Februari 23, 2009

Confession


Belakangan hidupku tak berjalan 'sebagaimana mestinya'. Rencana hidup yang kususun jauh hari sebelum hari ini, berantakan sudah. Proposal masa depan yang telah rapi terbukukan dalam benak, berserakan entah. Inikah akhir hidupku?

...

Dulu dengan berapi-api, kuajukan daftar keinginan pasca-SMA ke orangtua. Dengan gaya penuh percaya diri pula, kutambah penyedap mimpi dan asa yang mungkin tergapai setelah meraihnya. Ayahkku, tak usah diragu, pasti mengagguk setuju, asal itu yang kumau. Ayah selalu begitu, sedari dulu, mendukung langkahku. Sementara ibu diam sejenak, duduk terhenyak, tak ada mencak-mencak. Ibu memang tak lunak, tak pula buatku sesak, tapi bijak.

Dulu dengan semangat membara, kudatangi ayah dan ibu, akan kabar gembiraku. Satu langkah berhasil kutapaki. Hasil ujianku membolehkanku meraup ilmu sastra yang kudamba, di universitas ternama pula. Ayah mencium pipiku, dan kudapat senyum ibu. Namun hidup mulai bekerja, maksudku, hidupku. Kehidupan yang sesungguhnya, mulai menyapa. Tak dapat kuinjakkan kaki, di tanah impian yang sejatinya t'lah kuraih.

Dulu dengan tekad membulat, kupasang senyum terindahku, untuk ayah dan ibu. Pertanda tak sedikitpun aku menyalahkan mereka. Bahkan proposal lain t'lah usai kususun cukup dalam semalam. Ini tentang hidupku, lagi-lagi. Ayah sedikit meragu, bukan padaku, dan kubilang padanya "bukan salahmu". Ibu tak sesaat dalam diam, dia menatapku dalam, "percayalah" bisikku, "ibu tak boleh muram".

Dulu dengan keyakinan tanpa beban, kusodorkan apa yang telah kudapatkan. Hanya demi mereka, batinku. Ilmu Hubungan Internasional di universitas Islam, tak kalah nama atas yang lain. Senyumku hanya karena senyum mereka, atau mungkin keadaan. Mimpiku tersusun hanya untuk mereka, atau mungkin keadaan. Aku belum menyadarinya. Hanya perlu menjalaninya.

Kemarin dengan kehampaan, aku pulang dari perantauan. Tak ada lagi kalimat berapi-api, atau semangat yang membara, atau tekad yang bulat, bahkan keyakinan dalam diri. Aku berdiri di hadapan ayah dan ibu, dengan apa adanya, begitu saja. Ayah kini yang diam, tak berdaya dalam muram, auranya kelam. Ibu mengangguk tenang, seolah badai tak pernah datang, bahkan seperti menang. Aku menangis, ayah mengerti, ibu pun berdiri. Aku meratap, ayah berharap, ibu mulai berucap. Dan saat itulah, detik itulah, hidupku berubah. Maksudku, caraku memandang hidup berubah.

Sekarang, tak lagi kusandang, status mahasiswa yang agung dipuja. Bukan ku tak bangga, bukan pula ku kecewa, melainkan belum waktunya. Bukan tentang waktu yang tepat, karena tak ada waktu yang tepat, yang ada tindakan yang tepat. Ini memang saatnya kulakukan hal lain, hal ini, yang sekarang kuhadapi.

Sekarang, tak ada mata kuliah menghiasi hari-hariku, atau teman aktivis dengan seabrek kegiatan. Bukan maksud hati meninggalkan, apalagi menyia-nyiakan, hanya sebentuk perpisahan. Begitulah esensi pertemuan, untuk sebuah perpisahan, keabadian bukan milik makhluk Tuhan. Sudah semestinya kuisi hari-hariku dengan hal lain, hal ini, yang sekarang kuhadapi.

Sekarang, sedang kumulai hidup baru, di bawah langit yang biru. Aku berdiri di depan pintu sambil menatap hidupku yang baru. Satu hal yang kutahu pasti, aku tak pernah sendiri*. Tak ada waktu untuk sesal, tak pula kuingin membual, hidupku masih normal. Ini tentang hidupku, kehidupan, dengan segala apa yang dirahasiakannya. Ada banyak hal dalam hidupku yang tak berjalan sebagaimana mestinya. Tapi saat kutatap langit luas, hal itu tak berarti apa-apa*.

