Januari 20, 2009

WE WILL NOT GO DOWN


(Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight


Sumber gambar:

http://i237.photobucket.com/albums/ff73/brittarj/870436Child-Flying-a-Kite-at-Sunset.jpg

Januari 12, 2009

Melawan Kenyataan dengan Tindakan Nyata


Ketika pertama kali Israel meluncurkan serangan udara ke jantung Gaza City dan diikuti serangan udara lain secara bertubi-tubi hingga beberapa hari berikutnya, aku seperti melihat kenyataan dalam mimpi, atau melihat mimpi dalam kenyataan. Entahlah. Hampir tak bisa kubedakan.

Sesaat, tubuhku yang menyaksikan berita aktual di televisi seperti lenyap dari kehidupan nyata dan terjebak entah di mana. Hanya ada aku yang mematung dan kotak elektronik yang menayangkan rekaman sebuah kota pemukiman padat penduduk beserta ledakan demi ledakan yang tak terhitung jumlahnya. Pada titik ini, aku menganggap diriku sedang bermimpi. Mimpi yang memberikan gambaran nyata yang terjadi di dunia riil.

Sesaat berikutnya, sekonyong-konyong aku kembali ke ruang tempat televisi tadi berada lengkap dengan teman-teman asrama yang tengah menonton bersamaku saat itu. Aku mengutuki diri sendiri bahwa aku terjaga. Tidak sedang bermimpi. Namun logikaku tak bisa menerima apa yang kusaksikan. Gumpalan awan panas hasil ledakan bom-bom mortil Israel di beberapa titik di Palestina seperti sebuah mimpi. Sangat tidak masuk akal walaupun sangat mungkin. Seperti menonton "Ripleys, Believe it or Not!".

Mari kita runut kembali dari awal (sejauh awal yang bisa kujangkau tentunya). Konflik Israel-Palestina memang tak pernah absen sebagai konflik terpanas di Timur Tengah yang panas, bahkan di bumi yang tengah memanas pula. Setelah melalui serangkaian perang dan perundingan tiada akhir, siklus perang kembali bergulir. Namun kali ini berbeda. Berbeda sama sekali.

Bagaimana tidak. Serangan Israel kali ini kelewat brutal, frontal, dan represif. Setelah diawali dengan serangan udara berkali-kali, Israel melanjutkan serangan darat tanpa ampun. Tak hanya itu, HPI (Hukum Perang Internasional) yang telah lama menjadi norma perang dan dijunjung dunia internasional, tak sekedar dilanggar tapi diaduk-aduk, diacak-acak, bahkan diinjak-injak. Target serangan bukan hanya markas militer, transportasi perang, artileri, atau gudang persenjataan, melainkan rumah penduduk, sekolah, rumah sakit, dan tempat-tempat umum yang dipenuhi warga sipil lainnya. Bahkan Israel menahan bala bantuan dalam bentuk apa pun yang telah menumpuk dari segala penjuru. Israel seolah membiarkan para korban yang membutuhkan pangan dan obat menderita untuk menjadi tambahan korban tewas berikut dan berikutnya. Sementara alasan atas semua tragedi dan penderitaan di Gaza City adalah serangan bom lontar Hamas yang ibarat hanya lemparan batu yang mengenai satu dua penduduk sipil Israel. Sama sekali tak sebanding dengan bom-bom Israel baik di darat maupun di udara yang menewaskan lebih dari 700 orang dan ribuan terluka termasuk wanita dan anak-anak. Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi.

Dunia gempar sudah pasti. Kecaman datang silih berganti baik dari tokoh perorangan, atas nama negara, atau organisasi internasional. Pernyataan pedas dan pahit terhadap kebiadaban Israel bak berondong yang telah matang berkeletuk dalam panci. Hampir semua pihak mengutuk, menyumpah serapah, dan melaknat tindakan Israel yang keji. Obama sebagai aktor dunia yang sedang naik daun pun angkat bicara setelah bungkam beberapa hari. Walaupun pernyataannya abu-abu tak pasti. Tak ketinggalan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut andil dalam adu caci maki. Lalu apa? Berpengaruhkah? Apa arti kecaman untuk bangsa yang telah tutup telinga? Apa makna sumpah serapah untuk negeri yang begitu keji? Apa guna pinta paksa untuk kaum yang seolah kebal hukum? Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi.

Gerakan kemanusiaan serempak ambil tindakan dari berbagai penjuru dunia. Dari pangan, sandang, obat-obatan, hingga bantuan medis dan bahkan relawan perang. Kotak-kotak bertuliskan "Solidaritas untuk Palestina" berhamburan di mana-mana memohon uang receh serelanya. Rekening-rekening bank atas nama "Solidaritas untuk Palestina" pun dibuka dan menanti uluran tangan memberi. Namun kendala justru tampak begitu nyata. Sangat minim bantuan negara-negara Arab di sekitar Palestina. Tapi kenapa? Tidakkah mereka masih merasa satu buyut dengan Palestina? Sudahkah mereka tunduk pada ego dan rasa takut akan dunia? Adakah indikasi benih-benih penyakit berbahaya kaum muslim mulai menyemai? Kecintaan berlebihan akan dunia dan ketakutan akan kematian. Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi.

Perang dua wilayah secara terbuka, brutal, dan tidak berimbang; hukum perang dilanggar sejadi-jadinya; darah tak berdosa menggenang tak terkira banyaknya; nyawa penerus bangsa diberangus tanpa rasa; mayat bergelimangan entah pria maupun wanita; bala bantuan hampir mustahil diterima; reaksi dunia sekedar melalui suara bukan langkah nyata; bahkan sanak saudara tak kunjung bangkit turut membantu walau terjadi di depan mata. Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi, belum dapat ku menjawabnya. Aku tak mau bermimpi bahwa ini adalah nyata; pun tak ingin mengatakan itu mimpi yang kulihat di dunia nyata. Membingungkan bukan?

