September 27, 2013
Pungguk
"Bagaikan pungguk merindukan bulan".
Peribahasa selalu mengena sekaligus menohok saat konotasi dan kiasan terdengar begitu denotatif dan nyata.
Ah, si Pungguk harus berhenti menatap idolanya, sang Bulan, sebelum dia tergerak melakukan upaya. Rasa sakitnya bukan ketika terjatuh, namun ketika sesal menyusulnya. Sesal karena dia tahu kapasitasnya yg tak akan pernah menjangkau bulan namun tetap diupayakannya. Maka jatuh hanyalah kepastian yg menunggu, dan penyesalan telah mencoba, sedikit banyak berbunga malu. Apalagi ketika sang Bulan tak sedikit pun mendapat impresi dari upayanya.
Jauh di lubuk hatinya, dan ini yang paling menyakitkan di antara semuanya, si Pungguk telah lama mengetahui bahwa sang Bulan tak pernah mengharapkannya melakukan upaya. Namun tetap saja dia berupaya.
Oh Pungguk, dia harus segera terbangun dan mulai melihat sisi kanan kirinya. Mendongak utk Bulan memang menyenangkan, namun dia sendiri mulai mengeluhkan waktunya yg terbuang sia-sia tanpa mendapat suatu apa. Dia sendiri sadar hidupnya mulai tak berarah dan mungkin banyak gamangnya. Tuhan mungkin saja menyiapkan banyak hal indah lain di sekitarnya, bukan di atas sana.
Diam-diam pungguk menyeka air matanya. Bukan tersebab nasib ia terlahir sebagai pungguk yg tak mungkin menjangkau bulan, bukan pula karena upaya yg akhirhya ia lakukan malah berbuah sesal dan sia-sia, namun karena ia masih saja merindukan sang Bulan.
...
Jakarta, 27 September 2013
12.02
Sumber gambar:
http://sukmaerlangga.blogspot.com/
http://www.deviantart.com/art/Empty-Heart-and-No-Hope-195626922
Labels:
catatan harian,
pribadi
Mei 22, 2013
"Nyanyian Tanah Merdeka": Tontonan Seni, Pelajaran Sehari-hari, dan Sindiran untuk Negeri
Dua tahun lamanya sejak konser terakhirku bersama The Indonesia Choir (TIC) dan The Indonesia Children Choir (TICC). Ketika itu, aku bernyanyi dalam rangkaian konser "Dua Kisah Nusantara" yang diselenggarakan di Usmar Ismail Concert Hall pada Kamis, 10 November 2011, kemudian berlanjut ke dua konser kunjungan di Solo dan Jogja bertajuk "Nyanyian Sepanjang Boulevard". Masih dapat kurasakan terangnya sorot lampu panggung besar pertamaku, sedikit membuatku linglung dan sulit mengenali sosok-sosok di bangku penonton. Konser interaktif pertama dan terakhirku bersama teman-teman TIC dan TICC.
Malam tadi, Selasa, 21 Mei 2013 masih di panggung yang sama, Mas Jay (sapaan akrab Jay Wijayanto oleh para anggota TIC, termasuk aku) kembali menggelar sebuah tontonan paduan suara yang dikolaborasikan dengan berbagai seni pertunjukan lain. Konser kali ini bertajuk "Nyanyian Tanah Merdeka" (NTM), diambil dari judul lagu musisi Indonesia yang lebih dikenal dengan karya-karya musik jalanan dan memiliki penggemar dalam komunitas-komunitas, yakni Leo Kristi. Menurut media rilisnya, NTM digelar menyambut peringatan Kebangkitan Nasional yang jatuh sehari sebelum konser digelar sekaligus peringatan lima tahun berdirinya TIC sejak 2008. NTM juga menjadi persiapan awal TICC sebelum keberangkatannya ke "Hong Kong International Youth & Children's Choir Festival" pada Juli mendatang. Termasuk dalam agenda konser adalah peluncuran buku "Merek Indonesia Harus Bisa" oleh Mas Arto (Arto Subiantoro).
Beberapa artis kenamaan Indonesia turut mendukung kemeriahan konser yang berlangsung kurang lebih 3,5 jam. Sebut saja Mba Ade (Adelaide Simbolon), pianis wanita Indonesia yang mengenyam pendidikan musik (piano) dari Rusia hingga Amerika Serikat (Wisconsin Conservatory of Music); Om Jubing (Jubing Kristianto), gitaris gaya jari Indonesia yang menggunakan gitar klasik sebagai instrumennya; Mas Andreas (Andreas Arianto), akordeonis yang menyebut dirinya pemusik lepas dan menjadikan musik sebagai bagian tak terlepaskan dari hidupnya, menghidupi dan untuk dihidupi; serta sederet pemusik dengan alat musik yang pada dasarnya tidak berasal dari Indonesia namun dikenal meramu musik khas tradisi Indonesia seperti biola, saluang, dan cajon. Ada pula sembilan penari remaja dari Grup Tari Swargaloka yang mempersembahkan "Tari Tekad" sebagai pembuka konser, serta empat penari "tak kenal pusing" dari Rumah Rumi Whirling Dancer mengiringi lagu daerah Jambi, "Dodoi si Dodoi".