Sekarang, pertanyaan menghujaniku, sedikit mengganggu namun kubersyukur tentu. Walau tak jujur kumenjawab mereka, bukan berarti ku mendusta, apalagi tak percaya. Walau kadang ku suka bergurau, tak berarti ku tak hirau, ku hanya tak ingin menjadai kacau. Kawan-kawanku adalah nafas semangatku, perhatian mereka adalah pemacu energiku, jadi tak mungkin mereka hanya berlalu. Untuk mereka yang begitu besar perhatian padaku, namun begitu kecil jawabku, maafkan aku.

...

Belakangan hidupku tak berjalan sebagaimana yang kuinginkan. Rencana hidup yang kususun jauh hari sebelum hari ini, berantakan sudah, tapi tak pecah. Proposal masa depan yang telah rapi terbukukan dalam benak, berserakan entah, namun tak punah. Ini bukan akhir hidupku. Justru inilah awal hidupku, yang sesungguhnya ...


*diambil dari lirik lagu Jepang berjudul Sangatsu Kokonoka atau dalam bahasa Inggris berarti March 9 yang telah diterjemahkan.




Sumber gambar:
http://orriel.deviantart.com/art/Intersection-37696510

Februari 01, 2009

in memoriam


Sesuatu baru akan benar-benar berharga dan kita sadari arti keberadaannya saat kita kehilangannya.

Belum pernah dalam hidupku aku merasakan sebuah rasa yang selalu menakutkan bahkan hanya untuk dipikirkan: kehilangan. Maksudku, rasa kehilangan yang sesungguhnya, yang selalu kuhindari untuk sekedar memikirkannya, yang tak pernah dapat kumengerti hingga hari itu. Bukan kehilangan bolpoin yang hampir selalu kualami semasa sekolah (aku memang ceroboh), atau kehilangan genggaman tangan Bapak hingga aku 'hilang' di supermarket pada waktu masih kecil, atau kehilangan buku yang baru kuberi beberapa hari (seperti saat aku kehilangan "A Cat In My Eyes" secara misterius), atau kehilangan uang karena kecerobohanku sendiri, atau bahkan kehilangan handphone berfitur canggih pertama yang kumiliki. Kehilangan-kehilangan seperti itu memang menyakitkan dan semuanya pernah kualami dalam hidup tepat seperti yang kudefinisikan di atas. Tapi aku sama sekali tidak merasa harus takut untuk merasakan kehilangan serupa (walau dengan tidak disengaja), karena nyatanya, kehilangan semacam itu akan selalu kutemui dalam keseharian. Bukan. Sekali lagi bukan. Kehilanganku kali ini terlalu berbeda. Terlalu berat untuk kupikul bahkan kuterima kehadirannya.

Ayah dari ibuku yang dengan hangat kusapa dengan sapaan embah kakung telah pergi meninggalkan alam fana ini pada Kamis siang pukul 13.30 dengan tenang. Kukakatakan tenang bukan karena ingin memperhalus istilah, tapi karena embah kakung memang benar-benar meninggal dalam ketenangan. Beliau hanya cukup memejamkan mata karena ada sedikit rasa sakit di dadanya, dan dengan sedikit gerakan memiringkan tubuh ke kiri, beliau pergi. Tak ada sakaratul maut yang berkepanjangan atau bahkan tampak. Tak ada erangan, teriakan, atau kejang yang menciptakan ketegangan. Tak ada wajah-wajah suram anak cucu yang menungguinya di rumah sakit. Yang ada, sekali lagi, ketenangan.

Kabar itu tiba padaku secara gamblang melalui tangisan embah putri yang seperti lolongan orang sakit yang sangat menderita di dalam kamarnya. Seketika lututku gemetar hebat, wajahku memanas siap meledakkan apapun yang secara tiba-tiba membara, lidahku kelu, dan otakku tak henti bekerja memutar memori tentangnya, tentang embah kakung.

Seketika aku merasakan sebuah sensasi hebat yang harus kuakui baru pertama kali kurasakan. Sebuah perasaan yang sangat rumit dan tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Seperti sebuah penyesalan, kesedihan, amarah, penolakan, dan kebuntuan yang kurasakan dalam satu waktu secara serentak.

Menyesal. Kenapa aku hanya menyempatkan diri menjaganya di rumah sakit untuk beberapa jam saja? Kenapa tidak dapat kuterjemahkan satu pun bahasa firasat yang mungkin mendahului memperingatkan? Kenapa aku tak bisa lebih bertindak sebagai cucu yang baik selama ini? Kenapa tak pernah kupikirkan betapa sayangnya dia padaku? Kenapa begitu cepat? Kenapa?

