Oktober 07, 2010

Kosong



Kosong. Setelah sekian lama jemari ini tak menari di atas papan aksara. Setelah begitu jauh kreativitas hengkang, meninggalkan hanya sebentuk ide saja. Kata demi kata yang biasa terjalin dalam untaian sajak, atau sekedar kalimat sarat makna. Gagasan yang dulu tak pernah jenuh mewujud dalam ungkapan, puisi, atau cerita, lengkap dengan seni rima. Kini kosong. Melompong. Bagai tong sampah di pojok taman kota: berguna, namun dilupakan orang-orang sekitarnya.

Kosong. Sulit sekali rasanya memulai, mengawali lagi jalur yang titik terakhirnya bahkan kulupa di mana. Seperti linglung saat terbangun dari mimpi indah. Antara euforia abstrak usai melihat keindahan, namun tak ingat apa dan bagaimana detilnya. Berkali-kali dicoba, hanya sepenggal bentuk, sepotong rupa, dan percik-percik warna saja. Biasanya berakhir pada kata menyerah dan hanya melamunkan sisa-sisa rasa yang ada.

Kosong. Begitulah gambaran, rupa, dan warna yang mampu mewujud saat ini. Saat fantasi yang dulu mampu menggila, mulai usang seolah tak bernyawa. Saat luapan ide yang dulu punya penampung tak terbatas, mulai serabutan tanpa arah dan cenderung hilang tak jelas rimbanya. Saat rangkaian kata yang dulu sarat keindahan, mulai terbata-bata demi menemukan bentuknya. Saat kenangan masa-masa dulu menguar dalam rindu.

Kosong. Tong sampah kota. Kosong. Euforia mimpi. Kosong. Rindu masa lalu. Kosong.

...

Masih kosong.

...

...

Kosong.




NB: Mungkin kosong tak selalu berarti tidak berisi. Mungkin berisi tak selalu tidak kosong. Sebagaimana pikiran yang sejatinya tak pernah kosong. Begitu pun ruang angkasa yang sejatinya tak berisi.


Sumber gambar: http://fc03.deviantart.net/fs29/f/2008/158/8/1/empty_by_Kosmur.jpg

Mei 18, 2010

Berkarya Selagi Muda berarti Bertindak Selagi Bisa


“Bakat itu hanyalah sebuah kesempatan, namun untuk menjadi ‘sesuatu’, bakat itu harus diasah agar ia mengeluarkan aura cahayanya dan menemukan pintunya. Namun lebih dari itu, kesempatan atau sebuah potensi harus bergerak menemukan pintunya.” (John C. Maxwell, Talent is Never Enough)

Potongan kalimat Maxwell di atas mungkin bersifat umum dan diperuntukkan kepada hampir seluruh kalangan. Motivasi yang dimaksudkan agar kita bergerak dan melakukan aksi demi mencapai apapun tujuan kita. Bagaimanapun, jutaan ide dan gagasan tidak akan mewujud dalam bentuk nyata jika hanya dipikir dan diangankan saja. Tulisan ini akan mengulas isi buku “Wirausaha Muda Mandiri” yang disusun oleh Prof. Rhenald Kasali, Ph. D.

Buku setebal 316 halaman ini berisi tentang 24 kisah sukses dari 24 wirausaha muda Indonesia yang merintis usaha mereka sejak muda bahkan sejak mereka kecil. Sebagaimana telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, ide dasar penyusunan buku ini adalah motivasi kepada orang-orang muda Indonesia dalam berkarya, khususnya bidang bisnis kecil menengah.

Kisah sukses tidaklah selalu berisi cerita indah dan manis. Sebagaimana kupu-kupu cantik yang terlahir dari ulat dan kepompong buruk rupa, sebagian besar kisah dalam buku ini menggambarkan proses sebuah kesuksesan yang diawali dengan perjalanan kurang menyenangkan bahkan terkadang pahit dan menyakitkan. Di sinilah letak daya tarik kisah demi kisah dalam buku ini. Tidak hanya mengumbar janji dan mimpi, tiap penulis memberikan realita dan fakta sebagai pengingat bahwa madu manis dikumpulkan dari puluhan sari bunga yang dikumpulkan lebah dengan taruhan nyawa, perjuangan dan pengorbanan.

Di samping 24 kisah sukses dari 24 finalis wirausaha mandiri yang diadakan Bank Mandiri, buku ini juga memberikan 24 nilai-nilai wirausaha yang disebut Hukum Wirausaha. Tiap hukum wirausaha dijabarkan mendetail dalam satu artikel yang ditulis langsung oleh tokoh yang dikisahkan dalam buku. Kehebatan praktis yang dimiliki para finalis ternyata tergambar juga dalam kelihaiannya menuliskan gagasan dan ide dalam tulisan. Tiap artikel yang mereka tulis memberikan spirit tersendiri sekaligus mendukung kisah sukses mereka yang diceritakan di awal.