Jika pada konser sebelumnya aku berdiri di panggung sebagai penyanyi, malam itu aku duduk di bangku penonton. Maka, ulasanku kali ini mungkin akan lebih komprehensif dari sudut pandang anggota TIC yang pernah menyanyi dalam konser-konsernya, anggota TIC yang turut terlibat dalam sekelumit kerumitan persiapan konser, anggota TIC yang memegang tiket penonton dan mengikuti jalannya konser dari awal hingga akhir dari kursi penonton, serta anggota TIC yang berinteraksi dengan anggota TIC lain setelah konser.
...
Total 16 lagu yang dibagi dalam dua sesi konser, delapan buah lagu ditampilkan untuk masing-masing sesi. Penonton disambut dengan lagu "Indonesia Raya" versi orkestra yang kemudian dilanjutkan oleh "Tari Tekad" sebagai pembuka konser. Narasi pertama yang dibawakan Mas Jay sebelum mengantarkan penonton pada lagu pertama adalah sejarah "Indonesia Raya", dimana teks aslinya yang ditulis pada tahun 1928 terdiri dari tiga stanza pada akhirnya hanya dipakai satu stanza setelah melalui revisi pada tahun 1958. Masih tentang lagu kebangsaan, Mas Jay beralih ke Singapura, yang ternyata lagu kebangsaannya berjudul "Majulah Singapura" merupakan ciptaan Zubir Said, putra Indonesia kelahiran Bukittinggi. Jika boleh kutambahkan, lagu kebangsaan Malaysia "Negaraku" pun bisa dibilang merupakan buah karya putra Indonesia, Saiful Bahri, pemilik hak kekayaan intelektual atas lagu "Terang Bulan" yang melodinya mirip sekali dengan "Negaraku". Pada titik ini, aku mulai melihat betapa penggunaan kata 'baik dan bodoh' sering tertukar tempat.
Lagu pertama yang dibawakan oleh TIC, dengan iringan piano Mba Ade, adalah "Nusantara" karya F.A. Warsono, solis Alice C. Putri. Mas Jay, masih dengan gaya khasnya yang santai dan kocak dalam memandu konser-konsernya, mengangkat satu topik yang mungkin terlupakan khususnya oleh pemuda Indonesia, yakni Trisakti.
BERDAULAT dalam POLITIK
BERDIKARI dalam EKONOMI
dan BERKEPRIBADIAN dalam BUDAYA
Narasi tersebut disampaikan sebagai pengantar lagu kedua "Nyiur Hijau" yang dia sebut sebagai lagu wajib sekolah yang ter[di]lupakan. Dibawakan acapella tanpa iringan musik, TIC berhasil membuat beberapa penonton merinding dan seolah tak rela dunia tak tahu, membagikan pengalaman tersebut melalui twitter. Aku pribadi sangat menyukai lagu ciptaan A.J. Sudjasman hasil aransemen Arvin Zeinullah ini. Ada "rindu kampung halaman " yang menyeruak saat teman-teman TIC membawakan lagu ini merdu. Terlebih pada lirik bait kedua "Padi mengembang | Kuning merayu | Burung burung | Bernyanyi gembira", rasa kehilangan muncul berikutnya, mengingat padi yang digantikan dengan gedung pencakar langit, kuning merayu dirampas oleh kelabu, dan alih-alih burung-burung yang bernyanyi gembira, di Jakarta ini yang ada adalah mobil-mobil yang lalu-lalang-macet dan berklakson ria.
Narasi berikutnya mengangkat topik pertanian. Menurut observasi Mas Jay terhadap data sejarah, politisi yang berhasil haruslah memiliki basis ekonomi yang kokoh. Logis memang, karena basis ekonomi yang kuat akan mendukung basis sosial yang diperlukan oleh seorang politisi, yang nantinya mampu menopang basis politik manakala sang politisi memegang kuasa. Tren politisi Indonesia bisa dibilang anti-mainstream karena kebanyakan politisi menghujani dirinya dengan isu-isu politik, lalu memperkuat basis sosial, dalam rangka memperoleh basis ekonomi. Hal ini sedikit banyak menjelaskan mengapa korupsi di Indonesia bertumbuh subur melebihi padi di sawah pak tani.
Lagu daerah pertama, hasil aransemen Farman Purnama, yakni lagu daerah Maluku "Mande-Mande" yang dibawakan lembut mengalun dengan solis seorang tenor, Yeremia Lalisang. Dalam penceritaannya yang tetap khas, Mas Jay menceritakan makna lagu tersebut sebelum dinyanyikan, yakni penantian para wanita Maluku yang ditinggal merantau oleh kekasih mereka. Kalau sudah kaya, pulanglah mereka melamar kekasihnya dan menikah.