Sedih. Pada akhirnya aku sadar akan satu hal, dari kesemua embah yang kupunya, embah kakung dari ibu dan embah putri dari bapaklah yang paling berbeda perlakuannya padaku. Kenyataannya, justru keduanya telah lebih dulu pergi (embah putri dari bapak meninggal pada November 2008). Tiba-tiba, aku merasakan kesedihan ganda, kehilangan dua kali dalam satu waktu.

Marah. Pada diri sendiri tentunya untuk alasan-alasan yang sebelumnya sempat kutulis. Aku marah karena setelah semua kebaikan mereka, aku baru menyadari betapa sedikit kebaikanku untuk mereka. Aku marah karena bahkan mereka pergi sebelum aku mampu menjadi cucu yang membanggakan darah keturunannya.

. . .


Sumber gambar:
http://www.crystalxp.net/galerie/img/img-wallpapers-candle-light_water-priyadarsh-sarwade-7769.jpg

Januari 20, 2009

WE WILL NOT GO DOWN


(Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight


Sumber gambar:

http://i237.photobucket.com/albums/ff73/brittarj/870436Child-Flying-a-Kite-at-Sunset.jpg

Januari 12, 2009

Melawan Kenyataan dengan Tindakan Nyata


Ketika pertama kali Israel meluncurkan serangan udara ke jantung Gaza City dan diikuti serangan udara lain secara bertubi-tubi hingga beberapa hari berikutnya, aku seperti melihat kenyataan dalam mimpi, atau melihat mimpi dalam kenyataan. Entahlah. Hampir tak bisa kubedakan.

Sesaat, tubuhku yang menyaksikan berita aktual di televisi seperti lenyap dari kehidupan nyata dan terjebak entah di mana. Hanya ada aku yang mematung dan kotak elektronik yang menayangkan rekaman sebuah kota pemukiman padat penduduk beserta ledakan demi ledakan yang tak terhitung jumlahnya. Pada titik ini, aku menganggap diriku sedang bermimpi. Mimpi yang memberikan gambaran nyata yang terjadi di dunia riil.

Sesaat berikutnya, sekonyong-konyong aku kembali ke ruang tempat televisi tadi berada lengkap dengan teman-teman asrama yang tengah menonton bersamaku saat itu. Aku mengutuki diri sendiri bahwa aku terjaga. Tidak sedang bermimpi. Namun logikaku tak bisa menerima apa yang kusaksikan. Gumpalan awan panas hasil ledakan bom-bom mortil Israel di beberapa titik di Palestina seperti sebuah mimpi. Sangat tidak masuk akal walaupun sangat mungkin. Seperti menonton "Ripleys, Believe it or Not!".

Mari kita runut kembali dari awal (sejauh awal yang bisa kujangkau tentunya). Konflik Israel-Palestina memang tak pernah absen sebagai konflik terpanas di Timur Tengah yang panas, bahkan di bumi yang tengah memanas pula. Setelah melalui serangkaian perang dan perundingan tiada akhir, siklus perang kembali bergulir. Namun kali ini berbeda. Berbeda sama sekali.

Bagaimana tidak. Serangan Israel kali ini kelewat brutal, frontal, dan represif. Setelah diawali dengan serangan udara berkali-kali, Israel melanjutkan serangan darat tanpa ampun. Tak hanya itu, HPI (Hukum Perang Internasional) yang telah lama menjadi norma perang dan dijunjung dunia internasional, tak sekedar dilanggar tapi diaduk-aduk, diacak-acak, bahkan diinjak-injak. Target serangan bukan hanya markas militer, transportasi perang, artileri, atau gudang persenjataan, melainkan rumah penduduk, sekolah, rumah sakit, dan tempat-tempat umum yang dipenuhi warga sipil lainnya. Bahkan Israel menahan bala bantuan dalam bentuk apa pun yang telah menumpuk dari segala penjuru. Israel seolah membiarkan para korban yang membutuhkan pangan dan obat menderita untuk menjadi tambahan korban tewas berikut dan berikutnya. Sementara alasan atas semua tragedi dan penderitaan di Gaza City adalah serangan bom lontar Hamas yang ibarat hanya lemparan batu yang mengenai satu dua penduduk sipil Israel. Sama sekali tak sebanding dengan bom-bom Israel baik di darat maupun di udara yang menewaskan lebih dari 700 orang dan ribuan terluka termasuk wanita dan anak-anak. Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi.