Sama dengan fakta-fakta membingungkan di atas. Bagaimana serangan seterbuka itu bisa dengan langgeng berlangsung hingga sekarang? Bagaimana mungkin dunia internasional hanya berkata-kata dan tak melakukan apa-apa? Dan bagaimana bisa dunia Islam di sekitar Palestina tak banyak ambil langkah? Benarkah Israel sehebat itu? Atau dunia terlalu tolol dan begitu mudah dibungkam bahkan dipecah belah oleh sebuah kekuatan yang merupakan bagian dari dunia itu sendiri? Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi, aku tak mengharapkan keduanya. Dan aku akan mengakhirinya sekarang juga.

Aku harus bertindak. Aku harus berbuat. Sungguh. Tapi apa?

Beberapa hari sejak serangan pertama Israel, rekan-rekan aktivis mahasiswa di kampus menyerukan bentuk keprihatinan mereka akan tragedi di Gaza City. Selain orasi dan kotak-kotak amal, seorang mahasiswa memegang poster besar yang saya lupa tulisannya. Fokus saya waktu itu tertuju pada gambar-gambar di bagian bawah poster. Tidak seluruhnya, tapi sebagian besar aku mengenalnya sebagai logo sebuah merek atau perusahaan. Tanpa perlu menyebut merek, ada produk minuman bersoda, air mineral, snack ringan, produk kecantikan dan kebersihan, restoran cepat saji, hingga merek handphone. Semua itu sangat familiar dan sering kutemui di kehidupan sehari-hari. Bahkan beberapa pernah atau sering kupakai dan kugunakan.

Sang Mahasiswa yang memegang poster tersebut dengan senyumnya yang cukup ramah berkata: "Diketahui profit perusahaan-perusahaan ini sebagian disumbangkan untuk biaya perang para zionis Yahudi". Lalu aku tahu arah kalimat tersebut.

Pada awalnya aku hampir tidak bisa menerima alasan apa pun yang mengatakan "Jangan pernah gunakan produk Yahudi karena berarti kita mendukung aktivitas Yahudi termasuk perang di Palestina oleh Israel!". Pada awalnya otakku menciptakan spekulasi-spekulasi dan berbagai penyangkalan seandainya aku mengikuti instruksi tersebut. "Produk-produk itu begitu dekat dan sangat familiar. Bagaimana mungkin aku berhenti menggunakan produk 'A'? Setahuku hampir semua produk kebersihan dan kecantikan yang selama ini kugunakan berlabelkan 'A'. Lalu aku menggunakan apa? Snack-snack dari produk 'B' hampir semua kusuka. Nikmat dan sehat. Aku tak mungkin berhenti menikmati snack-snack tersebut. Apalagi air mineral 'C'. Mana mungkin aku disuruh berhenti menggunakan merek tersebut? Lalu aku pulang dengan kesimpulan "pasti ada jalan lain" untuk turut membantu Palestina.

Hari demi hari berganti. Merek demi merek Yahudi menyambangi badan hingga perutku. Perang pun masih bergulir menambah liter darah yang mengalir. Dan aku masih tak menemukan suatu langkah konkret untuk ikut andil dalam upaya membantu saudara-saudara seiman di Palestina. Hingga suatu hari seorang dosen yang cukup kritis dan brilian dalam pemikiran akan sebuah kasus sekaligus perumusan jalan keluar menyatakan sikap tegasnya akan produk-produk tersebut.

Teman, aku pernah membaca sebuah tulisan yang mengatakan bahwa manusia lebih sering menyibukkan diri sendiri dengan kemungkinan-kemungkinan dan berbagai bentuk spekulasi sebagai akibat suatu tindakan ketimbang menilik kembali maksud dan tujuan tindakan tersebut sebagai respon akan kenyataan-kenyataan yang ada. Seperti pada kasus global warming, ketika ada imbauan untuk mengurangi bahkan menghentikan penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak yang mengeluarkan gas emisi (sepeda motor) dan menggantinya dengan sepeda atau jalan kaki, respon spontan yang muncul adalah pemikiran kemungkinan yang spekulatif akan hasil dari tindakan tersebut. "Mana mungkin berhenti menggunakan kendaraan bermotor? Jika semua orang di seluruh dunia memilih menggunakan sepeda atau jalan kaki, maka perusahaan kendaraan bermotor di seluruh dunia akan bangkrut. Jika itu terjadi, pasti akan ada krisis besar karena perusahaan kendaraan bermotor cukup signifikan dalam roda ekonomi dunia. Belum lagi pengangguran yang akan meledak tiada ampun jika perusahaan-perusahaan tersebut tutup". Akhirnya, teriakan-teriakan serupa bagaikan lolongan anjing yang tak perlu diperhatikan. Buktinya, produksi sepeda motor tetap dan bahkan terus meningkat. Jika ada yang mengikuti anjuran tersebut, akan dikucilkan dan dianggap aneh oleh mata dunia.

Padahal yang dibutuhkan bukan itu, melainkan tindakan nyata. Kita tidak akan melakukan apa-apa jika otak kita dipenuhi spekulasi akan apa yang belum tentu terjadi. Kita hanya makin memperparah kenyataan yang sudah terjadi yang butuh tindakan segera. Untuk dua paragraf terakhir ini, inspirasiku adalah tulisan di blog Dewi Lestari (http://dee-idea.blogspot.com/search/label/Nature-Green-EcoLiving) berjudul "Dua Pertanyaan yang Berarti".

