap tidak sendiri dalam hal ini. Tapi sekali lagi, ini berkaitan dengan dua serigala yang baik secara sadar atau tidak sadar kupelihara dalam diriku.

Saat tulisan itu kupublish dan mulai dibaca oleh teman-temanku, hanya ada satu komentar yang dari komentarnya kusimpulkan tidak begitu paham dengan maksud tulisanku. Memang, aku menulisnya dengan gaya 'sastra'ku yang tidak bisa dibilang lugas namun tidak pula sastrawi. Yang aku ingat, saat itu, dosa seolah menjadi teman baikku meski ada penolakan dalam diriku. Satu kebiasaan yang tidak bisa dibilang baik (meski bukan pula tindak kriminal) secara rutin kulakukan. Seperti halnya sifat dosa-dosa yang lain, sesal selalu menjadi rasa yang tertinggal lama setelah kepuasan yang hanya sesaat. Namun sama halnya dengan dosa-dosa lain, yang senantiasa mengundang rasa ingin tahu, dan perasaan untuk ingin diulang setelah sekali melakukan. Hanya akal pikiran sehat yang diiringi kebeningan hati yang bisa mencegah manusia melakukan [mengulang] dosa, terlebih dosa yang pernah dilakukan dan memiliki efek kepuasan sesaat. Akhirnya aku sampai pada kesimpulan tersebut hingga berujung pada tulisanku hampir dua tahun yang lalu.

Ya, pada saat itu serigala hitam telah menjadi begitu perkasa setelah berhasil membantai serigala putih hingga terpojok tak berdaya. Namun separah apapun kondisinya, serigala putih (maupun hitam) tak bisa mati dalam diri manusia. Itulah kenapa manusia menjadi makhluk paling sempurna karena diberikan keduanya yang kekal sejak lahir hingga mati. Inilah kepercayaanku hingga saat ini. Seperti apa rupa manusia itu saat menghadap sang Khalik ditentukan dengan bagaimana rupa serigala yang bisa lebih bertahan kuat dan mendominasi dalam dirinya selama hidup. Ketika aku menulis, ada keinginan secara sadar untuk memberikan dukungan penuh pada serigala putih untuk bangkit, untuk mulai melawan dan mendominasi kehidupan di masa mendatang. Dengan penuh kesadaran aku merasa telah menjadi teman baik setan bahkan dengan tanpa keinginanku sepenuhnya. Maka aku mengumpulkan segenap keberanianku untuk menulis, di belakang punggung serigala hitam, mengutuki keberadaannya dan berniat menghancurkannya berkeping-keping. Dengan harapan aku dapat menjalani kehidupan baik bersama serigala putih setelah membuat si Hitam bertekuk lutut.

Namun aku terlalu meremehkan kekuatan si Hitam yang ternyata tak hanya perkasa, tapi juga licik dan cerdas. Satu lagi pelajaran yang bisa kubagikan, saat kau dengan sengaja atau tidak sengaja membiarkan lawanmu tumbuh kuat, jangan pernah berharap dia akan berdiam diri dan tidak menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Begitulah yang terjadi. Secara sadar aku menginginkan pulihnya si Putih agar mampu melawan si Hitam dan kembali mendominasiku. Namun sebelum hal itu bisa terjadi, si Hitam telah begitu mendominasi dan bahkan mampu menyuruhku melakukan ini dan itu, membuatku melawan akal sehatku. Pada titik ini, aku sadar bahwa aku telah menjadi budak dan tawanan si Hitam. Percayalah, keadaannya tidak sesederhana yang bisa dituliskan dengan kata-kata. Kau akan senantiasa berdiri pada ambang kebimbangan dengan akal sehat yang masih hidup dan bekerja namun terkekang penjara membiarkan fisikmu melakukan hal-hal yang jelas-jelas ditolaknya. Pikiranmu senantiasa menginginkan perbaikan dan perubahan untuk dirimu, namun lagi dan lagi kau mengulangi hal yang kau sendiri tahu salah dan tak semestinya kau lakukan. Bahkan pada kondisi terparah, akal sehatmu mulai goyah dan kau pikiran-pikiran si Hitam mulai masuk menginterupsi, menanamkan hal-hal yang bertentangan dengan mulai mempertanyakan hal-hal esensial, bahkan mempertanyakan kebaikan. Percaya atau tidak, aku pernah berada di sana.

Kemudian aku teringat tulisan Fahd Djibran tentang manusia sebagai makhluk paling sempurna. Menurutnya, seseorang bisa menjadi jauh lebih baik dari sifat-sifat baik yang ada atau justru jauh lebih jahat dan buruk dari sifat-sifat buruk yang ada. Aku tidak akan bilang aku telah melampaui keduanya, karena nyatanya aku masih menjadi seorang pemuda biasa saja yang mungkin tidak begitu spesial bagi orang-orang di sekitarku, tidak spesial karena kebaikanku, tidak pula spesial karena keburukanku. Sejujurnya, aku tak berhasrat menjadi salah satunya, meski aku diajarkan untuk menjadi orang baik dan meniru nabi-nabi. Setelah apa yang kualami dan kuperbuat dalam kehidupanku, aku tahu ada kemungkinan untuk menjadi orang yang super baik dan bersih, atau kesempatan menjadi orang yang super jahat dan kotor. Dan nampaknya, mudah saja untuk memilih. Kenyataannya, aku tahu betul bahwa tak satupun dari kedua serigala itu bisa kubunuh atau kutekan hingga benar-benar tak berdaya. Saat ini, si Hitam sungguh berjaya setelah tak hanya membantai, namun mencabik, mendera, meluluhlantakkan si Putih. Tapi jauh dalam hatiku, aku masih merasakan hembusan nafas si Putih meski lemah dan tak beraturan.