Dunia gempar sudah pasti. Kecaman datang silih berganti baik dari tokoh perorangan, atas nama negara, atau organisasi internasional. Pernyataan pedas dan pahit terhadap kebiadaban Israel bak berondong yang telah matang berkeletuk dalam panci. Hampir semua pihak mengutuk, menyumpah serapah, dan melaknat tindakan Israel yang keji. Obama sebagai aktor dunia yang sedang naik daun pun angkat bicara setelah bungkam beberapa hari. Walaupun pernyataannya abu-abu tak pasti. Tak ketinggalan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut andil dalam adu caci maki. Lalu apa? Berpengaruhkah? Apa arti kecaman untuk bangsa yang telah tutup telinga? Apa makna sumpah serapah untuk negeri yang begitu keji? Apa guna pinta paksa untuk kaum yang seolah kebal hukum? Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi.

Gerakan kemanusiaan serempak ambil tindakan dari berbagai penjuru dunia. Dari pangan, sandang, obat-obatan, hingga bantuan medis dan bahkan relawan perang. Kotak-kotak bertuliskan "Solidaritas untuk Palestina" berhamburan di mana-mana memohon uang receh serelanya. Rekening-rekening bank atas nama "Solidaritas untuk Palestina" pun dibuka dan menanti uluran tangan memberi. Namun kendala justru tampak begitu nyata. Sangat minim bantuan negara-negara Arab di sekitar Palestina. Tapi kenapa? Tidakkah mereka masih merasa satu buyut dengan Palestina? Sudahkah mereka tunduk pada ego dan rasa takut akan dunia? Adakah indikasi benih-benih penyakit berbahaya kaum muslim mulai menyemai? Kecintaan berlebihan akan dunia dan ketakutan akan kematian. Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi.

Perang dua wilayah secara terbuka, brutal, dan tidak berimbang; hukum perang dilanggar sejadi-jadinya; darah tak berdosa menggenang tak terkira banyaknya; nyawa penerus bangsa diberangus tanpa rasa; mayat bergelimangan entah pria maupun wanita; bala bantuan hampir mustahil diterima; reaksi dunia sekedar melalui suara bukan langkah nyata; bahkan sanak saudara tak kunjung bangkit turut membantu walau terjadi di depan mata. Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi, belum dapat ku menjawabnya. Aku tak mau bermimpi bahwa ini adalah nyata; pun tak ingin mengatakan itu mimpi yang kulihat di dunia nyata. Membingungkan bukan?

Sama dengan fakta-fakta membingungkan di atas. Bagaimana serangan seterbuka itu bisa dengan langgeng berlangsung hingga sekarang? Bagaimana mungkin dunia internasional hanya berkata-kata dan tak melakukan apa-apa? Dan bagaimana bisa dunia Islam di sekitar Palestina tak banyak ambil langkah? Benarkah Israel sehebat itu? Atau dunia terlalu tolol dan begitu mudah dibungkam bahkan dipecah belah oleh sebuah kekuatan yang merupakan bagian dari dunia itu sendiri? Entah aku bermimpi atau menyaksikan mimpi, aku tak mengharapkan keduanya. Dan aku akan mengakhirinya sekarang juga.

Aku harus bertindak. Aku harus berbuat. Sungguh. Tapi apa?

Beberapa hari sejak serangan pertama Israel, rekan-rekan aktivis mahasiswa di kampus menyerukan bentuk keprihatinan mereka akan tragedi di Gaza City. Selain orasi dan kotak-kotak amal, seorang mahasiswa memegang poster besar yang saya lupa tulisannya. Fokus saya waktu itu tertuju pada gambar-gambar di bagian bawah poster. Tidak seluruhnya, tapi sebagian besar aku mengenalnya sebagai logo sebuah merek atau perusahaan. Tanpa perlu menyebut merek, ada produk minuman bersoda, air mineral, snack ringan, produk kecantikan dan kebersihan, restoran cepat saji, hingga merek handphone. Semua itu sangat familiar dan sering kutemui di kehidupan sehari-hari. Bahkan beberapa pernah atau sering kupakai dan kugunakan.

Sang Mahasiswa yang memegang poster tersebut dengan senyumnya yang cukup ramah berkata: "Diketahui profit perusahaan-perusahaan ini sebagian disumbangkan untuk biaya perang para zionis Yahudi". Lalu aku tahu arah kalimat tersebut.

Pada awalnya aku hampir tidak bisa menerima alasan apa pun yang mengatakan "Jangan pernah gunakan produk Yahudi karena berarti kita mendukung aktivitas Yahudi termasuk perang di Palestina oleh Israel!". Pada awalnya otakku menciptakan spekulasi-spekulasi dan berbagai penyangkalan seandainya aku mengikuti instruksi tersebut. "Produk-produk itu begitu dekat dan sangat familiar. Bagaimana mungkin aku berhenti menggunakan produk 'A'? Setahuku hampir semua produk kebersihan dan kecantikan yang selama ini kugunakan berlabelkan 'A'. Lalu aku menggunakan apa? Snack-snack dari produk 'B' hampir semua kusuka. Nikmat dan sehat. Aku tak mungkin berhenti menikmati snack-snack tersebut. Apalagi air mineral 'C'. Mana mungkin aku disuruh berhenti menggunakan merek tersebut? Lalu aku pulang dengan kesimpulan "pasti ada jalan lain" untuk turut membantu Palestina.