Melalui dua inspirasi itulah (pernyataan dosen dan tulisan di blog) aku mulai bertindak kecil-kecilan. Dimulai dengan teliti ketika membeli. Ya, temanku cukup kesal melihat tingkahku yang mengamat-amati produk-produk yang akan kubeli dan seringkali menanyakan "Ini produk dalam negeri kan?" Di sisi lain, aku justru menemukan titik terang dari keraguan tak beralasanku selama ini. Karena setelah diperhatikan dengan seksama, tidak semua produk yang ada di pasaran itu produk impor atau dari perusahaan multinasional (atau seperti yang diserukan sahabat-sahabat mahasiswa, produk Yahudi). Cukup banyak pula produk dalam negeri yang berkualitas dan tak kalah dengan produk-produk yang menguasai periklanan Indonesia itu. Memang benar, dengan tindakan kecil, kita akan tahu hal-hal baru yang selama ini tak sempat terpikirkan atau dianggap mustahil.

Maka melalui blog ini, dengan segala keterbatasan yang kumiliki, aku hanya ingin mengajak diriku sendiri, ya benar-benar diriku sendiri. Aku tak bermaksud mengajak siapa pun. Perkara pembaca ikut terpengaruh dan mengikuti ajakanku nantinya, maka kuanggap hal itu sebagai dampak positif.

Aku mengajak diriku sendiri, untuk tak sekedar mendo'akan namun berperan aktif dan nyata dalam membantu Palestina dan memerangi kedzaliman yang dilakukan Israel dengan berkomitmen mencintai produk dalam negeri, dan sebisa mungkin menghindari penggunaan produk impor, apalagi yang terdaftar sebagai produk pendukung gerakan zionisme Yahudi. Aku percaya dan yakin, niatku akan secara langsung berperan walau kecil. Sekali lagi, kita butuh langkah konkret, bukan kalimat manis.

Sebagai penutup, aku akan menegaskan sekali lagi, aku tak sedang bermimpi, tak pula menyaksikan mimpi. Aku sadar sepenuhnya dan menyaksikan kenyataan, bukan dalam mimpi, tapi dalam dunia nyata. Maka yang kubutuhkan bukan angan dan mimpi semata, tapi tindakan nyata.











Sumber gambar:
http://images.epilogue.net/users/straubart/Dreaming_tree.jpg
http://mpjc.org/images/palestine.jpg
http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/04/anak-palestina-korban-israel.jpg
http://3.bp.blogspot.com/_F4jkkfjqfSw/RfjRhDh8xPI/AAAAAAAAACM/UpYmvdS-5Rs/s1600-h/pengungsi+di+irak.jpg
http://qitori.files.wordpress.com/2007/07/palestina1.jpg

Desember 22, 2008

妈妈, 我真的爱你



"Halo?"

Terdengar suara lembutmu dari balik telepon genggamku. Suaramu begitu dekat, begitu nyata. Mendayu namun tak berlebihan. Melambungkanku pada sebuah kotak usang di sudut kepala, kenangan.

Aku membiarkan waktu seolah mengambang di udara. Begitu banyak kata mutiara telah kubaca, begitu sering kusimak kalimat-kalimat cinta, tapi lidahku mengeras. Bibirku seperti merekat satu sama lain oleh lem alteko. Dan napasku terengah, tak beraturan. Aku mematung.

"Halo?"

Keterlaluan. Hingga detik ini, kubiarkan semua penghalang itu berkuasa. Aku bahkan tak sanggup memikirkan kalimat lain. "I love you", "Aku sayang kamu". Kalimat-kalimat itu menguap dalam diam.

Oh, seandainya kau tahu bagaimana hatiku meledak-ledak oleh cinta. Bagaimana otakku meleleh tanpa ampun karena panasnya cintaku yang membara. Aku bahkan tak bisa memikirkan perumpamaan yang lebih dahsyat lagi dari itu.

Tapi di sisi lain, ada keraguan dalam diriku. Bukan. Bukan aku meragukanmu. Aku justru sangat yakin cintamu padaku. Aku tak perlu merengek kata "cinta" yang tak pernah sekalipun kau ucapkan selama ini. Aku tahu cintamu tak berwujud kata "cinta". Karena cinta itu kurasa senantiasa. Sungguh, aku tidak pandai menggombal. Dan aku tak perlu membual padamu. Ini tentang cinta kita. Cintamu dan cintaku. Itulah yang kuragukan.

Adakah cintaku sudah sepadan dengan cintamu padaku? Ah, aku tak sanggup memikirkan bentuk-bentuk cintamu. Tak ada kata "cinta" di antara kita. Tapi ada cinta di antara kita. Itu kuyakin pasti. Begitupun kau. Iya kan? Tapi aku merasa kerdil. Di sini, dalam diamku ini, aku berusaha menandingi cintamu dengan kata "cinta" itu sendiri. Tadinya kupikir, kata "cinta" yang seolah tabu bagi kita, akan menisbatkanku sebagai pecinta sejati. Dan dengan begitu, aku patut berbangga hati karena telah mencintaimu sehebat yang aku bisa. Tapi, ah, kenapa selalu ada tapi. Benarkah itu?

Di sini, aku malu pada diriku sendiri. Apa yang kupikirkan? Di sana, kau menantiku. Menanti kalimat dariku. Rasulku akan marah padaku jika membiarkanmu mengulang sapaanmu hingga tiga kali. Sesaat sebelum kau rampung dengan "Halo"mu yang ketiga ...