Lagu selanjutnya diambil dari salah satu lagu kompetisi yang diikuti TIC dengan perolehan medali emas di Vietnam berjudul "Segalariak". Dibawakan saling sahut antar kelompok suara satu dan lain dengan bersemangat membuat lagu tersebut berkarisma. Pasukan TIC silam, digantikan 33 anak dan remaja. Sembari mengisi perpindahan, Mas Jay kembali mengisi sesi dialog dan bincang-bincang dengan penonton. Kali ini dialog dibuka dengan sebuah guyonan. Dalam perjalanan hidupnya, Mas Jay sering mendengar bahwa tentara Indonesia didominasi dan dikuasai oleh agama tertentu: AD (Angkatan Darat) dikuasai oleh pemeluk Islam sementara AU (Angkatan Udara) dikuasai oleh umat Kristiani. Mas Jay berkelakar dengan menyebut AL adalah yang paling Islami mengingat hampir semua nama masjid memiliki "AL" di dalamnya: AL Ikhlas, AL Barokah, AL Hidayah.
Sebelum masuk ke lagu berikutnya yang akan dibawakan oleh TICC, Mas Jay melontarkan pertanyaan pada penonton: Berapa usia WR. Supratman saat mencipta Indonesia Raya? Kebangkitan Nasional ditandai dengan apa? Penonton yang dipilih untuk menjawab adalah pemuda. Benang merah dapat ditarik dari sini, bahwa kata dasar "muda" menjadi titik berat topik dialog kali ini. WR. Supratman pertama kali menciptakan lagu Indonesia Raya pada usia 21 tahun; Kebangkitan Nasional ditandai dengan dua peristiwa penting yang keduanya "dipentaskan" oleh para pemuda, berdirinya Boedi Oetomo dan diucapkannya ikrar Sumpah Pemuda; kedua pertanyaan yang jawabannya berkata kunci "muda" tak dapat dijawab oleh para penonton muda.
Selanjutnya, giliran TICC unjuk gigi. Mereka membawakan dua lagu kompetisi di Hong Kong nanti, yakni "Tanctnota" dan "Salve Regina". Alunan nada-nada rumit dengan tempo yang berubah terus menerus, ditambah bahasa asing dengan aksen tak umum untuk lidah Indonesia, berhasil dibawakan rampung oleh TICC meski penulis pribadi merasa suara yang diproduksi belum maksimal diproyeksikan ke depan. Toh suara mereka pun mulai panas pada lagu berikutnya, kali ini lagu ciptaan Leo Kristi yang diaransemen oleh Nindya Tri Harbanu, "Salam Dari Desa". Mungkin karena faktor bahasa yang lebih mudah dilafalkan oleh anak-anak tersebut ditambah iringan musik akordion Mas Andreas dan gitar Om Jubing yang lincah dan jenaka, TICC membawakan "Salam Dari Desa" lebih lepas dan riang. Kemudian kakak-kakak TIC melanjutkan trek lagu Leo Kristi dengan membawakan "Gulagalugu Suara Nelayan", masih dengan aransemen buah tangan Nindya dan iringan musik yang sama sebagai penutup sesi pertama.
Sesi kedua dibuka dengan lagu daerah Sumatera Barat "Indang", aransemen buah tangan Lilik Sugiarto. Akordion dan gitar memulai melodi lagu, disambut oleh Jhorlin Darwis Sitinjak, Rama Sentausa, dan Linda Samosir sebagai solis yang menyanyikan harmoni nada dengan indah. Seolah memang dibawakan di awal sesi kedua untuk membangun atmosfer ceria bersemangat, "Indang" dilanjutkan oleh "Arjuna Mencari Cinta" ciptaan Ahmad Dhani dan diaransemen oleh Indira Fransiska. Kali ini, Fajri Prabowo dari golongan suara bass menjadi solis dan membawakan lagu tersebut cukup komikal dengan bahasa tubuh yang lucu. Tidak cukup sampai di situ, penonton dibuat tergelak dengan layar yang menampilkan foto Eyang Subur dikelilingi wanita-wanita "seksi" seperti Angelina Jolie dan Ratu Elizabeth.
Masih tentang bentuk ekspresi cinta seorang lelaki, lagu berikutnya adalah "Wanita" karya Ismail Marzuki dan diaransemen oleh Lilik Sugiarto. Mas Jay kali ini masuk dalam barisan tenor yang memimpin lagu tersebut. Ini adalah lagu favoritku yang lain. Selain nada-nada ajaib yang mengalun indah, lirik lagu "Wanita" begitu puitis dan berdaya sihir.
Seperti halnya tradisi konser interaktif TIC dan TICC, penonton diminta bernyanyi bersama lagu "Indonesia Pusaka" aransemen karya Yudia Pancaputra. TIC silam, tinggallah TICC yang selanjutnya membawakan lagu lain untuk kompetisi yang sama, "Kalera Gazteak". Lagu ini menjadi lagu terakhir persembahan TICC yang kemudian silam dan digantikan oleh kakak-kakak TIC.
Jambi selanjutnya direpresentasikan dalam lagu "Dodoi Si Dodoi" aransemen Mas Jay sendiri dengan solis Saftianingsih. Lagu dibuka dengan alunan nada menyayat hati dari saluang dan biola serta ratapan sang pemain saluang yang memang laki-laki Minang. Dijelaskan sebelumnya bahwa lagu ini mengisahkan seorang ibu yang tengah menimang-nimang anaknya sembari meratap rindu akan sosok suaminya yang belum pulang.