Hari demi hari berganti. Merek demi merek Yahudi menyambangi badan hingga perutku. Perang pun masih bergulir menambah liter darah yang mengalir. Dan aku masih tak menemukan suatu langkah konkret untuk ikut andil dalam upaya membantu saudara-saudara seiman di Palestina. Hingga suatu hari seorang dosen yang cukup kritis dan brilian dalam pemikiran akan sebuah kasus sekaligus perumusan jalan keluar menyatakan sikap tegasnya akan produk-produk tersebut.

Teman, aku pernah membaca sebuah tulisan yang mengatakan bahwa manusia lebih sering menyibukkan diri sendiri dengan kemungkinan-kemungkinan dan berbagai bentuk spekulasi sebagai akibat suatu tindakan ketimbang menilik kembali maksud dan tujuan tindakan tersebut sebagai respon akan kenyataan-kenyataan yang ada. Seperti pada kasus global warming, ketika ada imbauan untuk mengurangi bahkan menghentikan penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak yang mengeluarkan gas emisi (sepeda motor) dan menggantinya dengan sepeda atau jalan kaki, respon spontan yang muncul adalah pemikiran kemungkinan yang spekulatif akan hasil dari tindakan tersebut. "Mana mungkin berhenti menggunakan kendaraan bermotor? Jika semua orang di seluruh dunia memilih menggunakan sepeda atau jalan kaki, maka perusahaan kendaraan bermotor di seluruh dunia akan bangkrut. Jika itu terjadi, pasti akan ada krisis besar karena perusahaan kendaraan bermotor cukup signifikan dalam roda ekonomi dunia. Belum lagi pengangguran yang akan meledak tiada ampun jika perusahaan-perusahaan tersebut tutup". Akhirnya, teriakan-teriakan serupa bagaikan lolongan anjing yang tak perlu diperhatikan. Buktinya, produksi sepeda motor tetap dan bahkan terus meningkat. Jika ada yang mengikuti anjuran tersebut, akan dikucilkan dan dianggap aneh oleh mata dunia.

Padahal yang dibutuhkan bukan itu, melainkan tindakan nyata. Kita tidak akan melakukan apa-apa jika otak kita dipenuhi spekulasi akan apa yang belum tentu terjadi. Kita hanya makin memperparah kenyataan yang sudah terjadi yang butuh tindakan segera. Untuk dua paragraf terakhir ini, inspirasiku adalah tulisan di blog Dewi Lestari (http://dee-idea.blogspot.com/search/label/Nature-Green-EcoLiving) berjudul "Dua Pertanyaan yang Berarti".

Melalui dua inspirasi itulah (pernyataan dosen dan tulisan di blog) aku mulai bertindak kecil-kecilan. Dimulai dengan teliti ketika membeli. Ya, temanku cukup kesal melihat tingkahku yang mengamat-amati produk-produk yang akan kubeli dan seringkali menanyakan "Ini produk dalam negeri kan?" Di sisi lain, aku justru menemukan titik terang dari keraguan tak beralasanku selama ini. Karena setelah diperhatikan dengan seksama, tidak semua produk yang ada di pasaran itu produk impor atau dari perusahaan multinasional (atau seperti yang diserukan sahabat-sahabat mahasiswa, produk Yahudi). Cukup banyak pula produk dalam negeri yang berkualitas dan tak kalah dengan produk-produk yang menguasai periklanan Indonesia itu. Memang benar, dengan tindakan kecil, kita akan tahu hal-hal baru yang selama ini tak sempat terpikirkan atau dianggap mustahil.

Maka melalui blog ini, dengan segala keterbatasan yang kumiliki, aku hanya ingin mengajak diriku sendiri, ya benar-benar diriku sendiri. Aku tak bermaksud mengajak siapa pun. Perkara pembaca ikut terpengaruh dan mengikuti ajakanku nantinya, maka kuanggap hal itu sebagai dampak positif.