Kisah pertama ditorehkan seorang pemuda kelahiran kota hujan, Bogor, bernama Elang Gumilang. Singkat cerita, buah usaha yang bersumber dari gagasan dan ide dalam kepalanya, dengan bumbu jiwa sosial dan empati tinggi yang ia miliki, kini mewujud dalam bisnis properti dengan perusahaan yang ia dirikan sendiri, Perusahaan Semesta Guna Grup. Berawal dari satu unit rumah sederhana, menjadi tiga, dan terus bertambah hingga kini tercatat 220-an unit rumah telah didirikan di bawah konstruksi perusahaannya dengan target pasar masyarakat menegah ke bawah. Satu catatan prestasi yang tentunya tidak semua orang dapat lakukan di usia 24 tahun adalah pendapatan atau omzet tahunan yang ia peroleh tidak kurang dari Rp 20 miliar per tahun. Ditambah kontrak pre periodik terbarunya yang menambah Rp 80 miliar hingga Rp 100 miliar ke bisnisnya.

Hukum wirausaha #1 ditulis oleh Elang Gumilang: “Kenali dan Guntinglah Belenggu yang Mengikat Kaki dan Pikiran-Pikiranmu”. Elang menjelaskan secara mendetail mengenai nilai-nilai yang telah ia dapat dari pengalaman-pengalaman bisnisnya. Kata demi kata dituliskan dengan semangat mengajak pemuda Indonesia untuk mengikuti jejak langkahnya. Satu poin terakhir yang ia tuliskan adalah: “Setelah semua belenggu terlepas, janganlah berfokus pada hal-hal yang tidak bisa Anda kerjakan. Berfokuslah pada apa yang bisa Anda kerjakan. Jangan mencemburui keberhasilan orang lain, karena setiap orang memiliki keunikan dan caranya masing-masing. Kembangkanlah kebiasaan baru yang Anda kembangkan sendiri.”


Kisah sukses lain datang dari gadis berusia 24 tahun bernama Riezka Rahmatiana. Bermodalkan uang jajannya semasa kuliah sebesar Rp 150.000,00, Riezka memulai bisnis awalnya yakni pulsa elektronik. Dengan tekad dan keberanian yang diformulasikan bersama bakat bisninsnya, usaha kecilnya berjualan pulsa telah berkembang begitu pesat dan bertransformasi menjadi CV Ezka Giga Pratama sebagai dealer atau server pulsa elektronik dan membawahi sejumlah agen outlet kecil. Sayap ia kembangkan dengan menerima tawaran teman membuka bisnis laundry & dry clean bernama Prima Laundry. Untung bersih Rp 2.000.000,00 ia terima di bulan pertama. Tahun berikutnya, bisnis kuliner diliriknya dengan hasil kafe D’Green House yang berlokasi di food court & cafĂ© di daerah Cihampelas, Bandung. Dari sinilah, Riezka mulai serius dan memfokuskan bisnisnya di bidang kuliner dengan masterpiece yang dia ciptakan berupa Pisang Ijo, bisnis makanan dengan sistem franchise dan booth.

Bukan hal yang mudah bahkan terkesan tidak mungkin untuk seorang mahasiswi yang memulai bisnis dengan nominal Rp 150.000,00 kini telah memiliki aset sekitar Rp 500 juta. Rahasianya tanpa ragu dia bagikan kepada pembaca melalui Hukum Wirausaha #23: Naik Kelas. Riezka menganalogikan proses berwirausaha layaknya jenjang sekolah yang harus mengalami kenaikan kelas untuk bisa menjalaninya dengan baik dan lancar. “Kalau Anda tidak naik kelas, maka Anda hanya punya dua pilihan ini: menerima kenyataan dengan menjadi usahawan bodoh, atau Anda pindah sekolah (pindah usaha) dan memasuki dunia usaha yang membuat Anda lebih cocok, lebih adaptif.”

. . . . . . .

“Maka dari itu, bergeraklah, bergegaslah, jangan hanya berpikir, berpikir, dan berpikir di atas kertas terlalu lama. Kembangkan imajinasimu dan carilah pintu-pintu itu, ketuk satu persatu dan dari puluhan atau bahkan ratusan pintu yang Anda ketuk itu kelak ada “magnet” yang tertarik. Anda diundang masuk ke dalam karena aromanya “fit” dengan jiwa Anda. Namun ruangan itu belum tentu berpintu kea rah dalam. Jangan-jangan ia Cuma ruang penjaga gedung atau ruang tunggu yang hanya menjadi persinggahan sementara Anda. Anda harus keluar dan mencari pintu-pintu lainnya. Namun apapun yang terjadi, sebuah keyakinan telah terbentuk, bahwa dunia usaha welcome terhadap kehadiran Anda.” (Prof. Rhenald Kasali Ph.D., kata pengantar Wirausaha Mandiri)






*Dikumpulkan sebagai tugas mata kuliah Bahasa Indonesia.


Sumber gambar:
http://www.jerryaurum.com/blog/wp-content/uploads/2010/01/WMM.jpg
http://www.elanggumilang.com/index/wp-content/uploads/2009/11/Elang-vertikal.jpg
http://www.kompas.com/data/photo/2009/11/28/3593404p.jpg

Mei 08, 2010

Catatan Awal Buku 20

Lembar pertama buku 20 terukir dengan pena-pena emas yang luar biasa indah..