Terakhir, tentang umurku. Bukan kebetulan, meski bukan keinginanku pula untuk menjadi orang yang satu tahun lebih tua dalam komunitas pendidikan formalku. Nyatanya, aku terlambat satu tahun untuk masuk dalam lingkunganku sekarang, pun karena pengalaman hidup yang telah kutuliskan sebelumnya di blog ini ("Confession" - Februari 2009). Jika menilik kembali apa yang telah kulalui beberapa tahun ke belakang, semestinya memang aku unggul dalam hal pengalaman dibanding teman-teman sepermainanku. Dan seperti yang selalu aku pelajari dalam hidup, pendewasaan bukanlah soal nominal usia, namun sejauh mana pengalaman demi pengalaman dalam hidup mengembangkan karakter dan pemahaman serta penerimaan seseorang tentang kehidupan. Aku tidak sedang bilang aku telah menjadi orang dewasa karena telah mengalami cukup banyak pengalaman jungkir balik dalam hidup, karena toh seperti yang kubilang di paragraf awal, teman-temanku seringkali mempertanyakan kedewasaanku karena sikapku yang seringkali kekanakan dan kurang masuk akal. Aku tidak menyangkalnya justru aku sedikit bangga karenanya. Setidaknya aku memainkan peranku sebagai orang biasa dengan cukup baik dan tidak membiarkan si Hitam muncul telanjang di hadapan orang-orang di sekitarku. Aku tahu, jika terus kubiarkan dominasinya akan diriku, cepat atau lambat orang-orang akan mengendus betapa hebatnya si Hitam tumbuh kembang dalam diriku, dan tidak mengherankan jika kelak aku dicap 'hitam' oleh orang lain. Jelas aku tidak mengharapkannya.

Biarlah pengalaman hidupku menjadi guru kehidupanku tanpa harus menjadikanku orang yang mencolok karena pengalaman hidup. Biarlah aku menjadi diriku yang sangat biasa dan tidak menonjol seperti sekarang. Biarlah orang-orang menganggapku tak tahu umur atau menganggap remeh karena itu jauh lebih baik ketimbang mereka melihat sisi lain diriku yang aku yakin tak ada yang mau melihat atau sekedar mengetahuinya. Semua orang punya rahasia dalam kehidupannya, dan inilah rahasiaku. Lucu memang mengumbar rahasia gelap dalam blog terbuka yang bisa diakses semua orang. Tapi aku lega setidaknya aku bisa mengungkapkan sisi gelapku sedikit tanpa harus menjadi sosok gelap secara harfiah.

Maka, biarlah aku berperang dengan apa yang telah mendominasi diriku agar kelak aku bisa menguasai kembali diriku sepenuhnya. Tidak akan mudah, dan tidak akan cepat memang. Setidaknya, aku telah menulisnya, dan menulis adalah bentuk lain berikrar, berjanji, meniatkan sekaligus mendeklarasikan keinginan hatiku yang sesungguhnya. Kuharap, dua atau lima tahun kelak, apapun yang terjadi pada diriku, entah telah menjadi hitam luar dalam, tetap pada kondisi berkecamuk abu-abu, atau telah menjadi putih yang menyilaukan, saat kembali kukunjungi tulisan ini, aku ingat pernah menjadi diriku yang saat ini. Dan apapun bentukku kelak, semoga pesan si Putih yang secara tersirat kusampaikan dalam tulisan ini bisa tetap kubaca, entah kembali menjadi penyemangat, atau justru menguatkan diriku yang akan datang. Kuharap tulisan ini menjadi sesuatu, baik untukku saat ini, untukmu, terlebih untukku di masa mendatang.



Sumber gambar:
http://fc01.deviantart.net/fs22/f/2007/352/d/c/black__white_by_XxHayleyXx3.jpg

Oktober 13, 2010

Stop

We may have a big vision. We may take a big decision. And surely we may also do a big action after it. Yet sometimes, all those big things just don't work as we expect. Sometimes we just can't find what these all big things are going to be, or where is all these going to, even what are these for. Thus sometimes, some people end up with almost nothing on them.

When an olympic champion was being interviewed how he managed to win the game, he easily answer "i simply started with my first step at that time". Yes, he simply moved on his first step and just realized and understood well how it felt.

Then i tried to understand these one day. I keep on searching an answer, no, so many answers maybe while still running. I try to see every face and shape, to smell every fragrance, to feel every situation inside or outside, while still running. I was so exhausted yet confused what i have done and what i am doing. Imagine we are looking for someone by running through thousands people. Or finding for a rose fragrance by smelling many bouquet flowers quickly. Can i possibly get what i want? Can i possibly find what i am looking for? Possibly we can say. With a bigger possibly no. =)

"In the middle of our way to the big things we are living for, we need to stop just a while. Take a deep breath, ease our heartbeating, and look around. Wait and see. Things we normally didn't see, even the smallest things, will appear clearly, and surprisingly beautiful that we are glad for it. At that very time, all we can feel is thankful and gladful. How come all of these were unseen to me? How fool I was ignoring these. Then slowly, those big things come up just as fresh as what we can remember at the first time we create them."

Well that's what someone say about life. Always about life. What i can say is, stop for a while and just enjoy things you are doing, and be thankful for things you already got. And remember to move again. ;)






Published with Blogger-droid v1.6.3


Sumber gambar:http://fc08.deviantart.net/fs15/f/2007/010/0/1/stop_by_Heile.jpg

Oktober 07, 2010

Kosong



Kosong. Setelah sekian lama jemari ini tak menari di atas papan aksara. Setelah begitu jauh kreativitas hengkang, meninggalkan hanya sebentuk ide saja. Kata demi kata yang biasa terjalin dalam untaian sajak, atau sekedar kalimat sarat makna. Gagasan yang dulu tak pernah jenuh mewujud dalam ungkapan, puisi, atau cerita, lengkap dengan seni rima. Kini kosong. Melompong. Bagai tong sampah di pojok taman kota: berguna, namun dilupakan orang-orang sekitarnya.