Aku mengajak diriku sendiri, untuk tak sekedar mendo'akan namun berperan aktif dan nyata dalam membantu Palestina dan memerangi kedzaliman yang dilakukan Israel dengan berkomitmen mencintai produk dalam negeri, dan sebisa mungkin menghindari penggunaan produk impor, apalagi yang terdaftar sebagai produk pendukung gerakan zionisme Yahudi. Aku percaya dan yakin, niatku akan secara langsung berperan walau kecil. Sekali lagi, kita butuh langkah konkret, bukan kalimat manis.

Sebagai penutup, aku akan menegaskan sekali lagi, aku tak sedang bermimpi, tak pula menyaksikan mimpi. Aku sadar sepenuhnya dan menyaksikan kenyataan, bukan dalam mimpi, tapi dalam dunia nyata. Maka yang kubutuhkan bukan angan dan mimpi semata, tapi tindakan nyata.











Sumber gambar:
http://images.epilogue.net/users/straubart/Dreaming_tree.jpg
http://mpjc.org/images/palestine.jpg
http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/04/anak-palestina-korban-israel.jpg
http://3.bp.blogspot.com/_F4jkkfjqfSw/RfjRhDh8xPI/AAAAAAAAACM/UpYmvdS-5Rs/s1600-h/pengungsi+di+irak.jpg
http://qitori.files.wordpress.com/2007/07/palestina1.jpg

Desember 22, 2008

妈妈, 我真的爱你



"Halo?"

Terdengar suara lembutmu dari balik telepon genggamku. Suaramu begitu dekat, begitu nyata. Mendayu namun tak berlebihan. Melambungkanku pada sebuah kotak usang di sudut kepala, kenangan.

Aku membiarkan waktu seolah mengambang di udara. Begitu banyak kata mutiara telah kubaca, begitu sering kusimak kalimat-kalimat cinta, tapi lidahku mengeras. Bibirku seperti merekat satu sama lain oleh lem alteko. Dan napasku terengah, tak beraturan. Aku mematung.

"Halo?"

Keterlaluan. Hingga detik ini, kubiarkan semua penghalang itu berkuasa. Aku bahkan tak sanggup memikirkan kalimat lain. "I love you", "Aku sayang kamu". Kalimat-kalimat itu menguap dalam diam.

Oh, seandainya kau tahu bagaimana hatiku meledak-ledak oleh cinta. Bagaimana otakku meleleh tanpa ampun karena panasnya cintaku yang membara. Aku bahkan tak bisa memikirkan perumpamaan yang lebih dahsyat lagi dari itu.

Tapi di sisi lain, ada keraguan dalam diriku. Bukan. Bukan aku meragukanmu. Aku justru sangat yakin cintamu padaku. Aku tak perlu merengek kata "cinta" yang tak pernah sekalipun kau ucapkan selama ini. Aku tahu cintamu tak berwujud kata "cinta". Karena cinta itu kurasa senantiasa. Sungguh, aku tidak pandai menggombal. Dan aku tak perlu membual padamu. Ini tentang cinta kita. Cintamu dan cintaku. Itulah yang kuragukan.

Adakah cintaku sudah sepadan dengan cintamu padaku? Ah, aku tak sanggup memikirkan bentuk-bentuk cintamu. Tak ada kata "cinta" di antara kita. Tapi ada cinta di antara kita. Itu kuyakin pasti. Begitupun kau. Iya kan? Tapi aku merasa kerdil. Di sini, dalam diamku ini, aku berusaha menandingi cintamu dengan kata "cinta" itu sendiri. Tadinya kupikir, kata "cinta" yang seolah tabu bagi kita, akan menisbatkanku sebagai pecinta sejati. Dan dengan begitu, aku patut berbangga hati karena telah mencintaimu sehebat yang aku bisa. Tapi, ah, kenapa selalu ada tapi. Benarkah itu?

Di sini, aku malu pada diriku sendiri. Apa yang kupikirkan? Di sana, kau menantiku. Menanti kalimat dariku. Rasulku akan marah padaku jika membiarkanmu mengulang sapaanmu hingga tiga kali. Sesaat sebelum kau rampung dengan "Halo"mu yang ketiga ...

"Hal ... "
"Selamat Hari Ibu, Mah ... "
"Iya. Sudah sholat?"


aku mencintaimu...
愛しています
I love you...
. . . أحبك

je t'aime
ich liebe dich

मैं आपसे प्यार करता
ik hou van jou
ti amo
te iubesc
我爱你
te amo

mama...





sumber gambar:
http://imagecache2.allposters.com/images/pic/CAMB/27194~A-Mom-is-Love-Posters.jpg

Desember 16, 2008

Fajar-Senja

Aku ingat saat ayah menceritakan hari kelahiranku. Saat itu adalah fajar. Ibu menyambut putra sulungnya dengan senyum manis seindah langit pagi. Beliau menggendongku yang masih merah dengan penuh kehangatan (meskipun aku belum bisa merasakannya, tapi aku meyakini itu) umpama sinar mentari pagi.