"Twa Tanbou" karya Sydney Guillaume kemudian menggeser suasana yang tadinya sendu menjadi bersemangat. Lagu yang berasal dari salah satu suku di Afrika ini mengisahkan tentang perbincangan antara tiga buah kendang yang masing-masing berpendapat bahwa suaranyalah yang paling keras. Akhirnya, konser ditutup dengan karya Ahmad Dhani yang lain, kali ini hasil kolaborasinya dengan Bebi Romeo, "Andai Aku Bisa" yang diaransemen oleh Ily Matthew Maniano dengan solis seorang alto, Christine Nataly Panggabean.
...
Aku akui, ulasanku dimulai dari babak kedua konser memang tidak selengkap ulasan babak pertama. Selain aku tidak membawa catatan untuk membuat ringkasan jalannya konser, aku memang memilih lebih menikmati lagi sisa waktu yang kupunya untuk lebih menikmati "Nyanyian Tanah Merdeka".
Terakhir, aku teringat satu dialog lagi yang belum aku paparkan di atas terkait bahasa Indonesia. Mungkin aku tak sendiri merasakan tamparan tentang fakta bahwa orang Indonesia lebih bangga dengan bahasa Inggris atau bahasa asing lain ketimbang bahasa Indonesia sendiri. Namun, jika Mas Jay membaca tulisan ini, dia boleh lega karena ulasanku kali ini murni menggunakan bahasa Indonesia, kecuali pada nama dan istilah yang memang tidak semestinya diterjemahkan.
Masih tentang bentuk ekspresi cinta seorang lelaki, lagu berikutnya adalah "Wanita" karya Ismail Marzuki dan diaransemen oleh Lilik Sugiarto. Mas Jay kali ini masuk dalam barisan tenor yang memimpin lagu tersebut. Ini adalah lagu favoritku yang lain. Selain nada-nada ajaib yang mengalun indah, lirik lagu "Wanita" begitu puitis dan berdaya sihir.
Seindah mawar | semurni nan hati | dikau cemerlang wanita
Semerbak wangi | sejinak merpati | dikau selalu di cinta
Gerak gayamu ringan, mengikat hati mudah terlelap
Mata bersinar menyilaukan matamu
Halus wanita | bak sutra dewata | senyuman lunturkan mahkota
Seperti halnya tradisi konser interaktif TIC dan TICC, penonton diminta bernyanyi bersama lagu "Indonesia Pusaka" aransemen karya Yudia Pancaputra. TIC silam, tinggallah TICC yang selanjutnya membawakan lagu lain untuk kompetisi yang sama, "Kalera Gazteak". Lagu ini menjadi lagu terakhir persembahan TICC yang kemudian silam dan digantikan oleh kakak-kakak TIC.
Jambi selanjutnya direpresentasikan dalam lagu "Dodoi Si Dodoi" aransemen Mas Jay sendiri dengan solis Saftianingsih. Lagu dibuka dengan alunan nada menyayat hati dari saluang dan biola serta ratapan sang pemain saluang yang memang laki-laki Minang. Dijelaskan sebelumnya bahwa lagu ini mengisahkan seorang ibu yang tengah menimang-nimang anaknya sembari meratap rindu akan sosok suaminya yang belum pulang.
"Twa Tanbou" karya Sydney Guillaume kemudian menggeser suasana yang tadinya sendu menjadi bersemangat. Lagu yang berasal dari salah satu suku di Afrika ini mengisahkan tentang perbincangan antara tiga buah kendang yang masing-masing berpendapat bahwa suaranyalah yang paling keras. Akhirnya, konser ditutup dengan karya Ahmad Dhani yang lain, kali ini hasil kolaborasinya dengan Bebi Romeo, "Andai Aku Bisa" yang diaransemen oleh Ily Matthew Maniano dengan solis seorang alto, Christine Nataly Panggabean.
...
Aku akui, ulasanku dimulai dari babak kedua konser memang tidak selengkap ulasan babak pertama. Selain aku tidak membawa catatan untuk membuat ringkasan jalannya konser, aku memang memilih lebih menikmati lagi sisa waktu yang kupunya untuk lebih menikmati "Nyanyian Tanah Merdeka".
Terakhir, aku teringat satu dialog lagi yang belum aku paparkan di atas terkait bahasa Indonesia. Mungkin aku tak sendiri merasakan tamparan tentang fakta bahwa orang Indonesia lebih bangga dengan bahasa Inggris atau bahasa asing lain ketimbang bahasa Indonesia sendiri. Namun, jika Mas Jay membaca tulisan ini, dia boleh lega karena ulasanku kali ini murni menggunakan bahasa Indonesia, kecuali pada nama dan istilah yang memang tidak semestinya diterjemahkan.
Labels:
catatan harian,
kontemplasi,
reportase
Juli 29, 2012
Untitled 3
Kesadaran akan adanya cacat besar dalam diri sendiri menuntun kita pada titik pendewasaan yang hanya bisa kita takar dan rasakan sendiri. Setiap pengalaman pribadi adalah unik layaknya sidik jari yang tak akan pernah sama sepenuhnya dengan orang lain. Sebelum mencari ke luar, sebaiknya mendalami lebih jauh ke dalam.