Kosong. Sulit sekali rasanya memulai, mengawali lagi jalur yang titik terakhirnya bahkan kulupa di mana. Seperti linglung saat terbangun dari mimpi indah. Antara euforia abstrak usai melihat keindahan, namun tak ingat apa dan bagaimana detilnya. Berkali-kali dicoba, hanya sepenggal bentuk, sepotong rupa, dan percik-percik warna saja. Biasanya berakhir pada kata menyerah dan hanya melamunkan sisa-sisa rasa yang ada.

Kosong. Begitulah gambaran, rupa, dan warna yang mampu mewujud saat ini. Saat fantasi yang dulu mampu menggila, mulai usang seolah tak bernyawa. Saat luapan ide yang dulu punya penampung tak terbatas, mulai serabutan tanpa arah dan cenderung hilang tak jelas rimbanya. Saat rangkaian kata yang dulu sarat keindahan, mulai terbata-bata demi menemukan bentuknya. Saat kenangan masa-masa dulu menguar dalam rindu.

Kosong. Tong sampah kota. Kosong. Euforia mimpi. Kosong. Rindu masa lalu. Kosong.

...

Masih kosong.

...

...

Kosong.




NB: Mungkin kosong tak selalu berarti tidak berisi. Mungkin berisi tak selalu tidak kosong. Sebagaimana pikiran yang sejatinya tak pernah kosong. Begitu pun ruang angkasa yang sejatinya tak berisi.


Sumber gambar: http://fc03.deviantart.net/fs29/f/2008/158/8/1/empty_by_Kosmur.jpg

Februari 23, 2009

Confession


Belakangan hidupku tak berjalan 'sebagaimana mestinya'. Rencana hidup yang kususun jauh hari sebelum hari ini, berantakan sudah. Proposal masa depan yang telah rapi terbukukan dalam benak, berserakan entah. Inikah akhir hidupku?

...

Dulu dengan berapi-api, kuajukan daftar keinginan pasca-SMA ke orangtua. Dengan gaya penuh percaya diri pula, kutambah penyedap mimpi dan asa yang mungkin tergapai setelah meraihnya. Ayahkku, tak usah diragu, pasti mengagguk setuju, asal itu yang kumau. Ayah selalu begitu, sedari dulu, mendukung langkahku. Sementara ibu diam sejenak, duduk terhenyak, tak ada mencak-mencak. Ibu memang tak lunak, tak pula buatku sesak, tapi bijak.

Dulu dengan semangat membara, kudatangi ayah dan ibu, akan kabar gembiraku. Satu langkah berhasil kutapaki. Hasil ujianku membolehkanku meraup ilmu sastra yang kudamba, di universitas ternama pula. Ayah mencium pipiku, dan kudapat senyum ibu. Namun hidup mulai bekerja, maksudku, hidupku. Kehidupan yang sesungguhnya, mulai menyapa. Tak dapat kuinjakkan kaki, di tanah impian yang sejatinya t'lah kuraih.

Dulu dengan tekad membulat, kupasang senyum terindahku, untuk ayah dan ibu. Pertanda tak sedikitpun aku menyalahkan mereka. Bahkan proposal lain t'lah usai kususun cukup dalam semalam. Ini tentang hidupku, lagi-lagi. Ayah sedikit meragu, bukan padaku, dan kubilang padanya "bukan salahmu". Ibu tak sesaat dalam diam, dia menatapku dalam, "percayalah" bisikku, "ibu tak boleh muram".

Dulu dengan keyakinan tanpa beban, kusodorkan apa yang telah kudapatkan. Hanya demi mereka, batinku. Ilmu Hubungan Internasional di universitas Islam, tak kalah nama atas yang lain. Senyumku hanya karena senyum mereka, atau mungkin keadaan. Mimpiku tersusun hanya untuk mereka, atau mungkin keadaan. Aku belum menyadarinya. Hanya perlu menjalaninya.

Kemarin dengan kehampaan, aku pulang dari perantauan. Tak ada lagi kalimat berapi-api, atau semangat yang membara, atau tekad yang bulat, bahkan keyakinan dalam diri. Aku berdiri di hadapan ayah dan ibu, dengan apa adanya, begitu saja. Ayah kini yang diam, tak berdaya dalam muram, auranya kelam. Ibu mengangguk tenang, seolah badai tak pernah datang, bahkan seperti menang. Aku menangis, ayah mengerti, ibu pun berdiri. Aku meratap, ayah berharap, ibu mulai berucap. Dan saat itulah, detik itulah, hidupku berubah. Maksudku, caraku memandang hidup berubah.

Sekarang, tak lagi kusandang, status mahasiswa yang agung dipuja. Bukan ku tak bangga, bukan pula ku kecewa, melainkan belum waktunya. Bukan tentang waktu yang tepat, karena tak ada waktu yang tepat, yang ada tindakan yang tepat. Ini memang saatnya kulakukan hal lain, hal ini, yang sekarang kuhadapi.

Sekarang, tak ada mata kuliah menghiasi hari-hariku, atau teman aktivis dengan seabrek kegiatan. Bukan maksud hati meninggalkan, apalagi menyia-nyiakan, hanya sebentuk perpisahan. Begitulah esensi pertemuan, untuk sebuah perpisahan, keabadian bukan milik makhluk Tuhan. Sudah semestinya kuisi hari-hariku dengan hal lain, hal ini, yang sekarang kuhadapi.