...


Tulisan ini kumulai saat fajar di suatu pagi yang berkabut.

Beberapa saat kupandangi lukisan langit timur nan kusanjung sejak dulu. Entah sejak kapan. Kegelapan telah raib digantikan warna-warni mistis berbingkai kesuraman namun sarat keindahan. Suhu pagi ini cukup rendah untuk menciptakan tebaran putih keabu-abuan yang seolah menyelimuti pepohonan dengan kesunyian dan kebisuan. Lengang.

Lalu semburat kemerahan memecah buram menjadi temaram. Masih di ufuk timur. Sisa-sisa bintang malam tadi tak kuasa digantikan sang fajar. Bau basah dapat kuhirup dengan leluasa. Bau yang tak kutahu seperti apa.



Tak lama lagi, langit merah menguning dan berakhir membiru. Saat kehangatan turut serta dalam fenomena pagi. Saat pepohonan telah dapat kulihat hijau tak lagi suram. Saat burung-burung seriti menghambur dari kediamannya untuk mencicitkan nyanyian paginya.

Sensasi ini tak bernama. Yang kutahu, aku bisa berlama-lama berdiri memandang langit yang berganti-ganti warna. Sesekali memejamkan mata sambil menelentangkan tangan menghirup bau pagi yang entah seperti apa. Merasakan kesejukan yang mengelus halus kulitku dan kehangatan yang hadir belakangan mengusir sisa-sisa kantuk.

Saat kusadar sepenuhnya fajar telah menyingsing, langit secerah seharusnya, dan suara manusia beraktivitas cukup bising, kutahu, hari baru saja dimulai.


...

Seperti apa hari ini tak bisa lepas dari penyambutanku terhadap pagi. Hari-hariku tak pernah sama. Seperti penyambutanku terhadap pagi yang tak pernah sama.

Aku dapat merasakan 'dingin' sepanjang hari kemarin. Saat pagi yang hujan dan dingin menusuk kusambut dengan dingin di balik selimut. Sisa hariku seolah dipenuhi hujan dan 'dingin'. Tak peduli seberapa gerah sepanjang siang yang mendung. Meskipun peluh merembesi kaos joger putihku. Walau aku harus telanjang dada di dalam kamar. Bagiku, hari itu 'dingin'.

Hari ini, sebagaimana kusambut pagi yang benderang dengan penuh kehangatan dan senyum, aku melihat senyum di setiap sudut jalan yang kulalui. Aku merasakan hangat di tiap ruang yang kutempati. Walau sempat geram karena terlalu lama menunggu dosen yang terlambat, sang Dosen muncul dengan senyum yang [kurasa] hangat satu jam kemudian. Walau tingkah temanku membuat alisku bertemu sesaat, detik berikutnya, aku dengan mudah memaafkannya.

Begitu pula hari-hari lain yang cukup terpengaruh oleh penyambutanku pada hari-hari tersebut di pagi hari.

Seperti yin dan yang. Ada penutup untuk sesuatu yang telah dibuka. Ada keburukan untuk tiap kebaikan. Ada kekurangan sebagai penyeimbang kelebihan. Ada petaka jika ada berkah. Ada akhir untuk sebuah awal. Ada hitam dan putih. Sebuah filosofi yang selalu berujung pada satu inti ajaran besar: selalu ada kematian untuk setiap kehidupan.

Satu hari bagiku dimulai saat mentari mengintip untuk terbit, dan diakhiri dengan kepulangannya ke haribaan langit barat. Dari waktu-waktu dalam satu hari, favoritku adalah waktu pagi dan sore hari. Fajar dan senja. Bukan berarti aku menjalani hidup di siang hari dengan setengah hati. Namun dua waktu ini seolah menjadi puncak kegairahan hidup atau sebaliknya--kelesuan--yang berpengaruh terhadap waktu siang.

Pagi dan sore bagaikan kembaran yang terpisahkan oleh dimensi ruang dan waktu. Keduanya sama. Sama-sama memiliki keindahan tak terperi. Sama-sama memancarkan kehangatan. Sama-sama memberikan lukisan megah penuh nuansa kuning keemasan.

Jika pagi hari menjadi tolok ukur berjalannya satu hari, maka sore hari menjadi sarana meditasi memutar ulang (flash back) jalannya hari yang hendak berakhir. Seperti halnya aktivitasku di pagi hari menatap langit timur, aku bisa berdiam diri memandang langit barat dalam ketenangan lain.