Ucapan dan do'a yang membanjir, di luar ekspektasi..

...
Dua jam telekomunikasi dengan sahabat lama, karib, serta terbaik di Inggris Raya beserta pengalaman listening langsung aksen british..
Isolasi
...

Obrolan pelampiasan rindu bersama keluarga:
Papah&Mamah


Nana


Fira

Riri

And my little Ami..



Kado manis buah kerja sama dengan partner luar biasa Ka Angel dan Ka Dimas utamanya berupa pengalaman bathin capaian indah dan takkan terlupa sebagai Champion BUMC..

Kotak kejutan dari sahabat baru Aril dan Icha yang sungguh berhasil merekahkan senyum sekaligus haru..


SMS menggetarkan hati dari sahabat terbaik Danang..

Berlanjut pada tontonan mendebarkan final basket IBS bersama warga kampus dengan hasil kemenangan untuk tim basket UB..



After all, this indeed is my sweetest birthday ever..
Alhamdulillah.. :)

Oktober 09, 2009

Untitled


Terlampau sering kusahut lolongan serigala yang kian perkasa. Bukan inginku menyandera apalagi mendera yang kian tak berdaya. Namun demikianlah jiwa ini terus berbagi. Dosa? Yang tak berdaya kan terus merintih berkat perih. Bagaimana tidak?

Maka tak ingin lagi ku sekedar menoleh apalagi untuk nyeleneh. Satu yang perkasa, bukanlah yang kuasa. Walau pernah kukebiri hingga ngeri. Ianya itu yang kan kubela sampai mati. Sebagaimana ia tak pernah sedetik pun lari apalagi sembunyi.


Sumber gambar:
http://anoya.deviantart.com/art/Confession-28611203

April 09, 2009

Business, as Usual


Yogyakarta, 2008


"Lalu sekarang, apa yang akan Miss lakukan?" aku memandang dosen bahasa Inggris sekaligus salah satu teman terbaikku selama berada di kota perantauan.
"Apa yang bisa kulakukan?" pertanyaan buntu. Nampaknya memang tak ada yang bisa dilakukan dalam keadaan seperti itu.

Bagiku, hanya kekecewaan yang bersarang di hati saat mengetahuinya. Kecewa akan apa yang menimpa dosenku yang sangat baik ini. Kecewa pada oknum-oknum penyebab ini semua. Kecewa menerima kenyataan bahwa tak banyak yang bisa kuperbuat untuknya.

"Tapi Fa, paling tidak aku masih bisa bersyukur," bagian inilah yang paling kutunggu,"Bayangkan jika sekarang aku menjadi bagian dari mereka. Mungkin aku malah tidak pernah tahu."

*******

Sebaiknya kubuka saja apa yang sedang kubicarakan di sini. Adalah dosen bahasa Inggrisku di sebuah universitas Islam swasta yang pernah menjadi ladang tempatku menimba ilmu. Sebut saja Miss Jasmine. Dengan mengantongi ijasah sarjana sastra Inggris dari universitas negeri cukup ternama di kota yang sama, statusnya di universitasku saat itu belum menjadi dosen tetap. Dan langkahnya untuk menuju ke arah sana nyaris lengkap dengan ijasah Master of Art yang diperolehnya dari universitas negeri paling populer tak hanya di kota tersebut tapi juga di negeri ini.

Nyaris lengkap. Tepat beberapa bulan setelah gelar master dikantonginya, Miss Jasmine tak melewatkan peluang untuk menjemput mimpinya. Singkat cerita, setelah melewati beberapa tahapan tes tertulis untuk menjadi dosen tetap di sebuah universitas Islam negeri ternama, tinggallah dia dihadapkan pada seleksi terakhir. Miss Jasmine menjadi satu dari dua kandidat yang berhasil sampai di titik aman terakhir ini.

"Guys, aku minta do'a dari kalian untuk seleksi besok. Jika semuanya berjalan lancar, kita adakan syukuran, oke?" Miss Jasmine yang masih lajang dan berjiwa muda terlihat sangat ceria dan bersemangat seperti biasanya.
"Makan-makan Miss?" celetukku yang juga antusias pada kesempatan ditraktir. Dan Miss Jasmine tersenyum.

Sebagai seorang wanita, Miss Jasmine memiliki semangat yang berapi-api dan mampu menginspirasi siapa pun untuk malu pada kata menyerah atau sekedar bermalas-malasan. Dia tak hanya menjadi pengajar di satu tempat, tapi tiga tempat sekaligus dengan jam kerja melampaui batas maksimal jam kerja seseorang di negara manapun. Bayangkan saja, setiap hari (kecuali Minggu) dia memulai aktivitas mengajar dari jam tujuh pagi hingga jam sembilan malam dengan jeda waktu yang tidak seberapa. Hampir seperti buruh pabrik saja.

"Aku juga tak tahu kenapa ya Fa. Yang jelas, aku menikmati pekerjaanku. I mean, I meet different people with many kind of personalities, every day. It such challenges me." tuturnya suatu hari melalui sms ketika ditanya mengenai jam kerja rodinya.