"Hal ... "
"Selamat Hari Ibu, Mah ... "
"Iya. Sudah sholat?"


aku mencintaimu...
愛しています
I love you...
. . . أحبك

je t'aime
ich liebe dich

मैं आपसे प्यार करता
ik hou van jou
ti amo
te iubesc
我爱你
te amo

mama...





sumber gambar:
http://imagecache2.allposters.com/images/pic/CAMB/27194~A-Mom-is-Love-Posters.jpg

Desember 16, 2008

Fajar-Senja

Aku ingat saat ayah menceritakan hari kelahiranku. Saat itu adalah fajar. Ibu menyambut putra sulungnya dengan senyum manis seindah langit pagi. Beliau menggendongku yang masih merah dengan penuh kehangatan (meskipun aku belum bisa merasakannya, tapi aku meyakini itu) umpama sinar mentari pagi.

...


Tulisan ini kumulai saat fajar di suatu pagi yang berkabut.

Beberapa saat kupandangi lukisan langit timur nan kusanjung sejak dulu. Entah sejak kapan. Kegelapan telah raib digantikan warna-warni mistis berbingkai kesuraman namun sarat keindahan. Suhu pagi ini cukup rendah untuk menciptakan tebaran putih keabu-abuan yang seolah menyelimuti pepohonan dengan kesunyian dan kebisuan. Lengang.

Lalu semburat kemerahan memecah buram menjadi temaram. Masih di ufuk timur. Sisa-sisa bintang malam tadi tak kuasa digantikan sang fajar. Bau basah dapat kuhirup dengan leluasa. Bau yang tak kutahu seperti apa.



Tak lama lagi, langit merah menguning dan berakhir membiru. Saat kehangatan turut serta dalam fenomena pagi. Saat pepohonan telah dapat kulihat hijau tak lagi suram. Saat burung-burung seriti menghambur dari kediamannya untuk mencicitkan nyanyian paginya.

Sensasi ini tak bernama. Yang kutahu, aku bisa berlama-lama berdiri memandang langit yang berganti-ganti warna. Sesekali memejamkan mata sambil menelentangkan tangan menghirup bau pagi yang entah seperti apa. Merasakan kesejukan yang mengelus halus kulitku dan kehangatan yang hadir belakangan mengusir sisa-sisa kantuk.

Saat kusadar sepenuhnya fajar telah menyingsing, langit secerah seharusnya, dan suara manusia beraktivitas cukup bising, kutahu, hari baru saja dimulai.


...

Seperti apa hari ini tak bisa lepas dari penyambutanku terhadap pagi. Hari-hariku tak pernah sama. Seperti penyambutanku terhadap pagi yang tak pernah sama.

Aku dapat merasakan 'dingin' sepanjang hari kemarin. Saat pagi yang hujan dan dingin menusuk kusambut dengan dingin di balik selimut. Sisa hariku seolah dipenuhi hujan dan 'dingin'. Tak peduli seberapa gerah sepanjang siang yang mendung. Meskipun peluh merembesi kaos joger putihku. Walau aku harus telanjang dada di dalam kamar. Bagiku, hari itu 'dingin'.

Hari ini, sebagaimana kusambut pagi yang benderang dengan penuh kehangatan dan senyum, aku melihat senyum di setiap sudut jalan yang kulalui. Aku merasakan hangat di tiap ruang yang kutempati. Walau sempat geram karena terlalu lama menunggu dosen yang terlambat, sang Dosen muncul dengan senyum yang [kurasa] hangat satu jam kemudian. Walau tingkah temanku membuat alisku bertemu sesaat, detik berikutnya, aku dengan mudah memaafkannya.

Begitu pula hari-hari lain yang cukup terpengaruh oleh penyambutanku pada hari-hari tersebut di pagi hari.

Seperti yin dan yang. Ada penutup untuk sesuatu yang telah dibuka. Ada keburukan untuk tiap kebaikan. Ada kekurangan sebagai penyeimbang kelebihan. Ada petaka jika ada berkah. Ada akhir untuk sebuah awal. Ada hitam dan putih. Sebuah filosofi yang selalu berujung pada satu inti ajaran besar: selalu ada kematian untuk setiap kehidupan.

Satu hari bagiku dimulai saat mentari mengintip untuk terbit, dan diakhiri dengan kepulangannya ke haribaan langit barat. Dari waktu-waktu dalam satu hari, favoritku adalah waktu pagi dan sore hari. Fajar dan senja. Bukan berarti aku menjalani hidup di siang hari dengan setengah hati. Namun dua waktu ini seolah menjadi puncak kegairahan hidup atau sebaliknya--kelesuan--yang berpengaruh terhadap waktu siang.

Pagi dan sore bagaikan kembaran yang terpisahkan oleh dimensi ruang dan waktu. Keduanya sama. Sama-sama memiliki keindahan tak terperi. Sama-sama memancarkan kehangatan. Sama-sama memberikan lukisan megah penuh nuansa kuning keemasan.

Jika pagi hari menjadi tolok ukur berjalannya satu hari, maka sore hari menjadi sarana meditasi memutar ulang (flash back) jalannya hari yang hendak berakhir. Seperti halnya aktivitasku di pagi hari menatap langit timur, aku bisa berdiam diri memandang langit barat dalam ketenangan lain.

Saat-saat itu kugunakan untuk mengendurkan otot dan urat tubuh. Puluhan jam yang kulalui tadi tak akan dapat kuulang di hari lain. Peluang, kejadian, event, khilaf, berkah dan thethek bengek yang kujumpai hari itu hanyalah milik hari itu. Maka sore-soreku pun tak pernah sama.