Sekarang, sedang kumulai hidup baru, di bawah langit yang biru. Aku berdiri di depan pintu sambil menatap hidupku yang baru. Satu hal yang kutahu pasti, aku tak pernah sendiri*. Tak ada waktu untuk sesal, tak pula kuingin membual, hidupku masih normal. Ini tentang hidupku, kehidupan, dengan segala apa yang dirahasiakannya. Ada banyak hal dalam hidupku yang tak berjalan sebagaimana mestinya. Tapi saat kutatap langit luas, hal itu tak berarti apa-apa*.

Sekarang, pertanyaan menghujaniku, sedikit mengganggu namun kubersyukur tentu. Walau tak jujur kumenjawab mereka, bukan berarti ku mendusta, apalagi tak percaya. Walau kadang ku suka bergurau, tak berarti ku tak hirau, ku hanya tak ingin menjadai kacau. Kawan-kawanku adalah nafas semangatku, perhatian mereka adalah pemacu energiku, jadi tak mungkin mereka hanya berlalu. Untuk mereka yang begitu besar perhatian padaku, namun begitu kecil jawabku, maafkan aku.

...

Belakangan hidupku tak berjalan sebagaimana yang kuinginkan. Rencana hidup yang kususun jauh hari sebelum hari ini, berantakan sudah, tapi tak pecah. Proposal masa depan yang telah rapi terbukukan dalam benak, berserakan entah, namun tak punah. Ini bukan akhir hidupku. Justru inilah awal hidupku, yang sesungguhnya ...


*diambil dari lirik lagu Jepang berjudul Sangatsu Kokonoka atau dalam bahasa Inggris berarti March 9 yang telah diterjemahkan.




Sumber gambar:
http://orriel.deviantart.com/art/Intersection-37696510

Februari 01, 2009

in memoriam


Sesuatu baru akan benar-benar berharga dan kita sadari arti keberadaannya saat kita kehilangannya.

Belum pernah dalam hidupku aku merasakan sebuah rasa yang selalu menakutkan bahkan hanya untuk dipikirkan: kehilangan. Maksudku, rasa kehilangan yang sesungguhnya, yang selalu kuhindari untuk sekedar memikirkannya, yang tak pernah dapat kumengerti hingga hari itu. Bukan kehilangan bolpoin yang hampir selalu kualami semasa sekolah (aku memang ceroboh), atau kehilangan genggaman tangan Bapak hingga aku 'hilang' di supermarket pada waktu masih kecil, atau kehilangan buku yang baru kuberi beberapa hari (seperti saat aku kehilangan "A Cat In My Eyes" secara misterius), atau kehilangan uang karena kecerobohanku sendiri, atau bahkan kehilangan handphone berfitur canggih pertama yang kumiliki. Kehilangan-kehilangan seperti itu memang menyakitkan dan semuanya pernah kualami dalam hidup tepat seperti yang kudefinisikan di atas. Tapi aku sama sekali tidak merasa harus takut untuk merasakan kehilangan serupa (walau dengan tidak disengaja), karena nyatanya, kehilangan semacam itu akan selalu kutemui dalam keseharian. Bukan. Sekali lagi bukan. Kehilanganku kali ini terlalu berbeda. Terlalu berat untuk kupikul bahkan kuterima kehadirannya.

Ayah dari ibuku yang dengan hangat kusapa dengan sapaan embah kakung telah pergi meninggalkan alam fana ini pada Kamis siang pukul 13.30 dengan tenang. Kukakatakan tenang bukan karena ingin memperhalus istilah, tapi karena embah kakung memang benar-benar meninggal dalam ketenangan. Beliau hanya cukup memejamkan mata karena ada sedikit rasa sakit di dadanya, dan dengan sedikit gerakan memiringkan tubuh ke kiri, beliau pergi. Tak ada sakaratul maut yang berkepanjangan atau bahkan tampak. Tak ada erangan, teriakan, atau kejang yang menciptakan ketegangan. Tak ada wajah-wajah suram anak cucu yang menungguinya di rumah sakit. Yang ada, sekali lagi, ketenangan.

Kabar itu tiba padaku secara gamblang melalui tangisan embah putri yang seperti lolongan orang sakit yang sangat menderita di dalam kamarnya. Seketika lututku gemetar hebat, wajahku memanas siap meledakkan apapun yang secara tiba-tiba membara, lidahku kelu, dan otakku tak henti bekerja memutar memori tentangnya, tentang embah kakung.

Seketika aku merasakan sebuah sensasi hebat yang harus kuakui baru pertama kali kurasakan. Sebuah perasaan yang sangat rumit dan tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Seperti sebuah penyesalan, kesedihan, amarah, penolakan, dan kebuntuan yang kurasakan dalam satu waktu secara serentak.

Menyesal. Kenapa aku hanya menyempatkan diri menjaganya di rumah sakit untuk beberapa jam saja? Kenapa tidak dapat kuterjemahkan satu pun bahasa firasat yang mungkin mendahului memperingatkan? Kenapa aku tak bisa lebih bertindak sebagai cucu yang baik selama ini? Kenapa tak pernah kupikirkan betapa sayangnya dia padaku? Kenapa begitu cepat? Kenapa?

Sedih. Pada akhirnya aku sadar akan satu hal, dari kesemua embah yang kupunya, embah kakung dari ibu dan embah putri dari bapaklah yang paling berbeda perlakuannya padaku. Kenyataannya, justru keduanya telah lebih dulu pergi (embah putri dari bapak meninggal pada November 2008). Tiba-tiba, aku merasakan kesedihan ganda, kehilangan dua kali dalam satu waktu.