Ah ya, kelanjutan cerita tadi. Akan kumulai lagi dengan pesan singkat Miss Jasmine di hari pengumuman akhir.

"Lucu Fa. Lucu banget. Kuceritakan besok di kelas ya."

Tadinya kupikir Miss Jasmine akan membawa berita baik yang diwarnai hal-hal lucu. Tapi kalimat pertama yang muncul dari mulutnya sebagai jawaban atas pertanyaanku sekaligus teman-temanku pagi itu adalah "aku gagal" dengan senyum yang masih mengembang, tanpa perubahan ekspresi yang berarti.

Ya, Miss Jasmine gagal menjadi dosen tetap di universitas Islam negeri itu. Nama yang muncul di pengumuman final adalah nama "rival" satu-satunya yang lolos ke tahap terakhir. Tapi cerita masih berlanjut, lebih tepatnya, bercabang ke belakang.

Ternyata, pada H-1 sebelum pengumuman, Miss Jasmine telah mendapatkan sesuatu yang tak seharusnya diberikan padanya. Sebagian besar karyawan hingga staf pengajar di universitas yang bersangkutan memberikan pengumuman tidak resmi. Miss Jasmine menerima begitu banyak ucapan dan jabat tangan dengan ekspresi "selamat bergabung". Bahkan salah seorang darinya memberi bocoran tentang calon meja pengajar yang akan ditempatinya. Tak pelak, Miss Jasmine pulang dengan sejuta angan dan kebahagiaan yang menggebu mengetahui salah satu mimpinya akan terwujud.

"Bisa kubayangkan ..." Miss Jasmine hanya mengedikkan mata menanggapi respon awalku.

Keesokan harinya, Miss Jasmine lagi-lagi harus menunda puncak kebahagiaan yang sebelumnya juga tertunda, karena pengumuman yang dijanjikan keluar pada pagi hari, tak kunjung muncul hingga malam hari. "Sampai di sini, aku mulai berpikir ada yang aneh."

"I see ..."
"Yah, kau bisa menerka yang mungkin terjadi hari berikutnya. Bukan namaku yang terpampang di pengumuman final."
"Pasti sangat mengejutkan," aku membayangkan jika aku ada di posisi itu.
"Belum pernah aku seterkejut itu," raut mukanya berubah sedikit,"Tapi itu hanya beberapa detik kok Fa. Aku tak mau emosi apalagi mencari kambing hitam. Jadi aku langsung saja mendatangi kantornya, sekaligus konfirmasi pada para 'pemberi ucapan selamat' hari sebelumnya. Aku hanya ingin bilang, jika itu sebuah lelucon, sangat tidak lucu."
"Lalu..?"
"I got silence. Nobody spoke up. They just showed their innocence. And I felt sad at that time," rona mukanya masih menunjukkan hanya sedikit perubahan, tapi tak pernah mengindikasikan akan meneteskan air mata atau sejenisnya,"Untung ada Lily. Dia cukup membantu dengan menawarkan bantuan meski aku sendiri tidak cukup yakin.
"Lily berjanji akan mengusut masalah ini. Jika perlu, dia akan meminta orang tuanya yang pejabat Departemen Agama turut menanganinya."
"Bukankah itu bagus?" tak bisa kupikirkan kata-kata lain.
"Masalahnya, aku tak yakin dengan kekuatan yang ada," aku diam tanda tak mengerti, "Hal ini sudah diangkat hingga ke tingkat rektorat Fa. Dan kau tahu, bahkan sang Rektor bungkam. Aku tak mau berburuk sangka, tapi aku yakin kau mengerti maksudku."

Sebenarnya tak perlu ada buruk sangka di sini. Ataupun sebuah kesimpulan. Yang bisa kumengerti di sini adalah, apa yang menimpa Miss Jasmine sebenarnya hal 'biasa'. Bisa dibilang, mungkin banyak kasus serupa yang menimpa orang lain di luaran sana. Gambaran tentang rumit dan kotornya birokrasi yang ada di Indonesia sudah cukup jamak sebenarnya. Yang tidak biasa adalah, menjadi bagian paling minor, paling dirugikan, dan paling tak berdaya di dalamnya. Dan itulah yang sedang dialami Miss Jasmine.

Ingin sekali kukatakan kalimat-kalimat tadi sebagai penghiburan kecil untuknya. Tapi bibir ini kelu justru karena Miss Jasmine sama sekali tak menangis atau sekedar menunjukkan kesedihannya. Dia kembali tampil di depan kelas seperti Miss Jasmine yang biasanya. Yang ceria, murah senyum, enerjik, dan mudah menularkan semangat pada orang lain. Aku tahu, aku mengerti benar, dia tak menyerah. Mungkin dia memang tidak melakukan apa-apa sebagai bentuk pembelaan atau upaya pembuktian. Tapi dia telah menang. Baginya, dan bagiku. Dia menang karena tak terjebak pada kekecewaan yang mendalam. Dia menang atas ketidakberdayaan yang tak mampu membuatnya menyerah atau merasa kalah. Dia menang karena bangkit walau habis jatuh tertimpa martil keras kemunafikkan.