Saat-saat itu kugunakan untuk mengendurkan otot dan urat tubuh. Puluhan jam yang kulalui tadi tak akan dapat kuulang di hari lain. Peluang, kejadian, event, khilaf, berkah dan thethek bengek yang kujumpai hari itu hanyalah milik hari itu. Maka sore-soreku pun tak pernah sama.

Kadang muncul kepuasan. Tak jarang penyesalan yang ada. Atau rasa penasaran yang enggan menyingkir. Kadang kurasakan kebahagiaan yang mendalam. Sesekali ada kesedihan. Aku bisa men-syukuri hari itu. Aku pun bisa mengutukinya.

Saat-saat itulah, panorama senja sungguh indah tak hanya di mata, tapi di hati.

...


Dimulai dengan angin sore yang menebarkan baunya tersendiri (aku pun tak tahu seperti baunya). Matahari mulai menyentuh cakrawala. Umpama bola raksasa yang jatuh ke lumpur hidup, perlahan-lahan ia pun tenggelam, ditelan waktu.

Semburat-semburat kuning di permukaan awan, umpama gumpalan gulali berlapiskan emas. Langit biru telah berubah menjadi kekuningan di ujung barat sana. Hangatnya matahari sore tak sama dengan mentari pagi, namun sama indahnya. Pada detik ini, belum cukup decak kekagumanku.

Detik selanjutnya, lukisan telah ditebali tinta emas. Warna langit kian memukau dan indah. Matahari hanya tinggal separuh lingkaran. Semakin lama, semakin indah. Aku teringat masa kecilku saat aku bisa berlama-lama terpukau menonton pertunjukkan langit dari balik jeruji jendela rumah paling belakang yang tepat menghadap barat. Kebiasaan yang sudah jarang kulakukan mengingat waktu-waktu puncak pentas, bertepatan dengan kumandang adzan maghrib.

Hari ini, aku bernostalgia dengan berdiri mematung di balkon kamar asrama untuk menyaksikan senja sore. Kebetulan, tinta alam begitu pekat melapisi sore. Karena pentas tidak diadakan setiap hari tentunya. Ada kalanya langit sore tak ubahnya hamparan kuning pucat yang dipenuhi awan kelabu. Namun tidak sore itu. Langit sore mengucapkan kata perpisahan dengan aksi indah bernuansakan emas. Megah. Mewah. Sungguh indah.

Maka aku mengakhiri tulisan ini saat hari tengah bersiap menyambut senja.


...

Aku pernah [dan masih] berdo'a: "Tuhan, aku ingin Engkau memerintahkan malaikat-Mu menjemputku saat senja yang indah. Sebagaimana kau menurunkanku ke dunia saat fajar yang juga indah tentunya."






Sumber Foto:
http://www.lailalalami.com/blog-old/archives/MistyMorning.jpg
http://www.sarpysam.net/gallery/albums/sunrise/sunrise10232007.sized.jpg
http://www.whitehouse.gov/news/releases/2002/08/images/20020809-1_ranch1-1-515h.jpg
http://www.atpm.com/10.10/sunsets/images/sunsets-6.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivxJd3NxBuic8HRrGCM4t_-_1OXjxJMGev8EglPlzMl_oj-xKUYo9H5oYpwcp-PclvkbSwWygICUsQ88P5bQIbS_XG-KSiPW7PcXeD6h9pjjFcy-bVZhjMHYirOeQrVs5juHPXTwwSPXc/s1600-h/senja.gif

Desember 15, 2008

karena itulah, yang menjadikannya indah ...


HUJAN

Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu

Segalanya seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak 'kan berubah

Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri

Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air

Aku bisa tersenyum
Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku


By Utopia


kenangan-kenangan itu ...
ingatkah kau?

senda gurauku yang
tak lucu bagimu
tak kupedulikan
karena
ada kau dan aku

gelak tawaku yang
hambar bagimu
tak penting bagiku
karena
ada kau dan aku


cerita-ceritaku yang
membosankan katamu
tak apalah
karena
ada kau dan aku

karena itulah
yang menjadikannya
indah


itu saja

...

"... selalu ada cerita
yang tersimpan di hatiku
tentang kau dan hujan
tentang cinta kita
yang mengalir, seperti air ... "






sumber gambar:
http://bp2.blogger.com/-Zoiwo-IFVQ/RoLQ8LueofI/AAAAAAAAAjc/nr5-IihVs78/s1600-h/alone+in+the+rain.jpg
http://www.realtater.com/music/raindrops.jpg