Marah. Pada diri sendiri tentunya untuk alasan-alasan yang sebelumnya sempat kutulis. Aku marah karena setelah semua kebaikan mereka, aku baru menyadari betapa sedikit kebaikanku untuk mereka. Aku marah karena bahkan mereka pergi sebelum aku mampu menjadi cucu yang membanggakan darah keturunannya.

. . .


Sumber gambar:
http://www.crystalxp.net/galerie/img/img-wallpapers-candle-light_water-priyadarsh-sarwade-7769.jpg

Januari 12, 2009

Melawan Kenyataan dengan Tindakan Nyata


Ketika pertama kali Israel meluncurkan serangan udara ke jantung Gaza City dan diikuti serangan udara lain secara bertubi-tubi hingga beberapa hari berikutnya, aku seperti melihat kenyataan dalam mimpi, atau melihat mimpi dalam kenyataan. Entahlah. Hampir tak bisa kubedakan.

Sesaat, tubuhku yang menyaksikan berita aktual di televisi seperti lenyap dari kehidupan nyata dan terjebak entah di mana. Hanya ada aku yang mematung dan kotak elektronik yang menayangkan rekaman sebuah kota pemukiman padat penduduk beserta ledakan demi ledakan yang tak terhitung jumlahnya. Pada titik ini, aku menganggap diriku sedang bermimpi. Mimpi yang memberikan gambaran nyata yang terjadi di dunia riil.

Sesaat berikutnya, sekonyong-konyong aku kembali ke ruang tempat televisi tadi berada lengkap dengan teman-teman asrama yang tengah menonton bersamaku saat itu. Aku mengutuki diri sendiri bahwa aku terjaga. Tidak sedang bermimpi. Namun logikaku tak bisa menerima apa yang kusaksikan. Gumpalan awan panas hasil ledakan bom-bom mortil Israel di beberapa titik di Palestina seperti sebuah mimpi. Sangat tidak masuk akal walaupun sangat mungkin. Seperti menonton "Ripleys, Believe it or Not!".

Mari kita runut kembali dari awal (sejauh awal yang bisa kujangkau tentunya). Konflik Israel-Palestina memang tak pernah absen sebagai konflik terpanas di Timur Tengah yang panas, bahkan di bumi yang tengah memanas pula. Setelah melalui serangkaian perang dan perundingan tiada akhir, siklus perang kembali bergulir. Namun kali ini berbeda. Berbeda sama sekali.

Bagaimana tidak. Serangan Israel kali ini kelewat brutal, frontal, dan represif. Setelah diawali dengan serangan udara berkali-kali, Israel melanjutkan serangan darat tanpa ampun. Tak hanya itu, HPI (Hukum Perang Internasional) yang telah lama menjadi norma perang dan dijunjung dunia internasional, tak sekedar dilanggar tapi diaduk-aduk, diacak-acak, bahkan diinjak-injak. Target serangan bukan hanya markas militer, transportasi perang, artileri, atau gudang persenjataan, melainkan rumah penduduk, sekolah, rumah sakit, dan tempat-tempat umum yang dipenuhi warga sipil lainnya. Bahkan Israel menahan bala bantuan dalam bentuk apa pun yang telah menumpuk dari segala penjuru. Israel seolah membiarkan para korban yang membutuhkan pangan dan obat menderita untuk menjadi tambahan korban tewas berikut dan berikutnya. Sementara alasan atas semua tragedi dan penderitaan di Gaza City adalah serangan bom lontar Hamas yang ibarat hanya lemparan batu yang mengenai satu dua penduduk sipil Israel. Sama sekali tak sebanding dengan bom-bom Israel baik di darat maupun di udara yang menewaskan lebih dari 700 orang dan ribuan terluka termasuk wanita dan anak-anak. Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi.

Dunia gempar sudah pasti. Kecaman datang silih berganti baik dari tokoh perorangan, atas nama negara, atau organisasi internasional. Pernyataan pedas dan pahit terhadap kebiadaban Israel bak berondong yang telah matang berkeletuk dalam panci. Hampir semua pihak mengutuk, menyumpah serapah, dan melaknat tindakan Israel yang keji. Obama sebagai aktor dunia yang sedang naik daun pun angkat bicara setelah bungkam beberapa hari. Walaupun pernyataannya abu-abu tak pasti. Tak ketinggalan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut andil dalam adu caci maki. Lalu apa? Berpengaruhkah? Apa arti kecaman untuk bangsa yang telah tutup telinga? Apa makna sumpah serapah untuk negeri yang begitu keji? Apa guna pinta paksa untuk kaum yang seolah kebal hukum? Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi.

Gerakan kemanusiaan serempak ambil tindakan dari berbagai penjuru dunia. Dari pangan, sandang, obat-obatan, hingga bantuan medis dan bahkan relawan perang. Kotak-kotak bertuliskan "Solidaritas untuk Palestina" berhamburan di mana-mana memohon uang receh serelanya. Rekening-rekening bank atas nama "Solidaritas untuk Palestina" pun dibuka dan menanti uluran tangan memberi. Namun kendala justru tampak begitu nyata. Sangat minim bantuan negara-negara Arab di sekitar Palestina. Tapi kenapa? Tidakkah mereka masih merasa satu buyut dengan Palestina? Sudahkah mereka tunduk pada ego dan rasa takut akan dunia? Adakah indikasi benih-benih penyakit berbahaya kaum muslim mulai menyemai? Kecintaan berlebihan akan dunia dan ketakutan akan kematian. Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi.