*******

"Mmm.. mungkin seandainya aku tak pernah mendapat penyambutan tidak resmi itu, hal ini hanya akan kuanggap sebagai 'hasil yang belum sesuai harapan'."
"Dan tentunya tidak akan terlalu menyakitkan," kali ini sorot matanya mengguratkan kepedihan.

"Sebenarnya ini semua untuk ibuku," tambahnya sedikit berbisik.

Dan seandainya aku tidak berada di kelas saat itu, mungkin aku yang mewakili kesedihan Miss Jasmine dalam tangis.


(Berdasarkan kejadian nyata dengan nama tokoh disamarkan)



Sumber gambar:
http://orikomi.deviantart.com/art/dissapointed-angel-edited-109941238

April 01, 2009

Petualangan Lahir dan Bathin


Keputusan untuk akhirnya membeli buku ini diawali dilema besar. Di tanganku saat itu sudah ada dua buah buku dengan genre yang tadinya kupikir sangat berbeda. Sebagai pecinta karya Jostein Gaarder yang masih pemula karena baru membaca salah satu karyanya, The Solitaire Mystery, rasa penasaranku untuk mencicipi ramuan fantasi, spiritualitas, dan filsafat di karyanya yang lain sedang menggebu-gebu. Cecilia dan Malaikat Ariel sudah di tangan dan hampir kuserahkan ke kasir ketika mataku menangkap sebuah judul yang cukup eye catching. Buku bersampul dasar putih dengan gambar backpack dan bendera-bendera negara Eropa ini pun kuambil. Judulnya cukup panjang, “ Back “Europe” Pack; Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar! “

Buku tersebut sekonyong-konyong membangkitkan mimpi lama yang sedang lesu dan malas kubahas, keliling dunia. Karena aku berada di toko kecil, jadi mustahil mengharapkan sampel buku yang terbuka. Aku pun cukup membaca tulisan-tulisan yang ada di sampul depan dan belakang. Selain tulisan “1.000 dolar untuk 45 kota, 13 negara, 10.600 km, dan pertemanan tak ternilai “ yang terdapat di sampul belakang, ternyata ada komentar dari seorang penulis Indonesia favoritku, Dewi Lestari, di bagian sampul depan. Dengan segala hal ‘menjual’ sekaligus memikatku yang ditawarkan buku itu, mau tidak mau membuatku berada pada tekanan dilematis. Setelah perang sengit di benak, akhirnya kuambil buku berjudul super panjang itu sembari mengembalikan karya Jostein Gaarder ke raknya.

Lembar-lembar awal berisi tentang sejarah pencetakan buku yang bermula dari jurnal perjalanan penulis di blog. Hal unik pertama yang kutemui di buku yang tadinya kupikir berisi tips-tips aneh dan nyeleneh ini adalah ide besar perjalanan nekat keliling Eropa dengan modal sangat minim dan ditempuh sendiri (apalagi sang Penulis adalah wanita). Ide apakah gerangan? Yaitu dari segala hal yang penulis alami di Eropa, semua pengalaman travelling, sight seeing, culinary, hingga perjalanan spiritual yang kaya pelajaran hidup, diperoleh penulis bukan melalui jalur eksekutif apalagi illegal, melainkan jalur pertemanan.

Bab pertama berisi tentang uraian alasan mengapa kita ‘harus’ melakukan travelling. Ada tiga belas alasan yang diuraikan dengan segar dan menarik didasarkan pada pengalaman pribadi penulis. Dimulai dari alasan paling mendasar ‘menyenangkan’, hingga alasan mendalam dan cenderung teoritis tapi sangat relevan ‘teori fitrah’.

Dilanjutkan bab berikutnya yang berisi tentang 13 langkah yang perlu dilakukan sebelum berangkat. Boleh dikatakan, bab kedualah yang menjadi modal pemasaran utama buku ini. Selain menjadi bab yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika membaca judul buku, bab ini sekaligus menjadi semacam panduan praktis bagi siapapun yang hendak mengaplikasikan saran-saran di dalamnya. Dilengkapi dengan space-space kosong untuk diisi pembaca saat merencanakan perjalanan mereka seperti uang yang harus dikeluarkan di tempat ini, untuk keperluan ini, karena alasan ini, makin menjadikannya menarik karena memudahkan pembaca tanpa harus membuat dari nol rencana perjalanan mereka.

Sampai titik ini, apresiasiku terhadap buku ini tak lebih atas ide besar jalur pertemanan yang diusung. Apalagi dijelaskan dalam bab dua tentang jalur pertemanan macam apa yang dimaksud penulis, bagaimana untuk bisa masuk ke dalam jalur tersebut, serta tips-tips agar bisa enjoy selama berada di jalur tersebut. Dan tentunya, seperti yang ditulis Mbak Dewi Lestari di sampul depan buku, bahwa buku ini merupakan hasil pengamatan jeli penulis setelah mengalami perjalanannya yang akan mampu menginspirasi siapa pun untuk berani merambah dunia, dan mempercayai keindahan hati manusia.