Segala bentuk temuan baru maupun ingatan lama selanjutnya perlu kita respon dalam segala rupa rencana dan pembekalan diri menyongsong hari esok. Atau, kita hanya akan terpuruk pada lubang gelap yang membusukkan akal sehat dan menggerogoti kadar kepercayaan.
Salam,
Jan Phaiz
. . .
Sumber gambar:
http://fc03.deviantart.net/fs30/f/2008/162/9/3/Introspection_by_machine_guts.jpg
Juli 25, 2012
Surat untuk Seorang Sahabat
Yogyakarta, November 2008
Teruntuk Sahabatku,
Malam ini, untuk kesekian kalinya aku
menulis. Pikiranku beradu begitu keras. Sulit sekali bagiku untuk sekedar
memejamkan mata ini. Kepalaku berdenyut mengikuti irama marah, dadaku bergetar
bak gemuruh benci, dan badanku tegang laiknya dendam tanpa ampun. Begitulah
malam demi malam kujalani dengan berat.
Sobat, apa kau tahu kenapa malamku tak
setentram tidur pulasmu? Apa kau mengerti kenapa jiwaku tak setenang hembusan
napasmu di kala tidur? Kenapa pula perasaanku tak sedamai dengkuranmu? Itu
semua karenamu sobat. Kau yang menyebabkanku demikian sengsara di malamku.
Tapi kau tak salah padaku. Tak ada yang
bisa kusalahkan darimu. Kau tak pernah menggangguku hingga mataku senantiasa
terbuka. Kau pun takkan mengusik malamku hanya untuk memancing amarahku.
Apalagi provokasi yang tak pernah kau ciptakan demi keresahan jiwaku.
Lalu, apa penyebab itu semua?
Kau.
Kaulah penyebabnya.
Memang kau penyebabnya.
*******
Kau masih ingat saat-saat kebersamaan kita
di waktu kecil? Kita bermain bersama tak kenal waktu. Pagi hari saat mataku
masih menyipit, kau menjemputku dengan senyum lebar. Ceria telah terbit di
wajahmu. Kita pun pergi menembus kabut menyapa sang fajar. Kau membantuku
mengumpulkan semangat pagi.
Raja siang menyengat kulit kita. Namun
tawamu tak surut dimakan terik. Kejar-kejaran di pematang sawah adalah favorit
kita, kau ingat itu? Tubuh kecilmu senantiasa mudah kugulingkan, dan kita
tertawa.
Oh, matahari hendak pulang ke peraduan di
Barat Bumi. Lukisan alam mulai berubah. Aku tak akan lupa warna merah langit
yang selalu kau sanjung dan sesekali kau coba lukiskan pada kaos putihmu.
Warnanya menjadi cokelat, kau ingat?
Sisa energi dalam tubuhmu tak kau hiraukan
adanya. Kaki kecilmu terus menyusuri setapak menuju rumahku. Kau mengantarku
lantaran kau yang menjemputku. Saat tiba di rumah, sumber cahaya tinggallah
sang rembulan. Namun senyum manismu tak pernah tawar dalam pandanganku. Bahkan
di sisa harimu.
Sobat, memori indah masa kecil kita
terpatri hingga ke relung hati kecilku. Kepolosan sekaligus ketulusanmu tak
tergantikan oleh orang lain.
*******
Waktu berjalan seiring berkurangnya jatah
hidup kita di dunia. Angka sebelas dan dua belas mendeklarasikan diri sebagai
usia kita. Seragam pun tak lagi putih merah bak sang dwi warna. Putih birumu
yang terlihat kebesaran, selalu membuatku tertawa. Meski pada akhirnya nanti,
kau yang menertawakan pertumbuhan tubuhku yang ternyata telah terhenti.
Tinggiku tak lebih dari daun telingamu.
Pada masa-masa ini, berbagai gejolak jiwa
pun kita alami. Rasa ingin tahu yang menyumbul batas kemampuan kita, terkadang
membawa kita pada masalah.
Kau ingat komputer sekolah yang rusak
karena eksperimen hasil rasa ingin tahu kita? Hukuman dari bu guru sungguh
ringan kujalani. Itu karenamu. Karena kita menjalaninya bersama. Saat itu,
membersihkan toliet siswa yang luar biasa bau dan kotor menjadi ajang permainan
paling berkesan dalam hidupku.
Tahun kedua kita di sekolah baru menjadi
waktu kedekatan kita yang teramat. Hampir tak pernah kita tak nampak bersama.
Hingga banyak orang yang iri dengan persahabatan kita. Belajar bersama, bermain
bersama, makan siang bersama, berbincang soal perempuan, ah aku tak akan lupa
dengan gadis pujaanmu yang ternyata justru mempermalukanmu karena sifat-sifat
terpendamnya. Tenang sobat, kau hanya terbuai dengan keindahan fisiknya. Siapa
saja bisa berbuat khilaf. Haha...