Kadang muncul kepuasan. Tak jarang penyesalan yang ada. Atau rasa penasaran yang enggan menyingkir. Kadang kurasakan kebahagiaan yang mendalam. Sesekali ada kesedihan. Aku bisa men-syukuri hari itu. Aku pun bisa mengutukinya.

Saat-saat itulah, panorama senja sungguh indah tak hanya di mata, tapi di hati.

...


Dimulai dengan angin sore yang menebarkan baunya tersendiri (aku pun tak tahu seperti baunya). Matahari mulai menyentuh cakrawala. Umpama bola raksasa yang jatuh ke lumpur hidup, perlahan-lahan ia pun tenggelam, ditelan waktu.

Semburat-semburat kuning di permukaan awan, umpama gumpalan gulali berlapiskan emas. Langit biru telah berubah menjadi kekuningan di ujung barat sana. Hangatnya matahari sore tak sama dengan mentari pagi, namun sama indahnya. Pada detik ini, belum cukup decak kekagumanku.

Detik selanjutnya, lukisan telah ditebali tinta emas. Warna langit kian memukau dan indah. Matahari hanya tinggal separuh lingkaran. Semakin lama, semakin indah. Aku teringat masa kecilku saat aku bisa berlama-lama terpukau menonton pertunjukkan langit dari balik jeruji jendela rumah paling belakang yang tepat menghadap barat. Kebiasaan yang sudah jarang kulakukan mengingat waktu-waktu puncak pentas, bertepatan dengan kumandang adzan maghrib.

Hari ini, aku bernostalgia dengan berdiri mematung di balkon kamar asrama untuk menyaksikan senja sore. Kebetulan, tinta alam begitu pekat melapisi sore. Karena pentas tidak diadakan setiap hari tentunya. Ada kalanya langit sore tak ubahnya hamparan kuning pucat yang dipenuhi awan kelabu. Namun tidak sore itu. Langit sore mengucapkan kata perpisahan dengan aksi indah bernuansakan emas. Megah. Mewah. Sungguh indah.

Maka aku mengakhiri tulisan ini saat hari tengah bersiap menyambut senja.


...

Aku pernah [dan masih] berdo'a: "Tuhan, aku ingin Engkau memerintahkan malaikat-Mu menjemputku saat senja yang indah. Sebagaimana kau menurunkanku ke dunia saat fajar yang juga indah tentunya."






Sumber Foto:
http://www.lailalalami.com/blog-old/archives/MistyMorning.jpg
http://www.sarpysam.net/gallery/albums/sunrise/sunrise10232007.sized.jpg
http://www.whitehouse.gov/news/releases/2002/08/images/20020809-1_ranch1-1-515h.jpg
http://www.atpm.com/10.10/sunsets/images/sunsets-6.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivxJd3NxBuic8HRrGCM4t_-_1OXjxJMGev8EglPlzMl_oj-xKUYo9H5oYpwcp-PclvkbSwWygICUsQ88P5bQIbS_XG-KSiPW7PcXeD6h9pjjFcy-bVZhjMHYirOeQrVs5juHPXTwwSPXc/s1600-h/senja.gif

Desember 15, 2008

karena itulah, yang menjadikannya indah ...


HUJAN

Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu

Segalanya seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak 'kan berubah

Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri

Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air

Aku bisa tersenyum
Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku


By Utopia


kenangan-kenangan itu ...
ingatkah kau?

senda gurauku yang
tak lucu bagimu
tak kupedulikan
karena
ada kau dan aku

gelak tawaku yang
hambar bagimu
tak penting bagiku
karena
ada kau dan aku


cerita-ceritaku yang
membosankan katamu
tak apalah
karena
ada kau dan aku

karena itulah
yang menjadikannya
indah


itu saja

...

"... selalu ada cerita
yang tersimpan di hatiku
tentang kau dan hujan
tentang cinta kita
yang mengalir, seperti air ... "






sumber gambar:
http://bp2.blogger.com/-Zoiwo-IFVQ/RoLQ8LueofI/AAAAAAAAAjc/nr5-IihVs78/s1600-h/alone+in+the+rain.jpg
http://www.realtater.com/music/raindrops.jpg

Desember 02, 2008

Rindu

Tiba saatnya bagiku untuk menulis. Setelah puluhan hari sibuk dijejali rutinitas, disesaki aktivitas, dan tercerabut dari penyendirian. Inilah saat yang tepat untuk menulis. Saat kelam malam begitu pekat tak menyisakan penat seharian. Saat hanya nyanyian jangkrik dan jeritan serangga semak-semak bertaluan. Saat sabit di luar sana indah melengkung bagai senyum tanda rindu telah berujung. Rindu. Kata itulah yang bisa merepresentasikan gundah gulana sejak seminggu lalu. Mengendap. Menumpuk tiada ampun.


Di sini | di dalam hati ini | ada galau | yang membiru || pilu | kecu


Kegalauanku bukan tanpa alasan. Kesalahan waktu itu cukup menjadi alasan. Keluarga, teman. Aku tengah membicarakan keluarga. Ayah dan Ibuku lebih tepatnya. Seolah telah menjadi naluri, ego senantiasa menjadi pamungkas pemisah jurang anak dan orang tua. Anak yang [entah kenapa] merasa berpikiran lebih baik dan masuk akal dibanding orang tua. Orang tua yang [entah kenapa juga] selalu dan pasti mengedepankan gengsi atas nama nominal usia. Terus dan akan tetap menjadi pokok munculnya sekat antar keduanya.