Ketika hendak break membaca karena merasa telah mendapat intisari buku, lagi-lagi aku dibuat penasaran dengan sub judul ketiga “13 Negara”. Selain rasa penasaran kenapa penulis cinta sekali angka tiga belas, sebenarnya aku lebih ingin tahu apakah Inggris menjadi salah satu Negara yang penulis kunjungi (karena nama tersebut telah lama mengendap dalam dimensi mimpiku). Akhirnya kubuka halaman selanjutnya.

Dimulai dengan pengantar bab tiga, penulis menggambarkan bahwa selain modal yang tersedia di bab pertama dan kedua, ada satu lagi hal yang sangat diperlukan dalam rangka melakukan perjalanan cross culture apalagi melalui jalur pertemanan. Bukan hanya cuaca, tempat, dan bahasa, tapi juga tentang orang-orang yang akan kita temui yang menjadi partner di jalur pertemanan tadi. Tantangan terbesar yang jika dilalui akan menghasilkan keajaiban-keajaiban perjalanan tak ternilai adalah seberapa terbukanya kita. Seberapa besar kesediaan untuk saling bertukar, berdialog, dn memahami, yang seringkali dituntut dari kita dalam isu-isu terringan hingga terberat seperti agama (hal 77).

Pada awalnya tulisan tersebut tak begitu membekas di benak, hingga akhirnya aku berlalu dan membuka halaman selanjutnya. Satu halaman penuh foto-foto dan beberapa spot untuk tulisan-tulisan yang melaporkan keadaan di negara yang sedang dibahas. Negara pertama adalah Jerman dengan kota pertama Frankfurt yang memiliki bandara internasional terbesar di Eropa. Di sanalah Marina Silvia Kusumawardhani memulai perjalanannya dengan seorang host bernama Okan, yang merupakan kenalannya ketika Okan menjadi exchange student di kampusnya, ITB. Penulis berhasil mendapatkan akomodasi pertama yang sangat memuaskan berupa tumpangan di flat sang Host yang tentunya tak menarik biaya sedikitpun. Di sinilah mulai jelas, kenapa dengan uang 1.000 dolar, penulis dapat menjelajahi 45 kota di 13 negara. Jalur pertemanan jawabannya.

Kemudian lembar-lembar berikutnya pun tak jauh berbeda. Satu lembar penuh foto-foto, nama negara, tanggal kunjungan, nama kota, host, dan laporan keuangan. Yang terakhir adalah yang paling tidak masuk akal. Bayangkan saja, laporan keuangan ketika berada di St.Petersburg, Rusia adalah 1 Euro, bahkan laporan keuangan di Roma pun hanya 1,5 Euro, sama seperti kota-kota lain yang rata-rata tak lebih dari 5 Euro. Kalaupun ada yang cukup besar, pastilah untuk biaya transportasi antar-negara itu pun berkisar 5-10 Euro dan sekonyong-konyong tergantikan dengn cara-cara yang tak terduga. Seperti bekerja part-time ‘illegal’ karena sang Host di Stocholm ternyata seorang atasan sebuah rumah makan atau menjadi volounteer membersihkan area konser di Trondelag yang menggantikan uang tiket. Bahkan beberapa kali penulis mendapat uang cuma-cuma dari orang tak dikenal hanya karena menanyakan tempat penukaran uang. Woww!

Di antara lembaran-lembaran laporan perjalanan dengan konsep seperti di atas, ada berlembar-lembar jurnal perjalanan yang ditulis penulis atas dasar pengalaman pribadi di tiap kota atau (kebanyakan) hasil perbincangan dengan orang-orang yang ditemuinya di sana. Jurnal perjalanan inilah yang menarik perhatianku begitu mendalam. Selain berisi pengalaman-pengalaman unik, perbincangan yang terjadi antara penulis dan orang-orang di berbagai belahan Eropa pun terbilang dalam dan jarang (hampir tidak mungkin) diperbincangkan pemuda-pemuda di Indonesia. Tentang kehidupan, pengalaman spiritual, agama dan kepercayaan, hingga masalah ekonomi, sosial, dan politik.

Perbincangan serius, santai, hingga penuh canda yang terjadi tak hanya kaya akan makna, tapi juga membuka cakrawala penulis tentang satu tema besar kehidupan, perbedaan. Betapa sebuah perbedaan, entah perbedaan keyakinan ataupun perbedaan sudut pandang, dapat memberikan arti yang begitu mendalam tentang apa yang di’perbedakan’. Sebagai seorang muslimah berjilbab, penulis justru sering mendapati host yang tak hanya berbeda keyakinan, tapi bahkan ‘tak berkeyakinan’ alias atheis. Tapi itu tak membuat penulis menutup diri dan hanya menjadikan teman baru yang telah dengan baik hati menampung bahkan mentraktirnya selama di Eropa hanyalah alat melancarkan perjalanan efisien. Justru dari perbedaan yang sangat mencolok seperti penampilan, penulis bisa berbagi pengalaman dan pikiran tentang konsep kehidupan, konsep Tuhan, keyakinan, kebahagiaan, keikhlasan, cinta. Ya, aku sama sekali tidak mengada-ada atau melebih-lebihkan. Inilah yang membuatku berani member bintang lima untuk buku berjudul panjang dan cenderung komersil ini di goodreads.com. Sampai di sini, aku baru menyadari arti kata ‘seberapa terbuka kita dalam bertukar pikiran’ di pembuka bab.