Perang dua wilayah secara terbuka, brutal, dan tidak berimbang; hukum perang dilanggar sejadi-jadinya; darah tak berdosa menggenang tak terkira banyaknya; nyawa penerus bangsa diberangus tanpa rasa; mayat bergelimangan entah pria maupun wanita; bala bantuan hampir mustahil diterima; reaksi dunia sekedar melalui suara bukan langkah nyata; bahkan sanak saudara tak kunjung bangkit turut membantu walau terjadi di depan mata. Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi, belum dapat ku menjawabnya. Aku tak mau bermimpi bahwa ini adalah nyata; pun tak ingin mengatakan itu mimpi yang kulihat di dunia nyata. Membingungkan bukan?

Sama dengan fakta-fakta membingungkan di atas. Bagaimana serangan seterbuka itu bisa dengan langgeng berlangsung hingga sekarang? Bagaimana mungkin dunia internasional hanya berkata-kata dan tak melakukan apa-apa? Dan bagaimana bisa dunia Islam di sekitar Palestina tak banyak ambil langkah? Benarkah Israel sehebat itu? Atau dunia terlalu tolol dan begitu mudah dibungkam bahkan dipecah belah oleh sebuah kekuatan yang merupakan bagian dari dunia itu sendiri? Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi, aku tak mengharapkan keduanya. Dan aku akan mengakhirinya sekarang juga.

Aku harus bertindak. Aku harus berbuat. Sungguh. Tapi apa?

Beberapa hari sejak serangan pertama Israel, rekan-rekan aktivis mahasiswa di kampus menyerukan bentuk keprihatinan mereka akan tragedi di Gaza City. Selain orasi dan kotak-kotak amal, seorang mahasiswa memegang poster besar yang saya lupa tulisannya. Fokus saya waktu itu tertuju pada gambar-gambar di bagian bawah poster. Tidak seluruhnya, tapi sebagian besar aku mengenalnya sebagai logo sebuah merek atau perusahaan. Tanpa perlu menyebut merek, ada produk minuman bersoda, air mineral, snack ringan, produk kecantikan dan kebersihan, restoran cepat saji, hingga merek handphone. Semua itu sangat familiar dan sering kutemui di kehidupan sehari-hari. Bahkan beberapa pernah atau sering kupakai dan kugunakan.

Sang Mahasiswa yang memegang poster tersebut dengan senyumnya yang cukup ramah berkata: "Diketahui profit perusahaan-perusahaan ini sebagian disumbangkan untuk biaya perang para zionis Yahudi". Lalu aku tahu arah kalimat tersebut.

Pada awalnya aku hampir tidak bisa menerima alasan apa pun yang mengatakan "Jangan pernah gunakan produk Yahudi karena berarti kita mendukung aktivitas Yahudi termasuk perang di Palestina oleh Israel!". Pada awalnya otakku menciptakan spekulasi-spekulasi dan berbagai penyangkalan seandainya aku mengikuti instruksi tersebut. "Produk-produk itu begitu dekat dan sangat familiar. Bagaimana mungkin aku berhenti menggunakan produk 'A'? Setahuku hampir semua produk kebersihan dan kecantikan yang selama ini kugunakan berlabelkan 'A'. Lalu aku menggunakan apa? Snack-snack dari produk 'B' hampir semua kusuka. Nikmat dan sehat. Aku tak mungkin berhenti menikmati snack-snack tersebut. Apalagi air mineral 'C'. Mana mungkin aku disuruh berhenti menggunakan merek tersebut? Lalu aku pulang dengan kesimpulan "pasti ada jalan lain" untuk turut membantu Palestina.

Hari demi hari berganti. Merek demi merek Yahudi menyambangi badan hingga perutku. Perang pun masih bergulir menambah liter darah yang mengalir. Dan aku masih tak menemukan suatu langkah konkret untuk ikut andil dalam upaya membantu saudara-saudara seiman di Palestina. Hingga suatu hari seorang dosen yang cukup kritis dan brilian dalam pemikiran akan sebuah kasus sekaligus perumusan jalan keluar menyatakan sikap tegasnya akan produk-produk tersebut.

Teman, aku pernah membaca sebuah tulisan yang mengatakan bahwa manusia lebih sering menyibukkan diri sendiri dengan kemungkinan-kemungkinan dan berbagai bentuk spekulasi sebagai akibat suatu tindakan ketimbang menilik kembali maksud dan tujuan tindakan tersebut sebagai respon akan kenyataan-kenyataan yang ada. Seperti pada kasus global warming, ketika ada imbauan untuk mengurangi bahkan menghentikan penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak yang mengeluarkan gas emisi (sepeda motor) dan menggantinya dengan sepeda atau jalan kaki, respon spontan yang muncul adalah pemikiran kemungkinan yang spekulatif akan hasil dari tindakan tersebut. "Mana mungkin berhenti menggunakan kendaraan bermotor? Jika semua orang di seluruh dunia memilih menggunakan sepeda atau jalan kaki, maka perusahaan kendaraan bermotor di seluruh dunia akan bangkrut. Jika itu terjadi, pasti akan ada krisis besar karena perusahaan kendaraan bermotor cukup signifikan dalam roda ekonomi dunia. Belum lagi pengangguran yang akan meledak tiada ampun jika perusahaan-perusahaan tersebut tutup". Akhirnya, teriakan-teriakan serupa bagaikan lolongan anjing yang tak perlu diperhatikan. Buktinya, produksi sepeda motor tetap dan bahkan terus meningkat. Jika ada yang mengikuti anjuran tersebut, akan dikucilkan dan dianggap aneh oleh mata dunia.