Di sini | di balik rusuk ini | ada sepi | tak terperi || sunyi | sendiri

Dan atas nama kebesaran ego itulah, teman. Aku dapat mendengar kesunyian dalam tiap malam yang kuhabiskan. Seperti malam ini. Dadaku naik turun tak teratur. Setengah sesak namun tetap leluasa. Seolah terjadi gemuruh di dalam sana. Yang timbul tenggelam, sedikit demi sedikit. Namun alam begitu senyap meninabobokan makhluk bumi.

Belum pernah sejak kepergianku dari rumah untuk merantau ke tanah orang, aku putus kontak dengan orang tua untuk jangka waktu yang cukup lama [bagiku tentu]. Walaupun terkadang dering telepon dari mereka terdengar menyebalkan, selalu ada sensasi pribadi yang tak teridentifikasi saat suara ayah berkata "Sedang apa Mas?" Seketika segala kesah menguap seiring suara orang kedua setelah perpindahan tangan handphone dari ayah. Suara kedua tidaklah sama dengan suara pertama yang ringan dan terkesan santai. Jaga diri kau di tanah orang! Kau pasti bisa! Begitu kira-kira terjemahan nada suara ayah. Namun suara kedua yang selalu menanyakan "Sudah sholat Mas?" adalah sihir lain. Magis verbal yang meluluhlantakkan kecongkakkan dan kealpaan. Karena dalam suaranya yang berat tertahan seolah berkata Walaupun ibu tahu kau akan baik-baik di sana, ibu tak bisa menahankan ini, ibu rindu padamu, Nak! Biasanya badanku lemas dan hanya bisa menjawab "iya","sudah","bisa","baik", atau sesekali tertawa mendengar cerita ibu tentang adik bungsuku yang makin pandai saja memainkan ponsel ayah. Menirukan gaya orang berbicara di telepon. Padahal usianya belum genap satu tahun.

Di sini | di dalam benakku | ada gundah | tanpa arah || resah | gelisah

Penyesalan ibarat pahlawan yang selalu datang terlambat, pahlawan kesiangan. Serasa paling baik dan pantas keberadaannya, namun tak dapat berbuat apa-apa. Seperti fatamorgana. Menggiurkan untuk digapai, tapi tak ada yang bisa didapat setelahnya. Penyesalan juga adalah misteri hidup yang takkan pernah bisa dipecahkan manusia. Tak ada yang tahu asal-muasal rasa sesal kecuali dari kesalahan yang telah dilakukan. Namun berulang kali, kesalahan serupa bahkan sama akan terus dilakukan dan memunculkan penyesalan baru. Tak peduli setua apa manusianya, ia pasti melakukan sebuah kesalahan untuk disesali. Penyesalan tak pernah dapat dipelajari.

Hari itu, tanpa perlu kuceritakan detilnya, aku melakukan kesalahan. Serta merta aku mengutuki keadaan yang tak menguntungkan bagiku waktu itu tanpa sedikitpun membiarkan adanya kemungkinan. Entah kemungkinan baik atau terburuk, aku sungguh bodoh (jika lebih menghaluskan kata tolol) membiarkan ego merajai beserta emosi sebagai ratu atas diriku sendiri. Pasangan tersebut terlalu kompak mengendalikan rasionalitas yang ada untuk tak sekedar melongok keluar. Jadilah aku terperangkap pada kesalahan serupa dengan hasil akhir sebuah penyesalan. Itu beberapa hari yang lalu.

Malam ini, setelah membaca sebuah tulisan tentang rumah, kesadaranku terguncang sedemikian rupa. Begitu hebat hingga meruntuhkan tembok besar yang telah dibangun pasangan ego dan emosi. Namun begitu lembut menyentuh alam bawah sadarku. Membisikkan kenangan-kenangan indah masa kecilku.

Ah, masa kecilku, teman. Kalian tidak akan menyangka bahwa masa kecilku bahkan tak akan bisa dibuat cerpen. Kisah-kisahnya terlalu berarti untuk disingkat dalam sebuah cerita pendek. Dengan ayah dan ibu sebagai tokoh kunci dalam kehidupan kecil tokoh utama, lengkap sudah cerita ini menjadi memoar indah masa kanak-kanakku.

Aku yang selalu meminta apa pun yang tertulis dalam daftar keinginan, akan selalu mendapatkannya. Karena ancamanku adalah ancaman terburuk anak kecil usia empat tahun saat itu. Aku ingat saat orang satu kampung (teman, aku serius, benar-benar satu kampung saat itu) kocar-kacir berpencar ke seluruh pelosok desa. Pencarian yang memakan waktu berjam-jam itu demi menemukan seorang bocah yang sedang ngambek dan minggat dari rumah hanya karena tidak dibelikan permen aneh berbentuk badut di swalayan. Alhasil, si bocah ditemukan nun di ambang masuk hutan saat petang. Lebih kurang ajar, saat permen badut sudah dibelikan, bocah itu dengan enteng bilang "Aku sudah nggak pingin lagi".

Baik ayah maupun ibu memiliki cara unik menghadapi anak pertamanya yang super nakal ini. Ayah dengan sikap tenang dan santai selalu terkesan mengacuhkanku, padahal dialah yang paling pening dibuatnya. Belakangan setelah dewasa, ayah memberitahuku bahwa aku pernah dikencinginya saat mandi. Tradisi orang jawa katanya. Untuk menjinakkan anak laki-laki. Sementara ibuku lain lagi. Dia selalu berusaha memberikan apa yang kumau. Kehadiranku sebagai anak pertama memang terlalu berarti baginya yang terbilang muda menjadi seorang ibu. Jadilah hari-hari rumah tangga ayah dan ibuku dengan anak pertamanya menjadi adegan-adegan film komedi keluarga bagi lingkungan rumah yang kerapkali menjadi penonton ulah hebohku.