Akhirnya, sebagaimana sebuah review buku, harus ada keseimbangan di dalamnya. Setelah aku menguraikan ‘sedikit’ kelebihan buku yang bagiku tak terduga berada di balik judul buku itu sendiri, sekarang tiba saatnya kita memasuki bagian kekurangan.

Secara kebahasaan, aku sangat memahami jika penulis tak terlalu formal alias lebih menyegarkan tiap kata yang digunakan. Karena pada dasarnya buku ini memang diperuntukkan untuk menyegarkan bukan menyuramkan. Satu-satunya kekurangan buku ini adalah penataan perpaduan antara foto dan tulisan yang seringkali mengganggu mata saat membaca. Foto yang diperbesar atau dijadikan dasar halaman, terkadang membuat kabur tulisan yang ada di atasnya. Dan mungkin, seandainya buku ini dibuat full colour akan lebih menarik karena visualisasi kota-kota dan aktivitas yang terjadi semakin hidup. (Meskipun pastinya berdampak pada harga yang akan melambung tinggi mengingat porsi fotonya lebih dari setengah tebal buku).

Well, di luar segala kekurangannya, aku tetap berpegang teguh pada prinsipku ketika menikmati sebuah karya. Bahwa seburuk apa komentar orang tentang buku ini karena kekurangan yang mencolok atau kesalahan-kesalahan teknis, bahkan ketidakcocokkan selera, porsi penilaianku biasanya lebih dipengaruhi bagaimana buku tersebut bisa menimbulkan kesan, efek, atau mungkin candu yang tidak ditimbulkan oleh buku lain. Dalam hal ini, buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini telah memberi warna dan sensasi tersendiri saat ku membacanya. Sangat direkomendasikan pada mereka yang haus akan warna lain kehidupan di samping tentunya, para back packer atau yang bercita-cita menjadi back packer. Akhir kata, difference is beauty.


P.S. : Ternyata Inggris tak masuk daftar 13 Negara yang dikunjungi penulis T_T

Maret 20, 2009

Complicated


Kamis, 19 Maret 2009

Hari ini aku menyadari sesuatu. Sebuah perasaan tak bernama dan tak kuhirau belakangan mencuat begitu kuat mengisi hari-hariku. Aku tak akan berani dan mau menamai perasaan tersebut sebagaimana perasaan tersebut tak mau permisi hadir dalam hidupku. Lagipula, tak ada nama untuknya. Kali ini, biarlah aku sepandangan dengan Ayu Utami "bahwa keindahan tak membutuhkan nama, hanya perlu dirasakan".

-------

Kepada M,
Aku tak tahu lagi harus berkata apa, atau mungkin memang ini tak perlu dikatakan. Aku cukup bahagia merasakannya. Kau muncul lagi mengisi hari-hari 'kosong'ku. Kau hadir di tengah dahagaku akan perasaan nyaman dan tentram. Kau tak pernah berubah. Kau sangat memahamiku.

Jujur saja, aku ingin sekali menghapus sebagian masa lalu kita. Bukan seluruhnya, hanya sebagian saja. Sebagian yang berhasil menyakitimu begitu dalam. Sebagian yang meninggalkan luka di hatimu. Sisanya, biarlah menjadi kenangan indah masa remaja kita.

Kau mungkin bingung, kau pasti bingung, apa maksudku menyampaikan kalimat-kalimat di atas. Begitu pun aku. Tak bisa kupahami jalan pikiranku, sehingga dengan mudahnya kuminta kau mendengar ceritaku beberapa malam belakangan. Kau masih seperti dulu, yang dengan sangat baik menjadi pendengar atas setiap kisah maupun keluh kesahku. Aku, dengan keadaanku yang sekarang, dan masa laluku yang seperti itu, seolah tak pernah menjadi alasan untuk membuatmu berubah. Aku, yang pernah menyakitimu begitu dalam, dan kini hadir menjadi pengganggu hari-hari penatmu, tak menyurutkan semangat seorang M yang selalu nampak ceria dan setia pada tawa kerasmu.

Bahkan untuk hal-hal yang mungkin menyakitimu, aku begitu terbuka, terlalu terbuka malah. Entah kenapa, aku masih merasakan nada getir dalam tawa dan kalimatmu tiap kali perbincangan kita sampai pada 'dia nun jauh di puncak gunung'. Lancang sekali aku berpikir jauh tentang hal ini, sungguh tak pantas sebenarnya aku mengatakan hal ini padamu. Untuk itu, maafkan aku...

Dari semua yang kutulis di atas, aku hanya ingin berterima kasih padamu. Jangan ge er. Aku hanya sudah lama ingin menyampaikan hal ini, tapi terhalang ego. Kuharap kau menanggapi positif tulisanku kali ini. Semoga ini tak merubah apapun yang ada di antara kita. Biarlah yang sekarang mengalir apa adanya. Keindahan yang hadir secara alami jauh lebih membahagiakan daripada keindahan yang direncanakan.