Padahal yang dibutuhkan bukan itu, melainkan tindakan nyata. Kita tidak akan melakukan apa-apa jika otak kita dipenuhi spekulasi akan apa yang belum tentu terjadi. Kita hanya makin memperparah kenyataan yang sudah terjadi yang butuh tindakan segera. Untuk dua paragraf terakhir ini, inspirasiku adalah tulisan di blog Dewi Lestari (http://dee-idea.blogspot.com/search/label/Nature-Green-EcoLiving) berjudul "Dua Pertanyaan yang Berarti".

Melalui dua inspirasi itulah (pernyataan dosen dan tulisan di blog) aku mulai bertindak kecil-kecilan. Dimulai dengan teliti ketika membeli. Ya, temanku cukup kesal melihat tingkahku yang mengamat-amati produk-produk yang akan kubeli dan seringkali menanyakan "Ini produk dalam negeri kan?" Di sisi lain, aku justru menemukan titik terang dari keraguan tak beralasanku selama ini. Karena setelah diperhatikan dengan seksama, tidak semua produk yang ada di pasaran itu produk impor atau dari perusahaan multinasional (atau seperti yang diserukan sahabat-sahabat mahasiswa, produk Yahudi). Cukup banyak pula produk dalam negeri yang berkualitas dan tak kalah dengan produk-produk yang menguasai periklanan Indonesia itu. Memang benar, dengan tindakan kecil, kita akan tahu hal-hal baru yang selama ini tak sempat terpikirkan atau dianggap mustahil.

Maka melalui blog ini, dengan segala keterbatasan yang kumiliki, aku hanya ingin mengajak diriku sendiri, ya benar-benar diriku sendiri. Aku tak bermaksud mengajak siapa pun. Perkara pembaca ikut terpengaruh dan mengikuti ajakanku nantinya, maka kuanggap hal itu sebagai dampak positif.

Aku mengajak diriku sendiri, untuk tak sekedar mendo'akan namun berperan aktif dan nyata dalam membantu Palestina dan memerangi kedzaliman yang dilakukan Israel dengan berkomitmen mencintai produk dalam negeri, dan sebisa mungkin menghindari penggunaan produk impor, apalagi yang terdaftar sebagai produk pendukung gerakan zionisme Yahudi. Aku percaya dan yakin, niatku akan secara langsung berperan walau kecil. Sekali lagi, kita butuh langkah konkret, bukan kalimat manis.

Sebagai penutup, aku akan menegaskan sekali lagi, aku tak sedang bermimpi, tak pula menyaksikan mimpi. Aku sadar sepenuhnya dan menyaksikan kenyataan, bukan dalam mimpi, tapi dalam dunia nyata. Maka yang kubutuhkan bukan angan dan mimpi semata, tapi tindakan nyata.











Sumber gambar:
http://images.epilogue.net/users/straubart/Dreaming_tree.jpg
http://mpjc.org/images/palestine.jpg
http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/04/anak-palestina-korban-israel.jpg
http://3.bp.blogspot.com/_F4jkkfjqfSw/RfjRhDh8xPI/AAAAAAAAACM/UpYmvdS-5Rs/s1600-h/pengungsi+di+irak.jpg
http://qitori.files.wordpress.com/2007/07/palestina1.jpg

Desember 16, 2008

Fajar-Senja

Aku ingat saat ayah menceritakan hari kelahiranku. Saat itu adalah fajar. Ibu menyambut putra sulungnya dengan senyum manis seindah langit pagi. Beliau menggendongku yang masih merah dengan penuh kehangatan (meskipun aku belum bisa merasakannya, tapi aku meyakini itu) umpama sinar mentari pagi.

...


Tulisan ini kumulai saat fajar di suatu pagi yang berkabut.

Beberapa saat kupandangi lukisan langit timur nan kusanjung sejak dulu. Entah sejak kapan. Kegelapan telah raib digantikan warna-warni mistis berbingkai kesuraman namun sarat keindahan. Suhu pagi ini cukup rendah untuk menciptakan tebaran putih keabu-abuan yang seolah menyelimuti pepohonan dengan kesunyian dan kebisuan. Lengang.

Lalu semburat kemerahan memecah buram menjadi temaram. Masih di ufuk timur. Sisa-sisa bintang malam tadi tak kuasa digantikan sang fajar. Bau basah dapat kuhirup dengan leluasa. Bau yang tak kutahu seperti apa.



Tak lama lagi, langit merah menguning dan berakhir membiru. Saat kehangatan turut serta dalam fenomena pagi. Saat pepohonan telah dapat kulihat hijau tak lagi suram. Saat burung-burung seriti menghambur dari kediamannya untuk mencicitkan nyanyian paginya.

Sensasi ini tak bernama. Yang kutahu, aku bisa berlama-lama berdiri memandang langit yang berganti-ganti warna. Sesekali memejamkan mata sambil menelentangkan tangan menghirup bau pagi yang entah seperti apa. Merasakan kesejukan yang mengelus halus kulitku dan kehangatan yang hadir belakangan mengusir sisa-sisa kantuk.

Saat kusadar sepenuhnya fajar telah menyingsing, langit secerah seharusnya, dan suara manusia beraktivitas cukup bising, kutahu, hari baru saja dimulai.


...

Seperti apa hari ini tak bisa lepas dari penyambutanku terhadap pagi. Hari-hariku tak pernah sama. Seperti penyambutanku terhadap pagi yang tak pernah sama.

Aku dapat merasakan 'dingin' sepanjang hari kemarin. Saat pagi yang hujan dan dingin menusuk kusambut dengan dingin di balik selimut. Sisa hariku seolah dipenuhi hujan dan 'dingin'. Tak peduli seberapa gerah sepanjang siang yang mendung. Meskipun peluh merembesi kaos joger putihku. Walau aku harus telanjang dada di dalam kamar. Bagiku, hari itu 'dingin'.