Di sini | tepat dalam dada | ada nama | yang kurindu || ayah | ibu

Maka rumah dan wajah ayah dan ibu telah beberapa hari ini berseliweran di kepalaku, seperti gerombolan kupu-kupu kuning yang mengelilingi pohon berbunga di kampus tadi siang. Saat kugetarkan pokok pohon itu, ratusan kupu-kupu pecah ke sana kemari sangat indah. Namun mereka tak pergi jauh. Karena sejurus kemudian kembali mengerumuni bunga-bunga bernektar di pohon. Seperti saat kucoba menggeleng-gelengkan kepalaku, bayangan itu pudar sesaat untuk menjelma menjadi rupa-rupa ayah dan ibu dalam berbagai ekspresi lain.

Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan tentang aku yang dengan lancangnya mematikan handphone selama beberapa hari ini agar tak bisa dihubungi. Aku pun tak mau ambil pusing dengan kiriman yang belum datang juga padahal bulan telah berganti, walaupun harus berhutang lagi pada temanku yang lain. Aku hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan minggu ini. Menghabiskan hari-hari sebelum idul adha nanti. Empat hari ke depan. Aku hanya ingin berlari kencang atau jika perlu melompati waktu untuk berada pada sabtu malam saat aku telah tiba di rumah setelah menaiki kereta malam jurusan Jogja-Purwokerto. Aku hanya ingin cepat-cepat mencium tangan ayahku yang selalu bau asap rokok. Serta memeluk ibu yang [selalu] makin kurus saja. Aku ingin kembali sejenak dari segala kepenatan di Jogja. Aku ingin mengakhiri rezim ego dan emosi yang menggelontorkan penyesalan tiada ampun. Aku ingin pulang.

Teman, aku beri tahu sebuah rahasia. Ini tentang kata FAMILY yang merupakan sebuah singkatan:

Father
And
Mother
I
Love
You ...




sumber gambar :
http://www.dotservices.com.au/DOTS%20happy%20family%20cartoon.gif

November 17, 2008

Ketika Bertanya Menjadi Kemewahan Hidup


“Makna serupa pintu keluar yang selalu kita cari ketika kita tersesat dalam sebuah labirin ketidakpastian. Kita selalu berusaha menemukan pintu itu. Namun, labirin selalu memaksa kita untuk berputar di situ-situ saja, atau—lebih parah—membuat kita harus kembali ke tempat saat kita bermula.”

(Fahd Djibran, Labirin)


Manusia memang terlahir untuk mencari tahu makna. Anak kecil bertanya pada ibunya, ”Apa itu?”. Lalu sang Ibu menjawab ”Itu gubuk”, si Bocah akan bertanya lagi, ”Gubuk itu apa?”. ”Gubuk itu tempat istirahatnya Pak Tani”. ”Kenapa Pak Tani tidak istirahat di rumah?”. ”Karena Pak Tani harus bekerja lagi”. ”Tapi, gubuk itu sempit”. ”Itu sudah cukup untuk Pak Tani”. ”Untuk apa gubuk itu ditaruh di tengah sawah?”. ”Untuk istirahat Pak Tani, kan sudah Ibu bilang”. ”Tapi gubuknya bisa diletakkan di rumah kan? Gubuk itu kan kecil?”

Begitulah anak kecil dengan rasa ingin tahu meledak-ledak yang diliputi kepolosan dan kesederhanaannya. Dunia bagaikan ladang pertanyaan yang menyumbul-nyumbul untuk disemai dalam jawaban-jawaban. Seringkali ia tak begitu saja puas memetik satu buah jawaban untuk satu pertanyaan. Sang Anak akan mencerabut saja apa yang bisa ia raih. Namun ia justru akan makin banyak bertanya. Makin ingin tahu banyak. Makin menjengkelkan bagi orang dewasa.

Lalu bagaimana dengan dunia orang dewasa yang (katanya) tak lagi sesederhana dunia anak-anak? Dunia penuh hiruk pikuk kepentingan dan kebutuhan. Dunia sibuk tak mengenal rehat untuk meraih satu tujuan yang membawa pada tujuan lain tak berakhir dan tak berujung. Dunia dengan rutinitas monoton dengan warna hitam putih. Orang dewasa cenderung menjudge sesuatu benar (putih) dan salah (hitam).

Perbedaan mendasar antara kedua dunia yang seolah berada pada dimensi berbeda tersebut adalah cara memandang dan menjalani kehidupan di dunia masing-masing. Anak kecil cenderung akan mendekati sesuatu yang unik dan mengusik rasa ingin tahunya. Entah untuk diambil dan dibawa pulang, atau sekedar dipandang di tempat hingga puas, atau paling sederhana dipertanyakan pada orang dewasa ”Apa itu?”. Sementara orang dewasa dengan kesibukannya tak cukup hirau dengan keberadaan benda-benda unik bahkan indah di sekitar mereka. Orientasi hidup mereka telah terpatri sesuai tujuan masing-masing tanpa perlu sekedar melirik bunga yang tumbuh di pinggir jalan misalnya. Bagi anak kecil, tak ada hal kecil dalam dunia ini yang tak pantas dinikmati atau ’dimainkan’.

Anak-anak cenderung memperlakukan benda tak penting bagi orang dewasa sebagai permainan baru. Sementara orang dewasa, lagi-lagi hanya fokus pada tujuan hidupnya. Seorang bocah yang melihat kubangan lumpur di kebun, akan menganggapnya wahana bermain yang seru yang menyenangkan. Ia tak mengenal kotor sebagai sesuatu yang jahat, yang pastinya akan dimaki orang dewasa. Orang dewasa akan mencak-mencak hanya karena angin sore merusak tatanan rambutnya sementara anak kecil akan menelentangkan kedua tangannya umpama ia sedang terbang terbawa angin.