Baik, aku tidak akan membahas masa lalumu
itu. Kembali lagi ke perbincangan awal. Kau pun senantiasa mendengar ceritaku
tentang dia. Tentang gadis pengusik waktu tidurku. Tentang bayang-bayangnya
yang mendominasi penglihatanku. Tentang gundah gulanaku meladeni perasaan aneh
yang bergejolak begitu keras saat itu. Ya, kita memang baru menginjak masa
remaja. Beruntung sekali aku memilikimu untuk berbagi.
Meski tak ada yang mengarahkan dan tak ada
yang diarahkan, tapi demikianlah seharusnya sebuah persahabatan. Tak ada satu
yang di depan saat yang lain di belakang, tak ada yang memimpin dan tak ada
yang dipimpin, tak ada yang lebih tinggi dari yang lain. Posisi kita senantiasa
kita sejajarkan dalam kebersamaan. Kita jalani hari demi hari bersama
berdampingan, bergandengan, dan saling menjaga. Indah benar masa remajaku
bersamamu sobat.
Lalu kita lanjutkan kebersamaan kita
hingga kita tanggalkan seragam putih biru yang telah usang. Era baru
persahabatan kita mulai menapaki kedewasaan dan sebentar lagi akan masuk pada
lingkungan pendewasaan itu.
*******
Sobat, seragam kita sudah putih abu-abu
sekarang. Kembali kita disatukan dalam satu lingkungan belajar, satu sekolah.
Ah, tinggimu sudah menyamai tinggiku.
Gejolak batin yang dulu pernah mendominasi
diri kita di awal usia remaja, kini menggemuruh dan makin keras. Lebih banyak
pertanyaan tentang ini dan itu. Lebih banyak tantangan menghadang jalan kita.
Lebih banyak ujian menempa kedewasaan kita. Lebih banyak pilihan menguji
kejernihan pikiran kita. Lebih banyak keraguan menyergap tiap langkah yang
hendak kita tempuh. Lebih banyak desiran rasa menghiasi hari-hari kita. Lebih
banyak watak dan kepribadian kita pelajari langsung maupun tak langsung. Lebih
banyak ini dan itu. Dan lebih banyak yang tidak kita tahu.
Kau mulai menjauh. Kau sibuk dengan
urusanmu, aku larut dalam kepadatan hari-hariku. Kita bahkan hanya bisa saling
berucap “Hei!” saat berpapasan. Tak banyak yang bisa kita bicarakan lagi. Tak
banyak yang bisa kita bahas lagi. Kita seperti hidup di dimensi berbeda.
*******
Tiba akhirnya kita pada pintu keluar SMA.
Pintu besar menakutkan yang makin mengancam tahun ini. Dengan enam buah gembok
baja berduri lembut tersamar. Sangat mengancam keselamatan kita keluar dari
gerbang tersebut. Salah-salah, kita akan terjebak di dalam sini, atau lepas
berdarah-darah, atau mungkin tidak selamat sama sekali. Aku sangat mengutuki
keberadaan gerbang bergembok enam yang suram dan horor itu. Kau tahu itu.
Ya, kau tahu itu. Tapi kau seolah tak
berada di sisiku lagi. Kau hanya menjadi penonton di antara kerumunan orang
yang juga termangu-mangu sambil memprovokasi para pejuang di arena. Kau
membiarkanku maju ke arena sendiri, sobat. Dan itu tak pernah kau lakukan
semenjak kita menjadi sahabat.
Mulai saat itulah, kita terpisahkan jurang
perbedaan. Jurang itu makin lebar dan makin dalam, sobat. Kau bahkan hampir
hilang dari pandanganku. Atau mungkin kau akan merasa aku yang meninggalkan
pandangan rasionalmu.
*******
Kini, malam-malamku semakin berat dan tak
menentu. Sungguh aku seperti penderita insomnia akut. Tak semenitpun dapat
kupejam mata ini. Otakku terlalu keras bekerja, tak sama sekali mengenal lelah,
setidaknya mempersilahkan pemiliknya kelelahan. Aku tak tahu harus berbuat apa
lagi untuk meladeni pikiran-pikiran yang berkecamuk tanpa henti tiap malam. Aku
lelah. Aku mau lelah. Tapi tidak bisa.
Aku terus memikirkan hidup ini, status
mahasiswaku, keluargaku yang makin melarat, empat orang adik perempuanku, biaya
kuliah yang aduhai, godaan hedonisme, krisis keuangan global, pemilihan umum,
korupsi, bagaimana makan sehari tiga kali, selalu kekurangan uang tiap
bulannya, demam mutilasi, uang habis, dosen yang selalu dirasa kurang, UU
Pornografi, kondisi pertanian negeri petani ini, dan kau.
Semuanya menghantui waktu malamku hampir
tak mengenal lelah. Satu per satu, beruntun, saling bertubrukan, saling
menyerang. Dengan berbagai cara. Dan kau. Kau selalu muncul menjadi hal
terakhir yang kupikirkan.