Hari ini, sebagaimana kusambut pagi yang benderang dengan penuh kehangatan dan senyum, aku melihat senyum di setiap sudut jalan yang kulalui. Aku merasakan hangat di tiap ruang yang kutempati. Walau sempat geram karena terlalu lama menunggu dosen yang terlambat, sang Dosen muncul dengan senyum yang [kurasa] hangat satu jam kemudian. Walau tingkah temanku membuat alisku bertemu sesaat, detik berikutnya, aku dengan mudah memaafkannya.

Begitu pula hari-hari lain yang cukup terpengaruh oleh penyambutanku pada hari-hari tersebut di pagi hari.

Seperti yin dan yang. Ada penutup untuk sesuatu yang telah dibuka. Ada keburukan untuk tiap kebaikan. Ada kekurangan sebagai penyeimbang kelebihan. Ada petaka jika ada berkah. Ada akhir untuk sebuah awal. Ada hitam dan putih. Sebuah filosofi yang selalu berujung pada satu inti ajaran besar: selalu ada kematian untuk setiap kehidupan.

Satu hari bagiku dimulai saat mentari mengintip untuk terbit, dan diakhiri dengan kepulangannya ke haribaan langit barat. Dari waktu-waktu dalam satu hari, favoritku adalah waktu pagi dan sore hari. Fajar dan senja. Bukan berarti aku menjalani hidup di siang hari dengan setengah hati. Namun dua waktu ini seolah menjadi puncak kegairahan hidup atau sebaliknya--kelesuan--yang berpengaruh terhadap waktu siang.

Pagi dan sore bagaikan kembaran yang terpisahkan oleh dimensi ruang dan waktu. Keduanya sama. Sama-sama memiliki keindahan tak terperi. Sama-sama memancarkan kehangatan. Sama-sama memberikan lukisan megah penuh nuansa kuning keemasan.

Jika pagi hari menjadi tolok ukur berjalannya satu hari, maka sore hari menjadi sarana meditasi memutar ulang (flash back) jalannya hari yang hendak berakhir. Seperti halnya aktivitasku di pagi hari menatap langit timur, aku bisa berdiam diri memandang langit barat dalam ketenangan lain.

Saat-saat itu kugunakan untuk mengendurkan otot dan urat tubuh. Puluhan jam yang kulalui tadi tak akan dapat kuulang di hari lain. Peluang, kejadian, event, khilaf, berkah dan thethek bengek yang kujumpai hari itu hanyalah milik hari itu. Maka sore-soreku pun tak pernah sama.

Kadang muncul kepuasan. Tak jarang penyesalan yang ada. Atau rasa penasaran yang enggan menyingkir. Kadang kurasakan kebahagiaan yang mendalam. Sesekali ada kesedihan. Aku bisa men-syukuri hari itu. Aku pun bisa mengutukinya.

Saat-saat itulah, panorama senja sungguh indah tak hanya di mata, tapi di hati.

...


Dimulai dengan angin sore yang menebarkan baunya tersendiri (aku pun tak tahu seperti baunya). Matahari mulai menyentuh cakrawala. Umpama bola raksasa yang jatuh ke lumpur hidup, perlahan-lahan ia pun tenggelam, ditelan waktu.

Semburat-semburat kuning di permukaan awan, umpama gumpalan gulali berlapiskan emas. Langit biru telah berubah menjadi kekuningan di ujung barat sana. Hangatnya matahari sore tak sama dengan mentari pagi, namun sama indahnya. Pada detik ini, belum cukup decak kekagumanku.

Detik selanjutnya, lukisan telah ditebali tinta emas. Warna langit kian memukau dan indah. Matahari hanya tinggal separuh lingkaran. Semakin lama, semakin indah. Aku teringat masa kecilku saat aku bisa berlama-lama terpukau menonton pertunjukkan langit dari balik jeruji jendela rumah paling belakang yang tepat menghadap barat. Kebiasaan yang sudah jarang kulakukan mengingat waktu-waktu puncak pentas, bertepatan dengan kumandang adzan maghrib.

Hari ini, aku bernostalgia dengan berdiri mematung di balkon kamar asrama untuk menyaksikan senja sore. Kebetulan, tinta alam begitu pekat melapisi sore. Karena pentas tidak diadakan setiap hari tentunya. Ada kalanya langit sore tak ubahnya hamparan kuning pucat yang dipenuhi awan kelabu. Namun tidak sore itu. Langit sore mengucapkan kata perpisahan dengan aksi indah bernuansakan emas. Megah. Mewah. Sungguh indah.

Maka aku mengakhiri tulisan ini saat hari tengah bersiap menyambut senja.


...

Aku pernah [dan masih] berdo'a: "Tuhan, aku ingin Engkau memerintahkan malaikat-Mu menjemputku saat senja yang indah. Sebagaimana kau menurunkanku ke dunia saat fajar yang juga indah tentunya."






Sumber Foto:
http://www.lailalalami.com/blog-old/archives/MistyMorning.jpg
http://www.sarpysam.net/gallery/albums/sunrise/sunrise10232007.sized.jpg
http://www.whitehouse.gov/news/releases/2002/08/images/20020809-1_ranch1-1-515h.jpg
http://www.atpm.com/10.10/sunsets/images/sunsets-6.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivxJd3NxBuic8HRrGCM4t_-_1OXjxJMGev8EglPlzMl_oj-xKUYo9H5oYpwcp-PclvkbSwWygICUsQ88P5bQIbS_XG-KSiPW7PcXeD6h9pjjFcy-bVZhjMHYirOeQrVs5juHPXTwwSPXc/s1600-h/senja.gif