Untuk sementara, dapat kita simpulkan, semakin tua usia seseorang, semakin kecil gairah untuk mencari makna atau menikmati makna itu sendiri.

Di sini saya tidak bermaksud berbicara tentang anak kecil dan orang dewasa. Saya hanya ingin memulai dengan mengajak pembaca kembali pada masa kecil mereka yang (pastinya) sudah jauh berbeda dengan masa dewasanya. Sesuatu yang juga ditawarkan oleh buku ”A Cat in My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa” karangan Fahd Djibran ini, yaitu tentang cara seseorang memandang hidup, atau lebih gampang saya katakan cara seseorang menanyakan hidup.

Buku yang berisi kumpulan prosa, sajak, puisi, dan tulisan-tulisan lain yang sekilas nampak tercerai berai ini membuktikan betapa sebuah aktivitas sederhana—bertanya, dapat menjadi karya tak ternilai harganya. Lebih jauh, dapat saya katakan, bertanya telah menjadi kemewahan tersendiri dalam hidup penulis. Yang membawa penulis pada penemuan-penemuan gemilang akan hidup, cinta, dan Tuhan.

Seperti pada tulisan pertama dalam bukunya, ”Tubuh”. Fahd menyoroti sebuah kata sifat yang selama ini telah di[salah]artikan oleh kebanyakan orang yaitu "cantik". Definisi cantik yang selama ini dibilang berambut panjang, hitam pekat, lurus, berbadan ramping bak gitar spanyol, kulit putih mulus tak berjerawat, dan wangi menjadi ganjalan bagi Fahd dan Marva (sahabat penanya, kekasihnya, atau dirinya sendiri yang lain, entahlah). Melalui proses pencarian makna yang rumit dan panjang: mencari arti di kamus, di internet, dan buku-buku referensi tentang kecantikan, seakan membawa pembaca berputar-putar pada labirin yang tak berujung atau terlalu panjang untuk ditemukan ujungnya.

Di saat semua orang menyerah atau malas menanyakan konsep cantik dan mencari tahu tentang cantik hingga terjebak pada definisi cantik yang justru membatasi makna sesungguhnya dari cantik itu sendiri, Fahd sampai pada kesimpulan yang tak terduga, bahwa cantik itu sebuah jawaban. Untuk apa mencari jawaban atas sebuah jawaban yang sudah jadi? Cantik adalah cantik itu sendiri.

Suasana cinta dan romantisme sangat terasa ketika membaca ”Matamu yang Sepi” sebagai luapan kerinduan tak terperi pada sosok ibu yang telah lama tak dapat ia rasakan keberadaannya. Serta sebuah sajak indah berjudul ”Membencimu”. Kelihaiannya memainkan kata dan menyusun sebuah perumpamaan menjadikan tulisan-tulisannya yang walaupun terkesan sederhana, menjadi dalam maknanya. Tidak percaya? Berikut saya kutip tulisannya:

"serupa cuaca, aku mencintaimu, selalu terikat waktu,, serupa udara, aku menyayangimu, selalu terikat ruang,, seperti hujan, aku membencimu, sewaktu-waktu" (Membencimu)

Begitu pula dengan buah kontemplasinya akan Tuhan yang terwujud dalam ”Ke Mana Kau Siang Tadi, Tuhan?” yang menggelitik sekaligus menyentak alam kesadaran siapa saja yang membacanya. Fahd mampu memainkan emosi pembaca dengan perumpamaan sederhana namun mengandung sentilan-sentilan yang tak jarang memaksa saya untuk berrefleksi. Sejauh mana saya mengenal Tuhan? Sejauh mana saya mampu berkomunikasi dengan Tuhan?Seperti tulisan lain yang mengandung spiritualitas seperti ”Pertem[p]u[r]an dengan Tuhan” terasa sangat hidup dan mampu mengaduk-aduk emosi pembaca dalam mendalami kehidupan mereka yang terkadang jauh dari Tuhan, namun di saat lain seperti dekat sekali dengan Tuhan.

Semua itu adalah hasil suatu proses bertanya yang tak sekedar melelahkan karena berputar-putar dalam labirin panjang [seolah] tak berujung demi sebuah pintu. Tapi karena bertanya adalah kemewahan dalam hidup. Maka kemewahan jalan mencapai jawaban hingga kemewahan akan jawaban itu sendiri menanti untuk disemai. Dalam hal ini, Fahd Djibran telah menunjukkan kemewahan tersebut dalam "A Cat in My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa".

Daya tarik buku ini ada pada sampul yang atraktif dan menarik khususnya untuk kaum muda, serta pemilihan judul yang membuat orang bertanya-tanya (suatu kesuksesan awal dalam mengajak orang meneruskan tradisi bertanya pada hal-hal sederhana). Dengan kertas daur ulang yang ringan dan tak terlalu mencolok, buku ini makin mudah dibawa ke manapun untuk dinikmati kapan pun. Dan pastinya, harganya yang ekonomis dan sesuai kantong semua kalangan, membuatnya sangat mungkin ditemukan di ruang baca banyak kalangan. Tentunya itu semua di luar kelebihan dari isi buku ini sendiri.

Akhirnya, ada dua pendapat umum orang-orang setelah membaca karya-karya dalam buku ”A Cat in My Eyes”: "tulisan-tulisannya membingungkan" atau "tulisan-tulisannya mencerahkan". Sekali lagi, cara pandang seseorang memang akan membentuk pemahaman yang berbeda bagi tiap orang yang melihatnya.