Dan kaulah yang menjadi satu-satunya yang
paling kusalahkan. Karena ketidakhadiranmu dikala susahku sekarang, keacuhanmu
melihat penderitaanku, kepergianmu sejak dewasaku menyemai, keberadaanmu yang
entah di mana, pengkhianatanmu, semua yang telah kau lakukan sejak aku justru
menapak keluar dari masa kecil dan remaja.
Tak jarang aku menangis. Menangisi semua
ini. Menangisi statusku yang seolah tak berbuat banyak untuk orang lain,
menangisi kemelaratan keluargaku, menangisi kerapuhan negeri ini, menangisi
sadisisme di masyarakat, menangisi ketidakpunyaan, menangisi kau. Lagi-lagi kau
yang terakhir berperan dalam drama panjang malamku. Selalu dirimu, sobat.
*******
Surat ini kutulis sekarang. Baru sekarang
setelah selama ini aku menderita tanpamu. Tidak dari dulu saat kau pertama kali
menghilang dari sampingku. Tidak sejak pertama insomnia menyergap
malam-malamku. Namun baru sekarang.
Itu karena kemunculanmu yang tiba-tiba
tadi malam. Dalam mimpiku. Ya, dalam tidur tak disengaja, kau muncul dalam
sosok yang kukenal saat hari pertama sekolah dasar. Tubuh mungilmu tampak bugar
seperti biasanya. Kau berdiri mantap di sana. Memandangku.
Kau memandangku dengan mata yang lain.
Bukan matamu yang dulu. Mata yang sangat pilu. Mungkin terlalu sering menangis.
Atau mungkin kurang tidur, sama sepertiku. Bola matamu sayu tak seperti badanmu
yang tak nampak sakit sedikitpun. Pandanganmu redup tak seperti tubuhmu yang
selalu enerjik. Kau seperti ... kau ... apa kau juga merasakan hal yang sama?
Denganku?
Aku melihat kilat mataku dalam matamu. Tak
salah lagi. Kau menderita sahabatku. Kau kelelahan. Kau pun seperti kehilangan
diriku. Kau seperti ... merasa dikhianati. Kau seperti muak dengan kealpaanku
dalam hari-harimu. Namun kau senang sekarang. Setelah akhirnya kita bertemu
lagi. Kau menunjukkannya dengan lengkung indah di bibirmu.
Kau menghampiriku malam ini, tapi
ekspresimu justru menampakkan keterkejutan karena keberadaanku. Seolah aku yang
menghampirimu.
Sebenarnya apa yang terjadi di antara
kita? Siapa meninggalkan siapa? Siapa menghampiri siapa? Semuanya sangat
membingunkan sekaligus mencerahkan. Pertemuan kita tadi malam dalam mimpiku
(atau mungkin mimpimu), memberi peluang jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku
seputar keadaanmu (mungkin juga menjawab pertanyaan-pertanyaanmu seputar
diriku). Ah, membingungkan sekali, sobat. Dan aku terbangun. Cepat sekali
rasanya tidurku ini.
Makanya kutulis surat ini untukmu. Aku
ingin kita bertemu lebih lama. Berbincang tentang kehidupan masing-masing.
Tentang keadaanmu, tentang alasan-alasan kepergianmu, tentang (yang kurasa
sebagai) pengkhianatanmu, tentang semuanya. Itu alasan awal. Hingga kuingat
sorot matamu itu.
Jangan-jangan aku yang meninggalakanmu.
Jangan-jangan aku yang memisahkan diri darimu. Jangan-jangan aku yang
mengkhianatimu. Jangan-jangan itu yang kau rasakan. Dan, jangan-jangan memang
demikian adanya. Aku makin bingung, sobat. Aku makin tidak mengerti. Sebenarnya
ada apa di antara kita?
*******
Kembalilah sobat. Dan itu pula yang akan
kulakukan, kembali padamu. Aku pun akan mencarimu, agar kau juga mencariku. Aku
akan merangkulmu, agar kau merangkulku seperti dulu. Aku tidak akan lagi
menyalahkan dirimu, agar kau tak pernah lagi menyalahkan diriku.
Aku ingin seperti dulu. Saat kita menyapa
sang Fajar dengan senyum bersama. Saat kita berguling-guling mengejar capung di
bawah terik mentari. Saat kita berboncengan di atas sepeda keliling desa hingga
penghabisan hari. Saat kita menyelinap keluar bersama dalam malam, sekedar
berlomba menghitung ‘ketombe’ di kulit
sang Langit.
Hah! Kita berdebat apakah
‘ketombe-ketombe’ itu bisa dihitung atau tidak. ‘Ketombe’ yang bisa
berkerlap-kerlip seperti lampu hias. Akhirnya kita sepakat mengganti namanya
menjadi ‘lampu hias’. Kau yang megusulkannya. “Ketombe tak mungkin
berkelap-kerlip,” katamu dulu. Saat itu usia kita baru empat tahun. Gara-gara
ibuku berketombe, kita pun mengira langit itu kepala raksasa perempuan yang
serupa ibuku namun sangat pemalu. Mungkin ia malu karena ketombenya banyak
sekali. “Atau mungkin ia juga berjerawat!” celetukmu. Kita terpingkal-pingkal
di halaman samping rumah. Sering sekali kita berbincang hal-hal lucu seperti
itu. Namun semua itu bagi kita dulu adalah hal serius. Bahkan kau pernah
menginap di rumahku lantaran kau takut langit yang barusan kita ejek murka dan
menelanmu. Hahaha... Aku menertawaimu dan kita tidak tidur malam itu.