-------

Allah, Maha Penyayang lagi Maha Adil. Seburuk apapun kehidupanku sebelum hari ini, telah rapi tersedia kejutan-kejutan penawar itu semua di hari ini, esok, dan seterusnya.

-------

Kepada A,
Tak disangka pertemuan kita yang diwarnai tanggapan negatif dan kekurangpuasan, justru mengantarkan kita pada titik ini. Tak bisa kumengerti alasanmu membawaku berada lebih (terlalu) dekat pada kondisimu. Apapun alasanmu, aku hanya bisa berharap, kau tak terbawa emosi untuk mencurahkan semua isi hatimu pada begitu banyak orang.

Saat ceritamu mengalir di telingaku, aku hanya terdiam. Aku sungguh tak siap untuk mendengarkan sebanyak itu, sedalam itu, sedetail itu. Ada keinginan menghentikanmu, tapi lebih besar lagi keinginan mendengarkanmu. Dua jam lebih kau tumpahkan begitu banyak rasa, selama itulah aku mendapat pelajaran berharga dalam hidup. Secara tidak langsung, obrolan kita kamis malam itu adalah wejangan tak ternilai harganya bagiku. Tentang kehidupan, tentang hidupku, melalui refleksi hidupmu.

Dulu, begitu sering ku mengeluh akan apa yang kumiliki dan kualami dalam hidup. Dulu, sepertinya apa yang kumiliki dan kualami adalah yang terburuk dari yang paling buruk yang ada di dunia. Saat itu, kamis malam itu, martil baja menghantam kesadaranku, akan sebuah fakta kehidupan. Saat itu juga, kau telah mengubahku dari seorang yang cenderung skeptis menjadi lebih mudah menghargai.

Kau, di usiamu yang tertinggal dua nominal dengan usiaku, memiliki sebuah kehidupan yang selama ini hanya kutonton di televisi. Kehidupan yang sangat sulit bagiku. Yang tentunya tak pernah menjadi bagian dari hidupku. Kau, dengan wajah bayimu itu, telah mengalami suatu kondisi yang hanya bisa kubayangkan tanpa benar-benar bisa kurasakan. Pasti sangat menyakitkan jika ku bisa merasakannya.
Kau, dengan segala kesulitan dan rintangan yang menghadang, membuktikan kelebihan yang tak pernah benar-benar kumiliki.

Untuk itu semua, aku salut padamu, sekaligus sangat berterima kasih. Aku bersyukur pada-Nya telah mempertemukanku denganmu sebagai jawaban atas keluh kesah dan sikap kurang bersyukur yang menghiasi hari-hariku selama ini.

Hari ini, perasaanku sangat tidak enak. Walau terkesan berlebih, tapi aku tak bisa memejamkan mataku semalam. Dan sejak subuh tadi, dadaku sesak. Perasaan tidak enak seperti ini jarang sekali terjadi padaku, apalagi tersebab oleh orang lain. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku hanya bisa berdo'a, mendo'akan semua ini segera berlalu bagimu, memohon agar Dia tak meninggalkanmu barang sedetik. Hingga aku mengetik tulisan ini, perasaanku masih tak keruan. Bukan apa-apa. Aku hanya tak rela kau kalah sebelum bertindak. Kumohon, lakukan sesuatu. Setidaknya, jangan pernah berani lari sebelum kau berusaha menjalankan peranmu. Walau sulit sekali bagimu, dan mudah bagiku untuk bicara. Walau aku pernah bilang, mungkin tak akan bisa sanggup menghadapi situasi seperti yang kau alami. Aku tak akan sudi berdiam diri atau malah lari tanpa melakukan apapun sebelumnya. They really love you, just trust it, or prove it.

-------

Kepada M & A,
Entah kenapa aku berani menulis ini semua. Yang kutahu, 'complicated' sangat sesuai menggambarkan posisiku. M yang pernah begitu dekat denganku dan hampir tak pernah menyakitiku, A yang hadir menyuguhkan siraman nasihat kehidupan untukku sekaligus menjadi sosok adik yang tak pernah kumiliki, aku berada di antaranya, di antara lika liku kehidupan pribadi kalian.

Aku tak pernah ingin berada di posisi ini, sungguh. Tapi aku telah berada di sana. Tak ada yang bisa kuperbuat memang, tapi tak mungkin rasanya ku berdiam diri sepenuhnya. Satu hal yang perlu kalian mengerti dan yakini, aku sangat bahagia mengenal kalian, menjadi bagian dari hidup kalian. Aku sangat mengagumi kalian dengan segala apa yang kalian hadapi dan miliki. Aku yakin, Allah pun menyiapkan hal luar biasa untuk kalian di depan sana. Tinggal bagaimana kita tidak mengambil langkah yang memperpanjang jarak kita kepada hal luar biasa di depan sana. Percayalah...




Sumber gambar:
http://urban-khaos.deviantart.com/art/complicated-13819573