Kenangan-kenangan seperti itu senantiasa
tersimpan dalam memori indah masa kecilku. Masa ketika aku memilikimu. Atau
ketika kau memilikiku. Masa ketika kau menemaniku. Atau ketika aku menemani
hari-harimu. Semuanya menjadi antara aku dan kau. Antara kau dan aku. Kita
memang satu. Kita tak bisa dipisahkan seharusnya. Kecuali kita saling melupakan.
Ya. Yang terakhir mungkin adalah
jawabannya. Mungkin kau melupakanku. Atau aku melupakanmu. Lag-lagi, harus
kuakui. Yang terakhir mungkin adalah jawabannya. Akulah yang telah melupakanmu.
Aku yang meninggalkanmu. Aku yang membatasi diri denganmu. Aku yang
mengkhianatimu. Aku, sobat. Bukan kau.
Melalui surat ini, yang aku sendiri tak
tahu harus mengirimkannya ke mana, aku mengundangmu kembali, sobat. Tidak.
Maksudku, aku akan menghamiprimu kembali. Aku membutuhkanmu.
dari seseorang
yang telah lama kehilangan
sebagian hidupnya
lantaran merasa ditinggalkan
kebahagiaan
Labels:
catatan lama (unpublished)
April 24, 2012
E [L] M [O] P [V] T [E] Y
Bukan tak ada kata, melainkan tak kutemukan rupa
Bukan tak tergagas, ku hanya tak mampu menangkap yang sekilas
Bukan pula tanpa rasa, justru ini asing berjuta makna
Maka bukannya 'ia' tak ada, 'ia' sangatlah nyata
Kosong
Bagaimana kau memberi nama pada apa yang telah kau dustai sedemikian rupa?
Bagaimana kau mampu menangkap kilas yang senantiasa kau tutup buka?
Bagaimana rasa tak membingungkan jika kau tak benar-benar menerima?
Bagaimana 'ia' tak mewujud jika kau tak kenal cinta?
Cinta
Mungkin ia cinta, satu kata berjuta makna
Penyembuh yang sekarat, penawar racun berat
Mewujud dalam ribuan rupa, jutaan wajah, dan nama yang tak terhingga
Penggugah imajinasi, pemicu fantasi
Cinta
Mungkin saja cinta, satu makna berjuta kata
Pemicu sekarat pada yang sehat, racun ganas bagi yang tak kuat
Satu nama, satu wajah, satu rupa, tak terhingga kamuflasenya
Pembunuh kreativitas, perusak batas
Apa itu cinta?
...
[kosong]
Siapa itu cinta?
...
[kosong]
Mengapa ada cinta?
...
[kosong]
Maka kuputuskan berdiam dalam kosong
Sesaat berikutnya, 'ia' muncul begitu saja
'Kaukah itu cinta?'
...
[kosong]
Ah, mungkin cintaku mewujud dalam kekosongan
...
Sumber gambar:
Februari 04, 2012
Dear Master
What am I suppose to do when silence calls critics and actions are always been wrong? If I'm not the one who is expected to be or maybe I'm a fool wasting my time in this world doing nothing, and it hurts your long experience about life, I'm sorry. But I am the one who feel the pain to be put down down and down, again and again with your words. I really don't know if I can still bare all of this.
Yes, I'm weak, loser, poor, stupid, coward, and know nothing about life. And you know the best way to make me think even worse. Am I such a criminal in your eyes?
I just want to believe, that life is never-ending learning. NEVER! Especially about people, people's feeling. And I hope you learn about that too, beside all of the knowledge you've mastered.
Sincerely
. . .
Sumber gambar:
http://fc02.deviantart.net/fs70/f/2011/213/e/5/e52ecee28560d4590b1319f3a8bccd02-d42d3ir.jpg
Januari 13, 2012
From a Fool (2)
They say I took too long to get close with you,
They say I am a coward not to confess or make you my girl,
They say I did too many consideration just to say "it" out to you,
Maybe they think I'm an anti-mainstream in this field..
I would say "I don't care"
I enjoy the special case that I have here..
I never think of how long I must wait or must hold it, I just want you to feel comfortable..
That's it.
. . .

*the only exception playing*
sumber gambar:
http://th02.deviantart.net/fs8/PRE/i/2005/321/b/6/Here_with_you_by_limey404.jpg
They say I am a coward not to confess or make you my girl,
They say I did too many consideration just to say "it" out to you,
Maybe they think I'm an anti-mainstream in this field..
I would say "I don't care"
I enjoy the special case that I have here..
I never think of how long I must wait or must hold it, I just want you to feel comfortable..
That's it.
. . .

*the only exception playing*
sumber gambar:
http://th02.deviantart.net/fs8/PRE/i/2005/321/b/6/Here_with_you_by_limey404.jpg
Langganan:
Postingan (Atom)


